Hati Senang

3-3-2,3 Menggauli Wanita yang Baru Lepas Haidh, Namun Belum Bersuci – Bidayat-ul-Mujtahid

Masalah kedua: Menggauli wanita yang baru lepas Ḥaidh, namun belum bersuci. Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini: Mālik, Syāfi‘ī dan jumhur ulama berpendapat bahwa itu tidak boleh dilakukan kecuali setelah si wanita mandi. Sementara Abū Ḥanīfah dan para pengikutnya berpendapat membolehkannya jika si wanita telah suci lebih dari masa terpanjang (maksimal) ḥaidh, atau lebih dari 10 hari. Dan al-Auzā‘ī menilai boleh melakukannya jika si wanita telah membasuh kemaluannya dengan…

3-3-1 Bersenang-senang dengan Wanita yang Sedang Haidh – Bidayat-ul-Mujtahid

Bab III Mengetahui Hukum-hukum Ḥaidh dan Istiḥādhah Landasan dalam pembahasan ini adalah firman Allah s.w.t.: وَ يَسْئَلُوْنَكَ عَنِ الْمَحِيْضِ قُلْ هُوَ أَذًى. “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Ḥaidh itu adalah suatu kotoran”.” (Qs. al-Baqarah [2]: 222). Dan berbagai hadits yang akan kami sebutkan kemudian. Kaum muslimin telah sepakat bahwa ḥaidh dapat menghalangi empat hal berikut ini:Amalan shalat dan tidak ada kewajiban untuk meng-qadhā’-nya. Menghalangi amalan puasa dan harus…

3-2-5,6,7 Hukum Darah yang Keluar dari Rahim – Bidayat-ul-Mujtahid

Masalah kelima: Apakah ash-shufrah (cairan hitam) dan al-kudrah (cairan kekuning-kuningan) termasuk Ḥaidh? Para ulama berbeda pendapat tentang ash-shufrah dan al-kudrah, apakah keduanya termasuk darah ḥaidh. Sekelompok ulama berpendapat bahwa keduanya adalah darah ḥaidh seperti yang layaknya keluar di masa ḥaidh. Inilah pendapat yang dipegang oleh Syāfi‘ī dan Abū Ḥanīfah. Pendapat serupa juga diriwayatkan dari Mālik, dan diungkapkan dalam al-Mudawwanah. “Ash-shufrah dan al-kudrah keduanya termasuk jenis ḥaidh, baik keluar dari masa…

3-2-2,3,4 Hukum Darah yang Keluar dari Rahim – Bidayat-ul-Mujtahid

Masalah kedua: Ḥaidh yang terputus-putus. Mengenai wanita yang mengalami ḥaidh terputus-putus, seperti ḥaidh pada satu hari atau dua hari, lalu kembali suci satu hari atau dua hari kemudian, Mālik dan pengikutnya berpendapat bahwa wanita seperti itu harus menyatukan semua hari-hari keluarnya darah, dan menggugurkan hari sucinya. Dan dia harus bersuci setiap kali melihat ḥaidhnya telah suci, karena dia tidak tahu mungkin saja itu memang waktunya untuk bersuci. Jika hari-hari keluarnya…

3-2-1 Hukum Darah yang Keluar dari Rahim – Bidayat-ul-Mujtahid

HUKUM DARAH YANG KELUAR DARI RAHIM Pembahasan mengenai darah-darah yang keluar dari rahim terangkum dalam tiga bab pembahasan: Bab I Macam-macam Darah yang Keluar dari Rahim Kamu Muslimin sepakat bahwa darah yang keluar dari rahim ada tiga macam:Darah haidh, yakni darah yang keluar dalam kondisi tubuh sehat. Darah istiḥādhah, yakni darah yang keluar dalam kondisi tubuh sakit, namun ia bukan darah haidh. Berdasarkan sabda Rasūlullāh s.a.w.:إِنَّمَا ذلِكَ عِرْقٌ

3-1-1,2,3 Hukum Janabah & Haidh – Bidayat-ul-Mujtahid

Bab III Hukum Janābah dan Haidh   Adapun hukum-hukum yang berkaitan dengan janabah, maka di dalamnya ada tiga masalah:   Masalah pertama: Masuk ke Dalam Masjid. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum masuknya orang yang tengah junub ke dalam masjid, menjadi tiga pendapat: 1. Sekelompok ulama melarangnya secara mutlak. Ini adalah pendapat madzhab Mālikī dan pengikutnya. 2. Ulama lain melarangnya, kecuali bagi yang hanya sekedar lewat masjid dan tidak berdiam…

2-2-1,2,3,4 Hal-hal Yang Membatalkan Mandi Hadats – Bidayat-ul-Mujtahid

Bab II Hal-hal yang Membatalkan Mandi Hadats   Dasar masalah ini adalah firman Allah s.w.t.: وَ إِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْا. “Dan jika kamu junub, maka mandilah.” (Qs. al-Mā’idah [5]: 6). Demikian pula firman-Nya: وَ يَسْئَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيْضِ، قُلْ هُوَ أَذًى. “Dan mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Itu adalah sesuatu yang kotor.” (Qs. al-Baqarah [2]: 222). Para ulama telah sepakat bahwa mandi hadats hukumnya wajib jika dua hadats berikut ini…

2-1-4 Bersegera Dalam Membasuh & Melakukannya Secara Tertib (Berurutan) – Bidayat-ul-Mujtahid

Masalah keempat: Bersegera dalam Membasuh dan Melakukannya Secara Tertib (Berurutan).   Para ulama juga berbeda pendapat apakah dalam hukum mandi disyaratkan untuk melakukannya segera dan tertib (berurutan), ataukah kedua tindakan ini (bersegera dan tertib) bukan termasuk syarat bagi jenis thaharah ini, seperti halnya beda pendapat mereka dalam masalah hukum wudhu’. Sebab perbedaan pendapat: Masalah perbuatan Nabi s.a.w. dalam tata cara mandi apakah dapat difahami sebagai sesuatu yang wajib ataukah sunnah.…

2-1-2,3 Niat, Berkumur & Istinsyaq – Bidayat-ul-Mujtahid

Masalah kedua: Niat. Para ulama berbeda pendapat apakah niat termasuk dalam syarat mandi hadats ataukah tidak. Kondisi ini sama seperti perbedaan mereka dalam hukum niat saat berwudhu’. Mālik, Syāfi‘ī, Aḥmad, Abū Tsaur, Dāūd dan para pengikutnya berpendapat bahwa niat termasuk syarat mandi. Sementara Abū Ḥanīfah dan pengikutnya, serta ats-Tsaurī berpendapat bahwa mandi cukup dilakukan tanpa niat, seperti halnya berwudhu’. Sebab perbedaan pendapat: Beda pendapat para ulama seputar hukum wudhu’, dan…
Lewat ke baris perkakas