Batasan Mengusap Kedua Tangan – Tata Cara Tayammum – Bidayat-ul-Mujtahid

Bab IV Tata Cara Tayammum?   Ada tiga masalah pokok yang berkaitan dengan tata cara tayammum: Masalah pertama: Batasan Mengusap Kedua Tangan. Para ulama berbeda pendapat mengenai batasan wajib mengusap kedua tangan ketika bertayammum sesuai yang tertera dalam firman-Nya: فَامْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَ أَيْدِيْكُمْ مِنْهُ. “Sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu.” (Qs. al-Mā’idah [5]: 6). Pendapat ulama mengenai hal ini terbagi menjadi 4 pendapat:Batasan yang wajib dalam tayammum adalah…

4-3 Syarat-syarat  yang Membolehkan Tayammum? – Bidayat-ul-Mujtahid

Bab III Syarat-syarat  yang Membolehkan Tayammum?   Ada tiga masalah utama yang berkaitan dengannya: Pertama: Apakah niat termasuk syarat tayammum atau tidak? Kedua: Apakah thalab (usaha mencari air) merupakan syarat bolehnya tayammum ketika tidak memiliki air? Ketiga: Apakah masuknya waktu termasuk syarat bolehnya tayammum atau tidak? Masalah pertama: Niat.Jumhur ulama berpendapat bahwa niat adalah syarat tayammum, karena niat merupakan ibadah yang tidak dapat dipahami secara akal (logika). Sementara Zufar…

4-2 Siapakah yang Boleh Melakukan Tayammum? – Bidayat-ul-Mujtahid

Bab II Siapakah yang Boleh Melakukan Tayammum? Para ulama sepakat bahwa tayammum diperbolehkan kepada dua kelompok; orang sakit dan yang sedang melakukan perjalanan apabila tidak mendapatkan air, lalu mereka berbeda pendapat mengenai empat orang: – Orang sakit yang mendapatkan air, akan tetapi ia takut apabila menggunakannya dapat membahayakan keselamatan dirinya. – Orang yang tidak dalam perjalanan (mukim) dan tidak memiliki air. – Orang sehat yang dalam perjalanan dan mendapatkan air,…

4-1 Praktek Bersuci yang dapat Diganti dengan Tayammum – Bidayat-ul-Mujtahid

كِتَابُ التَّيَمُّمِ KITAB TAYAMMUM Pembahasan tentang masalah ini terangkum dalam tujuh bab: Bab I Praktek Bersuci yang dapat Diganti dengan Tayammum. Para ulama telah sepakat bahwa tayammum sebagai pengganti dari bersuci kecil (wudhu’), dan mereka berbeda pendapat apakah dapat mengganti bersuci besar (mandi)?Diriwayatkan dari ‘Umar dan Ibnu Mas‘ūd bahwa tayammum tidak bisa dijadikan pengganti untuk mandi (menghilangkan hadats besar). ‘Alī dan beberapa sahabat yang lain berpendapat bahwa tayammum bisa…

3-3-4,5 Wudhu’ Wanita yang Mustahadhah – Bidayat-ul-Mujtahid

Masalah keempat: Wudhu’ wanita yang mustaḥādhah. Para ulama berbeda pendapat tentang wudhu’ yang berkaitan dengan wanita mustaḥādhah: Sekelompok ulama mewajibkannya mandi satu kali, yaitu saat si wanita mendapati bahwa ḥaidhnya telah berakhir dengan adanya salah satu tanda seperti yang telah disebutkan para ulama di atas. Kelompok ini terbagi kepada dua: kelompok ulama yang mewajibkan wanita yang bersangkutan untuk berwudhu’ setiap kali akan mengerjakan shalat. Sementara kelompok lainnya hanya sekedar menganjurkannya…

3-3-2,3 Menggauli Wanita yang Baru Lepas Haidh, Namun Belum Bersuci – Bidayat-ul-Mujtahid

Masalah kedua: Menggauli wanita yang baru lepas Ḥaidh, namun belum bersuci. Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini: Mālik, Syāfi‘ī dan jumhur ulama berpendapat bahwa itu tidak boleh dilakukan kecuali setelah si wanita mandi. Sementara Abū Ḥanīfah dan para pengikutnya berpendapat membolehkannya jika si wanita telah suci lebih dari masa terpanjang (maksimal) ḥaidh, atau lebih dari 10 hari. Dan al-Auzā‘ī menilai boleh melakukannya jika si wanita telah membasuh kemaluannya dengan…

3-3-1 Bersenang-senang dengan Wanita yang Sedang Haidh – Bidayat-ul-Mujtahid

Bab III Mengetahui Hukum-hukum Ḥaidh dan Istiḥādhah Landasan dalam pembahasan ini adalah firman Allah s.w.t.: وَ يَسْئَلُوْنَكَ عَنِ الْمَحِيْضِ قُلْ هُوَ أَذًى. “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Ḥaidh itu adalah suatu kotoran”.” (Qs. al-Baqarah [2]: 222). Dan berbagai hadits yang akan kami sebutkan kemudian. Kaum muslimin telah sepakat bahwa ḥaidh dapat menghalangi empat hal berikut ini:Amalan shalat dan tidak ada kewajiban untuk meng-qadhā’-nya. Menghalangi amalan puasa dan harus…

3-2-5,6,7 Hukum Darah yang Keluar dari Rahim – Bidayat-ul-Mujtahid

Masalah kelima: Apakah ash-shufrah (cairan hitam) dan al-kudrah (cairan kekuning-kuningan) termasuk Ḥaidh? Para ulama berbeda pendapat tentang ash-shufrah dan al-kudrah, apakah keduanya termasuk darah ḥaidh. Sekelompok ulama berpendapat bahwa keduanya adalah darah ḥaidh seperti yang layaknya keluar di masa ḥaidh. Inilah pendapat yang dipegang oleh Syāfi‘ī dan Abū Ḥanīfah. Pendapat serupa juga diriwayatkan dari Mālik, dan diungkapkan dalam al-Mudawwanah. “Ash-shufrah dan al-kudrah keduanya termasuk jenis ḥaidh, baik keluar dari masa…

3-2-2,3,4 Hukum Darah yang Keluar dari Rahim – Bidayat-ul-Mujtahid

Masalah kedua: Ḥaidh yang terputus-putus. Mengenai wanita yang mengalami ḥaidh terputus-putus, seperti ḥaidh pada satu hari atau dua hari, lalu kembali suci satu hari atau dua hari kemudian, Mālik dan pengikutnya berpendapat bahwa wanita seperti itu harus menyatukan semua hari-hari keluarnya darah, dan menggugurkan hari sucinya. Dan dia harus bersuci setiap kali melihat ḥaidhnya telah suci, karena dia tidak tahu mungkin saja itu memang waktunya untuk bersuci. Jika hari-hari keluarnya…