Hati Senang

سُوْرَةُ الْإِخْلَاصِ

TAFSIR SURAT AL-IKHLĀSH

(Memurnikan Keesaan Allah)

Surat ke-112: 4 ayat

Makkiyyah

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

 

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ. اللهُ الصَّمَدُ. لَمْ يَلِدْ وَ لَمْ يُوْلَدْ. وَ لَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

112:1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.

112:2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala urusan.

112:3. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan,

112:4. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.

(al-Ikhlāsh [112]: 1-4)

 

Tafsir Ayat:

(1) (قُلْ) “Katakanlah,” dengan perkataan tegas, dengan yakin, dan mengetahui maknanya (قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ.) “Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa”, yakni kemahaesaan itu hanya terbatas pada-Nya. Dia-lah Yang Maha Esa, yang tersendiri dengan kesempurnaan, hanya bagi-Nya nama-nama indah, sifat-sifat sempurna dan perbuatan-perbuatan yang suci yang tidak ada tandingan-Nya.

 

(2) (اللهُ الصَّمَدُ.) “Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu”, yakni yang dituju dalam seluruh kebutuhan. Semua penghuni alam atas dan bawah amat memerlukan-Nya. Kepada-Nya mereka meminta apa yang mereka perlukan dan kepada-Nya mereka bergantung pada apa yang mereka inginkan, karena Dia Maha Sempurna dalam sifat-sifatNya, Maha Mengetahui Yang sempurna ilmu-Nya, Maha Penyantun yang sempurna santun-Nya, Maha Penyayang yang sempurna rahmat-Nya, yang meliputi segala sesuatu dan seperti itulah seluruh sifat-sifatNya.

 

(3). Dan di antara kesempurnaan-Nya, Dia (لَمْ يَلِدْ وَ لَمْ يُوْلَدْ.) “Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan”, karena kesempurnaan kecukupan-Nya.

 

(4) (وَ لَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ) “Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia”, baik dalam nama-namaNya, sifat-sifatNya maupun perbuatan-perbuatanNya. Maha Suci dan Maha Tinggi Allah.

Surat ini mencakup tauhid asmā’ dan sifat.

Bagikan:

111

Sūrat-ul-Lahab

 

Sūrat-ul-Lahab, Ayat: 1-5.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Dengan Nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang

 

تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ وَ تَبَّ. مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَ مَا كَسَبَ. سَيَصْلى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ. وَ امْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ. فِيْ جِيْدِهَا حَبْلٌ مِّنْ مَّسَدٍ

111:1. Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.

111:2. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.

111:3. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.

111:4. Dan [begitu pula] istrinya, pembawa kayu bakar.

111:5. Yang di lehernya ada tali dari sabut.

 

Abū Lahab adalah paman dari Nabi s.a.w. sendiri, saudara dari ayah beliau. Nama kecilnya ‘Abd-ul-‘Uzza. Sebagai kita tahu, ‘Uzza adalah nama sebuah berhala yang dipuja orang Quraisy, ‘Abd-ul-‘Uzza bin ‘Abd-ul -Muththalib. Nama istrinya ialah Arwa, saudara perempuan dari Abū Sufyān Sakhar bin Ḥarb, khālah dari Mu‘āwiyah. Dia dipanggilkan Abū Lahab, yang dapat diartikan ke dalam bahasa kita dengan “Pak Menyala”, karena mukanya itu bagus, terang bersinar dan tampan. Gelar panggilan itu sudah dikenal orang buat dirinya.

Dalam kekeluargaan sejak zaman sebelum Islam, hubungan Muḥammad s.a.w. sebelum menjadi Rasul amat baik dengan pamannya ini, sebagai dengan pamannya yang lain-lain juga. Tersebut di dalam riwayat seketika Nabi Muḥammad s.a.w. lahir ke dunia, Abū Lahab menyatakan sukacitanya, karena kelahiran Muḥammad dipandangnya akan ganti adiknya yang meninggal dunia di waktu muda, ayah Muḥammad, yaitu ‘Abdullah. Sampai Abū Lahab mengirimkan seorang jariahnya yang muda, bernama Tsuwaibah untuk menyusukan Nabi sebelum datang Halīmat-us-Sa‘diyah dari desa Bani Sa’ad.

Dan setelah anak-anak pada dewasa, salah seorang putri Rasulullah s.a.w. kawin dengan anak laki-laki Abū Lahab.

Tetapi setelah Rasulullah s.a.w. menyatakan da‘wahnya menjadi Utusan Allah, mulailah Abū Lahab menyatakan tantangannya yang amat keras, sehingga melebihi dari yang lain-lain. Bahkan melebihi dari sikap Abū Jahal sendiri.

Seketika datang ayat yang tersebut di dalam Surat 26, Asy-Syu‘arā’, ayat 214:

وَ اَنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ الْأَقْرَبِيْنَ

Dan beri peringatanlah kepada kaum kerabatmu yang terdekat,” keluarlah Nabi s.a.w. dari rumahnya menuju bukit Shafā. Dia berdiri dan mulai menyeru: “Ya Shabaḥah!” (Berkumpullah pagi-pagi!). Orang-orang yang mendengar tanya bertanya, siapa yang menyeru ini. Ada yang menjawab: “Muḥammad rupanya.” Lalu orang pun berkumpul.

Maka mulailah beliau mengeluarkan ucapannya: “Hai Bani Fulan, Hai Bani Fulan, Hai Bani ‘Abdi Manaf, Hai Bani ‘Abd-ul-Muththalib!” Semua Bani yang dipanggilnya itu pun datanglah berkumpul. Lalu beliau berkata: “Kalau aku katakan kepada kamu semua bahwa musuh dengan kuda peperangannya telah keluar dari balik bukit ini, adakah di antara kamu yang percaya?”

Semua menjawab: “Kami belum pernah mengalami engkau berdusta.”

Maka beliau teruskanlah perkataannya: “Sekarang aku beri peringatan kepadamu semuanya, bahwasanya di hadapan saya adzab Tuhan yang besar sedang mengancam kamu.”

Tiba-tiba sedang orang lain terdiam mempertimbangkan perkataannya yang terakhir itu bersoraklah Abū Lahab: “Apa hanya untuk mengatakan itu engkau kumpulkan kami ke mari?” “Tubban laka!” Anak celaka!. (Terjemah yang tepat ke dalam Bahasa Indonesia dari “celakalah engkau!”)

Tidak berapa saat kemudian turunlah Surat ini, sebagai sambutan keinginan Abū Lahab agar Nabi Muḥammad s.a.w. anaknya itu dapat kebinasaan:

Binasalah kedua tangan Abū Lahab.” (pangkal ayat 1). Diambil kata ungkapan kedua tangan di dalam bahasa Arab, yang berarti bahwa kedua tangannya yang bekerja dan berusaha akan binasa. Orang berusaha dengan kedua tangan, maka kedua tangan itu akan binasa, artinya usahanya akan gagal: “Wa tabb!” – “Dan binasalah dia.” (ujung ayat 1). Bukan saja usaha kedua belah tangannya yang akan gagal, bahkan dirinya sendiri, rohani dan jasmaninya pun akan binasa. Apa yang direncanakan di dalam menghalangi da’wah Nabi s.a.w. tidaklah ada yang akan berhasil, malahan gagal!

Menurut riwayat tambahan dari al-Ḥumaidī: “Setelah istri Abū Lahab mendengar ayat al-Qur’ān yang turun menyebut nama mesjid. Beliau SAW di waktu itu memang ada di dalam mesjid di dekat Ka‘bah dan di sisinya duduk Abū Bakar r.a. Dan di tangan perempuan itu ada sebuah batu sebesar segenggaman tangannya. Maka berhentilah dia di hadapan Nabi yang sedang duduk bersama Abū Bakar itu. Tetapi kelihatan olehnya hanya Abū Bakar saja. Nabi s.a.w. sendiri yang duduk di situ tidak kelihatan olehnya. Lalu dia berkata kepada Abū Bakar: “Hai Abū Bakar, telah sampai kepada saya beritanya bahwa kawanmu itu mengejekkan saya. Demi Allah! Kalau saya bertemu dia, akan saya tampar mulutnya dengan batu ini.”

Sesudah berkata begitu dia pun pergi dengan marahnya.

Maka berkatalah Abū Bakar kepada Nabi s.a.w. “Apakah tidak engkau lihat bahwa dia melihat engkau?” Nabi menjawab: “Dia ada menghadapkan matanya kepadaku, tetapi dia tidak melihatku. Allah menutupkan penglihatannya atasku.”

Tidaklah memberi faedah kepadanya hartanya dan tidak apa yang diusahakannya.” (ayat 2).

Dia akan berusaha menghabiskan harta-bendanya buat menghalangi perjalanan anak saudaranya, hartanyalah yang akan licin tandas, namun hartanya itu tidaklah akan menolongnya. Perbuatannya itu adalah percuma belaka. Segala usahanya akan gagal.

Menurut riwayat dari Rabī’ah bin ‘Ubbād ad-Dailiy, yang dirawikan oleh al-Imām Aḥmad: “Aku pernah melihat Rasulullah s.a.w. di zaman masih jahiliyah itu berseru-seru di Pasar Dzil-Majaz: ‘Hai sekalian manusia! Katakanlah ‘Lā Ilāha Illallāh,’ (Tidak ada Tuhan melainkan Allah), niscaya kamu sekalian akan beroleh kemenangan.’”

Orang banyak berkumpul mendengarkan dia berseru-seru itu. Tetapi di belakangnya datang pula seorang laki-laki, mukanya cukup pantas. Dan dia berkata pula dengan kerasnya: “Jangan kalian dengarkan dia. Dia telah khianat kepada agama nenek-moyangnya, dia adalah seorang pendusta!” Ke mana Nabi s.a.w. pergi, ke sana pula diturutkannya. Orang itu ialah pamannya sendiri, Abū Lahab.

Menurut riwayat dari ‘Abd-ur-Raḥmān bin Kisan, kalau ada utusan dari kabilah-kabilah ‘Arab menemui Rasulullah s.a.w. di Makkah hendak minta keterangan tentang Islam, mereka pun, ditemui oleh Abū Lahab. Kalau orang itu bertanya kepadanya tentang anak saudaranya itu, sebab dia tentu lebih tahu, dibusukkannyalah Nabi s.a.w. dan dikatakannya: “Kadzdzāb, Sāhir.” (Penipu, tukang sihir).

Namun segala usahanya membusuk-busukkan Nabi itu gagal jua!

Akan masuklah dia ke dalam api yang bernyala-nyala.” (ayat 3). Dia tidak akan terlepas dari siksaan dan adzab Allah. Dia akan masuk api neraka. Dia kemudiannya mati sengsara karena terlalu sakit hati mendengar kekalahan kaum Quraisy dalam peperangan Badar. Dia sendiri tidak turut dalam peperangan itu. Dia hanya memberi belanja orang lain buat menggantikannya. Dengan gelisah dia menunggu berita hasil perang Badar. Dia sudah yakin Quraisy pasti menang dan kawan-kawannya akan pulang dari peperangan itu dengan gembira. Tetapi yang terjadi ialah sebaliknya. Utusan-utusan yang kembali ke Makkah lebih dahulu mengatakan mereka kalah. Tujuh puluh yang mati dan tujuh puluh pula yang tertawan. Sangatlah sakit hatinya mendengar berita itu, dia pun mati. Kekesalan dan kecewa terbayang di wajah jenazahnya.

Anak-anaknya ada yang masuk Islam seketika dia hidup dan sesudah dia mati. Tetapi seorang di antara anaknya itu bernama Utaibah adalah menantu Nabi, kawin dengan Ruqaiyah. Karena disuruh oleh ayahnya menceraikan isterinya, maka puteri Nabi itu diceraikannya. Nabi mengawinkan anaknya itu kemudiannya dengan ‘Utsmān bin ‘Affān. Nabi mengatakan bahwa bekas menantunya itu akan binasa dimakan “anjing hutan”. Maka dalam perjalanan membawa perniagaan ayahnya ke negeri Syam, di sebuah tempat bermalam di jalan dia diterkam singa hingga mati.

Dan istrinya.” (pangkal ayat 4). Dan isterinya akan disiksa Tuhan seperti dia juga. Tidak juga akan memberi faedah baginya hartanya, dan tidak juga akan memberi faedah baginya segala usahanya: “Pembawa kayu bakar.” (ujung ayat 4).

Sebagai dikatakan tadi nama isterinya ini Arwa, gelar panggilan kehormatannya sepadan dengan gelar kehormatan suaminya. Dia bergelar Ummu Jamīl: Ibu dari kecantikan! Dia saudara perempuan dari Abū Sufyān. Sebab itu dia adalah khalah (saudara perempuan ayah) dari Mu‘āwiyah dan dari Umm-ul-Mu’minīn Ummu Ḥabībah. Tetapi meskipun suaminya di waktu dulu seorang yang tampan dan ganteng, dan dia ibu dari kecantikan, karena sikapnya yang buruk terhadap Agama Allah kehinaan yang menimpa diri mereka berdua. Si isteri menjadi pembawa “kayu api”, kayu bakar, menyebarkan api fitnah ke sana sini buat membusuk-busukkan Utusan Allah.

Yang di lehernya ada tali dari sabut.” (ayat 5).

Ayat ini mengandung dua maksud. Membawa tali dari sabut, artinya, karena bakhilnya, dicarinya kayu api sendiri ke hutan, dililitkannya kepada lehernya, dengan tali daripada sabut pelepah korma, sehingga berkesan kalau dia bawanya berjalan.

Tafsir yang kedua ialah membawa kayu api ke mana-mana, atau membawa kayu bakar. Membakar perasaan kebencian terhadap Rasulullah mengada-adakan yang tidak ada. Tali dari sabut pengikat kayu api fitnah, artinya bisa menjerat lehernya sendiri.

Ibnu Katsīr mengatakan dalam tafsirnya bahwa Tuhan menurunkan Surat tentang Abū Lahab dan isterinya ini akan menjadi pengajaran dan i‘tibar bagi manusia yang mencoba berusaha hendak menghalangi dan menantang apa yang diturunkan Allah kepada Nabi-Nya, karena memperturutkan hawa nafsu, mempertahankan kepercayaan yang salah, tradisi yang lapuk dan adat-istiadat yang karut-marut. Mereka menjadi lupa diri karena merasa sanggup, karena kekayaan ada. Disangkanya sebab dia kaya, maksudnya itu akan berhasil. Apatah lagi dia merasa bahwa gagasannya akan diterima orang, sebab selama ini dia disegani orang, dipuji karena tampan, karena berpengaruh. Kemudian ternyata bahwa rencananya itu digagalkan Tuhan, dan harta-bendanya yang telah dipergunakannya berhabis-habis untuk maksudnya yang jahat itu menjadi punah dengan tidak memberikan hasil apa-apa. Malahan dirinyalah yang celaka. Demikian Ibnu Katsīr.

Dan kita pun menampak di sini bahwa meskipun ada pertalian keluarga di antara Rasulullah s.a.w. dengan dia, namun sikapnya menolak kebenaran Ilahi, tidaklah akan menolong menyelamatkan dia hubungan darahnya itu.

Selain bernama “al-Lahab” (nyala) Surat ini pun bernama “al-Masad”, yang berarti tali yang terbuat dari sabut itu. Beberapa faedah dan kesan kita perdapat dari Surat ini.

Pertama: Meskipun Abū Lahab paman kandung Nabi s.a.w. saudara kandung dari ayahnya, namun oleh karena sikapnya yang menantang Islam itu, namanya tersebut terang sekali di dalam wahyu, sehingga samalah kedudukannya dengan Fir’aun, Hammān dan Qārūn, sama disebut namanya dalam kehinaan.

Kedua: Sūrat-ul-Lahab ini pun menjadi i’tibar bagi kita bagaimana hinanya dalam pandangan agama seseorang yang kerjanya “membawa kayu api”, yaitu menghasut dan memfitnah ke sana ke mari dan membusuk-busukkan orang lain. Dan dapat pula dipelajari di sini bahwasanya orang yang hidup dengan sakit hati, dengan rasa kebencian kerapkalilah bernasib sebagai Abū Lahab itu, yaitu mati kejang dengan tiba-tiba bilamana menerima suatu berita yang tidak diharap-harapkannya. Mungkin juga Abū Lahab itu ditimpa oleh penyakit darah tinggi, atau sakit jantung.

Bagikan:

BAB II

الْمِيْمُ وَ النُّوْنُ الْمُشَدِّدَتَيْنِ

TENTANG HUKUM NŪN DAN MĪM BERTASYDĪD

 

وَ غُنَّ مِيْمًا ثُمَّ نُوْنًا شُدِّدًاوَ سَمِّ كُلًّا حَرْفَ غُنَّةٍ بَدَا

Apabila ada mīm dan nūn diberi tasydīd, maka hukum bacaannya wajib ghunnah (mendengung).

 

Contoh:

إِنَّا اَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ– قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ
وَ امْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ– عَمَّ يَتَسَاءَلُوْنَ.

 

Bagikan:

SURAH AL-LAHAB

“NYALA API”

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan Nama Allah, Yang Maha Pengasih, Lagi Maha Penyayang.

 

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ

  1. Semoga kedua tangan Abū Lahab binasa, dan semoga dia pun binasa!

Tabba berarti ‘hilang, rugi’, dan ‘binasa, atau rusak’. Abū Lahab adalah paman Nabi. Ia orang yang energik, berapi-api, ganteng dan berbahaya, laksana seekor singa. Ia menjunjung tinggi tradisi-tradisi lama, dan membelanya dengan cara yang dogmatis dan fanatis. Tapi apa pun yang diusahakan ‘tangannya’, bagaimana pun perbuatannya, ia tetap merugi.

مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ

  1. Harta dan apa yang ia peroleh tak akan ada gunanya!

Apa pun yang ia peroleh, apa pun kekuasaan yang ia miliki, tidak ada manfaatnya.

سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ

  1. Ia akan dijebloskan ke dalam api yang menyala,

Ia ditakdirkan untuk api abadi, sebagaimana dalam kehidupan ini ia membakar dirinya dengan agitasinya, kebenciannya yang berkobar-kobar dan segala ketidak-puasan serta rasa frustrasinya.

وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ

  1. Dan istrinya, si pembawa kayu bakar.

Istri Abū Lahab adalah adiknya Abū Sufyān. Ḥathab berarti ‘kayu bakar’, pengertiannya adalah, menurut ungkapan ‘pembawa kayu bakar’, bahwa ia mengadu domba orang-orang satu sama lain dengan kesana-kemari ngerumpi menceritakan kebohongan dan menghembuskan gosip serta menghasut. Ia selalu melemparkan semak-semak berduri kecil sepanjang jalan yang biasa dilewati Nabi untuk sampai ke Ka‘bah, agar dalam kegelapan waktu subuh beliau menginjaknya. Kejadian ini menunjukkan bahwa ketidaksenangan batinnya memperlihatkan diri dalam apa saja yang dilakukannya secara lahiriah, dan duri-duri batinnya dibawa secara lahiriah di atas punggungnya.

فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِّن مَّسَدٍ

  1. Di lehernya ada jerat tali dari sabut pohon palem yang dipintal dengan kuat!

Jīd menggambarkan bagian leher tempat kalung biasa bertengger. Masad biasanya berarti daun palem yang dipintal. Ini berarti bahwa apa yang diseretnya—yang melingkari lehernya—adalah rantai yang dipintal kuat buatannya sendiri.

Meskipun surah ini secara historis berkenaan dengan seorang paman Nabi dan mitranya dalam penyiksaan, yakni istrinya, tapi di mana pun dan kapan pun kebenaran muncul, penolakan dan perlawanan dari seorang Abū Lahab selalu dekat menyertai.

Bagikan:

Keempat: At-Tirmidzi meriwayatkan, dari Anas bin Malik, ia berkata:

أَقْبَلْتُ مَعَ النَّبِيِّ (ص) رَجُلًا يَقْرَأُ: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، اللهُ الصَّمَدُ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ (ص): وَجَبَتْ. قُلْتُ: وَ مَا وَجَبَتْ؟ قَالَ: الْجَنَّةُ.

Pada suatu hari aku pernah bepergian bersama Nabi s.a.w., dan ketika di perjalanan tiba-tiba kami mendengar seseorang membaca sūrat-ul-Ikhlāsh, lalu beliau berkata: “Telah ditetapkan baginya.” Aku pun lantas bertanya kepada beliau: “Apakah yang telah ditetapkan baginya wahai Rasulullah?” beliau menjawab: “Surga.” (827).

At-Tirmidzi mengomentari: hadits ini termasuk hadits ḥasan shaḥīḥ.

At-Tirmidzi juga meriwayatkan, dari Muhammad bin Marzuq-il-Bashri, dari Hatim bin Maimun Abu Sahal, dari Tsabit-ul-Bunani, dari Anas bin Malik, ia berkata: Nabi s.a.w. pernah bersabda:

مَنْ قَرَأَ كُلَّ يَوْمٍ مِائَتَيْ مَرَّةٍ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ مَحِيَ عَنْهُ ذُنُوْبُ خَمْسِيْنَ سَنَةً إِلَّا أَنْ يَكُوْنَ عَلَيْهِ دَيْنٌ.

Barang siapa yang membaca sūrat-ul-Ikhlāsh sebanyak dua ratus kali dalam satu hari maka akan dihapuskan darinya dosa-dosa yang dilakukan selama lima puluh tahun, kecuali ia masih menanggung hutang yang belum dibayarnya.” (828).

Isnad yang sama juga menyebutkan sebuah riwayat lain, yaitu sabda Nabi s.a.w.: “Barang siapa yang hendak beranjak tidur, dan ia memalingkan tubuhnya ke arah kanan, kemudian membaca sūrat-ul-Ikhlāsh sebanyak seratus kali, maka pada hari kiamat nanti Allah akan berkata kepadanya: “Wahai hambaku, palingkanlah tubuhmu ke arah kanan dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (829) At-Tirmidzi mengomentari: hadits ini termasuk hadits gharīb, yang berasal dari hadits shaḥīḥ, dari Anas.

Dalam kitab Musnad Abu Muhammad ad-Darimi, disebutkan sebuah riwayat lain dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: “Barang siapa yang membaca sūrat-ul-Ikhlāsh sebanyak lima puluh kali, maka akan dihapuskan semua dosa-dosanya yang dilakukan selama lima puluh tahun.” (830).

Ad-Darimi juga meriwayatkan, dari ‘Abdullah bin Yazid, dari Haiwah, dari Abu

Aqil, dari Sa‘id bin Musayib, ia berkata: Nabi s.a.w. pernah bersabda: “Barang siapa yang membaca sūrat-ul-Ikhlāsh sebanyak sepuluh kali, maka akan didirikan baginya sebuah istana di dalam surga. Dan barang siapa yang membacanya sebanyak dua puluh kali, maka akan didirikan baginya dua buah istana di dalam surga. Dan barang siapa yang membacanya sebanyak tiga puluh kali, maka akan didirikan baginya tiga buah istana di dalam surga.” Lalu ‘Umar bin Khaththab bertanya: “Wahai Rasulullah, aku bersumpah jika demikian adanya maka kami semua akan memiliki banyak istana di dalam surga.” Nabi s.a.w. menjawab” “Ketahuilah, bahwa Allah lebih luas dari itu.” (831).

Abu Muhammad (ad-Darimi) mengatakan: Abu ‘Aqil adalah Zuhrah bin Ma‘bad, dan Abu ‘Aqil ini banyak mengira ia adalah seorang wali.

Abu Nu‘aim juga meriwayatkan, dari Abul-Ala Yazid bin ‘Abdillah bin asy-Syikhkhir, dari ayahnya (asy-Syikhkhir), ia berkata: Nabi s.a.w. pernah bersabda: “Barang siapa yang membaca sūrat-ul-Ikhlāsh ketika sakit yang menyebabkannya meninggal dunia (yakni: sakit yang dilanjutkan dengan tutup usia), maka ia tidak akan mendapatkan fitnah kubur (yakni: siksa kubur), ia juga akan diselamatkan dari tekanan di dalam kubur, dan di hari kiamat nanti ia akan dibawa oleh para malaikat dengan telapak tangan mereka hingga melewati shirāth (yakni: jembatan menuju surga/shirāth-al-mustaqīm), hingga sampai di surga.” (832). Abu Nu‘aim mengatakan: hadits ini termasuk hadits gharīb, yang diriwayatkan dari Yazid, namun perawi Nashr bin Hamad al-Bajalli meriwayatkan hadits ini seorang diri (tanpa didukung oleh riwayat hadits lainnya).

Abu Bakar Ahmad bin ‘Ali bin Tsabit-il-Hafizh juga meriwayatkan, dari ‘Isa bin Abi Fathimat-ir-Razi, dari Anas bin Malik, ia berkata: “Murka Allah akan muncul ketika sebuah lonceng dibunyikan, namun setela malaikat turun ke bumi dan mengelilinginya, lalu mendapatkan ada manusia yang masih melantunkan sūrat-ul-Ikhlāsh, maka kemurkaan Allah pun luntur bersama semakin banyaknya para pembaca surah tersebut.”

Abu Bakar juga meriwayatkan, dari Muhammad bin Khalid-il-Janadi, dari Malik, dari Nafi‘, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata: Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: “Barang siapa yang masuk ke dalam sebuah masjid pada hari Juma‘at, lalu ia mendirikan shalat empat rakaat dan membaca pada setiap rakaatnya al-Fātiḥah dan sūrat-ul-Ikhlāsh sebanyak lima puluh kali, hingga berjumlah dua ratus pada empat rakaat, maka ia tidak akan mangkat kecuali telah melihat rumahnya di surga atau diperlihatkan kepadanya.

Abu ‘Umar Maula Jurair bin ‘Abdillah al-Bajalli (yakni hamba sahaya Jurair) meriwayatkan, dari Jurair, ia berkata: Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: “Barang siapa yang membaca sūrat-ul-Ikhlāsh ketika masuk ke dalam sebuah rumah, maka kefakiran akan dihapuskan dari penghuni rumah tersebut dan sekaligus juga para tetangganya.” (833).

Riwayat lain dari Anas menyebutkan, bahwa Nabi s.a.w. pernah bersabda: “Barang siapa yang membaca sūrat-ul-Ikhlāsh satu kali, maka ia akan diberi keberkahan. Dan barang siapa yang membacanya dua kali, maka ia akan diberi keberkahan beserta keluarganya. Dan barang siapa yang membacanya tiga kali, maka ia akan diberi keberkahan sekaligus juga para tetangganya. Sedangkan yang membacanya sebanyak dua belas kali, maka Allah akan mendirikan istana untuknya di dalam surga sebanyak dua belas istana. Dan para malaikat penjaga surga akan berkata: marilah kita melihat istana saudara kita (yakni: ia akan dikunjungi oleh para malaikat, dan dianggap sebagai saudara mereka). Namun apabila ia membacanya sebanyak seratus kali, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa yang diperbuatnya selama lima puluh tahun, kecuali ia pernah membunuh atau mencuri. Sedangkan apabila ia membacanya empat ratus kali, maka Allah akan mengampuni segala dosanya yang dilakukan selama seratus tahun. Dan apabila ia membacanya sebanyak seribu kali, maka ia tidak akan mangkat kecuali telah melihat tempatnya di surga nanti atau diperlihatkan kepadanya.” (834).

Sebuah riwayat dari Sahal bin Sa‘ad as-Sa‘idi menyebutkan: Pada suatu ketika ada seorang laki-laki yang mengeluh kepada Nabi s.a.w. mengenai kefakirannya dan sulitnya kehidupan yang ia jalani, lalu Nabi s.a.w. berkata kepadanya: “Apabila kamu ingin memasuki sebuah rumah, maka berilah salam jika ada seseorang di dalam rumah tersebut, namun jika tidak seorang pun yang berada di rumah tersebut maka bershalawatlah kepadaku dan bacalah olehmu sūrat-ul-Ikhlāsh satu kali saja.

Kemudian setelah laki-laki tersebut mempraktekkan nasehat dari Nabi s.a.w., seakan rezeki yang didapatkannya tidak pernah berhenti mengalir, bahkan para tetangganya pun ikut merasakan rezeki yang sangat melimpah itu.

Anas meriwayatkan: Ketika kami bersama Nabi s.a.w. dalam perang Tabuk, kami melihat matahari yang terbit pada hari itu sangat putih bercahaya dan bersinar dengan indah, tidak pernah kami melihat matahari terbit seperti itu sebelumnya. Lalu malaikat Jibril turun dari langit, dan Nabi s.a.w langsung bertanya kepadanya: “Wahai Jibril, mengapa hari ini matahari yang terbit begitu putih sinarnya, aku tidak pernah melihatnya terbit seperti itu sebelumnya.” Malaikat Jibril menjawab: “Ketahuilah bahwa Mu‘awiyah bin Mu‘awiyah al-Laitsi meninggal dunia di kota Madinah hari ini. Oleh karena itu Allah mengutus tujuh puluh ribu malaikat untuk turun ke bumi dan ikut menshalatkannya.” Lalu Nabi s.a.w. bertanya kembali: “Apa yang telah dilakukan oleh Mu‘awiyah bin Mu‘awiyah hingga ia mendapatkan kehormatan itu?” malaikat Jibril menjawab: “Karena ia sering membaca sūrat-ul-Ikhlāsh, pada malam hari, pada siang hari, pada saat ia berjalan, pada saat ia berdiri, pada saat ia duduk, dan pada setiap keadaannya. Wahai Rasulullah, apakah engkau ingin agar aku menghentikan waktu di bumi agar engkau dapat shalat atas jenazahnya?” Nabi s.a.w. menjawab: “Baiklah.” Lalu Nabi s.a.w. dibawa oleh malaikat Jibril ke kota Madinah untuk ikut serta menshalatkan jenazah Mu‘awiyah, dan setelah itu dikembalikan lagi ke Tabuk. (835). Riwayat ini disampaikan oleh ats-Tsa‘labi. Wallāhu a‘lam.

 

Catatan:

Bagikan:

Kedua: Dalam kitab Shaḥīḥ-ul-Bukhārī disebutkan, sebuah riwayat dari Abu Sa‘id-il-Khudri, ia berkata: Pada suatu hari ada seorang laki-laki yang mendengar seseorang membaca sūrat-ul-Ikhlāsh dan mengulang-ulangnya. Ketika pagi harinya laki-laki tersebut menghadap Nabi s.a.w. dan menceritakan hal itu, namun yang dihitung olehnya dan dilaporkan kepada Nabi s.a.w. hanya sedikitnya saja (sedikit dari qirā’ah sūrat-ul-Ikhlāsh yang dibaca oleh orang tadi), lalu Nabi s.a.w. berkata:

وَ الَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ.

Demi Tuhan Yang menggenggam jiwaku, sūrat-ul-Ikhlāsh itu setara dengan sepertiga al-Qur’an.” (8201).

Riwayat lain dari Sa‘id menyebutkan, bahwa Nabi s.a.w. pernah bertanya kepada para sahabatnya:

أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ ثُلُثَ الْقُرْآنِ فِيْ لَيْلَةٍ؟ فَشَقَّ ذلِكَ عَلَيْهِمْ وَ قَالُوْا: أَيُّنَا يُطِيْقُ ذلِكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ فَقَالَ: اللهُ الْوَاحِدُ الصَّمَدُ ثُلُثُ الْقُرْآنِ.

Apakah seseorang di antara kalian tidak mampu membaca sepertiga dari al-Qur’an dalam satu malam?” Maka hal itu tentu saja sangat berat untuk mereka, lalu mereka balik bertanya: “Adakah di antara kami yang dapat melakukannya wahai Rasulullah?” beliau menjawab: “Ketahuilah bahwa surah al-Ikhlash itu setara dengan sepertiga al-Qur’an.” (8212) H.R. Muslim, yang diriwayatkan dari Abu Darda’.

Imam Muslim juga meriwayatkan, dari Abu Hurairah, ia berkata: Nabi s.a.w. bersabda:

اِحْشُدُوْا فَإِنِّيْ سَأَقْرَأُ عَلَيْكُمْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ. فَحَشَدَ مَنْ حَشَدَ ثُمَّ خَرَجَ نَبِيُّ اللهِ (ص) فَقَرَأَ: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، ثُمَّ دَخَلَ. فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ: إِنِّيْ أُرَى هذَا خَبَرٌ جَاءَهُ مِنَ السَّمَاءِ فَذَاكَ الَّذِيْ أَدْخَلَهُ، ثُمَّ خَرَجَ نَبِيُّ اللهِ (ص) فَقَالَ: إِنِّيْ قُلْتُ لَكُمْ سَأَقْرَأُ عَلَيْكُمْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ، أَلَا إِنَّهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ.

Berkumpullah, karena aku akan membacakan kepada kalian sepertiga al-Qur’an.” Lalu orang-orang di sekitar Nabi s.a.w. pun berkumpul, kemudian Nabi s.a.w. masuk ke dalam rumahnya dan sesaat kemudian keluar lagi seraya melantunkan ayat-ayat dari sūrat-ul-Ikhlāsh, kemudian beliau masuk lagi ke dalam rumahnya. Para pendengar pun kebingungan dan saling bertanya satu sama lain, salah satu dari mereka mengatakan: “Aku berpendapat bahwa beliau akan menerima sesuatu dari langit, itulah yang membuat beliau masuk ke dalam rumahnya.” Tidak lama kemudian Nabi s.a.w. keluar dari rumahnya dan berkata: “Bukankah aku sebelumnya memberitahukan bahwa aku akan membacakan kepada kalian sepertiga dari al-Qur’an, ketahuilah bahwa sūrat-ul-Ikhlāsh itu setara denagn sepertiga al-Qur’an.” (8223).

Beberapa ulama berpendapat, bahwa setaranya surah ini dengan sepertiga al-Qur’an karena surah ini menyebut nama Allah yang berbeda dengan nama yang lain, dan nama ini juga tidak disebutkan pada surah lainnya, yaitu ash-shamad. Begitu pun juga dengan nama aḥad.

Beberapa ulama lainnya berpendapat, bahwa al-Qur’an itu terbagi menjadi tiga bagian, yang pertama adalah tentang hukum, bagian yang kedua adalah tentang janji dan ancaman, sedangkan bagian yang ketiga adalah tentang nama-nama Allah dan sifat-sifatNya. Karena Sūrat-ul-Ikhlāsh ini mencakup nama dan sifat Allah, maka surah ini disetarakan dengan sepertiga al-Qur’an.

Penafsiran yang terakhir ini didukung dengan hadits Nabi s.a.w. yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Abu Darda’, ia mengatakan bahwa Nabi s.a.w. pernah bersabda:

إِنَّ اللهَ جَزَّأَ الْقُرْآنَ ثَلاَثَةَ أَجْزَاءٍ، فَجَعَلَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ جُزْءًا مِنْ أَجْزَاءِ الْقُرْآنِ.

Sesungguhnya Allah membagi al-Qur’an menjadi tiga bagian. Dan Allah menjadikan sūrat-ul-Ikhlāsh salah satu bagian dari ketiganya.” (8234) Ini adalah dalil tekstuil yang tidak perlu penafsiran lagi. Dan karena makna inilah dinamakannya sūrat-ul-Ikhlāsh. Wallāhu a‘lam.

 

Ketiga: Imam Muslim meriwayatkan, dari ‘A’isyah, bahwasanya Nabi s.a.w. pernah mengutus seseorang untuk memimpin satu pleton tentara muslimin dengan membawa suatu tugas. Orang tersebut juga diangkat oleh para sahabat lainnya untuk menjadi imam shalat mereka, namun mereka juga sedikit bingung, karena imam mereka selalu menutup qira’ah shalatnya dengan sūrat-ul-Ikhlāsh. Sepulangnya mereka dari tugas tersebut, mereka segera mengadukan hal ini kepada Nabi s.a.w., dan beliau berkata: “Tanyakanlah kepadanya mengapa ia melakukan hal itu.” Lalu mereka pun segera menanyakannya, dan orang tersebut menjawab: “Karena di dalam surah tersebut terdapat sifat Tuhan, oleh sebab itulah aku senang membaca surah tersebut.” Lalu jawaban ini disampaikan kepada Nabi s.a.w., yang disambut dengan kegembiraan beliau, lalu beliau bersabda: “Beritahukanlah kepadanya bahwa Allah s.w.t. mencintainya.” (8245).

Sebuah riwayat lain juga disebutkan oleh at-Tirmidzi, dari Anas bin Malik, ia berkata: Pernah ada seorang laki-laki dari golongan Anshar yang dipercaya untuk menjadi imam di masjid Quba, Akan tetapi, setiap kali ia selesai membaca sūrat-ul-Fātiḥah ia selalu mengiringinya dengan membaca sūrat-ul-Ikhlāsh hingga selesai, dan setelah itu barulah ia membaca surah yang lainnya. Hal ini dilakukannya pada setiap rakaat, yang membuat para sahabat yang lain kebingungan, dan akhirnya memutuskan untuk berbicara kepadanya, mereka mengatakan: “Engkau selalu membaca sūrat-ul-Ikhlāsh setelah sūrat-ul-Fātiḥah, lalu apakah engkau tidak cukup dengan membaca surah tersebut hingga engkau juga membaca surah lainnya setelah itu? Alangkah lebih baiknya jika engkau mau memilih, antara hanya membaca sūrat-ul-Ikhlāsh, atau hanya membaca surah lainnya.” Ia menjawab: “Aku tidak mungkin tidak membaca sūrat-ul-Ikhlāsh. Kalau kalian masih menghendaki aku menjadi imam kalian maka ketahuilah bahwa aku akan terus membacanya, namun jika kalian tidak menghendaki bahwa aku akan terus membacanya, namun jika kalian tidak menghendaki maka kalian boleh mencari imam lainnya.” Namun sayangnya masyarakat di sana masih mempercayainya dan menganggapnya sebagai imam yang terbaik, mereka tidak mau jika harus memilih imam lainnya.

Ketika pada suatu hari Nabi s.a.w. mengunjungi mereka di sana, masyarakat pun segera menanyakan hal itu kepada beliau, lalu beliau bertanya kepada sang imam:

يَا فُلَانُ، مَا يَمْنَعُكَ مِمَّا يَأْمُرُ بِهِ أَصْحَابُكَ؟ وَ مَا يَحْمِلُكَ أَنْ تَقْرَأَ هذِهِ السُّوْرَةَ فِيْ كُلِّ رَكَعَةٍ؟ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنِّيْ أُحَبُّهَا فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ (ص): إِنَّ حُبَّهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّةَ.

Wahai fulan, apa sebabnya kamu tidak mau mendengarkan permintaan mereka? Dan apa yang menyebabkan kamu selalu membaca sūrat-ul-Ikhlāsh pada setiap rakaatnya?” ia menjawab: “Wahai Rasulullah, aku sangat mencintai surah tersebut.” Lalu Nabi s.a.w. berkata: “Kecintaanmu terhadap surah itulah yang akan memasukkan kamu ke dalam surga di akhirat nanti.” (8256). At-Tirmidzi mengometari hadits ini termasuk hadits ḥasan gharīb shaḥīḥ.

Ibn-ul-‘Arabi mengatakan (8267): Ini adalah bukti diperbolehkannya mengulang suatu surah pada setiap rakaat. Dan aku juga pernah melihat seorang imam di salah satu mesjid yang secara turun-temurun, mereka hanya membaca sūrat-ul-Fātiḥah dan sūrat-ul-Ikhlāsh pada setiap rakaat ketika shalat tarawih di bulan Ramadhan. Dari dua puluh delapan imam di negeri Turki memang hanya di mesjid itulah yang membaca demikian, namun hal ini diperbolehkan sebagai keringanan dan mencari keutamaan surah tersebut. Lagipula, mengkhatamkan (menyelesaikan) satu al-Qur’an dalam satu bulan Ramadhan bukanlah sesuatu yang disunnahkan.

 

Menurut saya (al-Qurthubi): Pendapat ini juga disampaikan oleh Imam Malik, ia mengatakan: mengkhatamkan al-Qur’an pada shalat tarawih di mesjid bukanlah sautu rutinitas yang disunnahkan.

 

Catatan:


  1. 821). H.R. al-Bukhari pada pembahasan tentang keutamaan al-Qur’an, bab: Keutamaan sūrat-ul-Ikhlāsh (3/230). Dan makna hadits yang sama juga diriwayatkan oleh Muslim pada pembahasan tentang tata cara shalat musafir, bab: Keutamaan sūrat-ul-Ikhlāsh (1/556). 
  2. 822). H.R. Muslim pada pembahasan tentang tata cara shalat musafir (1/557). 
  3. 823). H.R. Muslim pada pembahasan tentang tata cara shalat musafir (1/556). 
  4. 824). H.R. Muslim pada pembahasan tentang tata cara shalat musafir, bab: Keutamaan Membaca sūrat-ul-Ikhlāsh. Hadits ini juga disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya, yang dinukilkan dari Imam al-Bukhari pada pembahasan tentang tauhid. 
  5. 825). H.R. at-Tirmidzi pada pembahasan tentang keutamaan al-Qur’an, bab: Hadits yang menyebutkan tentang sūrat-ul-Ikhlāsh (5/169, nomor 2901). 
  6. 826). Lih. Aḥkām-ul-Qur’ān (4/1995). 
  7. 827). H.R. at-Tirmidzi pada pembahasan tentang keutamaan al-Qur’an (5/167-168, nomor 2897), dan ia mengomentari: hadits ini termasuk hadits ḥasan gharīb

Bagikan:

BAB 1

النُّوْنُ السَّاكِنَةِ وَ التَّنْوِيْنِ

TENTANG HUKUM NŪN MATI DAN TANWĪN

 

لِلـنُّوْنِ إِنْ تَسْكُنْ وَ لِلتّـَنْوِيْنِأَرْبَـعُ أَحْكَـامٍ فَخُـذْ تَبْـيِـيـْنِـيْ

Apabila ada nūn mati atau tanwīn bertemu dengan salah satu huruf Hija’iyyah, maka hukumnya ada empat bacaan. Sebagaimana keterangan di bawah ini.

فَـالْأَوَّلُ الْإِظْـهَارُ قَـبْـلَ أَحْـرُفِلِلْحَـلْـقِ سِـتٍّ رُتِّبَتْ فَلـتَـعْرِفِ
هَمْـزٌ فَـهَـاءٌ ثُـمَّ عَـيْـنٌ حَـاءُمُـهْمَلَـتَانِ ثُــمَّ غَيْنٌ خَاءُ

Pertama: adalah Izhhār

Apabila ada nūn mati (sukūn) atau tanwīn bertemu dengan salah satu huruf Ḥalaq, yakni hamzah, hā’, ain, ghain, ḥā’ dan khā’ (ء، ه، ع، غ، ح، خ), maka hukumnya dibaca Izhhār Ḥalqī.

Contoh:

ء – مَنْ آمَنَ– جَنَّاتٍ أَلْفَافًا
ه – يَنْهَوْنَ– سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
ع – أَنْعَمْتَ– فِيْ جَنَّةٍ عَالِيَةٍ
غ – فَسَيُنْغِضُوْنَ– حَلِيْمًا غَفُوْرًا
ح – يَنْحِتُوْنَ– عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ
خ – لِمَنْ خَافَ– يَوْمئِذٍ خَاشِعَةٌ

Keterangan:

Izhhār artinya membaca dengan terang atau mengeluarkan huruf dari makhrajnya dengan tiada bercampur ghunnah (mendengung) dan tasydīd. Ḥalqī artinya tenggorokan. Huruf Ḥalqī artinya huruf yang keluarnya suara berasal dari tenggorokan.

 

وَ الـثَّانِيْ إِدْغَامٌ بِسِـتَّةٍ أَتَـتْفِيْ يَـرْمَلُـوْنَ عِنْدَهُمْ قَدْ ثَبَتَتْ
لكِنَّهَا قِسْمَانِ قِسْــمٌ يُـدْغَمَافِـيْهِ بِـغُـنّـَةٍ بِيَـنْمُوْ عُلِـمَـا
إِلَّا إِذَا كَانَـا بِكِلْمَـةٍ فَـلَاتُـدْغِـمْ كَدُنْـيَا ثُمَّ صِنْوَانٍ تَـلَا
وَ الثَّـانِيْ إِدْغَـامٌ بِغَيْــرِ غُـنَّةْفِي اللَّامِ وَ الـرَّا ثُـمَّ كَـرَّرَنَّـهْ

Kedua: adalah Idghām

Yakni Nūn mati dan tanwīn dimasukkan dalam huruf-huruf enam yang terkumpul dalam kata-kata: (يَرْمَلُوْنَ).

(ي، ر، م، ل، و، ن)

Tetapi huruf enam itu dibagi menjadi dua, yaitu: 1. Idghām bighunnah, 2. Idghām bighairi ghunnah.

  1. Idghām bighunnah

Apabila ada nūn mati atau tanwīn bertemu dengan salah satu huruf.

(يَنْمُوْ) yakni (ي، ن، م، و).

Maka hukumnya dibaca Idghām bighunnah.

Contoh:

ي – مَنْ يَقُوْلُ– يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ
ن – مِنْ نُطْفَةٍ– عِظَامًا نَخِرَةً
م – مِنْ مَسَدٍ– حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ
و – مِنْ وَلِيٍّ– أَبِيْ لَهَبٍ وَ تَبَّ.

Kecuali apabila ada nūn mati bertemu dengan salah satu huruf empat tersebut di atas dalam satu kalimat, maka tidak boleh dibaca Idghām bighunnah tetapi harus dibaca Izhhār.

Contoh:

صِنْوَانٌقِنْوَانٌ
فِي الدُّنْيَابُنْيَانٌ
  1. Idghām bighairi ghunnah (Bilā ghunnah)

Apabila ada nūn mati atau tanwīn bertemu dengan huruf (ل) atau (ر) maka hukumnya wajib dibaca Idghām bighairi ghunnah (bilā ghunnah).

Contoh:

ل – مِنْ لَدُنْهُ– فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّيْنَ
ر – فِيْ عِيْشَةٍ رَاضِيَةٍ– مِنْ رَبِّهِمْ

Keterangan:

Idghām artinya memasukkan huruf satu ke dalam huruf yang lain (berikutnya).

Bighunnah artinya bacaan yang mendengung.

Bighairi ghunnah (bilā ghunnah) artinya tidak mendengung.

 

وَّ الثَـالِثُ الْإِقْلَابُ عِنْدَ الْبَـاءِمِيـْمًا بِغُـنَّــةٍ مَـعَ الْإِخْـفَاءِ

Ketiga: adalah Iqlāb

Apabila ada nūn mati atau tanwīn bertemu dengan huruf bā’, maka hukumnya dibaca Iqlāb.

Contoh:

اَنْبِئْهُمْ– عَلِيْمٌ بِذَاتِ الصُّدُوْرِ
كَلَّا لَيُنْبَذَنَّ– يَوْمَئِذٍ بِجَهَنَّمَ.

Keterangan:

Iqlāb artinya mengganti bacaan nūn atau tanwīn dengan bacaan mīm yang disamarkan dan mendengung.

 

وَ الرَّابِـعُ الْإِخْـفَاءُ عِنْـدَ الْفَاضِـلِمِـنَ الْحُـرُوْفِ وَاجِـبٌ لِلْفَاضِـلِ
فِيْ خَمْسَـةٍ مِنْ بَعْدِ عَشْرٍ رَمْزُهَافِيْ كِلْمِ هذَا الْبَيْتِ قَـدْ ضَمَّنـْتُـهَا

Keempat adalah Ikhfā’

Apabila ada nūn mati atau tanwīn bertemu dengan salah satu dari huruf 15, maka hukumnya dibaca Ikhfā’.

Adapun huruf ikhfā’, yaitu huruf-huruf yang terdapat pada awal setiap kalimat syair di bawah ini:

صِفْ ذَا ثَـنَا كَمْ جَادَ شَخْصٌ قَدْ سمَادُمْ طَيّـَبًا زِدْ فِيْ تُـقَىً ضَعْ ظَالِمَا

– س – ق -ش – ج – ك – ث – ذ – ص – ظ – ض – ت – ف – ز – ط – د.

ص – يَنْصُرْكُمْ– صَفًّا صَفًّا
ذ – فَانْذَرْتُكُمْ– سِرَاعًا ذلِكَ
ث – مِنْ ثَمَرَةٍ– مَاءً ثَجَّاجًا
ك – مِنْ كُلِّ أَمْرٍ– عَادًا كَفَرُوْا
ج – أَنْ جَاءَكُمْ– عَيْنٌ جَارِيَةٌ
ش – مِنْ شَرِّ حَاسِدٍ– عَلِيْمٌ شَرَعَ
ق – وَ لَئِنْ قُلْتَ– فِيْهَا كُتُبٌ قَيِّمَةٌ
س – مِنْ سِجِّيْلٍ– عَظِيْمٌ سَمَّاعُوْنَ
د – مِنْ دَابَّةٍ– دَكًّا دَكًّا
ط – فَأَمَّا مَنْ طَغَى– قَوْمًا طَاغِيْنَ
ز – أَنْزَلْنَا– يَوْمَئِذٍ زُرْقًا
ف – كَالْعِهْنِ الْمُنْفُوْشِ– عُمْيٌ فَهُمْ
ت – مِنْ تَحْتِهَا– جَنَّاتٍ تَجْزِيْ
ض – إِلَّا مِنْ ضَرِيْعٍ– قَوْمًا ضَالِّيْنَ
ظ – يَنْظُرُوْنَ– ظِلًّا ظَلِيْلًا

Keterangan:

Ikhfā’ artinya samar.

Jadi, ketika membaca bacaan ikhfā’ itu samar di antara Idghām dan Izhhār, dan dengan mendengung (ghunnah).

 

Latihan 1:

  1. Apa huruf Hijā’iyyah itu?
  2. Apa arti Izhhār?
  3. Apa arti Idghām bighunnah?
  4. Apa arti Idghām bighairi ghunnah (bilā ghunnah)?
  5. Apa arti Iqlāb?
  6. Apa arit Ikhfā’?
  7. Huruf ḥalaq (ḥalqī) itu apa saja?
  8. Bacalah dan terangkan, bacaan apakah yang terdapat dalam ayat-ayat di bawah ini?

 

  1. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ.
  2. لَمْ يَكُنِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَ الْمُشْرِكِيْنَ مُنْفَكِّيْنَ حَتَّى تَأْتِيْهُمُ الْبَيِّنَةُ. رَسُوْلٌ مِنَ اللهِ يَتْلُوْا صُحُفًا مُطَهَّرَةً فِيْهَا كُتُبٌ قَيِّمَةٌ.
  3. قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ. مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ. وَ مِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ. وَ مِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ وَ مِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ.

Bagikan:

الْمُقَدِّمَةُ

MUKADIMAH PENGARANG

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

 

يَقُوْلُ رَاجِيْ رَحْمَةِ الْغَـفُوْرِدَوْمًا سُلَـيْمَانُ هُوَ الْجَمـْزُوْرِيْ

Syaikh Sulaimān bin Ḥusain bin Muḥammad al-Jamzūrī, orang yang senantiasa mengharapkan rahmat Sang Maha Pengampun, berkata:

الْحَمْدُ للهِ مُصَلّـِيًا عَلَىمُحَمَّـدٍ وَ آلِهِ وَ مَنْ تَـلَا

“Segala puji bagi Allah. Selawat dan salam semoga tetap atas Nabi Muḥammad s.a.w., keluarga beliau dan orang yang mengikuti kepada beliau.”

وَ بَعْـدُ هذَا النَّـظْـمُ لِلْمُرِيـْدِفِي النُّوْنِ و التَّـنْوِيْنِ وَ الْمُدُوْدِ

Setelah Syaikh Sulaimān bin Ḥusain bin Muḥammad al-Jamzūrī membaca basmalah, hamdalah dan selawat, kemudian beliau berkata: Nazham (kitab) ini disediakan bagi orang yang ingin mengetahui hukum-hukum nun mati, tanwin, huruf-huruf mad dan lain-lain.

سَمَّيتُـهُ بِتُحْفَـةِ الْأَطْفَالِعَـنْ شَيْخِنَا الْمَيـْهِىِّ ذِي الْكَمَالِ

Nazham ini saya beri nama Tuḥfat-ul-Athfāl, yang saya nukil (ambil) dari guru saya yang sangat alim, yaitu Sayyid Nūr-ud-Dīn ‘Alī bin Aḥmad bin ‘Umar bin Nāj-il-Maihiyyī yang sempurna lahir dan batinnya.

أَرْجُوْ بِهِ أَنْ يَنْفَعَ الطُّـلَّابَـاوَ الْأَجْــرَ وَ الْقَـبُـوْلَ وَ الثَّـوَابـَا

Saya berharap, semoga nazham ini bermanfaat bagi para santri (murid madrasah), diberi pahala dan diterima oleh Allah ta‘ālā serta mendapat balasan yang setimpal. Amin.

Bagikan:

SŪRAT-UL-IKHLĀSH.

 

Firman Allah:

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ. اللهُ الصَّمَدُ. لَمْ يَلِدْ وَ لَمْ يُوْلَدْ. وَ لَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

112:1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.

112:2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

112:3. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan,

112:4. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.

(Sūrat-ul-Ikhlāsh, Ayat: 1-4.)

Untuk surah ini dibahas empat masalah:

Pertama:  Firman Allah s.w.t.: (قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ.) “Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.” Yakni, Yang Satu, Yang Tunggal, tidak ada yang serupa dengan-Nya, tidak ada persamaan-Nya, tidak ada anak, istri, sekutu, atau apapun juga.

Bentuk awal dari kata (أَحَدٌ) adalah waḥad, lalu huruf wau pada kata tersebut diganti menjadi alif. Adapun mengenai perbedaan antara kata aḥad dan kata wāḥid, telah kami sampaikan sebelumnya pada tafsir surat-ul-Baqarah, dan kami juga telah membahasnya secara lebih mendetail pada kitab kami yang lain, yaitu kitab yang kami beri nama al-Asnā fī Syarḥi Asmā’illāh-il-Ḥusnā.

Kata (أَحَدٌ) pada ayat ini marfū‘ (menggunakan ḥarakat dhammah pada akhir kata) atas dasar makna: huwa aḥad (Dia adalah Satu/Tunggal/Esa).

Namun ada juga yang berpendapat, bahwa makna dari ayat ini adalah: katakanlah, bahwasanya Allah itu Maha Esa.

Ada juga yang berpendapat, bahwa kata (أَحَدٌ) adalah badal dari lafzh-ul-jalālah (اللهُ).

Kebanyakan ulama membaca kata (أَحَدٌ) hanya menggunakan ḥarakat dhammah saja, tanpa tanwin (8131). Dengan tujuan, agar dibacanya lebih mudah jika ayat ini disambungkan dengan ayat setelahnya. Dengan begitu maka kedua kalimat tersebut akan terhindar dari bertemunya dua sukūn (pada akhiran un dan pada awalan al, yakni aḥad-ullāh-ush-shamad, namun beberapa ulama mengantisipasinya dengan memberi ḥakarat kasrah pada huruf nūn yang tergabung pada tanwin, mereka membacanya: aḥadu-n-illāh-ush-shamad.

Firman Allah s.w.t. selanjutnya: (اللهُ الصَّمَدُ.) “Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” Yakni, yang disandarkan pada setiap kebutuhan. Begitulah makna yang diriwayatkan oleh adh-Dhahhak dari Ibnu ‘Abbas, seperti makna yang disebutkan pada firman Allah s.w.t.: (ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تُجْئَرُوْنَ.) “Dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya kamu meminta pertolongan.” (8142).

Para ulama bahasa mengatakan: kata ash-shamad artinya adalah tuan yang diandalkan ketika terjadi musibah atau membutuhkan sesuatu.

Sekelompok orang mengartikan kata ini dengan makna: Yang selalu ada dan selalu akan tetap ada, Yang terdahulu dan tidak akan hilang eksistensi-Nya.

Lalu ada juga yang menafsirkan, bahwa penafsiran ayat ini disebutkan pada ayat setelahnya, yaitu: “Tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.”

Makna ini pula yang disampaikan oleh Ubai bin Ka‘ab, ia mengatakan: ash-Shamad adalah Yang tidak memiliki anak dan tidak pula terlahirkan, karena setiap yang terlahirkan pasti akan mati, dan setiap yang mati pasti akan mewariskan.

‘Ali, Ibnu ‘Abbas, Abu Wa’il Syaqiq bin Salamah, dan Sufyan, menafsirkan bahwa makna ash-shamad adalah seorang tuan yang memiliki kedudukan, kehormatan, dan kekuasaan yang paling tertinggi.

Abu Hurairah menafsirkan, bahwa maknanya adalah: yang tidak membutuhkan apapun dan siapapun, namun dibutuhkan oleh semuanya.

As-Suddi menafsirkan, bahwa maknanya adalah: Yang dituju ketika ada suatu kebutuhan dan Yang diminta pertolongan ketika ada suatu musibah.

Al-Husain bin al-Fadhl menafsirkan, bahwa maknanya adalah: Yang melakukan apapun yang dikehendaki dan memutuskan apapun yang diinginkan.

Muqatil menafsirkan, bahwa maknanya adalah: Yang sempurna yang tidak memiliki suatu aib atau kecelaan walau sedikit pun.

Al-Hasan (8153), ‘Ikrimah, adh-Dhahhak, dan Ibnu Jubair juga menafsirkan, bahwa maknanya adalah: yang tidak berlubang (tempat pembuangan) dan tidak memiliki perut (tidak butuh makanan untuk menjaga keberlangsungan hidup atau apapun juga).

 

Menurut saya (al-Qurthubi): Kami telah merincikan semua pendapat ulama mengenai kata ash-shamad dalam kitab kami yang lain, yaitu kitab al-Asnā.

Pendapat yang paling benar adalah pendapat yang memaknainya dengan memperhatikan kata awalnya, yaitu pendapat yang pertama. Rangkuman ini disampaikan oleh al-Khaththabi.

Surah ini adalah surah yang sangat agung maknanya, yang memiliki makna tauhid, yang diturunkan kepada Nabi s.a.w. sesuai dengan kondisi dan kejadian pada saat itu. Namun, sepertinya sebagian orang menganggap Kalim Ilahi ini sebagai kalimat biasa saja, dan di antara mereka ada yang mencoba untuk menghilangkan beberapa kata pada surah ini, mereka membacanya: huwallāh-ul-wāḥid-ush-shamad (8164), bahkan mereka membacanya di dalam shalat, ketika para jamaahnya semua mendengarkan ayat-ayat yang dibacanya.

Yang dihilangkan dari surah ini adalah kalimat qul huwa, mereka mengira bahwa kalimat tersebut tidak termasuk ayat al-Qur’an, dan mereka juga mengganti kata aḥad menjadi wāḥid, dan mengklaim bahwa kata itulah yang lebih benar, sedangkan yang dibaca oleh orang lain adalah salah dan qirā’ah yang tidak masuk akal.

Namun dengan membacanya seperti itu artinya mereka telah menghilangkan sebagian makna ayat, karena para ulama tafsir meriwayatkan, bahwa ayat ini diturunkan sebagai jawaban atas orang-orang musyrik ketika mereka berkata dengan Nabi s.a.w.: “Deskripsikanlah Tuhan kami kepada kami. Apakah Tuhanmu terbuat dari emas, atau terbuat dari tembaga, ataukah terbuat dari kuningan?” maka Allah menurunkan firman-Nya kepada Nabi s.a.w. sebagai jawaban atas mereka: (قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ.) “Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.

Pada kata (هُوَ) di sini terdapat bukti bahwa kalimat itu adalah jawaban dan respon dari suatu pertanyaan, apabila kata itu tidak disebutkan maka hilanglah sebagian makna ayat tersebut, sekaligus melangkahi Allah dan mendustakan Rasul-Nya.

Keterangan ini berdasarkan atas riwayat yang disampaikan oleh at-Tirmidzi, dari Ubai bin Ka‘ab, ia mengatakan bahwa pada ketika itu orang-orang musyrik berkata kepada Nabi s.a.w.: “Terangkanlah kepada kami bagaimana Tuhan kamu itu.” Lalu Allah s.w.t. menurunkan firman-Nya: (قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ. اللهُ الصَّمَدُ.) “Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu”.” (8175).

Al-Khaththabi mengartikan kata ash-shamad pada ayat ini dengan makna: Yang tidak memiliki anak dan tidak pula terlahirkan, karena setiap yang terlahirkan pasti akan mati, dan setiap yang mati pasti akan mewariskan, sedangkan Allah tidak akan pernah mati dan tidak pula mewariskan.

Adapun makna dari firman Allah s.w.t.: (وَ لَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ) “Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” Adalah: Allah tidak serupa atau setara dengan siapapun, dan tidak ada yang dapat menyerupai atau menyetarakan-Nya.

Sebuah riwayat dari Abul-‘Aliyah menyebutkan, bahwa setelah Nabi s.a.w. menyebutkan tuhan-tuhan yang mereka sembah itu lalu mereka bertanya: “Gambarkanlah kepada kami mengenai Tuhan yang kamu sembah.” Lalu malaikat Jibril menyampaikan wahyu Allah kepada Nabi s.a.w.: (قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ.) “Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.

Lalu Abul-‘Aliyah juga menyebutkan riwayat yang sama dengan riwayat sebelumnya, namun pada riwayat ini Abul-‘Aliyah tidak menyebutkan nama Ubai bin Ka‘ab seperti sebelumnya, dan inilah yang lebih benar.

Keterangan ini disampaikan oleh at-Tirmidzi.

 

Menurut saya (al-Qurthubi): Pada hadits (yang dipersingkat) ini jelas sekali bahwa lafazh ayat adalah: (قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ.) “Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.”, dan hadits ini juga menerangkan makna dari kata ash-shamad yang sebenarnya. Dan riwayat hadits yang sama juga disampaikan oleh ‘Ikrimah.

Ibnu ‘Abbas menafsirkan, bahwa makna dari firman Allah s.w.t.: (لَمْ يَلِدْ) “Dia tiada beranak.” Adalah: Allah tidak beranak seperti halnya Maryam. (وَ لَمْ يُوْلَدْ) “dan tiada pula diperanakkan.” Yakni: Allah tidak diperanakkan seperti halnya ‘Isa dan ‘Uzair.

Ayat ini sekaligus menjadi sindiran terhadap orang-orang Nashrani dan Yahudi yang menganggap ‘Isa dan ‘Uzair adalah Anak Allah.

(وَ لَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ) “Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” Yakni: tidak ada yang menyerupai-Nya.

Pada ayat yang terakhir ini terdapat taqdīm dan ta’khīr (kata yang dimajukan dan kata yang diakhirkan), di mana khabar kāna (yaitu kata (كُفُوًا)) dimajukan terhadap isim kāna (أَحَدٌ). Biasanya kalimat yang menyebutkan kata kāna seperti ini maka yang disebutkan setelahnya adalah isim-nya dahulu baru setelah itu khabar-nya, namun untuk menyesuaikan irama akhir-akhirnya ayat agar terbentuk menjadi satu, maka khabar kāna pada ayat ini diakhirkan, dan bentuk kalimat seperti ini merupakan bentuk bahasa yang sangat tinggi.

Untuk qirā’ah, kata (كُفُوًا) pada ayat ini dibaca oleh sebagian ulama dengan menggunakan ḥarakat dhammah pada huruf fā’ (kufuan) dan sebagian lainnya menggunakan sukūn (kuf’an) (8186), namun kedua qirā’ah ini adalah bentuk bahasa yang benar, karena seperti yang telah kami jelaskan pada sūrat-ul-Baqarah, bahwa setiap isim yang terdiri dari tiga huruf dan huruf awalnya menggunakan harakat dhammah, maka pada huruf tengahnya boleh menggunakan sukun dan boleh juga menggunakan harakat dhammah. Kecuali, isim yang disebutkan pada firman Allah s.w.t. (وَ جَعَلُوْا لَهُ مِنْ عِبَادِهِ جُزْءًا.) “Dan mereka menjadikan sebagian dari hamba-hambaNya sebagai bagian daripada-Nya.” (8197).

Dan ada qirā’ah ketiga yang berbeda dari kedua qirā’ah di atas, yaitu qirā’ah yang dibaca oleh Hafsh, ia membacanya kufuwan (dengan menggunakan ḥarakat dhammah pada huruf fā’ namum tanpa menggunakan huruf hamzah di belakang kata), dan qirā’ah ini juga termasuk bentuk bahasa yang fasih.

 

Catatan:


  1.  813). Qirā’ah ini tidak termasuk qirā’ah sab‘ah yang mutawātir, dan di antara yang menyebutkan bacaan ini adalah Abu Hayan dalam al-Baḥr-ul-Muḥīth (8/528). 
  2.  814). An-Naḥl [16]: 53. 
  3.  815). Lit. Tafsīr-ul-Ḥasan-il-Bashrī (2/444). 
  4.  816). Qirā’ah ini tidak termasuk qirā’ah sab‘ah yang mutawātir
  5.  817). H.R. at-Tirmidzi pada pembahasan tentang tafsir (5/451-452, nomor 3364). 
  6.  818). Kedua bacaan ini termasuk qirā’ah sab‘ah yang mutawātir, sebagaimana tercantum dalam al-Iqnā’ (2/815). 
  7.  819). Az-Zukhruf [43]: 15. 

Bagikan:

Lewat ke baris perkakas