Surah an-Nas 114 ~ Tafsir asy-Syaukani

Tafsir Fathul Qadir - Imam asy-Syaukani

Dari Buku:
TAFSIR FATHUL-QADIR
(Jilid 12, Juz ‘Amma)
Oleh:  Imam asy-Syaukani

Penerjemah: Amir Hamzah, Besus Hidayat Amin
Penerbit: PUSTAKA AZZAM

Dari Buku:

TAFSIR FATHUL-QADIR
(Jilid 12, Juz ‘Amma)
Oleh: Imam asy-Syaukani

Penerjemah: Amir Hamzah, Besus Hidayat Amin
Penerbit: PUSTAKA AZZAM

 

SURAH AN-NĀS

Surah ini meliputi enam ayat.

Perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai penurunannya di Makkah atau Madinah sama seperti perbedaan yang telah lalu dalam bahasan surah al-Falaq.

Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Diturunkan di Makkah surah “qul a‘ūdzu bi rabb-in-nās.” Dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu Zubair, ia berkata: “Diturunkan di Madinah surah “qul a‘ūdzu bi rabb-in-nās.”

Kami telah memaparkan sebelumnya, di dalam surah al-Falaq tentang sebab-sebab turunnya surah ini dan mengenai keutamaannya maka lihatlah kembali.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ. مَلِكِ النَّاسِ. إِلهِ النَّاسِ. مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ. الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِ. مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ

114:1. Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (Yang memelihara dan menguasai) manusia.
114:2. Raja manusia.
114:3. Sembahan manusia.
114:4. Dari kejahatan (bisikan) syaithan yang biasa bersembunyi,
114:5. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.
114:6. Dari (golongan) jin dan manusia.
(An-Nās [114]: 1-6).

Jumhur ulama membaca: (قُلْ أَعُوْذُ) “Katakanlah: “Aku berlindung” dengan huruf ḥamzah dan dibaca juga dengan menghilangkannya, kemudian harakatnya dipindahkan ke huruf lām. Jumhur ulama juga membaca dengan imālah pada (النَّاسِ) “manusia”, juga An-Nasa’i membaca dengan imālah.

Makna (رَبِّ النَّاسِ) “Tuhan (Yang memelihara dan menguasai) manusia.” Adalah Penguasa urusan mereka dan Yang memperbaiki kondisi mereka. Di sini dikatakan “Tuhan manusia” padahal Dia adalah Tuhan semua makhluk-Nya, untuk menunjukkan kemuliaan manusia, dan karena permohonan perlindungan ini dari kejahatan yang dibisikkan di dalam hati mereka.

Firman Allah: (مَلِكِ النَّاسِ) “Raja manusia.” ‘athaf bayān, yang didatangkan untuk menjelaskan ketuhanan/pemeliharaan Allah s.w.t. tidak seperti pemeliharaan semua raja terhadap semua yang ada dalam kawasan kekuasaannya, melainkan dengan kekuasaan penuh, sempurna, dan kekuatan yang memaksa.

(إِلهِ النَّاسِ.) “Sembahan manusia.” Ini juga ‘athaf bayān seperti yang sebelumnya, untuk menjelaskan bahwa pemeliharaan-Nya dan kekuasaan-Nya telah menggabungkan penyembahan yang berlandaskan ketuhanan yang memiliki kekuasaan yang sempurna untuk melakukan secara keseluruhan, untuk mengadakan dan meniadakan. Juga, karena semata-mata “pemelihara” tidak mengharuskan keberadaannya sebagai raja, sebagaimana dikatakan pemelihara rumah dan pemelihara barang-barang (rabbu dar dan rabbu mata‘), sebagaimana firman Allah: (اتَّخَذُوْا أَحْبَارَهُمْ وَ رُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُوْنِ اللهِ) “Mereka menjadikan orang-orang alimnya (aḥbār – pendeta-pendeta), dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.” (at-Taubah [9]: 31) maka jelaslah bahwa Allah adalah Tuhan yang memelihara dan menguasai manusia.

Kemudian raja bisa saja sebagai tuhan dan bisa juga tidak, dan jelas bahwa Dia adalah Tuhan, karena nama “Tuhan” dikhususkan untuk-Nya dan tidak ada yang bersekutu dengan-Nya dengan sebutan itu.

Di sini dimulai penyebutan dengan “Rabb” (Tuhan Pemelihara) dan itu adalah sebutan untuk yang memelihara dan memperbaiki dari awal usai kehidupan sampai menjadi berakal sempurna. Dengan demikian diketahui berdasarkan dalil ini bahwa ia adalah hamba yang dimiliki, kemudian disebutkan bahwa Allah adalah Tuhan Pemelihara manusia, kemudian dapat diketahui bahwa penyembahan merupakan suatu keharusan dan kewajiban atas hamba yang dimiliki tersebut, bahwa ia hamba yang diciptakan, dan Penciptanya adalah Tuhan yang disembah, maka Allah menyebut Diri-Nya sebagai Tuhan manusia. Allah mengulang penyebutan “manusia” pada tiga tempat, karena ‘athaf bayān membutuhkan untuk penampakan yang lebih, dan karena pola pengulangan itu akan menambah kemuliaan manusia itu sendiri.

(مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ) “Dari kejahatan (bisikan) syaithan” Al-Farra’ berkata: “Ini dengan harakat fatḥah pada wau bermakna isim (kata benda), yakni: (الموسوس) (yang menggoda) dan dengan kasrah adalah mashdar, yakni: (الموسوسة) (godaan), sebagaimana (الزلزال) (gemba bumi) bermakna (الزلزلة) (guncangan). Ada pendapat yang mengatakan dengan fatḥah sebagai isim dan bermakna (الوسوسة) (waswas), yaitu: pembicaraan hati, dikatakan: “Hatinya berbicara kepadanya.” Dan asalnya adalah suara lirih yang tersembunyi, oleh karena suara yang lirih dan tersembunyi disebut waswas.

Az-Zajjaj berkata: (الْوَسْوَاسِ) itu adalah syaithan, yakni yang memiliki godaan.” Ada yang mengatakan waswas adalah anak iblis. Tahqiq analisis mengenai makna ini telah dijelaskan dalam bahasan penafsiran firman Allah: (فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ) “Maka syaithan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya.” (al-A‘raf [7]: 20).

Makna (الْخَنَّاسِ.) “yang biasa bersembunyi,” adalah yang biasa bersembunyi, yakni banyak menunda. Dikatakan pula (خنس، يخنس) yakni (تأخر) (menunda/terakhir).

Mujahid berkata: “Apabila mengingat Allah, maka ia akan merungkuk dan bersembunyi, dan apabila tidak mengingat Allah, maka akan berlapang dada. Di sini “bisikan syaithan” disebutkan (الْخَنَّاسِ.) karena kerap tersembunyi. Di antara contoh penggunaan makna ini adalah firman Allah: (فَلَا أُقْسِمُ بِالْخُنَّاسِ) “Sungguh Aku bersumpuh dengan bintang-bintang,” (at-Takwīr [81]: 15), yaitu bintang-bintang karena tersembunyi setelah sebelumnya nampak secara jelas, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa (الْخَنَّاسِ.) adalah sebuah nama anak iblis, sebagaimana dijelaskan di atas dalam pembahasan mengenai kata (الْوَسْوَاسِ).

(الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِ.) “Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.” Maushūl di sini boleh menduduki posisi jār, sebagai kata sifat untuk (الْوَسْوَاسِ), boleh juga dinashabkan untuk dzamm (pengcelaan), dan boleh berkedudukan marfū‘ dengan asumsi sebagai mubtada’. Adapun makna (وسوسة) telah dijelaskan sebelumnya.

Qatadah berkata: “Syaithan memiliki moncong seperti moncong anjing, di dalam dada manusia, apabila manusia lalai mengingat Allah, maka syaithan akan membisikinya, dan apabila ia mengingat Allah, maka ia akan bersembunyi.”

Muqatil berkata: “Sesungguhnya syaithan berbentuk dalam bentuk babi, ia mengalir pada manusia seperti aliran darah dalam urat-uratnya, Allah memberikannya kemampuan untuk itu, dan bisikannya adalah agar manusia mematuhinya, melalui pembicaraan yang sangat tersembunyi yang dapat sampai ke hati tanpa mendengar suara apapun.

Kemudian Allah menjelaskan bahwa yang berbisik itu ada dua macam: jin dan manusia. Allah berfirman: (مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ) “Dari (golongan) jin dan manusia”, adapun syaithan yang berbentuk jin berbisik ke dalam hati manusia, dan syaithan yang berbentuk manusia memasukkan “waswas” ke dalam hati manusia, hingga ia melihatnya sebagai orang yang memberikan nasihat yang benar karena menyayanginya, maka hati pun menjadi terperangkap dengan kata-kata yang diucapkannya, dan menilainya sebagai nasihat dan petunjuk sebagaimana syaithan menjerumuskannya dengan godaan dan bisikan, sebagaimana firman Allah: (شَيَاطِيْنُ الْإِنْسِ وَ الْجِنِّ) “yaitu syaithan-syaithan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin.” (al-An‘ām [6]: 112).

Atau boleh saja berkaitan dengan (يُوَسْوِسُ) “yang membisikkan (kejahatan)”, yang membisikkan kejahatan dari sisi jin dan sisi manusia. Dan, boleh juga menjadi bayan (penjelasan) untuk (ناس) (manusia).

Ar-Razi berkata: Suatu kaum menyatakan bahwa “dari golongan) jin dan manusia” termasuk dalam firman-Nya: (فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِ) “ke dalam dada manusia” karena bagian yang menyatukan jin dan orang disebut “insan”, dan orang/insan juga disebut “insan”, oleh karena itu kata “insan” berlaku untuk “jenis” dan “macam” melalui persekutuan antara keduanya. Dalil yang menyatakan bahwa kata “insan” mencakup kata “ins” (orang) dan jin adalah riwayat yang menjelaskan bahwa sekelompok jin datang dan dikatakan kepada mereka: “Siapa kalian?” mereka menjawab: “(نَاسٌ مِنَ الْجِنِّ) (orang-orang dari kalangan jin).” Juga Allah telah menyebut mereka dengan sebutan (وَ أَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ) (para lelaki) melalui firman-Nya: () “Dan bahwa ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin.” (al-Jinn [72]: 6).

Ada juga pendapat yang menyatakan boleh saja maksudnya adalah: “aku berlindung kepada Tuhan manusia, dari kejahatan bisikan syaithan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia, dan dari kejahatan jin dan manusia” seakan-akan Allah memerintahkan untuk memohon perlindungan dari syaithan yang satu itu, kemudian memerintahkan untuk memohon perlindungan dari seluruh jin dan manusia.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud (الناس) (manusia) di sini adalah (الناسي) (lupa/lalai) kemudian huruf ya’-nya gugur sebagaimana gugurnya pada firman Allah: (يَوْمَ يَدْعُ الدَّاعِ) “(Ingatlah) hari (ketika) seorang penyeru (malaikat) menyeru.” (al-Qamar 54]: 6). Kemudian Allah menjelaskan dengan jin dan manusia karena masing-masing individu dari individu-individu kedua kelompok itu biasanya diuji dengan sifat lupa/lalai. Dan, yang lebih baik dari ini adalah bahwa firman-Nya: (وَ النَّاسِ) “dan manusia” di-‘athaf-kan pada (الْوَسْوَاسِ) (bisikan) syaithan”, yakni dari kejahatan bisikan dan kejahatan manusia, seakan-akan Allah memerintahkan untuk memohon perlindungan dari kejahatan manusia dan jin.

Al-Hasan berkata: “Adapun syaithan dari kalangan jin membisikkan kejahatan di dalam dada manusia, dan syaithan dari kalangan manusia maka datang secara terang-terangan.”

Qatadah berkata: “Sesungguhnya dari kalangan jin terdapat syaithan-syaithan dan dari kalangan manusia terdapat syaithan-syaithan, maka kita memohon perlindungan kepada Allah dari syaithan-syaithan dari kalangan jin dan syaithan-syaithan dari kalangan manusia.”

Ada pendapat yang mengatakan bahwa iblis membisikkan kejahatan ke dalam hati jin sebagaimana ia membisikkannya ke dalam hati manusia.

Bentuk tunggal dari (الْجِنَّةِ) adalah (جني) sebagaimana bentuk tunggal (الإنس) adalah (إنسي), dan pendapat pertama adalah pendapat yang paling kuat di antara pendapat-pendapat yang ada, sekalipun bisikan manusia ke dalam hati manusia tidak terjadi kecuali secara makna yang telah kami sebutkan di atas. Penjelasan ini tentunya mengingatkan kepada dua golongan (jin dan manusia) untuk memberi petunjuk bahwa siapa yang memohon perlindungan kepada Allah dari keduanya, maka akan lenyap darinya semua ujian, baik di dunia maupun di akhirat.

Ibnu Abi Daud meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah: (الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ) “(bisikan) syaithan yang biasa bersembunyi”, ia menjelaskan: “Perumpamaan syaithan seperti musang.” Musang yang meletakkan mulutnya di hati, kemudian ia membisikkan kejahatan padanya, jika ia menyebut Allah maka pembisik itu akan bersembunyi, dan jika diam maka ia akan kembali, ia adalah bisikan syaithan yang biasa bersembunyi.

Ibnu Abid-Dunya meriwayatkannya di dalam Makāyid-usy-Syaithān, Abu Ya‘la, Ibnu Syahin, dan al-Baihaqi di dalam Asy-Syu‘ab dari Anas, dari Nabi s.a.w., beliau bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ وَاضِعُ خَطْمِهِ عَلَى قَلْبِ ابْنِ آدَمَ، فَإِنْ ذَكَرَ اللهَ خَنَسَ وَ إِنْ نَسِيَهُ الْتَقَمَ قَلْبَهُ فَذلِكَ الْوَسْوَاسُ الْخَنَّاسُ

Sesungguhnya syaithan meletakkan moncongnya pada hati anak Adam (manusia), jika ia mengingat Allah maka syaithan itu akan bersembunyi, jika ia melupakan-Nya, maka syaithan itu akan menelan hatinya, maka itulah bisikan syaithan yang biasa bersembunyi.” (3881).

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Jarir, dan Ibnu Mardawaih dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah: (الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ) “(bisikan) syaithan yang biasa bersembunyi,” ia menjelaskan: “Syaithan berlutut (merunduk) ke hati manusia, apabila ia lupa dan lalai, maka ia akan membisikinya, dan apabila ia mengingat Allah, maka ia akan bersembunyi.”

Juga diriwayatkan oleh Ibnu Abid-Dunya, Ibnu Jarir, Ibnu Mundzir, al-Hakim dan ia menilainya shaḥīḥ, Ibnu Mardawaih, adh-Dhiya’ di dalam al-Mukhtarah, dan al-Baihaqi darinya, ia berkata: “Tidaklah seorang anak dilahirkan, melainkan pada hatinya terdapat syaithan yang berbisik, apabila ia mengingat Allah maka syaithan itu akan bersembunyi, dan apabila ia lalai, maka syaithan itu akan membisikinya (kejahatan), itulah firman Allah: (الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ) “(bisikan) syaithan yang biasa bersembunyi.

Masih ada makna-makna lain mengenai bahasan kata ini, dan pada zhahirnya bahwa mengingat Allah secara mutlak dapat mengusir syaithan, sekalipun tidak dengan cara memohon perlindungan. Mengingat Allah memiliki banyak manfaat yang agung, yang pada intinya akan dapat meraih kebahagian di dunia dan akhira.
Sampai di sini, selesai sudah tafsir yang penuh berkah ini dengan pena pengarangnya, Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad asy-Syaukani, semoga Allah mengampuni segala kesalahan dan dosanya. Selesainya tafsir ini dari beliau pada waktu Dhuha hari Sabtu, barangkali bertepatan dengan tanggal 28 Rajab, tahun 1229 H.

Ya Allah, sebagaimana Engkau telah karuniakan kepada hamba untuk menyempurnakan tafsir ini dan memperbaiki hasilnya, dan Engkau telah karuniakan kekuatan kepada hamba untuk dapat menyelesaikannya, maka anugerahilah aku dengan Engkau menerimanya dan Engkau jadikan ini sebagai tabungan kebaikan di sisi-Mu, dan berilah aku pahala atas jerih payah dan kepenatan yang aku jalani dalam menganalisanya dan menetapkannya, dan jadikanlah ini bermanfaat untuk siapa saja yang Engkau kehendaki dari hamba-hambaMu supaya manfaat ini tetap lestari setelah kematianku.

Inilah tujuan yang agung dari penulisan tafsir ini, jadikanlah ini murni dan tulus hanya karena-Mu dan ampunilah kesalahan-kesalahan yang pernah terlintas dalam diriku yang bertentangan dengan keikhlasan hanya karena-Mu, ampunilah aku atas segala yang tidak sesuai dengan maksud-Mu, sesungguhnya aku tidak bermaksud dalam semua bahasanku ini melainkan agar tepat sasaran, mencapai kebenaran, dan sesuai dengan yang Engkau ridhai. Jika aku berbuat salah, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun atas segala kesalahan dan Maha Menutupi kekurangan, wahai Engkau Dzat yang Menguasai alam semesta ini. Aku memuji-Mu dan aku tidak dapat menghitung pujian kepada-Mu, aku bersyukur kepada-Mu dan aku tidak dapat menghitung syukur-Mu sebagaimana Engkau memuji Diri-Mu. Shalawat dan salam senantiasa aku curahkan kepada Nabi-Mu s.a.w. dan kepada keluarga beliau. Selesai.

Telah selesai diperdengarkan kepada pengarangnya – semoga Allah senantiasa menjaga beliau – pada hari Senin pagi, tanggal 5 Rabi‘-ul-Awwal, tahun 1241 H.

Ditulis oleh:

Yahya bin ‘Ali asy-Syaukani.

Semoga Allah mengampuni keduanya.

Catatan:


  1. 388). Dha‘īf; Diriwayatkan oleh al-Baihaqi di dalam asy-Syu‘ab (540), al-Haitsami berkomentar di dalam Majma‘-uz-Zawā’id (7/149): “Diriwayatkan oleh Abu Ya‘la dan di dalam sanad-nya terdapat ‘Adi bin Abi Umarah, ia seorang yang dha‘īf, dan al-Albani mencantumkannya di dalam as-Silsilat-udh-Dha‘īfah (1367). 
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *