Suratu Nuh 71 ~ Tafsir ash-Shabuni (1/2)

Tafsir ash-Shabuni | Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni

Dari Buku: SHAFWATUT TAFASIR
(Tafsir-tafsir Pilihan)
Jilid 5 (al-Fath – an-Nas)
Oleh: Syaikh Muhammad ‘Ali ash-Shabuni
Penerjemah: KH.Yasin
Penerbit: PUSTAKA AL-KAUTSAR.

Rangkaian Pos: Suratu Nuh 71 ~ Tafsir ash-Shabuni
  1. 1.Anda Sedang Membaca: Suratu Nuh 71 ~ Tafsir ash-Shabuni (1/2)
  2. 2.Suratu Nuh 71 ~ Tafsir ash-Shabuni (2/2)

071

SŪRATU NŪḤ

Pokok-pokok Kandungan Surat.

Surat Nūḥ termasuk surat Makkiyyah. Sebagaimana surah Makkiyyah lainnya, surat ini mementingkan masalah dasar-dasar agama (ushūl-ud-dīn) dan menetapkan kaidah-kaidah keimanan. Secara rinci, surat ini mengisahkan Nabi Nūḥ a.s., sesepuh para nabi sejak berdakwah sampai banjir bandang yang menenggelamkan kaumnya yang mendustakan sunnatullah yang berlaku pada umat-umat yang berpaling dari peringatan Allah, kesudahan para rasūl dan orang-orang kafir di manapun dan kapanpun.

Surat ini diawali dengan pengangkatan Allah atas Nūḥ a.s. sebagai seorang rasul yang membawa misi dakwah dan peringatkan kaumnya akan siksa Allah. “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nūḥ kepada kaumnya (dengan memerintahkan): Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya adzab yang pedih.”

Kemudian surat ini menuturkan perjuangan Nūḥ, kesabaran dan pengorbanannya dalam menyampaikan risalah. Beliau mengajak kaumnya siang dan malam, secara rahasia maupun terang-terangan. Namun hal itu hanya menambah mereka sesat dan durhaka. “Nūḥ berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanya menambah mereka lari (dari kebenaran)”.

Selanjutnya, secara berturut-turut surat ini mengingatkan mereka akan nikmat Allah lewat lisan Nūḥ agar bersungguh-sungguh taat kepada Allah dan memperhatikan bukti-bukti rahmat dan kekuasaan-Nya di alam ini. “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita? Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya.

Meskipun diberi peringatan dan dinasihati, namun kaum Nūḥ semakin kafir, sesat dan menentang. Mereka meremehkan ajakan dan dakwah Nūḥ. Sampai akhirnya, Allah membinasakan mereka dengan banjir bandang. “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakai-ku, dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, dan melakukan tipu-daya yang amat besar”. Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwā‘, yaghūts, ya‘ūq dan nasr”.

Surat Nūḥ ditutup dengan doa Nūḥ atas kaumnya berupa kebinasaan dan kehancuran. Hal itu terjadi setelah Nūḥ tinggal bersama mereka selama 950 tahun sambil mengajak mereka untuk menyembah Allah. Namun hati mereka tidak melunak dan tidak mampu mengambil pelajaran dari peringatan dan ancaman: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir. Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang lalim itu selain kebinasaan”.

TAFSIR SURAT NŪḤ

Surat Nūḥ, Ayat: 1-28

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوْحًا إِلَى قَوْمِهِ أَنْ أَنذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ. قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّيْ لَكُمْ نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ. أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَ اتَّقُوْهُ وَ أَطِيْعُوْنِ. يَغْفِرْ لَكُمْ مِّنْ ذُنُوْبِكُمْ وَ يُؤَخِّرْكُمْ إِلىَ أَجَلٍ مُّسَمًّى إِنَّ أَجَلَ اللهِ إِذَا جَاءَ لَا يُؤَخَّرُ لَوْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ. قَالَ رَبِّ إِنِّيْ دَعَوْتُ قَوْمِيْ لَيْلاً وَ نَهَارًا. فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِيْ إِلَّا فِرَارًا. وَ إِنِّيْ كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوْا أَصَابِعَهُمْ فِيْ آذَانِهِمْ وَ اسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَ أَصَرُّوْا وَ اسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا. ثُمَّ إِنِّيْ دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا. ثُمَّ إِنِّيْ أَعْلَنْتُ لَهُمْ وَ أَسْرَرْتُ لَهُمْ إِسْرَارًا. فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا. يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًا. وَ يُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَ بَنِيْنَ وَ يَجْعَلْ لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَ يَجْعَلْ لَّكُمْ أَنْهَارًا. مَّا لَكُمْ لَا تَرْجُوْنَ للهِ وَقَارًا. وَ قَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا. أَلَمْ تَرَوْا كَيْفَ خَلَقَ اللهُ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا. وَ جَعَلَ الْقَمَرَ فِيْهِنَّ نُوْرًا وَ جَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا. وَ اللهُ أَنْبَتَكُمْ مِّنَ الْأَرْضِ نَبَاتًا. ثُمَّ يُعِيْدُكُمْ فِيْهَا وَ يُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا. وَ اللهُ جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ بِسَاطًا. لِتَسْلُكُوْا مِنْهَا سُبُلًا فِجَاجًا. قَالَ نُوْحٌ رَّبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِيْ وَ اتَّبَعُوْا مَنْ لَّمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَ وَلَدُهُ إِلَّا خَسَارًا. وَ مَكَرُوْا مَكْرًا كُبَّارًا. وَ قَالُوْا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَ لَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَ لَا سُوَاعًا وَ لَا يَغُوْثَ وَ يَعُوْقَ وَ نَسْرًا. وَ قَدْ أَضَلُّوْا كَثِيْرًا وَ لَا تَزِدِ الظَّالِمِيْنَ إِلَّا ضَلاَلًا. مِمَّا خَطِيْئَاتِهِمْ أُغْرِقُوْا فَأُدْخِلُوْا نَارًا فَلَمْ يَجِدُوْا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِ اللهِ أَنْصَارًا. وَ قَالَ نُوْحٌ رَّبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِيْنَ دَيَّارًا. إِنَّكَ إِنْ تَذَرْهُمْ يُضِلُّوْا عِبَادَكَ وَ لَا يَلِدُوْا إِلَّا فَاجِرًا كَفَّارًا. رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَ لِوَالِدَيَّ وَ لِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ وَ لَا تَزِدِ الظَّالِمِيْنَ إِلَّا تَبَارًا.

71: 1. Sesungguhnya Kami telah mengutus Nūḥ kepada kaumnya (dengan memerintahkan): “Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya ‘adzab yang pedih.”

71: 2. Nūḥ berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepadamu,

71: 3. (yaitu) sembahlah Allah olehmu, bertaqwalah kepada-Nya, dan taatlah kepadaku.

71-4. Niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui.

71: 5. Nūḥ berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang,

71: 6. maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran).

71: 7. Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.

71: 8. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan,

71: 9. kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam,

71: 10. maka aku katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun,

71: 11. niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat dari langit kepadamu,

71: 12. dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.

71: 13. Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?

71: 14. Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian.

71: 15. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?

71: 16. Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?

71; 17. Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya,

71: 18. kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya.

71: 19. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan,

71: 20. supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu”.

71: 21. Nūḥ berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakai-ku, dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka,

71: 22. dan melakukan tipu-daya yang amat besar”.

71: 23. Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwā‘, yaghūts, ya‘ūq dan nasr”.

71: 24. Dan sesudahnya mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang lalim itu selain kesesatan.

71: 25. Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah.

71: 26. Nūḥ berkata: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.

71: 27. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.

71: 28. Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang lalim itu selain kebinasaan”.

Tinjauan Bahasa

(اسْتَغْشَوْا): menutupi.

(مِّدْرَارًا): sangat deras dan berturut-turut.

(أَطْوَارًا): beberapa keadaan yang berbeda. Pujangga berkata:

Seseorang diciptakan dalam satu keadaan setelah beberapa keadaan.” (7781)

(فِجَاجًا): luas, berbentuk jama‘.

(كُبَّارًا): besar, mencapai puncak besar.

(دَيَّارًا): seseorang yang berputar atau bergerak di atas bumi.

(تَبَارًا): kehancuran dan kebinasaan.

Tafsīr Ayat

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nūḥ kepada kaumnya”; Kami utus sesepuh para nabi, Nūḥ a.s. kepada penduduk jazirah ‘Arab. Al-Alūsī berkata: Yang masyhur, Nūḥ tinggal di wilayah Kūfah. Di sanalah beliau diutus.” (7792) “(dengan memerintahkan): “Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya ‘adzab yang pedih””; peringatkanlah kaummu, jika mereka tidak beriman, akan siksa yang berat dan menyakitkan berupa banjir bandang di dunia dan siksa neraka di akhirat. “Nūḥ berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepadamu”; Nūḥ berdakwah kepada mereka dan berkata: ‘Kami adalah pemberi peringatan bagi kalian yang menjelaskan hakikat perkara penting. Kami peringatkan kalian dengan siksa Allah. Perintahku dan dakwahku jelas. Ulama tafsir berkata: “Nūḥ adalah rasūl pertama. Dia disebut sesepuh para nabi sebab dia adalah nabi yang paling panjang umurnya. Dia hidup di antara kaumnya sebagaimana dikisahkan al-Qur’ān yaitu 950 tahun. Selama rentang itu, beliau mengajak mereka untuk menyembah Allah. Meski demikian lama, yang beriman kepada Nabi Nūḥ hanya sedikit. Al-Qur’ān secara khusus menuturkan kisah Nūḥ dalam surat mulia ini yang disebut surat Nūḥ mulai awal dakwah sampai akhirnya. Di akhir dakwahnya, Allah menghancurkan kaumnya dengan banjir bandang akibat pembangkangan terhadap sang nabi. Nūḥ adalah salah satu rasūl terbesar Ulul-Azmi; Nūḥ, Ibrāhīm, Mūsā, ‘Īsā dan Muḥammad s.a.w. Kekufuran pada masanya sangat meraja rela. Kaumnya terkenal sebagai penyembah berhala serta banyak berbuat zhalim dan durhaka. Maka Allah mengutus Nūḥ kepada mereka. Kisah Nūḥ dan kaumnya juga dikisahkan Allah kepada kita dalam beberapa tempat di al-Qur’ān.

(yaitu) sembahlah Allah olehmu, bertaqwalah kepada-Nya, dan taatlah kepadaku”; Nūḥ berkata kepada mereka: Hendaknya kalian menyembah Allah semata. Jangan kalian langgar larangan-Nya. Jauhilah dosa. Taatlah kepadaku dalam hal yang aku perintahkan kepada kalian dengan taat kepada Allah dan meninggalkan penyembahan berhala dan arca. “Niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu”; jika kalian menunaikan apa yang kami perintahkan, Allah menghapus dosa yang kalian lakukan. Nūḥ mengatakan: “sebagian dosa-dosa” maksudnya yang kalian lakukan sebelum masuk Islam. Sebab keimanan menghapus dosa sebelumnya, bukan dosa setelahnya.” (7803). “dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan”; dan Allah memanjangkan umur kalian jika kalian taat kepada-Nya. Kalian akan sampai pada waktu tertentu yang ditetapkan ilmu Allah. Bahkan disertai hidup enak dan bahagia dengan harta melimpah. Ulama tafsir berkata: “Yang dimaksudkan menangguhkan adalah menangguhkan waktu tanpa siksa. Maksudnya, Allah memberikan kalian kesempatan di dunia tanpa ada siksa hingga tiba ajal kalian. Namun umur itu terbatas. Ia tidak akan dimajukan dan tidak akan dimundurkan.” “Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (al-A‘rāf: 33) karenanya, Allah berfirman selanjutnya: “Sesungguhnya ketetapan Allah apabila datang tidak dapat ditangguhkan”; umur manusia terbatas sesuai ketentuan Allah. Ia tidak bertambah dan tidak berkurang. Ajal di sini di-mudhāf-kan (digandengkan) kepada Allah, sebab Dia yang menetapkannya.” (7814) “kalau kamu mengetahui”; jika kalian mengetahui dan menyadari hal itu, tentu kalian segera beriman.

Nūḥ berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang”; setelah mengerahkan seluruh kemampuannya dan tidak ada lagi usaha baginya. Nūḥ berkata: “Tuhanku, kami telah mengajak kaum kami untuk beriman dan taat kepada-Mu. Kami lakukan itu siang malam tanpa putus dan bosan-bosan maupun menunda-nunda.” “maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran)”; seruanku kepada mereka untuk beriman justru menambah mereka lari dan menjauh dari kami. Mereka berpaling dari kebenaran.” Kemudian Nūḥ menjelaskan bagaimana mereka lari dengan gambaran paling sempurna. “Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka”; setiap kali kami mengajak mereka untuk mengakui keesaan Allah dan taat kepada-Nya agar hal itu menjadi penyebab terampuninya dosa-dosa mereka, namun mereka menolaknya. Dalam at-Tasḥīl, disebutkan: “Nūḥ menyebutkan ampunan karena faktor keimanan agar jelas bahwa berpaling dari iman adalah keburukan. Pada hakikatnya, mereka berpaling dari keberuntungan mereka.” (7825) “mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya”; penolakan itu bahkan dengan cara mereka menutup telinga mereka agar tidak mendengar seruanku. “dan menutupkan bajunya (ke mukanya)”; dan menutupi kepala serta wajah mereka dengan pakaian agar tidak mendengar ucapanku atau melihatku. Dalam al-Baḥr-ul-Muḥīth disebutkan: secara pemahaman visibel ungkapan ini terjadi semestinya dan hakikatnya seperti itu. Artinya, mereka menutupi telinga mereka agar mereka tidak mendengar ajakan Nūḥ. Mereka juga menutupkan (mata dengan) pakaian agar mereka tidak melihat Nūḥ. Ini mereka lakukan karena benci dan marah jika mendengar nasihat dan melihat orang yang memberi nasihat. Namun bisa juga ungkapan itu merupakan kiasan. Artinya, mereka berpaling dengan melampaui batas dari ajakan Nūḥ. Kondisi ini disamakan dengan orang yang menutupi telinga dan matanya.” (7836) “dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat”; dan mereka terus-menerus kafir, durhaka dan sombong serta enggan beriman dengan kesombongan yang berlebihan. Ini mengisyaratkan penentangan dan kesesatan yang melampaui batas.

Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan”; kami ajak dengan terang-terangan di hadapan banyak orang tanpa takut. “kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam”; kami beritahu mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, secara sembunyi-sembunyi dan tampak. Kami menempuh segala jalan untuk mengajak mereka menyembah-Mu. Ulama tafsir berkata: “‘Athaf (menggadengkan dua kata atau kalimat dengan (ثُمَّ) menunjukkan bahwa diam-diam dan terang-terangan kedua adalah metode yang ditempuh Nūḥ dalam berdakwah. Bukan hanya metode diam-diam dan bukan metode terang-terangan. Namun dengan metode ketiga Nūḥ berdakwah dengan terang-terangan jika tepat dan berdakwah dengan diam-diam jika diam-diam lebih bermanfaat.

Catatan:

  1. 778). Al-Baḥr-ul-Muḥīth, 8/337.
  2. 779). Rūḥ-ul-Ma‘ānī, 29/69.
  3. 780). Ini pendapat yang rājiḥ menurut Abū Ḥayyān dalam Al-Baḥr-ul-Muḥīth. Ath-Thabarī berpendapat, bahwa maksudnya adalah seluruh dosa. Pendapat pertama lebih rājiḥ.
  4. 781). Ḥāsyiyat-ush-Shāwī, 4/249.
  5. 782). At-Tasḥīl, 4/149.
  6. 783). Al-Baḥr-ul-Muḥīth, 8/338.
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *