1-8 Istihadhah – Fiqih Lima Madzhab

BAB 8 ISTIḤĀDHAH   Istiḥādhah menurut istilah para ahli fiqih adalah: Darah yang keluar dari wanita bukan pada masa-masa haidh dan nifās dan tidak ada kemungkinan bahwa ia haidh; misalnya darah yang melebihi masa haidh atau darah yang kurang dari masa paling sedikitnya haidh. Biasanya darah itu warnanya kuning, dingin, encer (tidak kental) dan keluarnya dengan lemah (tidak deras) yang pada dasarnya berbeda dengan darah haidh. Imāmiyyah: membagi darah istiḥādhah…

1-7 Haidh – Fiqih Lima Madzhab

BAB 7 HAIDH   Haidh secara bahasa berarti: Mengalir, sedangkan secara terminologis (istilah) menurut para ahli fiqih berarti: Darah yang biasa keluar pada diri seorang wanita pada hari-hari tertentu. Haidh itu mempunyai dampak yang membolehkan meninggalkan ibadah dan menjadi patokan selesainya ‘iddah bagi wanita yang dicerai. Biasanya darahnya berwarna hitam atau merah kental (tua) dan panas. Ia mempunyai daya dorong, tetapi kadang-kadang ia keluar tidak seperti yang digambarkan di atas,…

1-6 Mandi – Fiqih Lima Madzhab

BAB 6 MANDI   Macam-macam Mandi Wājib yaitu:Junub Haidh Nifās Orang Islam yang meninggal dunia.Keempat hal ini telah disepakati semua ulama madzhab. Ḥanbalī: Menambah satu hal lagi, yaitu: Ketika orang kafir memeluk agama Islam. Syāfi‘ī, dan Imāmiyyah: Kalau orang kafir itu masuk Islam dalam keadaan junub, maka ia wajib mandi karena junub-nya, bukan Islamnya. Dari itu, kalau pada waktu masuk Islam ia tidak dalam keadaan junub, ia tidak…

1-5 Syarat-syarat Wudhu’ – Fiqih Lima Madzhab

BAB 5 SYARAT-SYARAT WUDHŪ’   Wudhū’ itu mempunyai beberapa syarat, di antaranya adalah: Airnya harus muthlaq (mutlak) dan suci, dan tidak dipergunakan untuk menghilangkan kotoran dan hadats, sebagaimana yang telah kami jelaskan dalam bab air. Juga tidak ada larangan untuk mempergunakan air baik karena sakit atau karena sangat membutuhkannya. Dan anggota-anggota wudhū’ itu suci, tidak ada batas yang mencegah sampainya air ke kulit. Juga waktunya luas. Keterangan lebih rinci akan…

1-4 Fardhu-fardhu Wudhu’ – Fiqih Lima Madzhab

BAB 4 FARDHU-FARDHU WUDHŪ’   Niat. Niat, yaitu tujuan untuk berbuat (melakukan) dengan motivasi (dorongan) untuk mengikuti perintah-perintah Allah. Para ulama madzhab sepakat bahwa niat itu termasuk salah satu fardhu dalam wudhū’ dan tempatnya pada waktu melaksanakan wudhū’ itu. Ḥanafī: Sahnya shalat tidak hanya tergantung pada wudhū’ dan niat; maka seandainya ada seorang yang mandi dengan tujuan hanya untuk mendinginkan badannya atau untuk membersihkannya, kemudian membasahi semua anggota wudhū’, lalu…

1-3 Tujuan / Fungsi Wudhu’ – Fiqih Lima Madzhab

BAB 3 TUJUAN/FUNGSI WUDHŪ’   Para ulama fiqih berpendapat bahwa hadats itu dibagi menjadi dua bagian, pertama: Hadats kecil, yaitu yang hanya mewajibkan wudhū’ saja. Kedua: Hadats besar, yang kedua ini dibagi dua: Ada yang hanya diwajibkan mandi saja, dan ada yang diwajibkan mandi dan wudhū’ secara bersamaan,  keterangan lebih rinci tentang hal tersebut akan dijelaskan nanti. Orang yang berhadats kecil dilarang melakukan beberapa hal di bawah ini:Shalāt, baik…

1-2-2 Hal-hal Yang Mewajibkan Wudhu’ – Fiqih Lima Madzhab

HAL-HAL YANG MEWAJIBKAN WUDHŪ’ DAN YANG MEMBATALKANNYA   Kencing, Kotoran dan Keluar Angin Kaum Muslimin telah sepakat semua bahwa keluarnya kencing dan kotoran dari dua jalan (qubul dan dubur), serta angin dari tempat yang biasa, maka ia dapat membatalkan wudhū’. Sedangkan keluarnya ulat, batu kecil, darah, dan nanah, maka ia dapat membatalkan wudhū’, menurut Syāfi‘ī, Ḥanafī dan Ḥanbalī. Tetapi menurut Mālikī, tidak sampai membatalkan wudhū’, kalau semuanya itu tumbuh di…

1-2-1 Yang Menyucikan Najis – Fiqih Lima Madzhab

BAB 2 YANG MENYUCIKAN NAJIS  Air Muthlaq. Air suci dan menyucikan, menurut kesepakatan para ulama madzhab.Cairan selain air. Sesuatu yang cair dan suci adalah yang berpisah dari benda yang diperasnya, seperti cuka dan air mawar, maka air tersebut adalah menyucikan. Pendapat ini hanya menurut Ḥanafī saja.Tanah. Dapat menyucikan telapak kaki dan sandal yang dipergunakan berjalan di atas tanah, atau dapat dipergunakan untuk menggosok sesuatu yang melekat di…

1-1-4 Najis-Najis – Fiqih Lima Madzhab

Najis-najis 1. Anjing: Najis, kecuali Madzhab Mālikī yang berkata: Bejana yang dibasuh tujuh kali jika terkena jilatan anjing bukanlah karena najis melainkan karena ta‘abbud (beribada). Syāfi‘ī dan Ḥanbalī berkata: Bejana yang terkena jilatan anjing mesti dibasuh sebanyak tujuh kali, satu kali di antaranya dengan tanah. Imāmiyyah berkata: Bejana yang dijilati anjing harus dibasuh sekali dengan tanah dan dua kali dengan air. 2. Babi: Semua madzhab, berpendapat bahwa hukumnya sama seperti…