005-8 Tahapan Pendorong | Minhaj-ul-Abidin

Seandainya anda bertanya? “Bagaimana seandainya dalam kondisi tertentu yang satu lebih unggul daripada yang lain, atau lebih banyak didominasi oleh salah satunya?” Ketahuilah, apabila seorang hamba dalam kondisi sehat dan kuat, maka keunggulan khauf lebih utama baginya daripada rajā’. Tetapi jika hamba itu dalam keadaan sakit lagi lemah, apalagi jika sudah mendekati akhirat, maka rajā’ lebih utama.” Demikianlah yang aku dengar dari para ulama. Mengapa begitu? Karena adanya sebuah riwayat,…

005-7 Tahapan Pendorong | Minhaj-ul-Abidin

3. Kiamat Adapun mengenai hari kiamat, renungkanlah firman Allah s.w.t.: يَوْمَ نَحْشُرُ الْمُتَّقِيْنَ إِلَى الرَّحْمنِ وَفْدًا، وَ نَسُوْقُ الْمُجْرِمِيْنَ إِلى جَهَنَّمَ وِرْدًا Artinya: “(Ingatlah) hari (ketika) Kami mengumpulkan orang-orang yang taqwā kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai perutusan yang terhormat. Dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahannam dalam keadaan dahaga.” (Maryam: 85-86) Orang yang beruntung akan keluar dari kuburnya, dan tiba-tiba Burāq sudah berada di atas kubur,…

005-6 Tahapan Pendorong | Minhaj-ul-Abidin

Pokok Ketiga: Mengingat janji dan ancaman Allah di hari kemudian. Dalam hal ini, kiranya perlu kami kemukakan lima hal berikut, yaitu: Maut Kubur Kiamat Surga Neraka Apa saja yang terjadi pada masing-masing dari kelimat hal itu, merupakan keadaan yang sangat mendebarkan dan menakutkan bagi orang-orang yang taat, orang-orang yang durhaka, orang-orang yang lengah, dan juga bagi orang-orang yang sungguh-sungguh.   1. Maut Mengenai maut, aku akan menuturkan keadaan dua orang,…

005-5 Tahapan Pendorong | Minhaj-ul-Abidin

Sedangkan dari sisi rajā’, maka berbicaralah tentang rahmat Allah yang amat luas. Yang demikian itu tidaklah berdosa. Siapakah yang dapat mengetahui sifat rahmat dan puncak rahmat Allah? Karena, Dialah Allah, Dzat yang bisa saja melebur dosa kekafiran selama tujuh puluh tahun, dengan iman sesaat. Allah s.w.t. berfirman: قُلْ لِلَّذِيْنَ كَفَرُوْا إِنْ يَنْتَهُوْا يُغَفَرْ لَهُمْ مَّا قَدْ سَلَفَ Artinya: “Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), maka…

005-4 Tahapan Pendorong | Minhaj-ul-Abidin

Pokok kedua: Mengingat dan merenungkan pekerjaan Allah dan bagaimana Dia memperlakukan hamba-Nya. Dari sisi khauf, ketahuilah bahwa Iblis itu pernah beribadah kepada Allah selama 80,000 tahun. Menurut sebagian pendapat, bahwa setiap tempat yang muat ditempati telapak kaki, tentu ia gunakan sekali bersujud kepada Allah di tempat itu. Lalu Iblis meninggalkan perintah Allah hanya sekali saja, menyebabkan ia diusir oleh Allah dari menghadap di hadapan Allah. Dan ibadahnya yang pernah dilakukan…

005-3 Tahapan Pendorong | Minhaj-ul-Abidin

BAB V TAHAPAN PENDORONG (Bagian 3)   Dengan demikian, jelaslah bagi anda bahwa dalam tahapan ini terdapat tiga jalan, yaitu: Merasa aman (dari ‘Adzāb) dan berani (menentang) kepada Allah. Putus asa dari rahmat Allah. Rajā’ dan khauf yang berada di antara keduanya aman dan putus asa. Ketika anda berbelok meninggalkan khauf dan rajā’ ke kanan atau ke kiri selangkah saja, anda pasti terjerumus ke dalam dua perkara yang merusak diri…

005-2 Tahapan Pendorong | Minhaj-ul-Abidin

BAB V TAHAPAN PENDORONG (Bagian 2)   Saya katakan, jadi, pokok urusan ibadah itu berkisar pada dua hal, yaitu melakukan taat kepada Allah dan menghentikan laku maksiat. Keduanya tidak akan berjalan dengan baik dan sempurna, sementara nafsu senantiasa mengajak pada kejahatan. Nafsu semacam itu, harus diatasi dengan membuat senang kepada pahala Allah dan menakut-nakuti dengan siksa-Nya, berharap akan janji Allah, sekaligus menakut-nakuti dengan ancaman ‘Adzāb-Nya. Karena, binatang binal saja membutuhkan…

005-1 Tahapan Pendorong | Minhaj-ul-Abidin

BAB V TAHAPAN PENDORONG (Bagian 1)   Selanjutnya, anda harus terus berjalan, ketika jalan sudah lempeng, mudah dilalui, rintangan-rintangan telah rantas dan gangguan-gangguan yang datang mendadak telah sirna. Namun, anda tidak bisa begitu saja berjalan dengan lurus, jika tidak mempunyai perasaan takut terhadap ancaman azab (khauf) dan pengharapan terhadap rahmat Allah (rajā’), serta memenuhi hak-hak keduanya. Keharusan memiliki rasa khauf, didasarkan atas dua hal, yaitu: Pertama: Agar terhindar dari kemaksiatan.…