Surah an-Nashr 110 ~ Tafsir Ibni ‘Arabi

Tafsir Ibni 'Arabi - Isyarat Ilahi

Dari Buku:
Isyarat Ilahi
(Tafsir Juz ‘Amma Ibn ‘Arabi)
Oleh: Muhyiddin Ibn ‘Arabi

Penerjemah: Cecep Ramli Bihar Anwar
Penerbit: Iiman
Didistribusikan oleh: Mizan Media Utama (MMU)

النَّصْرُ

AN-NASHR

 

Surah ke-110; 3 ayat

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللهِ وَ الْفَتْحُ.

وَ رَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللهِ أَفْوَاجًا.

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَ اسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا.

110:1. Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.

110:2. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong.

110:3. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.

 

Idzā jā’a nashrullāhi wal-fatḥ (Dan apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan – ayat 1). Yang dimaksud dengan pertolongan Allah adalah pertolongan dari alam malakuti dan sokongan dari alam Qudus berupa penampakan nama-nama Tuhan dan sifat-sifat-Nya. Sedangkan yang dimaksud dengan kemenangan (al-fatḥ) adalah kemenangan mutlak yang tidak ada lagi kemenangan sesudahnya. Itulah kemenangan berupa terbukanya pintu “Keesaan di dalam diri-Nya.” (al-aḥadiyah), dan tersingkapnya “Dzat”-Nya setelah menyaksikan-Nya (musyāhadah) di maqam ruh – yang disebut ketersingkapan yang jelas.

Wa ra’ait-an-nās yadkhulūna fī dīn-illāh (dan kamu melihat manusia masuk agama Allah – ayat 2). Yakni mereka masuk ke dalam tauhid, penempuhan jalan lurus berkat pengaruh cahayamu terhadap mereka setelah engkau usai menyempurnakan diri. Mereka masuk berbondong-bondong seolah mereka adalah jiwa yang satu yang memancar dari pancaran zatmu, yang menempati tempat maqam dirimu. Itulah mereka yang dianggap memiliki hubungan yang begitu erat denganmu, sehingga mereka selalu menyatu denganmu dengan menerima limpahan cahaya darimu.

Fasabbiḥ (maka bertasbihlah – ayat 3). Tegasnya, bersihkanlah zatmu dari keterhijaban di dalam maqam hati yang tak lain adalah sumber kenabian, dengan cara memutuskan hubungan dengan badan dan naik ke maqam ḥaqq-ul-yaqīn yang tak lain adalah sumber wilāyah (kewalian). Biḥamdi rabbika (dengan memuji Tuhanmu – ayat 3) Yakni, sambil memuji Tuhanmu dengan menampakkan kesempurnaan-Nya dan sifat-sifat-Nya yang sempurna. Ini dilakukan pada saat engkau membersihkan diri sepenuhnya dari segala sesuatu selain-Nya (tajrīd) dengan puji lakumu. Wastaghfir (dan mohonlah ampun kepada-Nya – ayat 3). Mintalah agar Dzat Tuhanmu meliputi zatmu, seperti halnya dulu engkau berada dalam fanā’ sebelum kembali kepada makhluk selamanya. Innahu kāna tawwābā (Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat – ayat 3). Dia menyambut kepulangan orang yang pulang kepada-Nya dengan ke-fanā’-an di dalam cahaya-Nya.

Setelah agama Islam sempurna dan misi kenabian telah mencapai kemantapan yang menjadi tujuan pokok risalah beliau, maka Allah memerintahkan beliau untuk kembali ke maqam ḥaqq-ul-yaqīn yang tak akan tercapai kecuali dengan kematian. Karena itu ketika ayat ini diturunkan dan dibacakan Rasulullah s.a.w., para sahabat senang berseri-seri, sementara Ibn Abbās menangis. Rasul pun bertanya kepadanya: “Kenapa engkau menangis?” Ibn ‘Abbās menjawab: “ Aku menangkap kabar kematianmu.” Maka rasulullah s.a.w. bersabda: “Sungguh anak ini (Ibn ‘Abbās) telah diberi ilmu yang banyak.

Diriwayatkan pula bahwa ketika ayat ini diturunkan, Rasulullah berkhutbah. Dalam khutbahnya beliau bersabda: “Susungguhnya ketika Allah mempersilakan seorang hamba untuk memilih antara dunia dan pertemuan dengan-Nya, maka seorang hamba itu memilih untuk bertemu dengan-Nya.” Maka Abū Bakar menangkap maksud perkataan beliau, dan Abū Bakar pun berkata: “Kami telah menebusmu dengan jiwa-jiwa kami, harta kami, nenek moyang kami dan anak-anak kami.”

Diriwayatkan dari Abū Bakar bahwa ketika Fāthimah dipanggil oleh Rasulullah s.a.w., Rasul bersabda: “Wahai anakku, aku kabarkan kepadamu tentang kematian diriku”. Lalu Fāthimah menangis. Kemudian Rasul bersabda: “Janganlah engkau menangis, karena engkaulah orang yang pertama kali dari keluargaku akan menyusulku.” Maka Fāthimah pun tersenyum.” Surah ini disebut at-Taudī’ (perpisahan). Diriwayatkan bahwa Nabi hidup dua bulan setelah ayat ini turun, dan ayat ini diturunkan sewaktu haji wadā’.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *