Hati Senang

Hadits ke-27

Mengutamakan Kebaikan Hati

 

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ (ص) إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَ أَمْوَالِكُمْ وَ لكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ.

Diriwayatkan dari Abū Hurairah: Rasūl s.a.w. bersabda: “Allah tidak melihat tubuh dan bentuk rupa kalian; Dia hanya melihat hati dan amal perbuatan kalian.” (HR. Muslim). (271).

 

Keterangan:

Islam telah menetapkan prinsip kesetaraan dalam bentuk yang paling sempurna. Islam menegaskan bahwa semua manusia setara dari sisi penciptaan. Tidak ada keutamaan satu ras dengan ras yang lain, atau keutamaan kelompok atas kelompok yang lain. Allah tidak memuliakan hamba-Nya karena fisik yang dimilikinya, melainkan karena amal perbuatannya. Allah tidak akan menyia-nyiakan perbuatan baik hamba-hamba yang saleh dan Dia juga lebih mengutamakan hamba yang punya kebersihan hati dan keluhuran budi.

Mari kita simak firman Allah berikut:

Tuhan mereka memperkenankan permohonannya dengan berfirman: Aku tidak menyia-nyiakan amal seorang di antara kalian, laki-laki maupun perempuan karena sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain.” (Qs. Āli ‘Imrān: 195).

Pada dasarnya, hati nurani manusia selalu membisikkan kebaikan, namun hawa nafsu kita selalu mengajak dan menyeru sebaliknya, yakni membisikkan kejahatan. Oleh karena itu, bila hati nurani dituruti, manusia pasti akan selalu dalam kebaikan. Sebaliknya, bila nafsu selalu dituruti, manusia akan bergelimang dosa dan kejahatan. Demikianlah, hati nurani adalah sumber kebaikan dan keindahan.

Keutamaan dan kebaikan hati lebih mulia dari bentuk fisik yang indah. Seorang yang memiliki bentuk fisik yang tidak sempurna dan jelek tapi memiliki hati yang baik lebih mulia ketimbang fisik sempurna tapi hatinya jahat dan kotor. Untuk itu, Islam menganjurkan manusia selalu memperbaiki akhlak dan budi pekerti sehingga mulia di sisi Allah dan manusia yang lain. Keindahan fisik tidaklah kekal karena seiring berjalannya waktu ia akan layu dan pudar, sedang kebaikan hati akan kekal, bahkan hingga mati pun masih akan dikenang kebaikannya dan mendapat balasan pahala dan surga dari Allah di akhirat kelak.

Kebaikan hati jugalah yang membuat manusia dapat hidup berdampingan dengan rukun dan saling menghargai. Toleransi akan tumbuh dengan subur di dalam hati yang bersih dan penuh cinta kasih. Toleransi tidak akan tumbuh di dalam hati yang jahat dan penuh dendam. Untuk itu, Islam menganggap hati mulia lebih utama ketimbang fisik yang indah tapi hatinya busuk.

 

Catatan:


  1. 27). Shaḥīḥ Muslim, Bab al-Birr wa ash-Shilah wa al-Adab, hlm. 424. 

Bagikan:

Hadits ke-26

Taqwa Adalah Derajat Termulia

 

عَنْ سَمُرَةَ عَنِ النَّبِيِّ (ص) قَالَ: الْحَسَبُ الْمَالُ وَ الْكَرَمُ التَّقْوَى.

Dari Samurah, Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Kebaikan itu terdapat dalam kekayaan, dan kemuliaan itu terdapat dalam ketaqwaan.” (HR. Tirmidzī). (261).

 

Keterangan:

Taqwa adalah ketaatan kepada Allah secara istiqamah dan meninggalan maksiat secara total. Taqwa merupakan sumber kebaikan dan akhlak mulia. Taqwa selalu menjadi motivasi seseorang untuk melakukan yang terbaik kepada sesama dengan tetap berpegang pada tali Allah. Untuk itulah, taqwa menempatkan manusia pada status dan kedudukan termulia di sisi Allah dan juga dalam pandangan manusia.

Mari kita simak firman Allah:

Hei manusia, Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kalian bersuku dan berbangsa agar kalian saling mengenal. Sungguh, orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Allah Maha Tahu lagi Maha Mengenal.” (Qs. al-Ḥujurāt: 13).

Jelas bagi kita bahwa ukuran kemuliaan dalam Islam adalah berdasarkan ketaqwaannya, bukan karena harta, pengetahuan, kepandaian, kekuasaan, kecantikan, dan sebagainya. Setiap kemuliaan yang diagungkan manusia di dunia pastilah bersifat fana’ karena akan hilang seiring berjalannya waktu. Akan tetapi, kemuliaan karena kebaikan dan ketaqwaan akan lekat dalam ingatan dan kesan setiap orang, dan akan beroleh balasan atau pahala di sisi Allah.

Tak seorang pun bisa menilai ketaqwaan seseorang selain Tuhan. Tak ada wewenang seseorang untuk menjustifikasi keselamatan dan kesesatan orang lain karena merasa memiliki kebenaran tunggal. Ketidakmampuan manusia dikarenakan ia adalah hamba yang dha‘if dan mudah dikelabui dan dimanipulasi.

Pada akhirnya, tugas manusia adalah meningkatkan ketaqwaan dan berlomba-lomba melakukan yang terbaik dalam kehidupannya di dunia sehingga bisa dirasakan manfaat keberadaannya oleh orang lain. Bukankah manusia mulia karena kebaikan budi pekertinya? Kesadaran inilah yang akan membuat manusia menyadari keadaan dirinya sebagai hamba yang tidak berkuasa atas dirinya dan orang lain. Dengan demikian, rasa toleransi muncul sejalan dengan peningkatan ketaqwaan seseorang kepada Tuhannya.

 

Catatan:


  1. 26). Sunan at-Tirmidzī, Bab Tafsīr al-Qur’ān ‘an Rasūlillāh, hadits no. 3194; lihat, Sunan Ibnu Mājah, Bab az-Zuhd, hadits no. 4209. 

Bagikan:

Hadits ke-25

Pengakuan atas Perbedaan Status Sosial

 

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ (ص) انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَ لَا تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ.

Diriwayatkan dari Abū Hurairah, ia berkata: Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Lihatlah orang yang lebih rendah statusnya darimu, jangan orang yang lebih tinggi darimu. Hal demikian itu lebih cocok bagimu agar engkau tidak meremehkan karunia Tuhanmu.” (HR. Muslim). (251).

 

Keterangan:

Perbedaan dan ketidakserupaan dengan yang lain justru menjadi penyebab timbulnya penggabungan, persatuan, dan persetujuan. Perbedaan merupakan sesuatu yang telah ditentukan Allah. Islam juga mengakui adanya perbedaan status sosial, baik karena kekayaan, pengetahuan, atau kedudukan. Hal ini diciptakan tidak terlepas dari hikmah agar terjadi saling bergantung dan tolong-menolong antara yang kaya dan miskin, yang bodoh dan pintar, penguasa dan yang lemah, dan sebagainya. Dengan perbedaan status sosial, kita dianjurkan saling mengasihi, bukan untuk mendengki dan berlomba memperkaya diri. Dalam persoalan dunia, Islam menganjurkan kepada kita untuk memandang yang lebih rendah agar manusia bisa mensyukuri nikmat Allah.

Selain itu, perbedaan status sosial juga mengandung hikmah bahwa manusia tidak dapat memenuhi kebutuhannya secara sendiri. Kesendirian manusia tidak akan menjamin kelangsungan hidupnya walau untuk sementara. Perbedaan status sosial adalah ketentuan Tuhan dan menjadi tugas setiap kelompok masyarakat untuk saling memenuhi kebutuhan mereka. Jadi, setiap manusia tidak mungkin memiliki sarana untuk menyediakan seluruh kebutuhan hidupnya sehingga mereka tak memiliki pilihan lain kecuali saling berbagi dan bekerja sama dengan manusia lainnya.

Firman Allah: “Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain dengan beberapa derajat.” (Qs. az-Zukhruf: 32). Atau firman Allah yang lain:

Dialah yang telah menjadikan kamu penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian yang lain beberapa derajat untuk menguji kamu atas apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (Qs. An‘ām: 165).

Selanjutnya, Islam juga telah menegaskan bahwa perbedaan status tidak ada artinya untuk kehidupan akhirat, namun Islam tetap mengakui dan tidak pernah menghilangkan perbedaan status duniawi ini. Al-Qur’ān sendiri, seperti disebut di atas, membenarkan munculnya ketidaksetaraan yang bersifat duniawi. Akan tetapi, Islam melarang perbedaan status ini membuat manusia saling menzhalimi dan berbuat tidak adil kepada sesamanya sehingga menimbulkan ketidakadilan sosial. Bahkan, Islam menganjurkan saling mengedepankan toleransi dalam masyarakat yang beragam latar belakangnya sehingga terwujud masyarakat yang makmur dan sejahtera.

 

Catatan:


  1. 25). Shaḥīḥ Muslim, Bab az-Zuhd wa ar-Raqā’iq, hadits no. 5264; Lihat, Musnad Aḥmad, hadits no. 7800. 

Bagikan:

Hadits ke-24

Universitas Akhlak

 

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا أَبِيْ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ قَالَ حَدَّثَنِيْ شَقِيْقٌ عَنْ مَسْرُوْقٍ قَالَ كَنَّا جُلُوْسًا مَعَ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو يُحَدِّثُنَا إِذْ قَالَ لَمْ يَكُنْ رَسُوْلُ اللهِ (ص) فَاحِشًا وَ لَا مُتَفَحِّشًا وَ إِنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا.

Diriwayatkan dari ‘Umar Ibnu Ḥafsh, dari ayahnya, dari al-A‘masy, dari Syaqīq, dari Masrūq, ia berkata: Suatu ketika kami duduk santai bersama ‘Abdullāh Ibnu ‘Umar, ia berkata: Rasūlullāh itu seorang yang tak pernah melakukan hal terlarang, dan dia tak pernah ingin melakukannya; dan suatu ketika ia (Nabi) pernah berkata: “Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya”.” (HR. al-Bukhārī). (241).

 

Keterangan:

Nabi Muḥammad diutus Allah kepada umat manusia sebagai penyempurna ajaran para nabi terdahulu. Untuk itu, Islam yang dibawa olehnya juga bersifat universal untuk seluruh umat manusia tanpa batas wilayah dan tanpa membedakan jenis kelamin, suku, ras, dan lain-lain. Islam juga membawa ajaran moral atau akhlak yang berlaku untuk semua manusia. Menurut Islam, akhlah adalah perbuatan terpuji yang diridhai Allah yang akan menyelamatkan dan menjauhkan manusia serta alam semesta dari kerusakan dan kehancuran.

Dalam Islam, akhlak merupakan tolok ukur dalam menentukan kemuliaan seseorang. Hadits di atas menunjukkan bahwa akhlak mulia merupakan fondasi utama yang dibangun Rasūlullāh untuk memperbaiki masyarakat Jahiliah yang dikenal memiliki kebudayaan yang sangat terbelakang. Masyarakat Jahiliah adalah contoh nyata bahwa ketiadaan budi pekerti atau akhlak yang baik akan membawa kemerosotan kebudayaan dan peradaban manusia. Hanya dengan akhlak yang baik manusia terhindar dari kerusakan dan mara bahaya. Kedatangan Islam telah membawa cahaya pada masa Jahiliah yang gelap gulita.

Urgensi akhlak mulia juga ditunjukkan Allah dalam firman-Nya: “Kau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. al-Qalam: 4). Firman Allah yang lain: “Pada diri Rasūlullāh itu terdapat teladan yang baik.” (Qs. al-Aḥzāb: 21). Dalam sebuah hadits Rasūlullāh bersabda: “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. al-Bukhārī).

Warisan yang ditinggalkan Nabi berupa al-Qur’ān dan hadits menggariskan prinsip-prinsip akhlak mulia (al-akhlāq al-karīmah), yakni akhlak kepada Sang Khāliq, kepada sesama manusia, dan kepada sesama ciptaan (alam semesta).

 

Di dalam mu‘āmalah dengan Sang Pencipta, Islam mengajarkan prinsip mendasar sebagai berikut:

a. Taqwā.

Taqwā adalah menjalankan perintah dan menjauhi segala larangan Allah sehingga terhindar dari perbuatan dosa. Firman Allah:

Mereka yang memakmurkan masjid-masjid Allah itu ialah orang-orang yang beriman kepada-Nya dan Hari Akhir, mendirikan shalat, membayar zakat, dan tak takut kepada siapa pun selain kepada-Nya; mereka itu pasti beroleh petunjuk.” (Qs. at-Taubah: 18).

b. Doa dan Harapan

Allah juga memerintahkan kepada hamba-hambaNya untuk senantiasa berharap dan memohon kepada-Nya. Orang yang tidak mau berharap dan berdoa kepada Allah merupakan salah satu ciri dari orang yang sombong. Firman Allah:

Apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, jawablah: Aku sangatlah dekat! Aku pasti mengabulkan permohonan orang yang berdoa; hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Qs. al-Baqarah: 186). “Dan berdoalah kamu kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan!” (Qs. al-Mu’min: 60).

c. Syukur

Allah memerintahkan kepada manusia agar senantiasa bersyukur atas nikmat yang telah dikaruniakan-Nya. Allah telah memberi manusia berbagai kenikmatan yang tidak terhitung jumlahnya, sehingga wajib bagi manusia untuk mengingat dan mensyukurinya. Firman Allah:

Ingatlah, tatkala Tuhanmu memaklumkan: Jika kalian bersyukur maka Aku akan menambah nikmat-Ku; dan jika kalian kufur atas nikmat-Ku maka siksa-Ku amatlah pedih.” (Qs. Ibrāhīm: 7).

d. Taubat dan Penyesalan.

Taubat berarti tekad dan kemauan untuk tidak mengulangi kesalahan dan perbuatan dosa yang pernah dilakukan. Biasanya, taubat itu diawali dengan penyesalan dan pengakuan atas perbuatan maksiat. Sebagai manusia yang tak luput dari salah dan dosa, sebaiknya bertaubat dan memohon ampun kepada Allah dilakukan setiap saat. Allah berfirman: “Bertaubatlah kalian kepada Allah, hei orang-orang beriman, supaya kalian beruntung.” (Qs. an-Nūr: 31).

Hadits Nabi:

Diriwayatkan dari Abū Hurairah, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Demi Allah, aku beristighfar (mohon ampun) kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari 70 kali.

 

Dalam mu‘āmalah dengan sesama manusia, Islam memberikan prinsip dasar sebagai berikut:

a. Rendah hati

Rendah hati merupakan sifat yang mengakui kelemahan diri di hadapan Allah, bukan di hadapan manusia. Islam menganjurkan manusia untuk senantiasa rendah hati kepada sesama demi menghilangkan sikap sombong dan congkak. Marilah simak firman Allah ini: “Janganlah kau palingkan muka dari manusia karena sombong.” (Qs. Luqmān: 18). Juga firman-Nya: “Janganlah kau berjalan di muka bumi dengan sombong.” (Qs. Luqmān: 18).

b. Sopan Santun

Islam menganjurkan sikap sopan santun terhadap sesama manusia melalui perbuatan yang baik dan tidak merugikan orang lain. Sabda Nabi: “Bergaullah dengan sesama manusia secara baik.” (HR. Tirmidzī).

c. Jujur

Dalam bergaul dengan sesama, Islam juga menganjurkan untuk menjaga kejujuran dengan menghargai kepercayaan yang telah diberikan orang lain kepada kita. Jujur termasuk prinsip dasar yang dianjurkan Islam dalam pergualan. Sebaliknya, Islam melarang manusia berbuat munafik. Rasūl bersabda: “Ciri munafik ada tiga: Bila berkata ia bohong, bila berjanji ia ingkar, bila bersumpah ia pasti berkhianat” (Muttafaqun ‘alaih).

 

Dalam mu‘amalah dengan sesama ciptaan Allah Islam memberikan prinsip dasar sebagai berikut:

a. Menjaga Lingkungan

Sabda Nabi: “Siapa mengambil sesuatu dari atas bumi dengan cara batil, kelak pada Hari Kiamat ia akan dibenamkan ke dalam tujuh lapis bumi.” (HR. al-Bukhārī).

b. Larangan Berbuat Kerusakan

Firman Allah:

Telah tampak kerusakan di daratan dan lautan disebabkan oleh perbuatan manusia; supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (Qs. ar-Rūm: 41).

 

Catatan:


  1. 24). Shaḥīḥ al-Bukhārī, Juz IV, hadits no. 6035, hlm. 66. 

Bagikan:

Hadits ke-23

Kerjasama Non-Muslim dengan Sistem Bagi Hasil

 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُقَاتِلٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللهِ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ (ر) أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ (ص) أَعْطَى خَيْبَرَ الْيَهُوْدَ عَلَى أَنْ يَعْمَلُوْهَا وَ يِزْرَعُوْهَا وَ لَهُمْ شَطْرُ مَا خَرَجَ مِنْهَا.

Diriwayatkan dari Muḥammad ibnu Muqātil, dari ‘Abdullāh, dari ‘Ubaidullāh, dari Nāfi‘, dari Ibnu ‘Umar, Rasūlullāh s.a.w. pernah memberi orang-orang Yahudi (penduduk Khaibar) sebidang tanah untuk digarap dan separo dari hasilnya untuk mereka.” (HR. al-Bukhārī). (231).

 

Keterangan:

Islam memotivasi untuk sebuah pekerjaan di bidang pertanian dan perkebunan. Bahkan al-Qur’ān juga menjelaskan proses mendasar dalam mengelola tanah yang dikaruniakan Allah kepada manusia, seperti bagaimana hujan turun dan mengaliri seluruh permukaan bumi, tanah yang subur ditanami, angin yang menyebarkan benih, juga bagaimana tanam-tanaman bisa tumbuh. Mari kita simak firman Allah:

Allah telah meratakan bumi untuk makhluk-Nya; di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang; dan biji-bijian yang berkulit, berbunga-bunga, dan harum baunya. Maka, nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?” (Qs. ar-Raḥmān: 10-13).

Hadits di atas juga menunjukkan bahwa Rasūl telah mempraktikkan pekerjaan di bidang pertanian dengan sistem bagi hasil (muzāra‘ah).

Selain itu, hadits di atas juga mengindikasikan diperbolehkannya seorang non-muslim menjadi partner dalam kerja sama bagi hasil.

Praktik muzāra‘ah merupakan sistem kerja sama bagi hasil yang diizinkan dalam Islam. Muzāra‘ah diperkenankan apabila pemilik tanah menyerahkan tanahnya pada penggarap untuk ditanami. Alat pertanian, benih, dan binatang ternak yang digunakan menggarap tanah bisa berasal dari pemilik tanah atau si penggarap. Pada akhirnya, baik pemilik tanah maupun si penggarap memperoleh bagian yang sama besar dari hasil buminya.

Dalam kondisi tertentu, sistem bagi hasil tidak diperkenankan dalam Islam karena adanya kerugian yang diderita salah satu pihak dari pelaku kerja sama, baik pemilik tanah atau penggarap. Bagi hasil yang tidak diperkenankan ini disebut mukhābarah. Sistem ini dilarang karena pemilik menentukan ukuran tertentu atas hasil panennya, sedang penggarap hanya memperoleh sisanya. Jika tanah yang digarap tidak menghasilkan maka penggarap akan mengalami kerugian. Oleh karena itu, Rasūl menggariskan agar kedua belah membagi keseluruhan hasil panennya, banyak maupun sedikit.

Ada sebuah hadits yang diriwayatkn Rāfi‘ bin Khadj:

Kami bekerja di bidang pertanian lebih dari siapa pun di Madīnah. Kami biasa menggarap sebagian tanah yang dibatasi khusus untuk diberikan kepada pemiliknya. Kadang tanaman di areal tersebut diserang hama, dan di bagian yang lain tetap aman, atau sebaliknya. Rasūl lalu melarang praktik bagi hasil yang seperti ini.” (HR. al-Bukhārī).

Islam sangat memperhatikan konsep keseimbangan dan keadilan dalam praktik bagi hasil. Pemilik tanah dilarang mengedepankan arogansinya demi menentukan bagian hasil yang lebih besar untuknya. Demikian juga, penggarap tanah harus pula dengan kejujuran hati mengolah dan melaporkan hasilnya kepada pemilik tanah. Di sini berlaku sebuah kaidah: keuntungan dan kerugian ditanggung bersama.

 

Catatan:


  1. 23). Shaḥīḥ al-Bukhārī, Bab al-Muzāra‘ah, hadits no. 2163; Sunan at-Tirmidzī, Bab al-Aḥkām ‘an Rasūlillāh, hadits no. 1304, Sunan an-Nasā’ī, Bab al-Īmān wa an-Nudzur, hadits no. 3803; Sunan Abū Dāwūd, Bab al-Kharaj wa al-Imārah wa al-Fai, hadits no. 2614; Sunan Ibnu Mājah, Bab al-Aḥkām, hadits no. 2444; Musnad Aḥmad, hadits no. 4275. 

Bagikan:

Hadits ke-22

Kerjasama dengan Non-Muslim dalam Perniagaan dan Pegadaian

 

حَدَّثَنَا مُعَلَّى بْنُ أَسَدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ قَالَ: ذَكَرْنَا عِنْدَ إِبْرَاهِيْمَ الرَّهْنَ فِي السَّلَمِ فَقَالَ: حَدَّثَنِي الْأَسْوَدُ عَنْ عَائِشَةَ (ر): أَنَّ النَّبِيَّ (ص) اشْتَرَى طَعَامًا مِنْ يَهُوْدِيٍّ إِلَى أَجَلٍ وَ رَهَنَهُ دِرْعًا مِنْ حَدِيْدٍ.

Diriwayatkan dari Mu‘alla Ibnu Asad, dari ‘Abd-ul-Wāḥid, dari al-A‘masy, ia berkata di depan Ibrāhīm soal rahn (gadai) dan jual beli dengan sistem tempo. Maka ia berkata: Aku telah diberitahu oleh al-Aswad dari ‘Ā’isyah yang berkata: “Nabi pernah utang makanan kepada orang Yahudi, lalu ia (Nabi) membayarnya dengan menggadaikan baju perangnya yang terbuat dari besi.” (HR. al-Bukhārī). (22).

 

Keterangan:

Bisnis merupakan praktik yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan ekonomi dan sosial umat Islam. Islam menganjurkan kaum muslim untuk menjalankan bisnis secara bebas, jujur, dan adil. Bahkan, Nabi Muḥammad adalah seorang yang menjalankan usaha (bisnis) sewaktu dia muda.

Al-Qur’ān sendiri menghalalkan bisnis, meski tetap memberikan aturan atau batasan berupa perintah dan larangan berkaitan dengan sistem transaksi bisnis. Bisnis yang dibahasakan dalam al-Qur’ān dengan ‘amal selalu dikaitkan dengan iman. ‘Amal atau bisnis adalah ibadah yang juga telah diperintahkan oleh Allah dalam rangka, salah satunya, untuk menggali potensi alam yang bisa dimanfaatkan bagi kesejahteraan umat manusia. Dengan demikian, malas atau tidak produktif merupakan perbuatan yang dibenci dalam Islam.

Mari kita hayati firman Allah:

Hai orang-orang beriman, janganlah kalian memakan harta sesamamu dengan jalan batil, kecuali dengan jalan perniagaan (bisnis) yang berlaku atas dasar suka sama suka. Janganlah kalian bunuh diri. Yakinlah, Allah sangat sayang kepadamu. (QS. an-Nisā’: 29).

Meskipun demikian, di dalam Islam, berbisnis juga harus memperhatikan norma atau etika. Kebebasan bisnis tetap dibatasi dengan beberapa catatan, seperti halnya mempertimbangkan hak-hak orang lain, keabsahan bisnis, kesapakatan bersama dengan dilandasi kejujuran, dapat saling dipercaya, tidak ada paksaan, kecurangan, dan kebohongan.

Islam juga menunjukkan bahwa di dalam bisnis harus ditekankan sikap toleransi berupa tidak melanggar hak orang lain yang sedang melakukan transaksi. Islam melarang kecurangan dalam berbisnis seperti merebut klien bisnis orang lain. Islam juga melarang memasuki wilayah bisnis pihak lain yang telah bersepakat dalam bisnis. Oleh karena itu, setiap bisnis yang dilakukan dengan cara melanggar etika dan semata mengejar keuntungan diri sendiri jelas dilarang oleh Islam. Demikian juga bisnis yang merugikan, menyakiti, dan tidak adil bagi orang lain, ini jelas dilarang Islam.

Rasūlullāh s.a.w. bersabda:

Allah berfirman: Aku adalah yang ketiga di antara dua orang yang berserikat, selagi salah seorang di antara keduanya tidak berkhianat. Bila salah seorang di antara keduanya berkhianat, Aku keluar dari keduanya.” (HR. Abū Dāūd, melalui Abū Hurairah).

Rasūlullāh s.a.w. juga bersabda:

Allah mencintai seorang hamba yang mudah (berlaku baik) bila menjual sesuatu, mudah bila membeli sesuatu, mudah bila membayar utang, dan mudah pula apabila ia menagihnya.” (HR. Baihaqī, melalui Abū Hurairah).

Islam memandang sama dan seimbang dalam bidang ekonomi di antara berbagai perbedaan status sosial. Rasūlullāh memperkecil perbedaan dan memacu semua orang untuk memiliki kesempatan dan peluang yang sama dalam akses ekonomi. Transaksi perdagangan sah dilakukan antara muslim dan non-muslim dengan syarat memenuhi kaidah syar‘i. Kaidah syar‘i dalam hal perniagaan dan bisnis lainnya, termasuk pegadaian, pastilah melarang praktik riba, penipuan, dan lain-lain.

 

Catatan:

Bagikan:

Hadits ke-21

Hormati Jenazah Non-Muslim

 

حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَثَّنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ مُرَّةَ قَالَ: سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمنِ بْنَ أَبِيْ لَيْلَى قَالَ: كَانَ سَهْلُ بْنُ حُنَيْفٍ وَ قَيْسُ بْنُ سَعْدٍ قَاعِدَيْنِ بِالْقَادِسِيَّةِ فَمَرُّوْا عَلَيْهِمَا بِجَنَازَةٍ فَقَامَا فَقِيْلَ لَهُمَا إِنَّهَا مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ أَيْ مِنْ أَهْلِ الذِّمَّةِ فَقَالَا: إِنَّ النَّبِيَّ (ص) مَرَّتْ بِهِ جِنَازَةٌ فَقَامَ فَقِيْلَ لَهُ إِنَّهَا جِنَازَةُ يَهُوْدِيٍّ فَقَالَ: أَلَيْسَتْ نَفْسًا؟

Diriwayatkan dari Ādam, dari Syu‘bah, dari ‘Amr Ibnu Murrah, ia berkata: Aku pernah mendengar ‘Abd-ur-Raḥmān Ibnu Abī Lailā berkata: “Suatu ketika, Sahl Ibnu Ḥunaif dan Qais Ibnu Sa‘d duduk santai di Kota Qādisiyyah. Tak lama kemudian lewat rombongan orang sedang membawa jenazah, keduanya pun langsung berdiri memberi hormat; lalu ada yang memberi kabar, jenazah itu adalah seorang Yahudi. Kedua sahabat tadi pun menjawab: Nabi kita juga pernah mengalami seperti ini: dia (Nabi) berdiri memberi hormat kepada jenazah seorang Yahudi, dan dia bersabda dengan nada bertanya: “Bukankah Yahudi juga manusia?” (HR. al-Bukhārī). (211).

 

Keterangan:

Hadits di atas menunjukkan bahwa memberi hormat kepada jenazah hukumnya sunnah, walaupun jenazah seorang non-muslim. Sebab, dalam Islam, tidak ada perbedaan antara satu umat dengan umat yang lain melainkan amal perbuatannya. Lebih dari itu, yang berhak untuk mengganjar amal seseorang hanyalah Allah semata. Manusia sama sekali tidak punya hak untuk itu. Oleh karena itu, sebagai sesama manusia, kita harus saling menghormati. Inilah esensi dari setiap agama.

 

Catatan:


  1. 21). Shaḥīḥ al-Bukhārī, Bab Janā’iz, hadits no. 1229. 

Bagikan:

HADITS KETUJUH

(Waktu Sahur dan Hakikatnya)

 

Ditegaskan dari Rasūlullāh s.a.w. bahwa beliau bersabda: “Mimpi yang benar adalah yang terjadi pada waktu sahur.” (11)

 

Penyingkapan Rahasia dan Penjelasan Maknanya.

Ketahuilah, waktu sahur adalah waktu di akhir malam dan menjelang awal siang. Malam menampakkan kegelapan, sementara siang adalah waktu penyingkapan dan kejelasan, serta akhir perjalanan kegelapan di alam Ilahi, kemudian di alam makna (ma‘ānī) dan roh. Karena waktu sahur merupakan permulaan waktu menjelang kesempurnaan nyata dan terang, mestilah apa yang terlihat di saat itu mendekati kebenaran. Hal itu ditunjukkan Yūsuf a.s., dengan perkataannya kepada bapaknya: “…inilah ta‘bir mimpiku yang dahulu itu. Sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya kenyataan.” (QS. Yusuf: 100). Yaitu, tidak sempurna hakikat mimpi kecuali dengan kemunculannya di dalam rasa. Di dalam rasa terdapat kemunculan maksud dari bentuk-bentuk yang digambarkan, dan menjadi matang buahnya.

Pahamilah hal itu.

 

Catatan:


  1. 1). Diriwayatkan oleh at-Tirmidzī di dalam bab ar-Ru’yā’, hal. 3; ad-Dārimī di dalam bab ar-Ru’yā’, hal. 9; dan Ibn Ḥanbal, III/67, 93. 

Bagikan:

Hadits ke-20

Adil Terhadap Tetangga Non-Muslim

 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مِنْهَالٍ حَدَّثَنَا يَزِيْدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنِ ابْنِ عُمَرَ (ر) قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله (ص): مَا زَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِيْ بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ.

Diriwayatkan dari Muḥammad Ibnu Minhāl, dari Yazīd Ibnu Zurai‘i, dari ‘Umar Ibnu Muḥammad, dari ayahnya, dari Ibnu ‘Umar, Rasūl pernah bersabda: “Tak henti-hentinya Jibrīl mewasiatkan kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga, sehingga aku menduga ia (Jibrīl) akan menjadikan tetangga sebagai salah satu pewaris harta peninggalan kita.” (HR. al-Bukhārī). (201).

 

Keterangan:

Menghormati tamu tidak terbatas pada yang beragama Islam saja, bahkan dari agama lain pun wajib hukumnya. Sebab Islam tidak membedakan antara satu agama dengan agama yang lainnya.

Islam bahkan mengajarkan: Siapa berbuat baik kepada makhluk Allah yang ada di bumi maka semua penduduk langit juga akan sayang kepadanya. Dan kasih-sayang antarsesama inilah yang akan melanggengkan rahmat Allah kepada umat manusia di muka bumi.

 

Catatan:


  1. 20). Shaḥīḥ al-Bukhārī, Juz IV, Bab Adab, hlm. 63. 

Bagikan:

Lewat ke baris perkakas