Hati Senang

Surah ath-Thariq 86 ~ Tafsir al-Jalalain

Tafsir Jalalain | Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi

Dari Buku:
Tafsir Jalalain.
(Jilid 4. Dari Sūrat-uz-Zumar sampai Sūrat-un-Nās)
Oleh: Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi

Penerjemah: Bahrun Abu Bakar L.C.
Penerbit: Sinar Baru Algensindo Bandung

087 

SŪRAT-UTH-THĀRIQ

Makkiyyah, 17 ayat

Turun sesudah Sūrat-ul-Balad.

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

 

وَ السَّمَاءِ وَ الطَّارِقِ.

1. (وَ السَّمَاءِ وَ الطَّارِقِ) “Demi langit dan yang datang pada malam hari” lafal ath-Thāriq pada asalnya berarti segala sesuatu yang datang pada malam hari, antara lain ialah bintang-bintang, karena bintang-bintang baru muncul bila malam tiba.

وَ مَا أَدْرَاكَ مَا الطَّارِقُ.

2. (وَ مَا أَدْرَاكَ مَا الطَّارِقُ) “Tahukah kamu” artinya apakah kamu mengetahui (مَا الطَّارِقُ) “apakah yang datang pada malam hari itu?” lafal adalah Mubtada’ sedangkan lafal ath-Thāriq adalah Khabar-nya, kedua lafal tersebut berkedudukan menjadi Maf‘ūl kedua dari lafal Adrā. Lafal yang kedua juga menjadi Khabar dari lafal yang pertama, di dalamnya terkandung makna yang menjelaskan kedudukan ath-Thāriq yang agung itu; selanjutnya pengertian ath-Thāriq dijelaskan oleh firman berikutnya.

النَّجْمُ الثَّاقِبُ.

3. (النَّجْمُ) “Yaitu bintang” yakni bintang Tsurayya, atau semua bintang (الثَّاقِبُ) “yang cahayanya menembus” kegelapan malam. Yang menjadi Jawāb Qasam ialah:

إِنْ كُلُّ نَفْسٍ لَّمَّا عَلَيْهَا حَافِظٌ.

4. (إِنْ كُلُّ نَفْسٍ لَّمَّا عَلَيْهَا حَافِظٌ) “Tidak ada suatu jiwa pun melainkan ada penjaganya” jika dibaca Lamā tanpa memakai Tasydīd, berarti huruf adalah huruf Zā’idah, dan In adalah bentuk Takhfīf dari Inna sedangkan Isim-nya tidak disebutkan, dan huruf Lām-nya adalah ḥurūf Fāriqah. Artinya sesungguhnya setiap diri itu ada penjaganya. Jika dibaca Lammā dengan memakai Tasydīd, berarti In adalah bermakna Nafi, sedangkan Lammā bermakna Illā; artinya tiada suatu jiwa pun melainkan ada penjaganya, yakni penjaga yang terdiri dari malaikat; malaikat penjaga itu bertugas untuk mencatat amal baik dan amal buruknya.

فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ.

5. (فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ) “Maka hendaklah manusia memperhatikan” dengan perhatian yang dibarengi dengan mempelajarinya (مِمَّ خُلِقَ) “dari apakah dia diciptakan?” artinya berasal dari apakah dia tercipta?

خُلِقَ مِنْ مَّاءٍ دَافِقٍ.

6. (خُلِقَ مِنْ مَّاءٍ دَافِقٍ) “Dia diciptakan dari air yang terpancar” yakni yang dipancarkan oleh laki-laki ke dalam rahim wanita.

يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَ التَّرَائِبِ.

7. (يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ) “Yang keluar dari antara tulang sulbi” laki-laki (وَ التَّرَائِبِ) “dan tulang dada” perempuan.

إِنَّهُ عَلَى رَجْعِهِ لَقَادِرٌ.

8. (إِنَّهُ) “Sesungguhnya Dia” yakni Allah swt. (عَلَى رَجْعِهِ) “untuk mengembalikannya” atau menghidupkan kembali manusia setelah mati (لَقَادِرٌ) “benar-benar kuasa” maka apabila manusia itu benar-benar memperhatikan asal mula kejadiannya, niscaya dia akan menyimpulkan, bahwasanya Yang Maha Kuasa menciptakan demikian, berkuasa pula untuk menghidupkannya kembali.

يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ.

9. (يَوْمَ تُبْلَى) “Pada hari ditampakkan” maksudnya, diuji dan dibuka (السَّرَائِرُ) “segala rahasia” yaitu hal-hal yang terkandung di dalam qalbu berupa keyakinan-keyakinan dan niat-niat.

فَمَا لَهُ مِنْ قُوَّةٍ وَ لَا نَاصِرٍ.

10. (فَمَا لَهُ) “Maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu” yaitu bagi orang yang tidak mempercayai adanya hari berbangkit (مِنْ قُوَّةٍ) “suatu kekuatan pun” yang dapat melindunginya dari adzab (وَ لَا نَاصِرٍ) “dan tidak pula seorang penolong pun” yang dapat menolak adzab Allah.

وَ السَّمَاءِ ذَاتِ الرَّجْعِ.

11. (وَ السَّمَاءِ ذَاتِ الرَّجْعِ.) “Demi langit yang mengandung hujan” hujan dinamakan Ar-Raj‘u karena berulang datang pada musimnya.

وَ الْأَرْضِ ذَاتِ الصَّدْعِ.

12. (وَ الْأَرْضِ ذَاتِ الصَّدْعِ) “Dan demi bumi yang mempunyai tumbuh-tumbuhan” maksudnya retak-retak karena daripadanya keluar tumbuh-tumbuhan.

إِنَّهُ لَقَوْلٌ فَصْلٌ.

13. (إِنَّهُ) “Sesungguhnya al-Qur’an itu” yakni wahyu al-Qur’an (لَقَوْلٌ فَصْلٌ) “benar-benar firman yang memutuskan” yang memisahkan antara perkara yang hak dan perkara yang batil.

وَ مَا هُوَ بِالْهَزْلِ.

14. (وَ مَا هُوَ بِالْهَزْلِ) “Dan sekali-kali bukanlah dia senda gurau” atau mainan dan kebatilan.

إِنَّهُمْ يَكِيْدُوْنَ كَيْدًا.

15. (إِنَّهُمْ) “Sesungguhnya mereka” yakni orang-orang kafir (يَكِيْدُوْنَ كَيْدًا) “merencanakan tipu daya yang jahat dengan sebenar-benarnya” yaitu mereka melakukan tipu daya yang jahat terhadap diri Nabi saw.

وَ أَكِيْدُ كَيْدًا.

16. (وَ أَكِيْدُ كَيْدًا) “Dan Aku pun membuat rencana pula dengan sebenar-benarnya” maksudnya, Aku biarkan mereka bersenang-senang sesuka hatinya, tanpa mereka sadari bahwa hal itu merupakan Istidrāj dari Aku, yang kelak Aku akan mengadzab mereka dengan sepedih-pedihnya.

فَمَهِّلِ الْكَافِرِيْنَ أَمْهِلْهُمْ رُوَيْدًا

17. (فَمَهِّلِ) “Karena itu beri tangguhlah” hai Muḥammad (الْكَافِرِيْنَ أَمْهِلْهُمْ) “orang-orang kafir itu, beri tangguhlah mereka” lafal Amhilhum mengukuhkan makna yang terkandung di dalam lafal Famahhil; dianggap baik karena lafalnya berbeda dengan yang pertama, artinya tangguhkanlah mereka itu (رُوَيْدًا) “barang sebentar” dalam waktu yang singkat. Lafal Ruwaidan adalah masdar yang mengukuhkan makna ‘Āmil-nya. Ia adalah bentuk Tashghīr dari lafal Rawdun atau Arwādun yang mengandung makna Tarkhīm. Dan Allah swt. benar-benar mengadzab orang-orang kafir itu dalam perang Badar. Akan tetapi ayat penangguhan ini di-nasakh oleh ayat perang, yakni Allah memerintahkan Nabi-Nya supaya berjihad memerangi mereka.

 

 

ASBĀB-UN-NUZŪL

SŪRAT-UTH-THĀRIQ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

 

Imām Ibnu Abī Ḥātim telah mengetengahkan sebuah hadits melalui ‘Ikrimah sehubungan dengan firman-Nya:

Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan?” (86, ath-Thāriq, 5)

‘Ikrimah telah menceritakan, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan sepak terjang Abul-Asyādd. Pada suatu hari ia berdiri pada hamparan yang terbuat dari kulit yang disamak, lalu ia berkata: “Hai semua orang-orang Quraisy, siapakah di antara kalian yang mampu menggeserku dari tempat ini?, maka aku akan berikan kepadanya hadiah”. Lalu ia melanjutkan perkataannya: “Sesungguhnya Muḥammad menduga bahwa penjaga neraka Jahannam itu ada sembilan belas malaikat, sepuluh di antara mereka aku sanggup melayaninya sebagai wakil dari kalian, dan kalian harus membantuku untuk melawan sembilan malaikat lainnya.”

Langganan buletin Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru di hatisenang.com

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas