Surah al-Fajr 89 ~ Tafsir Ibni ‘Arabi

Tafsir Ibni 'Arabi - Isyarat Ilahi

Dari Buku:
Isyarat Ilahi
(Tafsir Juz ‘Amma Ibn ‘Arabi)
Oleh: Muhyiddin Ibn ‘Arabi

Penerjemah: Cecep Ramli Bihar Anwar
Penerbit: Iiman
Didistribusikan oleh: Mizan Media Utama (MMU)

الْفَجْرُ

AL-FAJR

Surah Ke-89: 30 Ayat

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Dengan nama Allah, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

 

وَ الْفَجْرِ.

وَ لَيَالٍ عَشْرٍ.

وَ الشَّفْعِ وَ الْوَتْرِ.

وَ اللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ.

هَلْ فِيْ ذلِكَ قَسَمٌ لِّذِيْ حِجْرٍ.

089:1. Demi fajar,

089:2. dan malam yang sepuluh,

089:3. dan yang genap dan yang ganjil,

089:4. dan malam bila berlalu.

089:5. Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal.

Allah bersumpah dengan awal munculnya cahaya ruh di dalam materi jasad ketika ruh itu untuk pertama kalinya kembali menyatu dengannya. Yang dimaksud malam yang sepuluh (layālin ‘asyr –ayat 2) adalah tempat-tempat panca indera dan batin yang berjumlah sepuluh, yang mulai terbentuk kembali (ta‘ayyun) ketika ruh kembali kepada tubuh, karena ruh itulah yang menjadi penyebab kesempurnaan dan alat tubuh. Sementara itu, yang dimaksud yang genap (asy-syaf‘ – ayat 3) adalah bersatunya ruh dan tubuh serta kesempurnaan wujud insani yang memungkinkannya untuk sampai kepada-Nya. Adapun yang dimaksud yang ganjil (al-witr – 3) adalah ruh yang (masih) murni ketika terpisah dari tubuh.

Wal-laili idzā yasr (Dan demi malam ketika berlalu – ayat 4). Jelasnya, demi “malam” jasad ketika hancur dan musnah pada saat ditinggal ruh. Dengan begitu, Allah bersumpah dengan awal dan akhir, atau dengan kiamat kubra dan berbagai pengaruhnya. Lebih jelasnya: Demi fajar yang tak lain adalah awal terbitnya cahaya Al-Haq dan pengaruhnya terhadap “malam” jiwa dan “malam” indera yang hitam kelam dan diam tak berkutik pada saat penampakan cahaya Ilahi.

Dan demi yang genap yang tak lain adalah “Yang Menyaksikan dan sekaligus Yang Disaksikan (al-syāhidu wal-masyhūd). Genap-nya atau menyatunya antara “Yang Menyaksikan dan Yang Disaksikan” ini terjadi saat seorang salik menyaksikan sifat-sifatNya di maqam berbagai sifat, sebelum ia fana’ sepenuhnya di maqam “Dzat-Nya”.

Dan demi yang ganjil. Yang dimaksud yang ganjil adalah “Dzat Di Dalam Keesaan-Nya Sendiri.” (adz-Dzāt-ul-Aḥadiyyah). Ini bisa “ditemui” seorang sālik saat ia fanā’ begitu rupa, sehingga ia tak merasa berdua-duaan lagi (‘irtifā‘-ul-itsnainiyyah). Dan demi “malam” gelapnya egoisme ketika lebur karena leburnya “puing-puing tubuh” (al-baqiyyah) atau karena kematian (qiyāmat sughrā). Kematian ini adalah saat “fajar” mulai terbitnya cahaya “matahari” ruh dari tempat terbenamnya. Dan demi malam yang sepuluh. Jelasnya, demi indera yang diliputi kegelapan saat kematian. Dan demi yang genap. Jelasnya, demi ruh dan badan. Dan demi yang ganjil, yakni ruh yang terpisah (dari materi) ketika masih murni. Dan demi malam ketika berlalu. Maksudnya, demi badan ketika kegelapannya tersingkap dari ruh dan hilang karena kematian.

Hal fī dzālika qasamun lidzī ḥijr (Apakah pada yang demikian itu terdapat sumpah [yang dapat diterima] oleh orang-orang yang berakal – ayat 5). Ini adalah kalimat pertanyaan yang dimaksudkan untuk mengingkari (istifhām inkari). Maksudnya, apakah orang yang berakal akan mendapat petunjuk dari bersumpahnya Allah atas berbagai hal itu; dari pengagungan Allah terhadap berbagai hal itu dengan bersumpah; dari hikmah urutan berbagai hal itu dalam satu sumpah? Sebab, akal ahli dunia yang dikotori wahm tidak akan pernah bisa mendapat petunjuk dengan sumpah itu.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ.

إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ.

الَّتِيْ لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ.

وَ ثَمُوْدَ الَّذِيْنَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِ.

وَ فِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ.

الَّذِيْنَ طَغَوْا فِي الْبِلَادِ.

فَأَكْثَرُوْا فِيْهَا الْفَسَادَ.

فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ.

إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ.

089:6. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ād?,

089:7. (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi,

089:8. yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain,

089:9. dan kaum Tsamūd yang memotong batu-batu besar di lembah,

089:10. dan kaum Fir‘aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak),

089:11. yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri,

089:12. lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu,

089:13. karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab,

089:14. sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.

Sementara itu, jawaban atas – atau pernyataan lanjut dari – sumpah Allah di atas adalah sebagai berikut: Sesungguhnya orang-orang yang terhijab akan diazab. Pernyataan ini ditunjukkan oleh firman-Nya: Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhan berbuat kepada kaum ‘Ād – ayat 6, sampai ayat: Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi – ayat 14).

Perlu dicatat bahwa ayat 5 di atas, di samping berarti pertanyaan yang dimaksudkan untuk mengingkari (istifhām inkari), bisa pula berarti penegasan (taqrīr). Jelasnya: Hanya orang-orang berakal sucilah yang akan mendapatkan petunjuk dari semua sumpah itu. Akal mereka suci dari wasangka kotor. Jika bermakna taqrīr, jawaban atas sumpahnya adalah sebagai berikut: Sesungguhnya orang-orang yang berakal dan mengambil pelajaran dari keadaan orang-orang terhijab itu akan diberi pahala.

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَ نَعَّمَهُ فَيَقُوْلُ رَبِّيْ أَكْرَمَنِ.

وَ أَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُوْلُ رَبِّيْ أَهَانَنِ.

كَلَّا بَلْ لَا تُكْرِمُوْنَ الْيَتِيْمَ.

وَ لَا تَحَاضُّوْنَ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِ.

وَ تَأْكُلُوْنَ التُّرَاثَ أَكْلًا لَّمًّا.

وَ تُحِبُّوْنَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا.

كَلَّا إِذَا دُكَّتِ الْأَرْضُ دَكًّا دَكًّا.

وَ جَاءَ رَبُّكَ وَ الْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا.

وَ جِيْءَ يَوْمَئِذٍ بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الْإِنْسَانُ وَ أَنَّى لَهُ الذِّكْرَى.

يَقُوْلُ يَا لَيْتَنِيْ قَدَّمْتُ لِحَيَاتِيْ.

فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ.

وَ لَا يُوْثِقُ وَثَاقَهُ أَحَدٌ.

089:15. Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”.

089:16. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”.

089:17. Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim,

089:18. dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin,

089:19. dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang batil),

089:20. dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.

089:21. Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut,

089:22. dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris.

089:23. dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahanam; dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya.

089:24. Dia mengatakan: “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.”

089:25. Maka pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya,

089:26. dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya.

Fa amm-al-insānu idzā mabtalāhu rabbuhu (Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya – ayat 15). Jelasnya, manusia mesti berada di dalam maqam syukur atau sabar jika ia benar-benar beriman. Ini seperti ditandaskan Nabi s.a.w.: Iman terbagi dua. Setengahnya adalah sabar dan setengahnya lagi adalah syukur. (Hal ini sangat masuk akal) karena Tuhan tidak akan pernah berhenti menguji manusia. Entah menguji dengan berbagai kenikmatan yang wajib disyukuri, dipakai untuk kebaikan seperti memuliakan anak yatim, memberi makan fakir miskin dan melayani orang-orang sakit. Selain wajib disyukuri, berbagai kenikmatan itu pun tak boleh disombongkan, misalnya dengan berkata: Sesungguhnya Allah telah memuliakanku dengan harta milik dan kemuliaan di sisi-Nya. Karena kesombongan ini lalu ia bermewah-mewahan dalam makanan, terhijab oleh cinta dunia dan enggan menolong orang yang membutuhkan (mustaḥiqq).

Atau, kalau tidak terhadap orang-orang kaya, Tuhan pun menguji orang-orang faqir dengan kefakirannya. Mereka mesti sabar, tabah dan tidak galau, misalnya dengan berkata: Sesungguhnya Allah menghinakanku. Sebab, bagi seseorang, kemiskinan boleh jadi merupakan pemuliaan Allah terhadap dirinya agar ia tidak dilalaikan dengan berbagai kenikmatan duniawai dari Sang Pemberi nikmat. Boleh jadi pula, kemiskinan dijadikan Allah sebagai jalan untuk mengarahkan diri kepada-Nya, mendorongnya untuk menempuh jalan-Nya karena tidak banyak memikirkan dunia (ta‘lluq). Begitu pula kekayaan. Bagi seseorang, bisa jadi ia hanya merupakan pengelabuan (istidrāj) dari Tuhan.

Kallā idzā dukkat-il-ardhu dakkan, wa jā’a rabbuka wal-malaku shaffan-shaffa. Wa jī’a yauma’idzin bi jahannama yauma’idzin yatadzakkar-ul-insānu (mā sa‘ā) wa annā lah-udz-dzikrā. (Jangan [berbuat demikian]. Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Tuhanmu, sedang malaikat berbaris-baris. Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam. Dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya – ayat 21-23).

Apabila “bumi” jasad digoncangkan kematian sampai menggelepar hancur lebur. Dan datanglah Tuhanmu, datang dan tampak murka bagi orang keluar yang secara terpaksa dari hijab tubuhnya. Sedang malaikat berbaris-baris. Jelasnya, setelah sekian lama ia terhijab oleh penjara tubuh, maka datanglah siksaan “para malaikat jiwa-jiwa langit dan bumi” secara bertubi-tubi dan berlapis-lapis. Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam. Jelasnya, pada hari itu neraka Jahanam tabiat (rendah) dihadirkan kepada mereka yang disiksa. Pada hari itu ingatlah manusia dengan suara-suara fitrahnya yang sewaktu di dunia telah ditentang kepercayaannya (i‘tiqād). Seketika itu juga suara-suara fitrahnya menjelma dalam dirinya. Sesungguhnya, tampaknya Tuhan dengan wajah murka-Nya, dan datang bertubi-tubinya para malaikat dengan berbagai siksaan, semua ini tak terjadi kecuali buat orang-orang yang menentang suara-suara fitrah yang diketahui dan dikandungnya sendiri. Taruhlah malaikat itu seperti Munkar dan Nakir. Pada saat itu tidak ada lagi manfaat ingat, karena kepercayaan di dunia (yang melanggar fitrah dan) telanjur menghunjam dalam itu membuat ingat menjadi sia-sia.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ.

ارْجِعِيْ إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً.

فَادْخُلِيْ فِيْ عِبَادِيْ.

وَ ادْخُلِيْ جَنَّتِيْ

089:27. Hai jiwa yang tenang.

089:28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya.

089:29. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hambaKu,

089:30. dan masuklah ke dalam surga-Ku.

Yā ayyatuh-an-nafs-ul-muthma’innah (Wahai jiwa yang tenang – ayat 27), tenteram, bercahaya dengan cahaya keyakinan, dan datang kepada Tuhan dengan penuh ketenangan; Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas dan diridhai-Nya (irji‘ī ilā rabbiki rādhiyatan mardhiyyah – aya 28). Jelasnya, jika engkau telah mencapai kesempurnaan sifat-sifat, maka janganlah engkau diam dan merasa puas di sana. Melainkan kembalilah ke (pangkuan) “Dzat-Nya” dalam keadaan ridha – yang ridha itu sendiri tak lain adalah puncak kesempurnaan di dalam maqam sifat. Sebab, ridha kepada Allah tidak akan sempurna kecuali setelah ridha kepada “Dzat-Nya”. Ini seperti dijelaskan dalam firman-Nya: Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada-Nya. (al-Mā’idah [5]: 119). Maka masuklah kamu ke jamaah hamba-hambaKu yang terpilih dari kalangan ahli tauhid Dzat. Dan masuklah ke dalam surga-Ku yang istimewa di dalam Diri-Ku, yakni surga Dzat. Dan berkumpullah bersama hamba-hambaKu, atau diamlah di dalam jasad hamba-hambaKu. Ini semua terjadi ketika penghidupan kembali dan penyebaran (catatan amal), ketika ruh kembali kepada tubuh.

Wallāhu a‘lam.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *