Suratu Nuh 71 ~ Tafsir al-Jalalain

Tafsir Jalalain | Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi

Dari Buku:
Tafsir Jalalain.
(Jilid 4. Dari Sūrat-uz-Zumar sampai Sūrat-un-Nās)
Oleh: Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi

Penerjemah: Bahrun Abu Bakar L.C.
Penerbit: Sinar Baru Algensindo Bandung

071

SŪRATU NŪḤ

Makkiyyah, 28 ayat

Turun sesudah Sūrat-un-Naḥl

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

 

إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوْحًا إِلَى قَوْمِهِ أَنْ أَنذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ.

  1. (إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوْحًا إِلَى قَوْمِهِ أَنْ أَنذِرْ) “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nūḥ kepada kaumnya, – dengan memerintahkan, – berilah peringatan” dengan memperingatkan (قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُمْ) “kepada kaummu sebelum datang kepada mereka” jika mereka tetap tidak mau beriman (عَذَابٌ أَلِيْمٌ) “azab yang pedih” siksaan yang menyakitkan di dunia dan akhirat.

 

قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّيْ لَكُمْ نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ.

  1. (قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّيْ لَكُمْ نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ.) “Nūḥ berkata: “Hai kaumku! Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kalian”.” Jelas peringatannya.

 

أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَ اتَّقُوْهُ وَ أَطِيْعُوْنِ.

  1. (أَنِ) “Yaitu hendaknya” artinya aku perintahkan kepada kalian hendaknya (اعْبُدُوا اللهَ وَ اتَّقُوْهُ وَ أَطِيْعُوْنِ) “kalian menyembah Allah, bertakwalah kalian kepada-Nya dan taat kepadaku.

 

يَغْفِرْ لَكُمْ مِّنْ ذُنُوْبِكُمْ وَ يُؤَخِّرْكُمْ إِلىَ أَجَلٍ مُّسَمًّى إِنَّ أَجَلَ اللهِ إِذَا جَاءَ لَا يُؤَخَّرُ لَوْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ.

  1. (يَغْفِرْ لَكُمْ مِّنْ ذُنُوْبِكُمْ) “Niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosa kalian” huruf min di sini dapat dianggap sebagai huruf zā’idah, karena sesungguhnya Islam itu mengampuni semua dosa yang terjadi sebelumnya; yakni semua dosa kalian. Sebagaimana dapat pula dianggap sebagai min yang mengandung makna sebagian, hal ini karena mengecualikan hak-hak yang bersangkutan dengan orang lain (وَ يُؤَخِّرْكُمْ) “dan menangguhkan kalian” tanpa diazab (إِلىَ أَجَلٍ مُّسَمًّى) “sampai kepada waktu yang ditentukan” yaitu ajal kematiannya. (إِنَّ أَجَلَ اللهِ) “Sesungguhnya ketetapan Allah” yang memutuskan untuk mengazab kalian, jika kalian tidak beriman kepada-Nya (إِذَا جَاءَ لَا يُؤَخَّرُ لَوْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ.) “apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kalian mengetahui” seandainya kalian mengetahui hal tersebut, niscaya kalian beriman kepada-Nya.

 

قَالَ رَبِّ إِنِّيْ دَعَوْتُ قَوْمِيْ لَيْلاً وَ نَهَارًا.

  1. (قَالَ رَبِّ إِنِّيْ دَعَوْتُ قَوْمِيْ لَيْلاً وَ نَهَارًا.) “Nūḥ berkata: “Ya Rabbku! Sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang” terus-menerus tanpa mengenal waktu.

 

فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِيْ إِلَّا فِرَارًا.

  1. (فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِيْ إِلَّا فِرَارًا.) “Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari” dari iman.

 

وَ إِنِّيْ كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوْا أَصَابِعَهُمْ فِيْ آذَانِهِمْ وَ اسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَ أَصَرُّوْا وَ اسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا.

