Hati Senang

02 Penjelasan Perihal Orang-orang Shadiqin di dalam Tajrid – Mutu Manikam dari Kitab al-Hikam

BAB 2 Penjelasan Perihal Orang-orang Shādiqīn DI DALAM TAJRĪD   2. إِرَادَتُكَ التَّجْرِيْدُ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي الْأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الْخَفِيَّةِ وَ إِرَادَتُكَ الْأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي التَّجْرِيْدِ انْحِطَاطٌ مِنَ الْهِمَّةِ الْعَلِيَّةِ “Kehendakmu agar semata-mata beribadah, padahal Allah sudah menempatkan dirimu sebagai golongan orang yang harus berusaha untuk mendapatkan kehidupan duniamu (sehari-hari), maka keinginan seperti itu termasuk perbuatan (keinginan) syahwat yang halus. Sedangkan keinginanmu untuk berusaha, padahal…

01 Penjelasan Tentang Orang-orang yang ‘Arif – Mutu Manikam dari Kitab al-Hikam

BAB 1 Penjelasan Tentang ORANG-ORANG YANG ‘ĀRIF   1. مِنْ عَلَامَاتِ الْاِعْتِمَادِ عَلَى الْعَمَلِ نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُوْدِ الزَّلَلِ “Tanda-tanda orang yang ‘ārif dalam ‘amal, ia tidak membanggakan ‘amal ibadahnya. Berkurangnya harapan kepada Allah ketika terjadi kekhilafannya kepada Allah.” Orang yang ‘ārif adalah orang yang tidak membanggakan ‘amal ibadahnya. Orang seperti ini kurang pengharapannya kepada Allah, ketika ia berhadapan dengan rintangan yang menimpa. Sedangkan sifat orang yang bijaksana dalam meneguhkan…

2-31 Tawajjuh Kelompok Wushul & Salik – Ulasan Syaikh Ahmad Zarruq

31. اِهْتَدَى الرَّاحِلُوْنَ إِلَيْهِ بِأَنْوَارِ التَّوَجُّهِ وَ الْوَاصِلُوْنَ لَهُمْ أَنْوَارُ الْمُوَاجَهَةِ …… “Orang yang berangkat menuju Tuhan mendapatkan petunjuk melalui cahaya tawajjuh (menghadap), sementara orang yang telah sampai kepada-Nya memiliki cahaya muwājahah (saling berhadapan).” Cahaya tawajjuh meliputi ‘amal dan mu‘āmalah, sedangkan cahaya muwājahah meliputi segala hal yang datang dari hakikat wushūl, ketika hamba telah sampai kepada-Nya. Tanda-tanda lahiriah kelompok pertama ada tiga, yaitu mencari petunjuk untuk sampai, menjadikan ‘amal sebagai…

2-30 Orang yang Mampu adalah yang Telah Sampai Kepada Allah – Ulasan Syaikh Ahmad Zarruq

30. (لِيُنْفِقْ ذُوْ سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ): الْوَاصِلُوْنَ إِلَيْهِ وَ مَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ السَّائِرُوْنَ إِلَيْهِ “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya.” (ath-Thalāq [65]: 7). Orang yang mampu adalah yang telah sampai kepada Allah. Dan Orang yang disempitkan rezekinya adalah orang yang berjalan kepada-Nya.” Kalangan ‘ārif yang telah mencapai ma‘rifat adalah yang mendapat keluasan rezeki berupa ilmu dan ma‘rifat. Maka, mereka menafkahkan apa yang telah mereka dapatkan itu ketika…

2-29 Jauh Berbeda Antara Orang yang Memperoleh Petunjuk Karena-Nya dengan Orang yang Mencari Petunjuk Kepada-Nya – Ulasan Syaikh Ahmad Zarruq

29. شَتَّانَ بَيْنَ مَنْ يَسْتَدِلُّ عَلَيْهِ:…… “Jauh berbeda antara orang yang memperoleh petunjuk karena-Nya dengan orang yang mencari petunjuk kepada-Nya.” Kedua kelompok itu berbeda jauh meskipun keduanya sama-sama mencari al-Ḥaqq dan berusaha mencapai ma‘rifat kepada-Nya. Banyak di antara manusia yang melihat dengan cahaya alam sementara kelompok lainnya melihat dengan cahaya sang pencipta alam.   29. الْمُسْتَدِلُّ بِهِ عَرَفَ الْحَقَّ لِأَهْلِهِ؛ . “Orang yang memperoleh petunjuk karena-Nya mengetahui Tuhan dari ahlinya.”…

2-28 Apa yang Dititipkan dalam Jiwa Pasti Tampak pada Anggota Badan – Ulasan Syaikh Ahmad Zarruq

28. مَا اسْتُوْدِعَ فِيْ غَيْبِ السَّرَائِرِ ظَهَرَ فِيْ شَهَادَةِ الظَّوَاهِرِ “Apa yang dititipkan dalam jiwa pasti tampak pada anggota badan.” Apa yang dititipkan pada keghaiban rahasia berupa ma‘rifat kepada Allah akan menampak pada penyaksian lahiriah dengan amal dan perbuatan yang dilakukan di sana. Maka, barang siapa yang keghaiban rahasianya lebih sempurna, niscaya kebijakan lahiriahnya lebih sempurna. Sebab, lahiriah segala urusan menunjukkan hakikat di dalam dada. Wajah menunjukkan hati. Jika hati…

2-27 Barang Siapa Bersinar di Permulaannya Maka Bersinar Pula Penghabisannya – Ulasan Syaikh Ahmad Zarruq

27. مَنْ أَشْرَقَتْ بِدَايَتُهُ أَشْرَقَتْ نِهَايِتُهُ “Barang siapa bersinar di permulaannya maka bersinar pula penghabisannya.” Barang siapa yang bercahaya di awal, yakni dengan kembali kepada Allah, maka di akhirnya pun ia akan bercahaya dengan sampai kepada Allah. Barang siapa yang memulai awal perjalanannya dengan menetapi hukum-hukum asal maka ia akan mendapatkan faedah dalam hasil upayanya. Barang siapa memulai perjalanan dengan menetapi tarekat, ia akan mencapai akhir perjalanan dengan penyingkapan hakikat.…

2-26 Di Antara Ciri-ciri Sukses dalam Penghabisan adalah Kembali Kepada Allah di Permulaan – Ulasan Syaikh Ahmad Zarruq

26. مِنْ عَلَامَاتِ النُّجْحِ فِي النِّهَايَاتِ الرُّجُوْعُ إِلَى اللهِ فِي الْبِدَايَاتِ “Di antara ciri-ciri sukses dalam penghabisan adalah kembali kepada Allah di permulaan.” Di antara tanda kerugian di unjung perjalanan adalah kembali kepada diri di awal perjalanan. Sebab, jika awal perjalanan bersama Allah maka akhir perjalanan pun kepada Allah. Maka, limpahkanlah syukurmu ketika diberi, dan curahkan ridhamu ketika ditahan. Tetaplah menunggu apa yang ada di sisi-Nya di awal maupun di…

2-25 Kembali & Pulang Kepada Allah adalah Tanda Keberuntungan – Ulasan Syaikh Ahmad Zarruq

25. مَا تَوَقَّفَ مَطْلَبٌ أَنْتَ طَالِبُهُ بِرَبِّكَ وَ لَا تَبَسَّرَ مَطْلَبٌ أَنْتَ طَالِبُهُ بِنَفْسِكَ “Permintaanmu tidak akan menyulitkan Tuhanmu, dan permitaanmu tidak akan memudahkan nafsumu.” Maksudnya, ketika kau meminta kepada Allah, berarti kau bersandar kepada-Nya agar Dia memudahkan terwujudnya apa yang kauminta. Ada tiga cara orang yang bersandar kepada Allah, yaitu tafwīdh atau menyerahkan sepenuhnya apa yang kau kehendaki, tawakkal pada apa yang dihasilkan, dan istiqāmah dalam tawajjuh, atau menghadap…

2-24 Dunia ini adalah Tempat Kesulitan dan Kepayahan – Ulasan Syaikh Ahmad Zarruq

24. لَا تَسْتَغْرِبْ وُقُوْعَ الْأَكْدَارِ مَا دُمْتَ فِي هذِهِ الدَّارِ فَإِنَّهَا مَا أَبْرَزَتْ إِلَّا مَا هُوَ مُسْتَحِقُّ وَصْفِهَا وَ وَاجِبُ نَعْتِهَا “Selama kau berada di tempat ini (dunia), jangan aneh melihat sesuatu yang mengeruhkan jiwa, karena dunia ini hanya memunculkan segela yang bisa disifati dan yang wajib disifati.” Itu karena dunia disifati dengan kerendahan, atau kesulitan. Artinya, dunia ini adalah tempat kesulitan dan kepayahan. Usianya pendek, barangnya sedikit, dan ujiannya…
Lewat ke baris perkakas