Shalat Qashar – Fikih Empat Madzhab

Fikih Empat Madzhab
(Maliki, Hanafi, Hanbali, Syafi‘i)
(Judul: Ijmā‘-ul-A’immat-il-Arba‘ati waikhtilāfihim).
Oleh: Al-Wazir Yahya bin Muhammad bin Hubairah

Penerjemah: Ali Mh.
Penerbit: PUSTAKA AZZAM

Rangkaian Pos: 002 Bab Shalat - Fikih Empat Madzhab
  1. 1.02-1 Bab Shalat – Sifat Shalat – Fikih Empat Madzhab
  2. 2.02-2 Bab Waktu-waktu Shalat – Fikih Empat Madzhab
  3. 3.02-3 Bab Adzan – Fikih Empat Madzhab
  4. 4.02-4 Bab Syarat Sahnya Shalat – Fikih Empat Madzhab
  5. 5.02-5 Bab Aurat – Fikih Empat Madzhab
  6. 6.02-6 Bab Syarat Shalat – Fikih Empat Madzhab
  7. 7.2-7-1 Bab Sifat Shalat (Bagian 1) – Fikih Empat Madzhab
  8. 8.2-7-2 Bab Sifat Shalat (Bagian 2) – Fikih Empat Madzhab
  9. 9.2-7-3 Bab Sifat Shalat (Bagian 3) – Fikih Empat Madzhab
  10. 10.2-7-4 Bab Sifat Shalat (Bagian 4) – Fikih Empat Madzhab
  11. 11.2-8 Shalat Jamaah – Fikih Empat Madzhab
  12. 12.2-9 Sujud Tilawah dan Sujud Syukur – Fikih Empat Madzhab
  13. 13.2-10 Hal-hal yang Membatalkan Shalat – Fikih Empat Madzhab
  14. 14.Tempat-tempat yang Dilarang Shalat di Dalamnya – Fikih Empat Madzhab
  15. 15.Sujud Sahwi – Fikih Empat Madzhab
  16. 16.Waktu-waktu Terlarang Menunaikan Shalat – Fikih Empat Madzhab
  17. 17.Qunut – Fikih Empat Madzhab
  18. 18.Shalat Sunnah Rawatib – Fikih Empat Madzhab
  19. 19.Imamah – Fikih Empat Madzhab
  20. 20.Posisi Imam dan Ma’mum – Fikih Empat Madzhab
  21. 21.Anda Sedang Membaca: Shalat Qashar – Fikih Empat Madzhab
  22. 22.Menjama‘ Shalat – Fikih Empat Madzhab
  23. 23.Shalat Jum‘at – Fikih Empat Madzhab

Bab: Shalat Qashar (5501).

 

364. Keempat Imām madzhab (Mālik, Abū Ḥanīfah, Aḥmad bin Ḥanbal, dan asy-Syāfi‘ī) sepakat bahwa boleh mengqashar shalat dalam perjalanan. (5512).

 

365. Mereka berbeda pendapat, apakah qashar merupakan rukhshah atau azimah?

Abū Ḥanīfah berkata: “Ia adalah azimah.” Bahkan dia berpendapat keras dalam masalah ini, sampai-sampai dia mengataan: “Apabila seseorang shalat Zhuhur 4 rakaat tanpa duduk setelah 2 rakaat maka shalatnya batal.”

Mālik, asy-Syāfi‘ī dan Aḥmad berkata: “Ia adalah rukhshah.”

Ada pula riwayat dari Mālik bahwa qashar merupakan azimah, seperti madzhab Abū Ḥanīfah. (5523).

 

366. Mereka berbeda pendapat tentang perjalanan yang dibolehkan mengqashar shalat.

Abū Ḥanīfah berkata: “Perjalanan 3 hari dengan onta dan jalan kaki.”

Mālik, asy-Syāfi‘ī dan Aḥmad berkata: “16 Farsakh.” (5534).

Mereka yang mengatakan bahwa qashar merupakan rukhshah (dispensasi) berbeda pendapat, apakah ia lebih utama dari menunaikan shalat secara sempurna?

Mālik, asy-Syāfi‘ī – dalam salah satu dari dua pendapatnya – dan Aḥmad berkata: “Qashar lebih utama.”

Asy-Syāfi‘ī berkata dalam pendapat lainnya: “Menunaikan secara sempurna lebih utama.” (5545).

 

367. Mereka semua sepakat bahwa shalat Shubuḥ dan shalat Maghrib tidak diqashar. (5556).

 

368. Mereka sepakat bahwa rukhshah berupa qashar dan berbuka puasa hanya berkaitan dengan perjalanan wajib dan mubah. (5567).

 

369. Mereka berbeda pendapat tentang perjalanan dalam rangka melakukan maksiat, apakah pelakunya boleh menjalankan rukhshah yang dibolehkan oleh syariat?

Abū Ḥanīfah berkata: “Semua rukhshah (dispensasi) dibolehkan.”

Mālik dalam salah satu dari dua riwayat darinya berkata: “Yang dibolehkan hanyalah makan bangkai saja.”

Mālik – dalam riwayat yang masyhur darinya – , asy-Syāfi‘ī dan Aḥmad berkata: “Tidak ada rukhshah yang dibolehkan secara mutlak.” (5578).

 

370. Mereka berbeda pendapat tentang musāfir yang selalu bersama keluarganya, seperti pelaut, duta (utusan) penguasa (atau pengirim surat) dan kusir keledai.

Abū Ḥanīfah, Mālik, dan asy-Syāfi‘ī berkata: “Mereka boleh menjalankan rukhshah yang dibolehkan, akan tetapi menyempurnakannya lebih utama, karena dia ada di negerinya sendiri.”

Aḥmad berkata: “Tidak ada rukhshah.” Pendapat yang sama juga diriwayatkan dari Mālik. (5589).

 

371. Mereka sepakat bahwa apabila seseorang bepergian tanpa berniat mendatangi daerah tertentu maka tidak ada rukhshah baginya. Kecuali riwayat dari Abū Ḥanīfah bahwa apabila seseorang dalam kondisi demikian lalu dia bepergian selama 3 hari maka dia boleh mengqashar shalat setelah itu. (55910).

Catatan:

  1. 550). Dalam manuskrip “Z” tertulis: Bab Meng-qashar Shalat. Sedangkan dalam naskah yang dicetak tertulis: Bab Shalat Musāfir. Ralatnya diambil dari manuskrip “C”.
  2. 551). Lih. al-Majmū‘ (4/209), Raḥmat-ul-Ummah (55), al-Isyrāf (1/383).
  3. 552). Lih. Badā’i‘-ish-Shanā’ī‘ (1/306), at-Taḥqīq (4/81), dan Bidāyat-ul-Mujtahid (1/311).
  4. 553). Lih. al-Majmū‘ (4/212), al-Mughnī (2/100), al-Hidāyah (1/86), dan Bidāyat-ul-Mujtahid (1/313).
  5. 554). Al-Qādhi ‘Abd-ul-Wahhāb al-Mālikī berkata: “Menurut madzhab kami Qashar itu Sunnah, bukan wajib. Musāfir boleh memilih antara meng-qashar dan menyempurnakan shalatnya. Di antara teman kami ada pula yang mengatakan: “Qashar wajib atas Musāfir.” Pendapat ini sama dengan pendapat Abū Ḥanīfah.

    Lih. al-Isyrāf (1/387) dan Bidāyat-ul-Mujtahid (1/311).

  6. 555). Lih. al-Ijma‘ karya Ibn-ul-Mundzir (22).
  7. 556). Lih. al-Isyrāf (1/383).
  8. 557). Lih. Bidāyat-ul-Mujtahid (1/314), al-Majmū‘ (4/224), al-Mughnī (2/102), Raḥmat-ul-Ummah (55).
  9. 558). Lih. al-Mughnī (2/102), al-Umm (2/370), Raḥmat-ul-Ummah (55) dan asy-Syarh-ul-Kabīr (2/115).
  10. 559). Lih. al-Majmū‘ (4/216), al-Umm (2/369), al-Mughnī (2/106), dan Badā’i‘-ish-Shanā’ī‘ (1/341)
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *