Al-Mu’jam-ash-Shaghir – Yang Bernama Ahmad (93-94/100): Al Mahdi

Al-Mu‘jam-ush-Shaghīr
(Judul Asli: Al-Muhalla)
Oleh: Abul-Qasim Sulaiman bin Ahmad ath-Thabrani

Penerjemah: Anshari Taslim
Penerbit: PUSTAKA AZZAM

Rangkaian Pos: Al-Mu'jam-ush-Shaghir Bab Alif - Yang Bernama Ahmad

رقم الحديث: 93
(حديث مرفوع) حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ جَرِيْرِ بْنِ جَبَلَةَ، حَدَّثَنَا أَبِيْ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ الْقُرْدُوْسِيُّ، حَدَّثَنَا جَرِيْرُ بْنُ حَازِمٍ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيْهِ، عَنْ جَدِّهِ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: ” أَيُّمَا رَجُلٍ أَتَاهُ ابْنُ عَمِّهِ، فَسَأَلَهُ مِنْ فَضْلِهِ، فَمَنَعَهُ مَنَعَهُ اللهُ فَضْلَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَ مَنْ مَنَعَ فَضْلَ الْمَاءِ لِيَمْنَعَ بِهِ فَضْلَ الْكَلَأِ مَنَعَهُ اللهُ فَضْلَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ”، لَمْ يَرْوِهِ عَنِ الْأَعْمَشِ، إِلَّا جَرِيْرٌ، وَ لَا عَنْ جَرِيْرٍ، إِلَّا مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ، تَفَرَّدَ بِهِ عُبَيْدُ اللهِ بْنُ جَرِيْرٍ، وَ لَا رَوَى عَنِ الْأَعْمَشِ، حَدِيثًا غَيْرَ هذَا عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، وَ لَا كَتَبْنَاهُ إِلَّا عَنْ أَحْمَدَ بْنِ عُبَيْدِ اللهِ.

  1. Aḥmad bin ‘Ubaidillāh bin Jarīr bin Jabalah (2491) menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami, Muḥammad bin al-Ḥasan al-Qurdūsī menceritakan kepada kami, Jarīr bin Ḥāzim menceritakan kepada kami, dari al-A‘masy, dari ‘Amr bin Syu‘aib, dari ayahnya, dari kakeknya yang berkata: Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Siapa saja yang didatangi oleh sepupunya lalu meminta sebagian rezekinya dan dia enggan memberikan maka Allah enggan pula memberikan kepadanya fadhilah di hari kiamat. Siapa saja yang tidak mau memberikan sisa air agar tidak pula memberikan sisa rumput maka Allah tidak akan memberinya fadhilah di hari kiamat.

Tidak ada yang meriwayatkan hadits ini dari al-A‘masy kecuali Jarīr, tidak ada yang meriwayatkannya dari Jarīr kecuali Muḥammad bin Ḥasan, hanya ‘Ubaidullāh bin Jarīr yang meriwayatkan hadits ini darinya.

Juga tidak ada riwayat al-A‘masy dari ‘Amr bin Syu‘aib kecuali hadits ini dan kami tidak menulisnya kecuali dari Aḥmad bin ‘Ubaidullāh.

Isnād: Al-Haitsamī mengatakan: “Di dalamnya ada Muḥammad bin al-Ḥasan al-Qurdūsī yang dianggap dha‘īf oleh al-Azdī lantaran hadits ini.”

Ath-Thabrānī juga meriwayatkannya dalam al-Awsath. Al-Mundzirī mengatakan: “Ini gharīb (hanya bersumber dari satu orang – penerj.)” (2502).

رقم الحديث: 94
(حديث مرفوع) حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنُ الْعَبَّاسِ الْمُرِّيُّ الْقَنْطَرِيُّ، حَدَّثَنَا حَرْبُ بْنُ الْحَسَنِ الطَّحَّانُ، حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ حَسَنِ الْأَشْقَرُ، حَدَّثَنَا قَيْسُ بْنُ الرَّبِيْعِ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ عَبَايَةَ يَعْنِي ابْنَ رِبْعِيٍّ، عَنْ أَبِيْ أَيُّوْبَ الْأَنْصَارِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ، لِفَاطِمَةَ:” نَبِيُّنَا خَيْرُ الْأَنْبِيَاءِ وَ هُوَ أَبُوْكِ، وَ شَهِيْدُنَا خَيْرُ الشُّهَدَاءِ وَ هُوَ عَمُّ أَبِيْكِ حَمْزَةُ، وَ مِنَّا مَنْ لَهُ جَنَاحَانِ يَطِيْرُ بِهِمَا فِي الْجَنَّةِ حَيْثُ يَشَاءُ وَ هُوَ ابْنُ عَمِّ أَبِيْكِ جَعْفَرٌ، وَ مِنَّا سِبْطَا هذِهِ الْأُمَّةِ الْحَسَنُ وَ الْحُسَيْنُ وَ هُمَا ابْنَاكِ، وَ مِنَّا الْمَهْدِيُّ”، لَمْ يَرْوِهِ عَنِ الْأَعْمَشِ، إِلَّا قَيْسٌ، تَفَرَّدَ بِهِ حُسَيْنٌ الْأَشْقَرُ.

  1. Aḥmad bin Muḥammad bin al-‘Abbās al-Murrī al-Qantharī (2513) menceritakan kepada kami, Ḥarb bin al-Ḥasan ath-Thaḥḥān menceritakan kepada kami, Ḥusain bin Ḥasan al-Asyqar menceritakan kepada kami, Qais bin ar-Rabī‘ menceritakan kepada kami, dari al-A‘masy, dari ‘Abāyah yaitu putra Rib‘ī, dari Abū Ayyūb al-Anshārī yang berkata: Rasūlullāh s.a.w. bersabda kepada Fāthimah: “Nabi kita adalah nabi terbaik yaitu ayahmu ini, syahid kita adalah syahid terbaik yaitu paman ayahmu Ḥamzah, di antara kita ada orang yang punya dua sayap di mana dia terbang dengan kedua sayap itu di surga ke mana saja dia inginkan yaitu sepupu ayahmu Ja‘far. Dari kita pula akan ada dua cucu untuk umat ini yaitu Ḥasan dan Ḥusain, mereka berdua adalah anakmu dan dari keturunan kitalah al-Mahdī.

Tidak ada yang meriwayatkan hadits ini dari al-A‘masy kecuali Qais hanya Ḥusain bin al-Asyqar yang meriwayatkan hadits ini darinya.

Isnād: Al-Haitsamī mengatakan: “Di dalamnya ada nama Qais bin ar-Rabī‘ dan ia itu dha‘īf tapi ada yang menganggapnya tsiqah. Sedangkan para rawi sisanya adalah perawi yang tsiqah.” (2524).

Catatan:

  1. (249). Disebutkan dalam al-Lubāb (1/257) dan dikatakan: “Dinasabkan kepada kakeknya (al-Jabalī). Dia biasa meriwayatkan dari ayahnya ‘Ubaidullāh dan yang meriwayatkan darinya adalah Abul-Qāsim ath-Thabrānī.
  2. (250). Az-Zawā’id (8/154) dan at-Targhību wat-Tarhīb (2/39).
  3. (251). Saya belum menemukannya.
  4. (252). Az-Zawā’id (9/166).