Surah at-Takatsur 102 ~ Tafsir al-Qur’an-ul-Majid an-Nur

Judul Buku:
TAFSĪR AL-QUR’ĀNUL MAJĪD AN-NŪR

JILID 4

Penulis: Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy
Diterbitkan oleh: Cakrawala Publishing

Surat Ke-102

AT-TAKĀTSUR

Surat at-Takātsur bermakna bermegah-megahan. Diturunkan di Makkah sesudah surat al-Kautsar, terdiri dari 8 ayat.

 

A. KANDUNGAN ISI

Surat ini menjelaskan hasil yang diperoleh manusia karena berlomba-lomba memperbanyak harta dan kemegahan, serta menguatkan keterangan yang menyatakan bahwa orang yang durhaka pastilah akan menderita karena tertimpa ‘adzab. Semua manusia akan ditanya tentang nikmat yang mereka peroleh di dunia.

 

B. KAITAN DENGAN SURAT SEBELUMNYA

Dalam surat yang telah lalu dijelaskan tentang ciri (keadaan) hari kiamat dan sebagian huru-haranya, serta pembalasan yang diterima oleh masing-masing golongan manusia. Sedangkan surat ini menerangkan masalah neraka (hawiyah) yang juga telah dijelaskan dalam surat yang telah lalu. Selain itu, juga menjelaskan tentang pertanyaan yang akan ditujukan kepada manusia mengenai amalan yang mereka lakukan semasa di dunia. Inilah sebagian suasana pada hari kesudahan (kiamat).

 

C. TAFSIR SURAT AT-TAKĀTSUR

1. Menziarahi kuburan melunakkan hati yang keras. Orang kafir ditanyai mengenai nikmat-nikmat yang mereka kecap di dunia.

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Bismillāhirraḥmānirraḥīm

Dengan (menyebut) nama Allah Yang Maha Pemurah, yang senantiasa mencurahkan rahmat-Nya

 

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ.

Alhākumut takātsur.

“Kamu disibukkan oleh kemegahan dengan banyak harta, anak, dan lain-lainnya.” (11)

(at-Takātsur [102]: 1).

Kamu, manusia, sering dilalaikan oleh kemegahan (kehebatan) dengan banyaknya penolong dan pengikut, serta banyaknya harta kekayaan. Kamu disibukkan oleh usaha-usaha ke arah itu, sehingga kamu lupa mengerjakan sesuatu yang memberi manfaat pada hari kiamat.

Muḥammad ‘Abduh mengatakan bahwa ayat ini mungkin bermakna: Bersaing dalam mengumpulkan harta atau kemegahan (kehebatan) lebih banyak daripada orang lain dan usaha yang dilakukannya hanya semata-mata untuk mengalahkan orang lain, serta untuk mencari nama dan kehebatan, bukan dengan maksud mencari harta untuk melakukan kebajikan atau membela kebenaran dan memberantas hal-hal yang batal.

حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ.

Ḥattā zurtumul maqābir.

“Hingga kamu mengunjungi kuburan.”

(at-Takātsur [102]: 2).

Kamu tetap disibukkan oleh persaingan antara sesama manusia sampai akhir hayat. Ada yang menyatakan bahwa terdapat dua kabilah di ‘Arab yang selalu bermegah-megahan dengan banyak harta dan banyak pengikut. Bahkan, kadang-kadang mereka pergi ke kubur, juga untuk bermegah-megahan atas orang yang telah meninggal dunia. Berkenaan dengan hal itu, maka diturunkanlah ayat ini untuk menyalahkan perilaku buruk itu.

Walaupun sebab turunnya ayat ini didasarkan kabilah-kabilah ‘Arab, namun maknanya berlaku uutuk umum. Menziarahi kubur memang bisa menjadi penenang hati yang keras. Sebab, dengan menziarahi kubur akan membuat seseorang mengingatkannya kita kepada kematian dan kesudahan. Tetapi apabila dengan ziarah kubur justru terjadi kemunkaran yang tidak dibenarkan oleh agama, pastilah ziarah kubur telah diharamkan saat itu. Inilah satu-satunya ayat yang menyebutkan tentang kubur (makam).

كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ.

Kallā saufa ta‘lamūn.

“Kehidupanmu tidak akan terus begitu. Kelak kamu akan mengetahui akibatnya (hasilnya).”

(at-Takātsur [102]: 3).

Hentikanlah sikapmu yang menimbulkan permusuhan, sehingga mengakibatkan seseorang lupa mengerjakan pekerjaan yang berguna untuk negeri akhirat. Kelak kamu akan mengetahui akibat berlomba-lomba mencari harta yang banyak. Pada hari kiamat penyesalanmu sudah tidak berguna lagi. Kamu semua seharusnya saling membantu dalam mengerjakan kebaktian (kebajikan).

ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ. كَلَّا لَوْ تَعْلَمُوْنَ عِلْمَ الْيَقِيْنِ.

Tsumma kallā saufa ta‘lamūn. Kallā lau ta‘lamūna ‘ilmal yaqīn.

“Kemudian tiadalah kamu seperti itu. Kelak kamu akan mengetahui akibatnya (hasilnya). Janganlah kamu berbuat seperti itu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang meyakinkan.”

(at-Takātsur [102]: 4-5).

Berhentilah menipu diri sendiri. Sebab, seandainya kamu mengetahui hasil-hasil perbuatanmu dengan yakin karena telah melihat sendiri atau berdasarkan pada dalil yang benar, tentulah kamu tidak berlomba-lomba mencari harta, dan memperbanyak pengikut. Sebaliknya, kamu akan mempergunakan waktumu untuk mengerjakan amalan-amalan yang saleh.

لَتَرَوُنَّ الْجَحِيْمَ.

La tarawunnal jaḥīm.

“Demi Allah, sungguh kami akan melihat neraka.”

(at-Takātsur [102]: 6).

Neraka Jaḥīm yang disediakan untuk orang-orang yang melalaikan kebenaran, pasti akan kamu hadapi dan kamu pasti akan melihatnya dengan mata kepalamu sendiri. Oleh karena itu, bayangkan neraka itu selalu di matamu supaya mengingatkan dan mendorong kamu untuk melakukan kebajikan, sehingga kamu terhindar dari masuk neraka Jahannam.

ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِيْنِ.

Tsumma la tarawwunnahā‘ainal yaqīn.

“Kemudian demi Allah, kamu benar-benar akan melihatnya dengan mata yang yakin.”

(at-Takātsur [102]: 7).

Kamu pasti akan melihat neraka dengan mata kepalamu sendiri, sehingga kamu sangat yakin tentang adanya neraka, sebab kamu telah merasakan ‘adzabnya.

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيْمِ

Tsumma latus’alunna yauma’idzin ‘anin na‘īm.

“Kemudian, demi Allah, pada hari kiamat itu kamu pasti akan ditanyai tentang nikmat-nikmat (yang kamu terima).” (22)

(at-Takātsur [102]: 8).

Ketika itu kamu akan ditanya tentang semua nikmat yang kamu banggakan semasa masih di dunia. Kamu akan ditanya, kamu pergunakan apa saja semua nikmat itu? Apakah kamu menjalankan hukum-Nya dalam mempergunakan nikmat-nikmat itu. Jika kamu tidak melakukan yang demikian itu, niscaya nikmat yang kamu peroleh di dunia justru akan merugikan dirimu sendiri. Kamu akan menjadi orang yang sangat merugi.

Diriwayatkan oleh Ibn Abī Ḥātim dari Abū Hurairah, dengan ujarnya: “Surat at-Takātsur diturunkan mengenai dua kabilah Anshār, yaitu Bani Ḥāritsah dan Bani Ḥartsī. Mereka selalu mengagung-agungkan tokoh-tokohnya. Golongan pertama bertanya: “Apakah kamu mempunyai tokoh yang menyerupai Si Anu dan Si Anu?” Golongan kedua yang ditanya justru balik bertanya: “Apakah kamu mempunyai perimbangan dari Si Anu?” Mereka memang selalu membangga-banggakan orang yang masih hidup di antara mereka. Mereka pun mengajak lawannya pergi ke kuburan atau makam. Di makam itu mereka saling bertanya: “Apakah di antara kamu ada tokoh yang menyamai orang yang telah dikebumikan ini?” Pihak lawan pun mengatakan yang sama. Berkenaan dengan hal itu, Allah menurunkan ayat ini.

 

D. KESIMPULAN SURAT

Kebanyakan manusia baru menyadari kesalahannya sesudah menarik napas penghabisan. Manusia pasti akan melihat neraka dengan mata kepalanya sendiri pada hari kiamat nanti. Manusia yang menyalahkgunakan nikmat-nikmat yang diberikan oleh Allah akan diminta pertanggungjawabannya.

Catatan:


  1. 1). Kaitkan dengan QS. al-Ḥadīd [57]: 20, QS. an-Naḥl [16], QS. al-Qiyāmah [75], QS. al-Muzzammil [73]: 11. 
  2. 2). Baca QS. al-Isrā’ [17]: 36. 
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *