Suratu Nuh 71 ~ Tafsir al-Qur’an-ul-Majid an-Nur (1/2)

Judul Buku:
TAFSĪR AL-QUR’ĀNUL MAJĪD AN-NŪR

JILID 4

Penulis: Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy
Diterbitkan oleh: Cakrawala Publishing

Rangkaian Pos: Suratu Nuh 71 ~ Tafsir al-Qur'an-ul-Majid an-Nur
  1. 1.Anda Sedang Membaca: Suratu Nuh 71 ~ Tafsir al-Qur’an-ul-Majid an-Nur (1/2)
  2. 2.Suratu Nuh 71 ~ Tafsir al-Qur’an-ul-Majid an-Nur (2/2)

Surat Ke-71

NŪḤ

Surat Nūḥ bermakna Nabi Nūḥ. Diturunkan di Makkah sesudah surat an-Naḥl terdiri dari 28 ayat. Dinamakan surat Nūḥ, karena mengandung penjelasan-penjelasan mengenai seruan Nabi Nūḥ.

A. KANDUNGAN ISI

Surat ini menjelaskan sebagian kisah Nūḥ. Tuhan mengutus Nūḥ untuk memberi petunjuk kepada kaumnya. Berbagai dalil dan keterangan dikemukan oleh Nūḥ, namun kaumnya tetap menolak seruannya. Mereka mempergunakan semua kekayaan miliknya untuk menghambat da‘wah Nūḥ. Maka, pada akhirnya Allah membinasakan mereka dengan datangnya air bah.

Surat ini ditutup dengan doa Nūḥ, yang memohon kepada Allah supaya dia dan ibu-bapaknya diampuni, demikian pula para mu’min yang beriman kepada dirinya. Sebaliknya, membinasakan semua orang yang durhaka dan menyangkal kebenaran.

B. KAITAN DENGAN SURAT SEBELUMNYA

Persamaan antara surat yang telah lalu (al-Ma‘ārij) dengan surat ini adalah:

  1. Dalam surat yang telah lalu dijelaskan bahwa Allah berkuasa mengganti kaum yang angkara murka (durhaka) dengan kaum yang baik, sedangkan dalam surat ini ditandaskan bahwa Allah telah membinasakan kaum Nūḥ yang terus-menerus menyangkal kebenaran dan menggantinya dengan umat yang baik.
  2. Kedua surat ini dimulai dengan menjelaskan adzab yang akan ditimpakan kepada orang-orang kafir.

C. TAFSĪR SURAT NŪḤ

1. Tentang Diutusnya Nūḥ untuk Memperingatkan Kaumnya. Tidak Ada Orang yang Dapat Menolak Ajal.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
Bismillāhirraḥmānirraḥīm

Dengan (menyebut) nama Allah Yang Maha Pemurah, yang senantiasa mencurahkan rahmat-Nya.

إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوْحًا إِلَى قَوْمِهِ أَنْ أَنذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ.

Innā arsalnā nūḥan ilā qaumihi an andzir qaumaka min qabli ay ya’tiyahum ‘adzābun alīm.

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nūḥ kepada kaumnya: “Hendaklah engkau memberikan peringatan kepada kaummu, sebelum siksaan yang pedih menimpamu.” (11) (Nūḥ [71]: 1).

Kami (Allah) telah mengutus Nūḥ menjadi Rasūl kepada kaumnya. Kami perintah dia untuk memperingatkan mereka terhadap adzab Kami, sebelum mereka disapu oleh badai topan.

قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّيْ لَكُمْ نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ.

Qāla yā qaumī innī lakum nadzīrun mubīn.

Nūḥ mengatakan: “Wahai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang terang kepadamu.” (Nūḥ [71]: 2).

Nūḥ berkata kepada kaumnya untuk memenuhi perintah Allah: “Wahai kaumku, aku memperingatkan kamu terhadap adzab Allah, maka hendaklah kamu meninggalkan kekafiranmu supaya terhindar dari adzab.” Setelah itu, Nūḥ menjelaskan apa yang beliau peringatkan kepada kaumnya.

أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَ اتَّقُوْهُ وَ أَطِيْعُوْنِ.

Ani‘budullāha wat-taqūhu wa athī‘ūn.

Sembahlah Allah dan bertaqwalah kepada-Nya, serta turutilah perintahku. (Nūḥ [71]: 3).

Aku, tutur Nūḥ lagi, adalah seorang Rasūl yang membawa peringatan kepadamu. Maka sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan sesuatu dengan Allah.

Perintah menyembah Allah mencakup perintah mengerjakan semua yang wajib dan yang sunnat, baik dengan perbuatan hati atau perbuatan anggota tubuh.

Aku memerintahkan kamu supaya bertaqwa kepada Allah dan takut kepada adzab-Nya, dengan jalan menjauhkan semua yang diharamkan oleh Allah dan segala dosa.

Turutilah apa yang diperintahkan, jauhilah apa yang dilarang, dan terimalah semua nasihatku.

يَغْفِرْ لَكُمْ مِّنْ ذُنُوْبِكُمْ وَ يُؤَخِّرْكُمْ إِلىَ أَجَلٍ مُّسَمًّى إِنَّ أَجَلَ اللهِ إِذَا جَاءَ لَا يُؤَخَّرُ لَوْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ.

Yaghfir lakum min dzunūbikum wa yu’akhkhirkum ilā ajalin musammā, inna ajalallāhi idzā jā’a lā yu’akhkharu lau kuntum ta‘lamūn.

Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memberi penangguhan hingga waktu yang ditentukan. Sesungguhnya apabila telah datang waktu yang ditetapkan oleh Allah, kamu tidak bisa menangguhkannya, seandainya kamu mengetahui tentulah kamu bertobat.” (Nūḥ [71]: 4).

Jika kamu mengerjakan apa yang aku perintahkan itu dan kamu membenarkan risalah (wahyu) yang aku sampaikan kepadamu, tentu Allah akn memaafkan dosa-dosamu dan semua ketelanjuranmu.

Allah memanjangkan umurmu. Tegasnya, Allah memberikan kepadamu waktu hidup yang sudah ditentukan, baik kamu tetap kufur atau beriman. Tetapi jika kamu beriman, maka kamu akan diberi waktu hidup yang lebih panjang daripada dua waktu yang telah ditetapkan semula.

Para ulama memberikan pemahaman terhadap ayat ini bahwa taat, bakti, dan silaturrahmi adalah hal-hal yang memanjangkan umur. Az-Zamakhsyarī mengatakan: “Ayat itu ada dua. Jika kaum Nūḥ beriman, maka mereka dihidupkan selama 1000 tahun. Jika mereka tetap dalam kekafiran, maka dibinasakan pada penghujung tahun 900. Karenanya, jika kaum Nūḥ beriman, niscaya masa kehidupan mereka ditangguhkan sampai 1000 tahun dan itulah waktu yang paling panjang bagi mereka.”

Apabila telah datang ajal sebagaimana telah ditetapkan oleh Allah untuk makhluk-Nya di dalam al-Qur’ān (Umm-ul-Kitāb), niscaya tidak dapat diundurkan oleh siapa pun. Mudah-mudahan kamu memahaminya dan kamu beramal untuk menanti datangnya ajal. Oleh karena kamu tidak berilmu, maka kamu tidak segera mengamalkan apa yang aku perintahkan itu.

قَالَ رَبِّ إِنِّيْ دَعَوْتُ قَوْمِيْ لَيْلاً وَ نَهَارًا. فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِيْ إِلَّا فِرَارًا.

Qāla rabbī innī da‘autu qaumī lailan wa nahāran. Fa lam yazidhum du‘ā’ī illā firārā.

Nūḥ memohon: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam”. “Tetapi seruanku telah menyebabkan mereka bertambah lari.” (Nūḥ [71]: 5-6).

Tuhanku, kata Nūḥ, aku telah memperingatkan kaumku, dan aku telah menyeru mereka siang dan malam untuk memenuhi perintah-Mu. Tetapi semakin aku menyeru mereka kepada kebenaran, mereka justru semakin menjauh.

وَ إِنِّيْ كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوْا أَصَابِعَهُمْ فِيْ آذَانِهِمْ وَ اسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَ أَصَرُّوْا وَ اسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا.

Wa innī kullamā da‘autuhum li taghfira lahum ja‘alū ashābi‘ahum fī ādzānihim wastaghsyau tsiyābahum wa asharrū wastakbarū-stikbārā.

Maka sesungguhnya setiap kali aku memanggil mereka supaya Engkau mengampuninya, mereka memasukkan anak-anak jarinya ke dalam telinganya dan menutup badan dengan kain-kain miliknya, serta tetap menyangkal dan menyombongkan diri dengan amat sangatnya. (Nūḥ [71]: 7).

Setiap kali aku menyeru mereka untuk mengakui keesaan-Mu, mentaati Engkau, dan menjauhkan diri dari menyembah yang selain Engkau supaya Engkau mengampuni dosa-dosa mereka, justru mereka menyumbat telinganya agar tidak mendengar seruanku. Bahkan mereka juga menutup badannya karena benci kepadaku. Mereka tetap saja terus-menerus melakukan kemaksiatan dengan sangat congkak dan sombong.

ثُمَّ إِنِّيْ دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا. ثُمَّ إِنِّيْ أَعْلَنْتُ لَهُمْ وَ أَسْرَرْتُ لَهُمْ إِسْرَارًا.

Tsumma innī da‘autuhum jihārā. Tsumm innī a‘lantu lahum wa asrartu lahum isrārā.

Sesungguhnya aku telah menyeru mereka dengan terang-terangan. Aku juga telah berbicara dengan mereka di muka umum dan aku telah pula berbicara dengan mereka secara rahasia.” (Nūḥ [71]: 8-9).

Bermacam-macam cara da‘wah telah aku lakukan, namun mereka tetap saja menolaknya. Terkadang aku menghadapi mereka secara rahasia, terkadang dengan terang-terangan. Tetapi tidak ada yang memberi faedah.

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا.

Fa qult-ustaghfirū rabbakum innahū kāna ghaffārā.

Aku katakan kepada mereka: “Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu; sesungguhnya Dia itu Maha Pengampun.” (Nūḥ [71]: 10).

Aku menyuruh mereka untuk memohon ampunan Allah dan bertobat dari kekafiran serta aku menyuruh mereka mengesakan Allah dan beribadat kepada-Nya.

Allah itu Maha Pengampun, mengampuni semua orang yang bertobat apabila tobat itu dilakukan dengan sungguh-sungguh dan tulus.

Oleh karena manusia sangat menyukai kebajikan-kebajikan yang segera diperoleh, maka Allah pun menjelaskan bahwa mereka akan diberi nikmat dunia, di samping nikmat akhirat. Allah berjanji akan memberikan kepada mereka lima hal.

يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًا.

Yursil-is-samā’a ‘alaikum midrārā.

Niscaya Dia menurunkan hujan yang lebat kepadamu.” (Nūḥ [71]: 11).

Jika kamu memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya, tentulah Allah menurunkan hujan lebat yang menyuburkan tanah dan menghasilkan tanaman yang banyak, yang mendatangkan kebahagiaan hidup bagimu.

وَ يُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَ بَنِيْنَ وَ يَجْعَلْ لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَ يَجْعَلْ لَّكُمْ أَنْهَارًا.

Wa yumdidkum bin amwālin wa banīna wa yaj‘al lakum jannātiw wa yaj‘al lakum anhārā.

Memberimu kekayaan dan anak-anak, serta menjadikan untukmu kebun-kebun dan menjadikan untukmu sungai-sungai.” (Nūḥ [71]: 12).

Allah akan memberimu harta dalam berbagai macam bentuk dan jenisnya.

Allah memberimu keturunan yang banyak.

Allah menjadikan untukmu kebun-kebun yang subur, yang menghasilkan buah-buahan yang banyak dan dapat dipetik manfaatnya.

Allah mengadakan sungai-sungai yang airnya mengalir, membawa kesuburan dan menumbuhkan tanaman-tanaman dalam berbagai macam jenis dan rupa.

مَّا لَكُمْ لَا تَرْجُوْنَ للهِ وَقَارًا. وَ قَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا.

Mā lakum lā tarjūna lillāhi waqārā. Wa qad khalaqakum athwārā.

Mengapa kamu tidak mengharapkan kebesaran Allah? (22) Padahal Dia telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan.” (Nūḥ [71]: 13-14).

Mengapakah kamu tidak takut kepada kebesaran Allah, padahal Allah telah menjadikan kamu dalam beberapa tingkatan proses. Mula-mula kamu merupakan nuthfah (sperma) yang tersimpan dalam rahim seorang ibu, kemudian berproses menjadi segumpal darah, meningkat menjadi segumpal daging, tumbuhlah tulang-tulang, tumbuh daging, dan akhirnya dilahirkan sebagai bayi yang sempurna dari kandungan ibumu, sehingga kamu tumbuh menjadi manusia sampai akhir hayatmu. (33).

Dalam ayat-ayat ini Allah menjelaskan bahwa Dia telah mengutus Nūḥ dan menyuruhnya memperingatkan kaumnya terhadap adzab Allah. Nūḥ memerintah mereka hanya menyembah Allah dan menaati-Nya. Selain itu, dia menyatakan apabila mereka menaati apa yang diperintahkan, tentulah Allah mengampuni dosanya dan memanjangkan umurnya, serta memelihara mereka dari adzab yang tidak dapat ditolak oleh siapa pun.

Allah juga menjelaskan permohonan Nūḥ kepada-Nya dan keluhan-keluhan Nūḥ mengadukan masalah yang dihadapinya. Walaupun segala daya upaya telah dipergunakan untuk menarik kaumnya kepada iman, mereka tetap menolaknya. Nūḥ menyuruh mereka untuk meminta ampunan kepada Allah, supaya Allah menurunkan hujan yang banyak, memberikan harta, dan memperbanyak anak yang mengembangkan masyarakat.

Catatan:

  1. 1). Kaitkan dengan QS. Hūd [11], QS. Yūnus [10], QS. al-A‘rāf [7], QS. al-Anbiyā’ [21], QS. al-Mu’minūn [23], QS. asy-Syu‘arā’ [26], QS. al-‘Ankabūt [29], QS. ash-Shāffāt [37], bagian awal QS. al-Qamar [54], QS. al-Ḥāqqah [69], bagian akhir, QS. An-Nisā’ [4].
  2. 2). Kaitkan dengan bagian awal QS. Fushshilāt [41], bagian awal, QS. al-Mu’minūn [23], QS, as-Sajdah [32], QS. Al-Ḥajj [22], dan QS. Thāhā [20].
  3. 3). Mengenai proses kehidupan manusia dapat ditemukan dalam QS. Āli ‘Imrān [3], QS. al-Mu’minūn [23], dan surat-surat lain.
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *