Suratu Nuh 71 ~ Tafsir al-Mishbah (3/4)

Tafsir al-Mishbāḥ
(Jilid ke-15, Juz ‘Amma)
Oleh: M. Quraish Shihab

Penerbit: Penerbit Lentera Hati

Rangkaian Pos: Suratu Nuh 71 ~ Tafsir al-Mishbah
  1. 1.Suratu Nuh 71 ~ Tafsir al-Mishbah (1/4)
  2. 2.Suratu Nuh 71 ~ Tafsir al-Mishbah (2/4)
  3. 3.Anda Sedang Membaca: Suratu Nuh 71 ~ Tafsir al-Mishbah (3/4)
  4. 4.Suratu Nuh 71 ~ Tafsir al-Mishbah (4/4)

AYAT 15-16,

71: 15. Tidakkah kamu melihat bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis?

71: 16. Dan Dia menjadikan padanya bulan (sebagai) nūr dan menjadikan matahari pelita?

Setelah ayat yang lalu mengajak manusia memperhatikan dirinya, ayat di atas mengajaknya untuk memperhatikan alam raya, yang dimulai dengan langit. Allah berfirman: Tidakkah kamu melihat, yakni memperhatikan, bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit yang demikian indah dan teliti serta berlapis-lapis? Dan Dia menjadikan padanya, yakni langit yang banyak itu, bulan sebagai nūr, yakni cahaya yang memancar, dan menjadikan matahari bagaikan pelita yang sangat terang-benderang?

Rujuklah ke ayat ketiga surah Tabārak/al-Mulk untuk memahami makna (طِبَاقًا) thibāqan. (371).

Kata (فِيْهِنَّ) fīhinna berbentuk jama‘. Ini menunjuk kepada (سبع سموات) sab‘a samāwāt, yakni tujuh langit yang juga berbentuk jama‘, Secara harfiah, itu berarti Allah menjadikan bulan bercahaya pada ketujuh langit itu. Makna ini tidak dipahami demikian oleh banyak ulama tafsir. Mereka memahami penyebutan ketujuh langit dalam arti salah satunya, yakni hanya langit yang terdekat ke bumi. Hemat penulis, ayat tersebut lebih baik dipahami bahwa ketujuh langit atau katakanlah alam raya ini atau katakanlah ada sekian banyak bulan di alam raya ini, masing-masing memantulkan cahaya yang diperolehnya dari bintang-bintang atau planet-planet yang lain.

Firman-Nya (وَ جَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا) wa ja‘al-asy-syamsa sirājan/Dia menjadikan matahari pelita setelah sebelumnya menyatakan bahwa Dia menjadikan padanya bulan (sebagai) nūr mengisyaratkan adanya perbedaan antara matahari dan bulan. Matahari dijadikan Allah (bagikan) pelita, yakni memiliki pada dirinya sendiri sumber cahaya, sedang bulan tidak dijadikannya (bagaikan) pelita kendati dia bercahaya. Ini berarti bulan bukanlah planet yang memiliki cahaya pada dirinya sendiri, tetapi bulan bukanlah planet yang memiliki cahaya pada dirinya sendiri, tetapi ia memantulkan cahaya, berbeda dengan matahari. Selanjutnya, rujuklah ke QS. Yūnus [10]: 5 untuk memperoleh informasi menyangkut hakikat ilmiah yang diungkap al-Qur’ān ini. (382).

 

AYAT 17-20

71; 17. Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan pertumbuhan,

71: 18. kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalamnya dan mengeluarkan kamu dengan pengeluaran.

71: 19. Dan Allah menjadikan buat kamu bumi sebagai hamparan,

71: 20. supaya kamu di sana menelusuri jalan-jalan yang luas.”

Setelah menyinggung kuasa-Nya dalam penciptaan langit, ayat di atas menyinggung bumi dalam konteks yang berhubungan langsung dengan penciptaan serta pertumbuhan manusia. Ayat di atas menyatakan bahwa: Dan, di samping langit, matahari, dan bulan yang Allah ciptakan, Allah juga menumbuhkan kamu, yakni menciptakan ayah kamu Ādam atau kamu semua, dari tanah dengan pertumbuhan yang sangat menakjubkan kemudian, setelah berakhir pertumbuhan yakni hidup kamu di dunia, Dia secara bertahap, sedikit demi sedikit sesuai dengan perjalanan usia kamu, mengembalikan kamu ke dalamnya, yakni ke dalam perut bumi, yakni menjadikannya kubur dengan kematian kamu dan dan mengeluarkan kamu, yakni membangkitkan kamu dari kubur itu pada Hari Kiamat, dengan pengeluaran, yakni Kebangkitan yang sebenar-benarnya yang belum dapat kamu bayangkan betapa anehnya. Dan Allah menjadikan – pada dasarnya buat kamu bumi sebagai hamparan. Bumi dijadikan-Nya demikian supaya kamu dengan mudah dari saat kesaat di sana, yakni di bumi menelusuri jalan-jalan yang luas.

Kata (أَنْبَتَكُمْ) anbatakum/menumbuhkan kamu digunakan untuk mengingatkan tentang penciptaan Ādam a.s. dari tanah sekaligus mengisyaratkan kebutuhan manusia kepada makanan yang tumbuh di bumi. Dengan makanan itu, manusia mengalami pertumbuhan fisiknya serta pengembangan jiwanya.

Kata (نَبَاتًا) nabātan bukanlah mashdar/invinitive noun dari kata anbata. Mashdar-nya adalah (إِنْبَاتًا) inbātan. Sementara ulama memahaminya sebagai mashdar dari satu kata yang tidak disebut, yaitu kata (نَبَتُّمْ) nabattum/kamu tumbuh. Dengan demikian, ayat di atas bagaikan menyatakan Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah sehingga kamu tumbuh dengan pertumbuhan yang menakjubkan. Pemilihan redaksi di atas, menurut Al-Biqā‘ī, untuk mengisyaratkan betapa mudah hal tersebut bagi Allah, padahal dia (manusia) adalah penciptaan dari tiada. Dia adalah permulaan sekaligus pembuatan sesuatu yang baru, belum ada contoh sebelumnya. Bisa juga – masih menurut Al-Biqā‘ī – ayat di atas dipahami mengandung iḥtibāk, yakni tidak menyebut sesuatu karena telah ada kata atau kalimat yang mengisyaratkan. Pada ayat di atas, tidak disebut mashdar dari kata anbata/menumbuhkan, yaitu inbātan/penumbuhan, karena sudah ada kata nabātan/pertumbuhan yang merupakan mashdar dari kata nabata. Di sisi lain, kata nabata/tumbuh tidak disebutkan karena sudah ada mashdar dari kata nabata, yakni inbātan. Dengan demikian, pada ayat di atas bagaikan menyatakan: Allah telah menumbuhkan kamu dari tanah dengan penumbuhan yang menakjubkan sehingga tumbuhlah kamu dengan pertumbuhan yang luar biasa.

Sayyid Quthub menggarisbawahi redaksi ayat di atas yang menggambarkan manusia sebagai ditumbuhkan dari tanah. Kata yang digunakan itu berulang-ulang ditemukan dalam al-Qur’ān seperti firman-Nya:

وَ الْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهُ بِإِذْنِ رَبِّهِ، وَ الَّذِيْ خَبُثَ لَا يَخْرُجُ إِلَّا نَكِدًا.

Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana.” (QS. al-A‘rāf [7]: 58). Penggunaan kata tersebut mengisyaratkan bahwa pertumbuhan manusia serupa dengan pertumbuhan tanaman/tumbuhan. Dari satu sisi ini menunjukkan kesatuan asal-usul kehidupan di pentas bumi ini dan bahwa manusia serupa dengan tumbuh-tumbuhan dalam unsur-unsur kejadiannya, dari unsur-unsur pokok itu dia makan dan tumbuh berkembang sehingga manusia adalah tumbuhan dari jenis tumbuhan bumi ini. Allah menganugerahkan kepada manusia kehidupan sebagaimana menganugerahkan kepada tumbuh-tumbuhan kehidupan yang serupa. Keduanya adalah hasil bumi dan keduanya “menyusu” dari ibu yang sama. Demikianlah keimanan menciptakan pada jiwa sang mu’min pandangan yang sebenarnya terhadap kehidupan. Hubungannya dengan bumi dan seluruh makhluk hidup merupakan gambaran yang di dalamnya terdapat ketelitian ilmu pengetahuan sekaligus kesegaran perasaan karena dia bersumber dari hakikat yang hidup di dalam jiwa. Inilah keistimewaan pengetahuan yang unik dari al-Qur’ān. Demikian Sayyid Quthub.

Pengukuhan terjadinya pengeluaran/Kebangkitan itu dengan kata (إِخْرَاجًا) ikhrāj untuk mengisyaratkan betapa hebat dan pasti terjadinya Kebangkitan itu.

Dijadikannya bumi sebagai hamparan bermakna kemudahan memanfaatkannya serta kenyamanan yang dapat diraih darinya. Bahwa bumi dijadikan hamparan bukan berarti diciptakan datar. Kedatarannya tidak bertentangan dengan penciptaannya dalam bentuk bulat atau lonjong (bulat panjang, bulat telur). Ke mana pun manusia melangkahkan kaki di bumi ini, dia akan melihat bumi dan menemukannya terhampar, walau dia pada hakikatnya lonjong. Kata (جَعَلَ) ja‘ala digunakan al-Qur’ān untuk menekankan manfaat yang dapat diperoleh dari sesuatu yang dijadikan, berbeda dengan kata (خَلَقَ) khalaqa yang penekanannya pada kuasa Allah mencipta serta kehebatan ciptaan itu.

Kata (فِجَاجًا) fijājan adalah bentuk jama‘ dari kata (فَجّ) fajj, yakni jalan yang luas.

 

AYAT 21-24.

71: 21. Nūḥ berkata: “Tuhanku! Sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku, dan mereka telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka,

71: 22. dan mereka melakukan tipu-daya yang amat sangat besar”.

71: 23. Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwā‘, Yaghūts, Ya‘ūq dan Nasr”.

71: 24. Dan sungguh mereka telah menyesatkan banyak (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zhalim selain kesesatan.

Kaum Nabi Nūḥ a.s., yang dinasihati dengan aneka nasihat itu, tidak bergeming untuk menyambut ajakannya. Maka, setelah sekian lama beliau berda‘wah tanpa hasil yang memadai: Nūḥ berkata: “Tuhanku! Sesungguhnya mereka, yakni hampir semua yang ku ajak, telah mendurhakaiku karena mereka enggan beriman dan memohon ampunan-Mu dan mereka, yakni masyarakat umum dari kaum Nabi Nūḥ a.s., telah bersungguh-sungguh mengikuti orang-orang, yaitu para pemuka mereka, yang harta dan anak-anaknya yang demikian banyak tidak menambah kepadanya di akhirat nanti melainkan kerugian belaka. Sungguh saya telah mengajak mereka semua kepada keimanan tetapi mereka enggan sedang para pemuka masyarakat itu mengajak kepada kekufuran, lalu itulah yang mereka terima dan mereka, yakni pemuka-pemuka itu, melakukan tipu-daya yang amat sangat besar untuk menghalang-halangiku menyampaikan da‘wah dan mereka, para pemuka itu, berkata dalam upaya menggagalkan ajakanku bahwa: “Jangan sekali-kali dan dalam keadaan apa pun kamu meninggalkan penyembahan tuhan-tuhan kamu dan untuk menegaskan larangan itu mereka menyebut satu demi satu tuhan-tuhan yang mereka sembah sambil mengulangi kalimat larangan yang tegas, yakni jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan penyembahan Wadd, dan jangan pula Suwā‘, Yaghūts, Ya‘ūq dan Nasr” Dan sungguh mereka, dengan menggunakan berhala-berhala itu, telah menyesatkan banyak, manusia serta menyimpangkan mereka dari fitrah kesucian mereka. Wahai Tuhan, janganlah Engkau tambahkan bagi para pendurhaka itu kecuali kerugian dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zhalim yang telah mendarah daging kezhalimannya selain kesesatan, adapun orang-orang yang melakukan kezhaliman tetapi masih ada kemungkinan untuk sadar, semoga Engkau menyadarkan dan mengampuninya.”

Bahwa harta dan anak-anak para pendurhaka itu menjadikan mereka bertambah rugi di akhirat karena dengan harta mereka semakin menjauh dari Allah. Mereka menggunakannya bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, tetapi untuk aneka kedurhakaan. Anak-anak yang mestinya mereka didik dengan baik justru mereka abaikan dan beri contoh yang buruk sehingga mereka tumbuh berkembang dalam kedurhakaan yang menjadikan mereka memikul dosa yang dilakukan anak-anaknya di samping beban yang mereka pikul sendiri. Ini karena siapa yang memberi contoh atau mengajar akan memperoleh balasan dan ganjaran amal yang dilakukan oleh yang dia ajar atau diberi contoh sama dengan apa yang diterima oleh yang dia ajar atau yang mencontohnya.

Kata (كُبَّارًا) kubbāran terambil dari kata (كَبِيْر) kabīr yang berarti besar. Patron kata yang digunakan ayat di atas mengandung makna yang amat-amat besar. Jika anda berkata (كُبَار) kubār, itu berarti amat besar. Lalu, jika anda ingin menggambarkan kebesaran yang lebih hebat lagi, anda menggunakan kata yang digunakan ayat di atas, yakni (كُبَّار) kubbār.

Ulama berbeda pendapat tentang nama-nama yang disebut oleh ayat 23 di atas. Mayoritas ulama memahaminya dalam arti berhala-berhala terbesar yang disembah oleh kaum Nabi Nūḥ a.s., lalu disembah pula oleh kaum musyrikin Makkah. Konon, nama-nama tersebut pada mulanya adalah nama putra-putra Nabi Ādam a.s. yang shalih dan yang setelah kematiannya mereka buatkan patung-patung untuk mereka puja dan ini berkembang sehingga mereka mempertuhankannya. Dari sinilah secara turun-temurun berhala-berhala itu disembah. Tetapi, memahaminya bahwa berhala-berhala itulah yang disembah oleh masyarakat Makkah sangatlah sulit diterima karena dapat diduga keras bahwa banjir Nabi Nūḥ a.s. telah memporakporandankan segala sesuatu termasuk berhala-berhala itu. Apa yang disembah oleh kaum musyrikin adalah berhala-berhala lain yang nama-namanya mereka sesuaikan dengan nama-nama berhala-berhala kaum Nūḥ a.s. itu. Diduga berhala-berhala itulah yang pernah disembah terdahulu. Namun tidak dapat dipastikan apakah itu peninggalan kaum Nūḥ atau bukan.

Pakar tafsir, al-Alūsī (1802-1854 M.), mengemukakan dalam tafsirnya bahwa pada sekitar tahun 1260 H. (1840 M.) sekelompok arkelog Barat menemukan berhala dan patung di wilayah Mushil (Mosul – ‘Irāq) berusia sekitar 3.000 tahun.

Di Daumat al-Jundul, wilayah yang dihuni suku Kalb, masyarakatnya menyembah berhala yang mereka namakan Wadd. Berhala itu terbuat dari tembaga dalam bentuk manusia; suku Hudzail mempunyai berhala bernama Suwā‘ dan suku Murād dan Ghuthaif berhala mereka bernama Yaghūts yang berbentuk singa. Suku Ḥamdān memiliki berhala dalam bentuk kuda dan mereka namai Ya‘ūq.

Doa Nabi Nūḥ a.s., sebagaimana yang tercantum dalam ayat 24 di atas, beliau panjatkan setelah Allah menyampaikan kepadanya tentang tertutupnya hati orang-orang zhalim untuk menerima hidayah dan bahwa tidak seorang pun di antara mereka yang akan beriman. Itu sebabnya beliau menyifati mereka dengan azh-zhālimīn, yakni orang-orang yang mantap dan telah mendarah daging kezhaliman dalam kepribadiannya.

Catatan:

  1. 37). Lihat halaman 199.
  2. 38). Baca penafsirannya pada volume 5 halaman 332-334.
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *