2-9 Sujud Tilawah dan Sujud Syukur – Fikih Empat Madzhab

Fikih Empat Madzhab
(Maliki, Hanafi, Hanbali, Syafi‘i)
(Judul: Ijmā‘-ul-A’immat-il-Arba‘ati waikhtilāfihim).
Oleh: Al-Wazir Yahya bin Muhammad bin Hubairah

Penerjemah: Ali Mh.
Penerbit: PUSTAKA AZZAM

Rangkaian Pos: 002 Bab Shalat - Fikih Empat Madzhab
  1. 1.02-1 Bab Shalat – Sifat Shalat – Fikih Empat Madzhab
  2. 2.02-2 Bab Waktu-waktu Shalat – Fikih Empat Madzhab
  3. 3.02-3 Bab Adzan – Fikih Empat Madzhab
  4. 4.02-4 Bab Syarat Sahnya Shalat – Fikih Empat Madzhab
  5. 5.02-5 Bab Aurat – Fikih Empat Madzhab
  6. 6.02-6 Bab Syarat Shalat – Fikih Empat Madzhab
  7. 7.2-7-1 Bab Sifat Shalat (Bagian 1) – Fikih Empat Madzhab
  8. 8.2-7-2 Bab Sifat Shalat (Bagian 2) – Fikih Empat Madzhab
  9. 9.2-7-3 Bab Sifat Shalat (Bagian 3) – Fikih Empat Madzhab
  10. 10.2-7-4 Bab Sifat Shalat (Bagian 4) – Fikih Empat Madzhab
  11. 11.2-8 Shalat Jamaah – Fikih Empat Madzhab
  12. 12.Anda Sedang Membaca: 2-9 Sujud Tilawah dan Sujud Syukur – Fikih Empat Madzhab
  13. 13.2-10 Hal-hal yang Membatalkan Shalat – Fikih Empat Madzhab
  14. 14.Tempat-tempat yang Dilarang Shalat di Dalamnya – Fikih Empat Madzhab
  15. 15.Sujud Sahwi – Fikih Empat Madzhab
  16. 16.Waktu-waktu Terlarang Menunaikan Shalat – Fikih Empat Madzhab
  17. 17.Qunut – Fikih Empat Madzhab
  18. 18.Shalat Sunnah Rawatib – Fikih Empat Madzhab
  19. 19.Imamah – Fikih Empat Madzhab
  20. 20.Posisi Imam dan Ma’mum – Fikih Empat Madzhab
  21. 21.Shalat Qashar – Fikih Empat Madzhab
  22. 22.Menjama‘ Shalat – Fikih Empat Madzhab
  23. 23.Shalat Jum‘at – Fikih Empat Madzhab
  24. 24.Mandi Jum‘at dan Shalat Jum‘at Masbuq – Fikih Empat Madzhab
  25. 25.Shalat ‘Id – Fikih Empat Madzhab
  26. 26.Shalat Khauf & Pakaian yang Makruh untuk Dipakai – Fikih Empat Madzhab

Bab: Sujud Tilāwah dan Sujud Syukur

(4981).

 

322. Mereka (Mālik, Abū Ḥanīfah, Aḥmad bin Ḥanbal, dan asy-Syāfi‘ī) sepakat bahwa sujud Tilāwah tidak wajib. Kecuali Abū Ḥanīfah yang menganggapnya wajib atas orang yang membaca dan orang yang mendengarkan, baik orang yang mendengarkan tersebut sengaja mendengarkan atau tidak sengaja.

Kemudian orang yang menganggapnya tidak wajib sepakat bahwa hukumnya Sunnah Mu’akkadah bagi orang yang membaca dan orang yang mendengarkan baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Kecuali asy-Syāfi‘ī yang mengatakan: “Menurutku, hukumnya tidak Sunnah Mu’akkadah atas orang yang mendengarkan, tapi bila dia sujud maka hal tersebut bagus.” (4992).

323. Mereka sepakat bahwa dalam surah al-Ḥajj ada dua ayat Sajdah. Kecuali Abū Ḥanīfah dan Mālik yang mengatakan: “Hanya ada satu ayat Sajdah di dalamnya.” (5003).

324. Mereka berbeda pendapat tentang ayat Sajdah dalam surah Shād, apakah ia sujud syukur atau sujud Tilāwah?

Abū Ḥanīfah, Mālik, dan Aḥmad – dalam salah satu dari dua riwayat darinya – berkata: “Ia termasuk Azā’im-us-sujūd (Sujud Tilawah).”

Asy-Syāfi‘ī dan Aḥmad dalam riwayat yang masyhur darinya berkata: “Ia termasuk sujud syukur.” (5014).

325. Mereka sepakat bahwa dalam surah-surah al-Mufashshal ada tiga ayat Sajdah. Pertama, dalam surah an-Najm; Kedua, dalam surah al-Insyiqāq; Ketiga, dalam surah al-‘Alaq kecuali Imām Mālik yang mengatakan: “Tidak ada sujud Tilāwah dalam surah-surah al-Mufashshal.” Inilah pendapat yang masyhur dalam madzhabnya.

Ada pula riwayat lain darinya yang seperti madzhab Jamā‘ah, sebagaimana yang disebutkan oleh ‘Abd-ul-Wahhāb dalam al-Isyrāf.

Ada pula pendapat lain Imām asy-Syāfi‘ī yang mengatakan bahwa tidak ada sujud Tilāwah dalam surah-surah al-Mufashshal. (5025).

326. Mereka sepakat bahwa ayat-ayat Sajdah lainnya ada 10, yaitu dalam surah al-A‘rāf, ar-Ra‘d, an-Naḥl, Sajdah Subḥāna, Sajdah Maryam, Sajdah pertama dalam surah al-Ḥajj, Sajdah al-Furqān, Sajdah an-Naml, Sajdah Alif Lām Mīm Tanzīl dan Sajdah Ḥā Mīm al-Mashābiḥ. (5036).

327. Mereka berbeda pendapat tentang sujud syukur.

Abū Ḥanīfah dan Mālik berkata: “Hukumnya makruh, yang lebih utama adalah mengucapkan syukur dan pujian dengan lidah.”

Asy-Syāfi‘ī dan Aḥmad berkata: “Hukumnya tidak makruh, tapi sunnah.” (5047).

Catatan:

  1. 498). Judul ini tidak ada dalam naskah yang dicetak.
  2. 499). Lih. at-Taḥqīq (3/217), al-Hidāyah (1/85), al-Majmū‘ (3/551), dan Badā’i‘-ish-Shanā’ī‘ (1/555).
  3. 500). Lih. al-Mughnī (1/684), at-Taḥqīq (3/218), al-Hidāyah (1/85), dan Raḥmat-ul-Ummah (47).
  4. 501). Masalah ini disebutkan setelah dua masalah dalam naskah yang dicetak. Masalah ini dan masalah-masalah setelahnya sampai akhir bab ini juga terdapat di akhir bab berikutnya dalam manuskrip “Z”.

    Lih. al-Majmū‘ (3/556), at-Taḥqīq (3/219), al-Mughnī (1/683), dan Raḥmat-ul-Ummah (47).

  5. 502). Lih. al-Isyrāf (1/317), al-Mughnī (1/683), Raḥmat-ul-Ummah (47), dan al-Hidāyah (1/84).
  6. 503). Lih. Raḥmat-ul-Ummah (47), dan referensi lainnya. Yang dimaksud al-Mashābīḥ adalah surah Fushshilat.
  7. 504). Lih. at-Taḥqīq (3/229), al-Majmū‘ (3/565), al-Mughnī (1/690), Raḥmat-ul-Ummah (48).
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *