Maulid ad-Diba’i – Terjemah Maulid Diba’ 4

Terjemah Maulid Dibā‘ī
(Judil Asli: Maulid-ud-Dibā‘ī)

Sebuah Biografi Nabi Muḥammad s.a.w.
Dalam Syair yang Indah dan Penuh Makna

Oleh: Al-Imām ‘Abd-ur-Raḥmān ad-Dibā‘ī

Penerjemah: Abu Achmad Wajieh
Penerbit: MUTIARA ILMU

Rangkaian Pos: Maulid ad-Diba'i - Terjemah Maulid Diba'

اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَيْهِ

Ya Allah, limpahkanlah rahmat, salam dan berkah kepada Nabi.”

 

اَحْضِرُوْا قُلُوْبَكُمْ يَا مَعْشَرَ ذَوِي الْأَلْبَابِ * حَتَّى أَجْلُوَ لَكُمْ عَرَائِسَ مَعَانِيْ أَجَلِّ الْأَحْبَابِ * الْمَخْصُوْصِ بِأَشْرَفِ الْأَلْقَابِ * الرَّاقِيْ إِلَى حَضْرَةِ الْمَلِكِ الْوَهَّابِ * حَتَّى نَظَرَ إِلَى جَمَالِهِ بِلَا سِتْرٍ وَ لَا حِجَابٍ * فَلَمَّا آنَ أَوَانُ ظُهُوْرِ شَمْسِ الرِّسَالَةِ * فِيْ سَمَاءِ الْجَلَالَةِ * خَرَجَ بِهِ مَرْسُوْمُ الْجَلِيْلِ * لِنَقِيْبِ الْمَمْلَكَةِ جِبْرِيْلَ * يَا جِبْرِيْلُ نَادِ فِيْ سَائِرِ الْمَخْلُوْقَاتِ * مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ وَ السَّمَاءِ * أَنْقُلُهُ فِيْ هذِهِ اللَّيْلَةِ إِلَى بَطْنِ أُمِّهِ مَسْرُوْرًا * أَمْلَأُ بِهِ الْكَوْنَ نُوْرًا * وَ أَكْفُلُهُ يَتِيْمًا وَ أُطَهِّرُهُ وَ أَهْلَ بَيْتِهِ تَطْهِيْرًا.

Artinya:

Khusyu‘kanlah hatimu wahai orang-orang yang berakal sehat, sehingga dapat kujelaskan kepadamu makna-makna keagungan seorang kekasih yang paling dicintai Allah. Yang diistimewakan dengan gelar-gelar yang paling mulia, yaitu seorang Nabi yang pernah menghadap Allah Sang Maha Raja Yang selalu melimpahkan karunia-Nya, sehingga dapat melihat keagungan-Nya tanpa tertutup sedikitpun. Ketika telah datang tanda-tanda munculnya cahaya kerasulan di langit yang penuh keagungan, maka keluarlah Jibrīl dengan membawa cahaya itu untuk membuka kerajaan di dunia. Seraya diperintahkan: “Wahai Jibrīl, serulah semua makhluk yang menjadi penguni bumi dan langit, agar menyambut dengan ucapan selamat dan penuh kegembiraan. Karena Nūr Muḥammad s.a.w. yang terpelihara dan rahasia keagungan yang tersimpan, yang telah Aku ciptakan sebelum Aku menciptakan segala sesuatu, sebelum Aku menciptakan langit dan bumi, malam ini Aku pindahkan Nūr Muḥammad ke perut ibunya dengan gembira. Dengan Nūr ini Aku penuhi seluruh alam dengan cahaya. Aku pelihara dia sebagai anak yatim, dan Aku sucikan dia dan keluarganya dari segala noda dan dosa.

 

اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَيْهِ

Ya Allah, limpahkanlah rahmat, salam dan berkah kepada Nabi.”

 

فَاهْتَزُّ الْعَرْشُ طَرَبًا وَاسْتِبْشَارًا * وَ ازْدَادَ الْكُرْسِيُّ هَيْبَةً وَ وَقَارًا وَ امْتَلَأَتِ السَّمَاوَاتُ أَنْوَارًا * وَ ضَجَّتِ الْمَلَائِكَةُ تَهْلِيْلًا وَ تَمْحِيْدًا وَ اسْتِغْفَارًا * وَ لَمْ تَزَلْ أُمُّهُ تَرَى أَنْوَاعًا مِنْ فَخْرِهِ وَ فَضْلِهِ * إِلَى نِهَايَةِ تَمَامِ حَمْلِهِ * فَلَمَّا اشْتَدَّ بِهَا الطَّلْقُ * بِإِذْنِ رَبِّ الْخَلْقِ * وَضَعَتِ الْحَبِيْبَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ سَاجِدًا شَاكِرًا حَامِدًا كَأَنَّهُ الْبَدْرُ فِيْ تَمَامِهِ. (مَحَلُّ الْقِيَامِ).

Artinya:

Berguncanglah ‘Arsy karena senang dan gembira ria, dan kursi keagunganpun bertambah dahsyat dan penuh wibawa. Langit-langit penuh cahaya, suara malaikat bergemuruh mengucapkan kalimat tahlil, tahmid dan istighfar (Berhenti untuk membaca: Subḥānallāhi wal-Ḥamdu Lillāhi wa Lā Ilāha Illallāhu Wallāhu Akbar (tiga kali).) Ibunya senantiasa melihat beraneka ragam tanda-tanda kebesaran dan kemuliaan putra yang dikandungnya, sampai benar-benar sempurna masa kandungannya. Ketika sang bayi suci hampir keluar dengan dahsyatnya, dengan idzin Allah Tuhan semua makhluk, maka sang ibu melahirkan bayi suci tercinta s.a.w. dalam keadaan bersujud, bersyukur, dan memuji Allah, bagaikan bulan purnama yang penuh kesempurnaan. (Saat berdiri).

 

وَ وُلِدَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مَخْتُوْنًا بِيَدِ الْعِنَايَةِ * مَكْحُوْلًا بِكُحْلِ الْهِدَايَةِ * فَأَشْرَقَ بِبَهَائِهِ الْفَضَآءَ * وَ تَلَأْلَأَ الْكَوْنُ مِنْ نُوْرِهِ وَ أَضَآءَ * وَ دَخَلَ فِيْ عَقْدِ بَيْعَتِهِ مَنْ بَقِيَ مِنَ الْخَلَائِقِ كَمَا دَخَلَ فِيْهِ مَنْ مَضَى أَوَّلُ فَضِيْلَةِ الْمُعْجِزَاتِ * بِخُمُوْدِ نَارِ فَارِسَ وَ سُقُوْطِ الشُّرُفَاتِ * وَ رَمِيَتِ الشَّيَاطِيْنُ مِنَ السَّمَاءِ بِالشُّهُبِ الْمُحْرِقَاتِ * وَ رَجَعَ كُلُّ جَبَّارٍ مِنَ الْجِنِّ وَ هُوَ بِصَوْلَةِ سُلْطَنَتِهِ ذَلِيْلٌ خَاضِعٌ * لَمَّا تَأَلَّقَ مِنْ سَنَاهُ النُّوْرُ السَّاطِعُ * وَ أَشْرَقَ مِنْ بَهَآئِهِ الضِّيَآءُ اللَّامِعُ * حَتَّى عُرِضَ عَلَى الْمَرَاضِعِ.

Artinya:

Lahirlah Rasūlullāh s.a.w. dalam keadaan berkhitan dengan kekuasaan Allah, bercelak mata dengan celak al-Hidayah, maka angkasa bersinar terang dengan cahaya kerasulannya, dan alam bergemerlapan sinar dari cahayanya, umat-umat sesudahnya ikut menyaksikan kerasulannya, sebagaimana kesaksian umat-umat terdahulu walaupun belum pernah melihatnya. Keutamaan mu‘jizatnya yang pertama kali adalah padamnya api sesembahan orang-orang Persi (Iran), dan gugurnya para pembesar kerajaan Persia, dan syaithan-syaithan yang telah dilempari dengan batu-batu meteor dari langit yang membakar. Para pembesar-pembesar jinn yang kuat dan ganas kembali tunduk dan hina, karena cemerlangnya cahaya yang keluar dari mulut Nabi s.a.w., dan sinar-sinar cahaya yang berkilauan dari kemegahan Nabi s.a.w., sampai Nabi diserahkan kepada wanita-wanita mulia yang menyusukannya.

 

اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَيْهِ

Ya Allah, limpahkanlah rahmat, salam dan berkah kepada Nabi.”

 

قِيْلَ مَنْ يَكْفُلُ هذِهِ الدُّرَّةَ الْيَتِيْمَةَ * الَّتِيْ لَا تُوْجَدُ لَهَا قِيْمَةٌ * قَالَتِ الطُّيُوْرُ نَحْنُ نَكْفُلُهُ وَ نَغْتَنِمُ هِمَّتَهُ الْعَظِيْمَةَ * قَالَتِ الْوُحُوْشُ نَحْنُ أَوْلَى بِذلِكَ لِكَيْ نَنَالَ شَرَفَهُ وَ تَعْظِيْمَةُ * قِيْلَ يَا مَعْشَرَ الْأُمَمِ اسْكُنُوْا فَإِنَّ اللهَ قَدْ حَكَمَ فِيْ سَابِقِ حِكْمَتِهِ الْقَدِيْمَةِ * بِأَنَّ نَبِيَّهُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَكُوْنُ رَضِيْعًا لِحَلِيْمَةِ الْحَلِيْمَةِ.

Artinya:

Ditanyakan: “Siapakah yang bersedia mengasuh permata yatim yang sangat berharga, permata yang sangat mahal nilainya?” Burung-burung menjawab: “Kami mau mengasuhnya sehingga kami mendapatkan cita-citanya yang agung.” Binatang-binatang liar menjawab: “Kami lebih berhak mengasuhnya, agar kami memperoleh kemuliaan dan kehormatannya.” Dikatakan: “Wahai para umat, diamlah kamu, sesungguhnya Allah telah menentukan di dalam ketentuannya yang telah lalu, bahwa Muḥammad, Nabi-Nya s.a.w. akan diasuh dan disusui oleh Sayyidah Ḥalīmah, wanita yang sangat penyantun.

 

اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَيْهِ

Ya Allah, limpahkanlah rahmat, salam dan berkah kepada Nabi.”

 

ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهُ مَرَاضِعُ الْإِنْسِ لِمَا سَبَقَ فِيْ طَيِّ الْغَيْبِ * مِنَ السَّعَادَةِ لِحَلِيْمَةِ بِنْتِ أَبِيْ ذُؤَيْبٍ * فَلَمَّا وَقَعَ نَظَرُهَا عَلَيْهِ * بَادَرَتْ مُسْرِعَةً إِلَيْهِ * وَ وَضَعَتْهُ فِيْ حِجْرِهَا * وَ ضَمَّتْهُ إِلَى صَدْرِهَا * فَهَشَّ لَهَا مَتَبَسِّمًا * فَخَرَجَ مِنْ ثَغْرِهِ نُوْرٌ لَحِقَّ بِالسَّمَآءِ * فَحَمَلَتْهُ إِلَى رَحْلِهَا * وَارْتَحَلَتْ بِهِ إِلَى أَهْلِهَا * فَلَمَّا وَصَلَتْ بِهِ إِلَى مُقَامِهَا عَايَنَتْ بَرَكَتَهُ عَلَى أَغْنَامِهَا * وَ كَانَتْ كُلَّ يَوْمٍ تَرَى مِنْهُ بُرْهَانًا * وَ تَرْفَعُ لَهُ قَدْرًا وَ شَانًا * حَتَّى انْدَرَجَ فِيْ حِلَّةِ اللُّطْفِ وَ الْأَمَانِ * وَ دَخَلَ بَيْنَ إِخْوَتِهِ مَعَ الصِّبْيَانِ.

Artinya:

Kemudian para wanita penyusu pergi dari Nabi s.a.w. karena suratan takdir telah menentukan kebahagiaan kepada Sayyidah Ḥalīmah binti Abī Dzu’aib. Ketika Sayyidah Ḥalīmah melihat Nabi s.a.w., ia segera mendekat kepadanya dan memangku di pangkuannya, lalu mendekapnya di dadanya, maka Nabi pun tersenyum kepada Sayyidah Ḥalīmah, dan tampak cahaya dari mulutnya menerpa cahaya langit. Kemudian Sayyidah Halimah membawa Nabi s.a.w. ke kendaraannya, dan berangkat pulang menuju keluarganya. Ketika telah sampai di rumahnya, tampaklah berkah Nabi terutama pada kambing-kambing Sayyidah Ḥalīmah. Setiap hari ia melihat pada diri Nabi tanda-tanda kemuliaan. Dan karena berkah mengasuh Nabi, kehidupan Sayyidah Ḥalīmah semakin baik dan sejahtera. Sehingga Nabi s.a.w. berada dalam asuhan hidup yang tenteram dan aman, bergaul dengan saudara-saudara sesusunya dan teman-teman kecil sebayanya.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.