  1. (وَ إِنِّيْ كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوْا أَصَابِعَهُمْ فِيْ آذَانِهِمْ) “Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka, agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya” supaya mereka tidak dapat mendengar seruanku (وَ اسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ) “dan menutupkan bajunya ke mukanya” supaya mereka tidak melihatku (وَ أَصَرُّوْا) “dan mereka tetap” dalam kekafiran mereka (وَ اسْتَكْبَرُوا) “dan menyombongkan diri” tidak mau beriman (اسْتِكْبَارًا) “dengan sangat.”

 

ثُمَّ إِنِّيْ دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا.

  1. (ثُمَّ إِنِّيْ دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا.) “Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka dengan terang-terangan” dengan sekuat suaraku.

 

ثُمَّ إِنِّيْ أَعْلَنْتُ لَهُمْ وَ أَسْرَرْتُ لَهُمْ إِسْرَارًا.

  1. (ثُمَّ إِنِّيْ أَعْلَنْتُ لَهُمْ) “Kemudian sesungguhnya aku telah mengeraskan kepada mereka” suaraku (وَ أَسْرَرْتُ) “dan pula telah membisikkan” suaraku atau seruanku (لَهُمْ إِسْرَارًا) “kepada mereka dengan sangat rahasia.”

 

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا.

  1. (فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ) “Maka aku katakan: “Mohonlah ampun kepada Rabb kalian” dari kemusyrikan kalian (إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا) “sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.”

 

يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًا.

  1. (يُرْسِلِ السَّمَاءَ) “Niscaya Dia akan mengirimkan hujan” pada saat itu mereka sedang mengalami kekeringan karena terlalu lama tidak ada hujan (عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًا) “kepada kalian dengan lebat” dengan deras.

 

وَ يُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَ بَنِيْنَ وَ يَجْعَلْ لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَ يَجْعَلْ لَّكُمْ أَنْهَارًا.

  1. (وَ يُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَ بَنِيْنَ وَ يَجْعَلْ لَّكُمْ جَنَّاتٍ) “Dan membanyakkan harta dan anak-anak kalian dan mengadakan untuk kalian kebun-kebun” ladang-ladang (وَ يَجْعَلْ لَّكُمْ أَنْهَارًا) “dan mengadakan pula bagi kalian sungai-sungai” yang mengalir di dalamnya.

 

مَّا لَكُمْ لَا تَرْجُوْنَ للهِ وَقَارًا.

  1. (مَّا لَكُمْ لَا تَرْجُوْنَ للهِ وَقَارًا.) “Mengapa kalian tidak mengharapkan keagungan dari Allah?” tidak mengharapkan Allah mengangkat derajat kalian, agar kalian beriman kepada-Nya.

 

وَ قَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا.

  1. (وَ قَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا.) “Padahal sesungguhnya Dia telah menciptakan kalian dalam beberapa tingkatan kejadian” lafal athwāran bentuk jama‘ dari lafal thaurun, artinya tahap; yakni mulai dari tahap air mani terus menjadi darah kental atau ‘alaqah, hingga menjadi manusia yang sempurna bentuknya. Dan memperhatikan kejadian makhluk-Nya seharusnya menuntun mereka iman kepada yang telah menciptakannya.

 

أَلَمْ تَرَوْا كَيْفَ خَلَقَ اللهُ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا.

  1. (أَلَمْ تَرَوْا) “Tidakkah kalian perhatikan” kalian lihat (كَيْفَ خَلَقَ اللهُ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا.) “bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?” sebagian di antaranya berada di atas sebagian yang lain.

 

وَ جَعَلَ الْقَمَرَ فِيْهِنَّ نُوْرًا وَ جَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا.

  1. (وَ جَعَلَ الْقَمَرَ فِيْهِنَّ) “Dan Allah menciptakan padanya bulan” yaitu pada langit yang paling terdekat di antara keseluruhan langit itu (نُوْرًا وَ جَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا.) “sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?” yang memancarkan sinar terang yang jauh lebih kuat daripada sinar bulan.

 

وَ اللهُ أَنْبَتَكُمْ مِّنَ الْأَرْضِ نَبَاتًا.

  1. (وَ اللهُ أَنْبَتَكُمْ) “Dan Allah menumbuhkan kalian” Dia telah menciptakan kalian (مِّنَ الْأَرْضِ) “dari tanah” karena Dia telah menciptakan bapak moyang kalian, yaitu Nabi Ādam daripadanya (نَبَاتًا) “dengan sebaik-baiknya.”

 

ثُمَّ يُعِيْدُكُمْ فِيْهَا وَ يُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا.

  1. (ثُمَّ يُعِيْدُكُمْ فِيْهَا) “Kemudian Dia mengembalikan kalian ke dalam tanah” dalam keadaan terkubur di dalamnya (وَ يُخْرِجُكُمْ) “dan mengeluarkan kalian” dari dalamnya menjadi hidup kembali pada hari kiamat (إِخْرَاجًا) “dengan sebenar-benarnya.”

 

وَ اللهُ جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ بِسَاطًا.

  1. (وَ اللهُ جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ بِسَاطًا.) “Dan Allah menjadikan bagi kalian bumi sebagai hamparan” yakni dalam keadaan terhampar.

 

لِتَسْلُكُوْا مِنْهَا سُبُلًا فِجَاجًا.

  1. (لِتَسْلُكُوْا مِنْهَا سُبُلًا) “Supaya kalian menempuh padanya jalan-jalan” atau menempuh jalan-jalan (فِجَاجًا.) “yang luas.” yang lebar.

 

قَالَ نُوْحٌ رَّبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِيْ وَ اتَّبَعُوْا مَنْ لَّمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَ وَلَدُهُ إِلَّا خَسَارًا.

  1. (قَالَ نُوْحٌ رَّبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِيْ وَ اتَّبَعُوْا) “Nūḥ berkata: “Ya Rabbku! Sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku, dan mereka telah mengikuti” orang-orang yang hina dan orang-orang yang miskin di antara mereka (مَنْ لَّمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَ وَلَدُهُ) “orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya” maksudnya orang-orang yang rendah dan orang-orang miskin dari kalangan kaum Nabi Nūḥ itu, lebih senang mengikuti pemimpin-pemimpin yang diberi nikmat akan hal-hal tersebut, yakni banyak harta dan anaknya. Lafal wuldun dengan di-dhammah-kan huruf wāu-nya dan sukūn pada lām-nya, atau waladun dengan di-fatḥah-kan kedua-duanya; kalau bentuk yang pertama menurut suatu pendapat, bahwa itu adalah bentuk jama‘ dari lafal waladun. Dalam arti kata disamakan dengan wazan lafal khasyabun yang jamaknya khusybun. Menurut pendapat yang lain, lafal wuldun mempunyai arti yang sama dengan lafal waladun, karena wazan-nya dianggap sama dengan lafal bukhlun dan bakhīlun (إِلَّا خَسَارًا) “melainkan kerugian belaka” yaitu keangkaramurkaan dan kekafiran.

 

وَ مَكَرُوْا مَكْرًا كُبَّارًا.

  1. (وَ مَكَرُوْا) “Dan mereka melakukan tipu daya” yaitu para pemimpin mereka (مَكْرًا كُبَّارًا.) “yang amat besar.” Tipu daya mereka sangat besar, yaitu mereka telah mendustakan Nabi Nūḥ dan menyakitinya serta menyakiti orang-orang yang beriman kepadanya.

 

وَ قَالُوْا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَ لَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَ لَا سُوَاعًا وَ لَا يَغُوْثَ وَ يَعُوْقَ وَ نَسْرًا.

  1. (وَ قَالُوْا) “Dan mereka berkata” kepada orang-orang yang menjadi bawahan mereka (لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَ لَا تَذَرُنَّ وَدًّا) “Jangan sekali-kali kalian meninggalkan tuhan-tuhan sesembahan kalian dan jangan pula sekali-kali kalian meninggalkan wadd” dapat dibaca waddan dan wuddan (وَ لَا سُوَاعًا وَ لَا يَغُوْثَ وَ يَعُوْقَ وَ نَسْرًا.) “dan jangan pula suwā‘, yaghūts, ya‘ūq dan nasr” nama-nama tersebut adalah nama-nama berhala-berhala mereka.

 

وَ قَدْ أَضَلُّوْا كَثِيْرًا وَ لَا تَزِدِ الظَّالِمِيْنَ إِلَّا ضَلاَلًا.

  1. (وَ قَدْ أَضَلُّوْا) “Dan sesungguhnya mereka telah menyesatkan” dengan nama-nama tersebut (كَثِيْرًا) “kebanyakan manusia” karena mereka telah memerintahkan manusia untuk menyembahnya (وَ لَا تَزِدِ الظَّالِمِيْنَ إِلَّا ضَلَالًا.) “dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang lalim itu selain kesesatan” ayat ini di-‘athaf-kan kepada lafal qad adhallū, yakni merupakan doa Nabi Nūḥ setelah Allah mewahyukan kepadanya, bahwasanya sekali-kali tidak ada orang yang mau beriman di antara kaummu, melainkan orang-orang yang telah beriman saja.

 

مِمَّا خَطِيْئَاتِهِمْ أُغْرِقُوْا فَأُدْخِلُوْا نَارًا فَلَمْ يَجِدُوْا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِ اللهِ أَنْصَارًا.

  1. (مِمَّا) “Disebabkan” huruf di sini adalah huruf shilah atau penghubung (خَطِيْئَاتِهِمْ) “kesalahan-kesalahan mereka” menurut suatu qirā’at dibaca khathī’ātihim dengan memakai huruf hamzah sesudah huruf yā’ (أُغْرِقُوْا) “mereka ditenggelamkan” oleh banjir besar (فَأُدْخِلُوْا نَارًا) “lalu dimasukkan ke dalam neraka” yaitu mereka diazab sesudah mereka ditenggelamkan di bawah air (فَلَمْ يَجِدُوْا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِ) “maka mereka tidak dapat menemukan selain” selain daripada (اللهِ أَنْصَارًا) “Allah, seseorang pun yang menolong mereka” yang dapat melindungi mereka dari azab.

 

وَ قَالَ نُوْحٌ رَّبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِيْنَ دَيَّارًا.

  1. (وَ قَالَ نُوْحٌ رَّبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِيْنَ دَيَّارًا.) “Nūḥ berkata: “Ya Rabbku! Janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi” bertempat tinggal, makna yang dimaksud ialah jangan biarkan seorang pun di antara mereka.

 

إِنَّكَ إِنْ تَذَرْهُمْ يُضِلُّوْا عِبَادَكَ وَ لَا يَلِدُوْا إِلَّا فَاجِرًا كَفَّارًا.

  1. (إِنَّكَ إِنْ تَذَرْهُمْ يُضِلُّوْا عِبَادَكَ وَ لَا يَلِدُوْا إِلَّا فَاجِرًا كَفَّارًا.) “Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir” lafal fājiran dan kaffāran berasal dari yafjuru dan yakfuru. Nabi Nūḥ berdoa demikian setelah ada wahyu mengenai keadaan mereka yang telah disebutkan tadi yakni, bahwa mereka tidak akan beriman, kecuali hanya orang-orang yang telah beriman kepadanya.

 

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَ لِوَالِدَيَّ وَ لِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ وَ لَا تَزِدِ الظَّالِمِيْنَ إِلَّا تَبَارًا.

  1. (رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَ لِوَالِدَيَّ) “Ya Rabbku! Ampunilah aku, ibu bapakku” kedua orang tua Nabi Nūḥ termasuk orang-orang yang beriman (وَ لِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ) “orang yang masuk ke dalam rumahku” atau mesjidku (مُؤْمِنًا وَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ) “dengan beriman, dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan” hingga hari kiamat nanti (وَ لَا تَزِدِ الظَّالِمِيْنَ إِلَّا تَبَارًا) “dan janganlah Engkau tambahkan kepada orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan.” Atau kehancuran, akhirnya mereka benar-benar dibinasakan.
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *