02-6 Bab Syarat Shalat – Fikih Empat Madzhab

Fikih Empat Madzhab
(Maliki, Hanafi, Hanbali, Syafi‘i)
(Judul: Ijmā‘-ul-A’immat-il-Arba‘ati waikhtilāfihim).
Oleh: Al-Wazir Yahya bin Muhammad bin Hubairah

Penerjemah: Ali Mh.
Penerbit: PUSTAKA AZZAM

Rangkaian Pos: 002 Bab Shalat - Fikih Empat Madzhab
  1. 1.02-1 Bab Shalat – Sifat Shalat – Fikih Empat Madzhab
  2. 2.02-2 Bab Waktu-waktu Shalat – Fikih Empat Madzhab
  3. 3.02-3 Bab Adzan – Fikih Empat Madzhab
  4. 4.02-4 Bab Syarat Sahnya Shalat – Fikih Empat Madzhab
  5. 5.02-5 Bab Aurat – Fikih Empat Madzhab
  6. 6.Anda Sedang Membaca: 02-6 Bab Syarat Shalat – Fikih Empat Madzhab
  7. 7.2-7-1 Bab Sifat Shalat (Bagian 1) – Fikih Empat Madzhab
  8. 8.2-7-2 Bab Sifat Shalat (Bagian 2) – Fikih Empat Madzhab
  9. 9.2-7-3 Bab Sifat Shalat (Bagian 3) – Fikih Empat Madzhab
  10. 10.2-7-4 Bab Sifat Shalat (Bagian 4) – Fikih Empat Madzhab
  11. 11.2-8 Shalat Jamaah – Fikih Empat Madzhab
  12. 12.2-9 Sujud Tilawah dan Sujud Syukur – Fikih Empat Madzhab
  13. 13.2-10 Hal-hal yang Membatalkan Shalat – Fikih Empat Madzhab
  14. 14.Tempat-tempat yang Dilarang Shalat di Dalamnya – Fikih Empat Madzhab
  15. 15.Sujud Sahwi – Fikih Empat Madzhab
  16. 16.Waktu-waktu Terlarang Menunaikan Shalat – Fikih Empat Madzhab
  17. 17.Qunut – Fikih Empat Madzhab
  18. 18.Shalat Sunnah Rawatib – Fikih Empat Madzhab
  19. 19.Imamah – Fikih Empat Madzhab
  20. 20.Posisi Imam dan Ma’mum – Fikih Empat Madzhab
  21. 21.Shalat Qashar – Fikih Empat Madzhab
  22. 22.Menjama‘ Shalat – Fikih Empat Madzhab
  23. 23.Shalat Jum‘at – Fikih Empat Madzhab

Bab: Syarat Shalat (3871).

 

233. Keempat Imam madzhab (Mālik, Abū Ḥanīfah, Aḥmad bin Ḥanbal, dan asy-Syāfi‘ī) sepakat bahwa shalat memiliki empat syarat, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu:

(a). Berwudhu’ dengan air atau bertayammum ketika tidak ada air;

(b). Berdiri di atas tanah yang suci;

(c). Menghadap qiblat bila mampu; dan

(d). Mengetahui masuknya waktu secara yakin. (3882).

 

234. Setelah mereka sepakat akan hal-hal di atas bahwa shalat tidak sah kecuali dengan terpenuhinya syarat-syarat tersebut, mereka berbeda pendapat tentang menutup aurat dengan pakaian suci.

Abū Ḥanīfah, asy-Syāfi‘ī, dan Aḥmad berkata: “Ia mengikuti empat syarat di atas.”

Para pengikut Imām Mālik berbeda pendapat dalam masalah ini. Ada yang mengatakan bahwa ia (menutup aurat dengan pakaian suci) merupakan syarat sahnya shalat bila ingat dan mampu. Apabila seseorang mampu menutup aurat dengan pakaian suci dan ingat akan hal tersebut tapi dia shalat dengan aurat terbuka secara sengaja maka shalatnya batal.

Ada pula yang mengatakan: “Menutup aurat hukumnya wajib, tapi ia bukan syarat sahnya shalat, melainkan hanya ditekankan (sangat dianjurkan). Apabila seseorang shalat dengan aurat terbuka secara sengaja maka dia telah berbuat maksiat dan berdosa, hanya saja kewajiban telah gugur darinya.”

Pendapat yang dipilih oleh ‘Abd-ul-Wahhab dalam at-Talqin adalah bahwa shalat tidak sah bila aurat terbuka. (3893).

 

235. Mereka berbeda pendapat tentang boleh dan sahnya shalat berdasarkan dugaan kuat bahwa waktunya telah masuk.

Abū Ḥanīfah, asy-Syāfi‘ī, dan Aḥmad berkata: “Shalatnya sah.”

Malik berkata: “Shalat tidak sah kecuali jika waktunya telah masuk secara yakin bahwa waktunya benar-benar telah masuk.” (3904).

 

Catatan:


  1. 387). Demikianlah yang tertulis dalam naskah yang dicetak dan manuskrip “Z”. Adapun dalam manuskrip “C” tertulis: Bab Syarat-syarat Shalat Sebelum Masuk ke Dalamnya. 
  2. 388). Lih. Raḥmat-ul-Ummah (36) dan referensi-referensi lainnya. 
  3. 389). Lih. at-Talqīn (94) dan referensi-referensi lainnya. 
  4. 390). Referensinya telah disebutkan sebelumnya. 
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *