Surah an-Nas 114 ~ Tafsir asy-Syanqithi

Dari Buku:
Tafsir Adhwa’-ul-Bayan
(Tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an
(Jilid 11, Juz ‘Amma)
Oleh: Syaikh asy-Syanqithi

Penerjemah: Ahmad Affandi, Zubaidah Abdurrauf, Kholid Hidayatulullah, Muhammad Yusuf.
Penerbit: PUSTAKA AZZAM

Rangkaian Pos: Surah an-Nas 114 ~ Tafsir asy-Syanqithi
  1. 1.Anda Sedang Membaca: Surah an-Nas 114 ~ Tafsir asy-Syanqithi
  2. 2.Surah an-Nas 114 ~ Tafsir asy-Syanqithi – Bagian 2
  3. 3.Surah an-Nas 114 ~ Tafsir asy-Syanqithi – Bagian 3

SURAH AN-NĀS

AN- NĀS (Manusia)
Surah ke 114: 6 ayat.


Firman Allah s.w.t.:

قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ. مَلِكِ النَّاسِ. إِلهِ النَّاسِ.

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (Yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia.

(an-Nās [114]: 1-3)

Syaikh raḥimahullāh telah melansir surah tersebut pada pembahasan firman Allah: (أَلَّا تَعْبُدُوْا إِلَّا اللهَ، إِنَّنِيْ لَكَمْ مِنْهُ نَذِيْرٌ وَ بَشِيْرٌ) “Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa khabar gembira kepadamu daripada-Nya.” (Hūd [11]: 2).

Beliau berkata tentang ayat tersebut: “Di dalamnya terdapat makna yang jelas, bahwa hikmah terbesar yang diturunkan al-Qur’an adalah, supaya Allah disembah dan tidak dipersekutukan dengan apa pun dalam menyembah-Nya.”

Beliau lalu memaparkan ayat-ayat yang senada dengannya, setelah ini berkata: “Kami telah melansir pembahasan ini pada surah al-Fātiḥah, dan kami akan menyempurnakan pembicaraan tentangnya pada surah an-Nās, supaya yang menjadi penutup kitab yang diberkahi ini adalah kebaikan.”

Dalam lansiran dari beliau ini, mengandung peringatan atas makna-makna yang dikandung surah yang mulia ini, mengandung pengarahan untuk menjaga penutup tersebut, dan mengandung pembebanan tanggungjawab penyempurnaan sehingga tidak cukup dengan apa yang telah beliau sampaikan pada surah al-Fātiḥah dan Hūd, melainkan menyempurnakannya pada surah ini.

Makna penyempurnaan adalah melengkapi sampai batas maksimal.

Saya kira tidak seorang pun sanggup memenuhi apa yang diinginkan orang lain, terutama apa yang diinginkan Syaikh raḥimahullāh dan apa yang beliau sanggupi.

Akan tetapi, sebagaimana kami katakan di awal, ini adalah usaha sekuat tenaga dan semampunya, maka kami memohon pertolongan dan hidayah Allah sambil mengambil petunjuk dengan apa yang telah disampaikan Syaikh raḥimahullāh pada surah al-Fātiḥah dan Hūd. Kemudian kami akan memaparkan sudut pandang kami pada kedua surah tersebut sekaligus, yaitu al-Falaq dan an-Nās.

Adapun lansiran tersebut, yang jelas alasannya adalah, dalam surah ini terhimpun tiga sifat Allah dari sifat-sifat keagungan dan kemuliaan, yaitu Tuhan manusia, Raja manusia, dan Sembahan manusia. Akan tetapi yang pertama diisyaratkan di sini adalah Tuhan Yang Memiliki, yaitu Tuhan Yang Ḥaqq, satu-satunya yang berhak disembah.

Mungkin yang menunjukkan hal tersebut adalah kandungan surah al-Ikhlāsh sebelumnya, yaitu Allah, Tuhan Yang Maha Esa, Allah, Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, dan ini adalah logika yang logis pendapat yang benar, karena konsekuensi raja mengharuskan adanya penghambaan, dan penghambaan mengharuskan adanya penuhanan dan pengesaan dalam ketuhanan, karena hamba sahaya yang dimiliki mewajibkannya taat dan mendengar kepada majikan yang memilikinya, hanya karena ia adalah pemiliknya, sekalipun pemiliknya itu manusia biasa sepertinya. Lalu bagaimana dengan hamba yang dimiliki ole Rabb-nya dan Tuhan-nya? Bagaimana dengan pemilik yang merupakan Tuhan, Yang Maha Esa, yang kepada-Nya bergantung segala sesuatu?

Ketiga sifat tersebut, yaitu Tuhan, Raja, dan Sembahan (الرب), (الملك), dan (الإله), disebutkan pada awal pembukaan mushḥaf: (الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الرَّحْمنِ الرَّحِيْم، مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ) “Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Yang menguasai di Hari Pembalasan.” (al-Fātiḥah [1]: 2-4) Serta qirā’āt lain: (مَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ).

Pada awal surah al-Baqarah terdapat seruan yang ditujukan kepada manusia agar menyembah Allah semata, karena Dia adalah Tuhan mereka, disertai penjelasan alasan-alasannya dalam firman-Nya:

(يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمْ) “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu.” (al-Baqarah [2]: 21).

Allah lalu menjelaskan alasan hal tersebut dengan firman-Nya: (الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ) “Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu.” (al-Baqarah [2]: 21).

(الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَ السَّمَاءَ بِنَاءً وَ أَنْرَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ) “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu.” (al-Baqarah [2]: 22).

Itu semua termasuk dampak dan konsekuensi dari sifat ketuhanan, dan keberkahan-Nya untuk disembah oleh seluruh makhluk-Nya. Allah lalu menjelaskan alasan pengesaan-Nya dalam penyembahan tersebut dengan firman-Nya: (فَلَا تَجْعَلُوْا للهِ أَنْدَادًا وَ أَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ.) “Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (al-Baqarah [2]: 22).

Maksudnya, sebagaimana Dia tidak memiliki tandingan pada penciptaan, pemberian rezeki, dan pada apa pun dari apa yang dapat disebutkan, maka janganlah kamu juga menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah dalam ibadah,  dan anda mengetahui hakikat hal tersebut.

Beribadah hanya kepada Allah dan menafikan tandingan itulah yang dikatakan oleh Syaikh raḥimahullāh sebagai makan (لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ) secara nafi dan itsbāt.

Itsbāt terdapat dalam firman Allah: (اُعْبُدُوْا اللهَ) “Sembahlah Allah oleh kamu semua” dan nafi terdapat dalam firman Allah: (فَلَا تَجْعَلُوْا للهِ أَنْدَادًا) “karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah.”

Keberadaan sifat ketuhanan (Rubūbiyyah) mewajibkan ibadah, yang disebutkan secara gamblang dalam firman Allah s.w.t.: (فَلْيَعْبُدُوْا رَبَّ هذَا الْبَيْتِ. الَّذِيْ أَطْعَمَهُمْ مِّنْ جُوْعٍ وَ آمَنَهُمْ مِّنْ خَوْفٍ) “Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan pemilik rumah ini (Ka‘bah), yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (Quraisy [106]: 3-4).

Isim maushūl dan shillat-nya di sini berada pada makna alasan untuk mewajibkan ibadah, dan akan datang penjelasan tambahannya pada akhir surah.

Di sini datang lafazh (رَبِّ النَّاسِ), dengan menyandarkan kata (الرب) kepada kata (الناس), yang menyiratkan makna pengkhususan, padahal Allah adalah Tuhan semesta alam dan Tuhan segala sesuatu, sebagaimana pada firman-Nya: (الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ) “Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam” (al-Fātiḥah [1]: 2).

(قُلْ أَغَيْرَ اللهِ أَبْغِيْ رَبًّا وَ هُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ.) “Katakanlah: “Apakah aku akan mencari tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu?”.” (al-An‘ām [6]: 164).

Idhāfah di sini adalah kepada sebagian person yang umum.

Terkadang kata (الرب) disandarkan kepada sebagian person/benda lain, seperti langit dan bumi, dan yang lain dari sebagian segala sesuatu, seperti firman-Nya: (قُلْ مَنْ رَبُّ السَّموَاتِ وَ الْأَرْضِ،قُلِ اللهُ.) “Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi? Jawabnya: “Allah”.” (ar-Ra‘d [13]: 16).

(رَبُّ الْمَشْرِقِ وَ الْمَغْرِبِ لَا إِلهِ إِلَّا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيْلًا) “(Dialah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.” (al-Muzzammil [73]: 9).

Terkadang kata (الرب) disandarkan kepada Baitulullah: (فَلْيَعْبُدُوْا رَبَّ هذَا الْبَيْتِ.) “Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan pemilik rumah ini (Ka‘bah)” (Quraisy [106]: 3).

Terkadang kata (الرب) disandarkan kepada al-‘Arsy: (رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيْمِ.) “Tuhan (yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.” (al-Mu’minūn [23]: 116).

Terkadan kata (الرب) disandarkan kepada Rasulullah s.a.w.: (اِتَّبِعْ مَا أُوْحِيَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ) “Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu.” (al-An‘ām [6]: 106).

(وَ رَبُّكَ فَكَبِّرْ) “Dan Tuhanmu, agungkanlah!” (al-Muddatstsir [74]: 3) dan ayat-ayat lainnya.

Akan tetapi, dapat disimpulkan bahwa pada semua idhāfah (penyandaran) itu terdapat makna umum dan dengan idhāfah-Nya pada salah satu hal yang umum, Dia tetap Tuhan semesta alam dan Tuhan segala sesuatu.

Dalam idhāfah-Nya kepada langit dan bumi, datang bersamanya kalimat (قُلِ اللهُ) “Katakanlah: “Allah…” (ar-Ra‘d [13]: 16).

Dalam penyandaran (idhāfah) kepada masyriq dan maghrib, diiringi dengan kalimat: (لَا إِلهِ إِلَّا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيْلًا) “tiada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.” (al-Muzzammil [73]: 9).

Dalam idhāfah kepada Baitullah, diiringi dengan kalimat: (الَّذِيْ أَطْعَمَهُمْ مِّنْ جُوْعٍ وَ آمَنَهُمْ مِّنْ خَوْفٍ) “Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (Quraisy [106]: 4). Maksudnya adalah Allah s.w.t.

Dalam idhāfah kepada tanah haram, diiringi dengan kalimat: (الَّذِيْ حَرَّمَهَا) “Yang telah menjadikannya suci.” (an-Naml [27]: 91). Maksudnya adalah Allah s.w.t.

Dalam idhāfah kepada al-‘Arsy, datang kalimat: (فَتَعَالَى اللهُ الْمَلِكُ الْحَقِّ لَا إِلهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ…) “Maka Maha Tinggi Allah, raja yang sebenarnya; tidak ada tuhan selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) ‘Arsy.” (al-Mu’minūn [23]: 116).

Dalam idhāfah kepada Rasulullah s.a.w. datang kalimat: (مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ) “Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu.” (adh-Dhuḥā [93]: 3).

Juga idhāfah lainnya kepada person apa pun dari person-person umum, datang bersamanya kalimat yang bermakna umum dan menunjukkan bahwa Allah adalah Tuhan semesta alam.

Dalam surah ini kalimat (رَبِّ النَّاسِ) diiringi dengan (مَلِكِ النَّاسِ.) “Raja manusia”. (إِلهِ النَّاسِ) Sembahan manusia.” (an-Nās [114]: 2-3) untuk memberi makna umum juga, karena penyebutan kata (الرب) terkadang bermakna (السيد المطاع) “tuan yang ditaati”, sebagaimana dalam firman Allah s.w.t.: (اِتَّخَذُوْا أَحْبَارَهُمْ وَ رُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُوْنِ اللهِ…) “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.” (at-Taubah [9]: 31).

Juga seperti ucapan Nabi Yusuf kepada temannya di penjara: (اُذْكُرْنِيْ عِنْدَ رَبِّكَ.) “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu.” (Yūsuf [12]: 42). Maksudnya adalah raja (menurut pendapat yang paling kuat). Juga perkataannya: (اِرْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَسْأَلْهُ مَا بَالُ النِّسْوَةِ…) “Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang telah melukai tangannya.” (Yūsuf [12]: 50).

Disebutkanya (الملك) dan (الإله) untuk menunjukkan makna umum ada makna (رَبِّ النَّاسِ). Berarti, Dia adalah Tuhan semesta alam dan Tuhan segala sesuatu. Akan tetapi, idhāfah-Nya di sini khusus kepada (النَّاسِ) menyiratkan pengkhususan lebih dan pemeliharaan Tuhan kepada hamba-Nya yang menyerunya untuk memohon perlindungan dengan-Nya dari musuhnya, sebagaimana di dalamnya juga mengandung penguatan harapan hamba kepada Tuhannya bahwa Dia dengan sifat ketuhanan-Nya akan menjaga hamba-Nya karena kehambaannya serta melindunginnya dari apa yang dia mohon perlindungan dengan-Nya.

Pengkhususan ini memperkuat penyandaran kata (الرب) kepada Rasulullah s.a.w. pada seluruh fasenya sejak dua permulaan, permulaan penciptaan dan permulaan wahyu, dalam firman Allah s.w.t.: (اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ. خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ.) “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.” (al-‘Alaq [96]: 1-2).

Kemudian pada masa pertumbuhannya: (مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَ مَا قَلَى.) “Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu.” (adh-Dhuḥā [93]: 3).

(أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَآوَى. وَ وَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى. وَ وَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَى.) “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.” (adh-Dhuḥā [93]: 6-8).

Allah lalu menjadikan harapan kepada-Nya pada surah sesudahnya: (وَ إِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ) “Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (al-Insyirāḥ [94]: 8).

Perhitungan nikmat-nikmat atasnya dari kelapangan dada, perhilangan beban, dan pengangkatan nama, kemudian terakhir: (إِنَّ إِلَى رَبِّكَ الرُّجْعَى.) “Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu).” (al-‘Alaq [96]: 8).

Firman Allah (مَلِكِ النَّاسِ). Datangnya kalimat (مَلِكِ النَّاسِ) sesudah (رَبِّ النَّاسِ) mengandung tahapan berangsur-angsur dalam peringatan atas makna-makna besar tersebut, dan membawa pindah hamba dari konsep iman kepada Tuhan karena apa yang mereka saksikan dari bekas-bekas sifat ketuhanan pada penciptaan dan pemberian rezeki, serta seluruh benda tersebut, sebagaimana yang lalu pada awal seruan yang ditujukan kepada mereka: (يأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ، الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَ السَّمَاءَ بِنَاءً وَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَّكُمْ ) “Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar bertaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu.” (al-Baqarah [2]: 21-22).

Seluruh bekas yang mereka saksikan sendiri, dan atas dasar mereka mengakui bahwa yang mengadakannya adalah Tuhan mereka, dari sana mereka berpindah ke tingkatan kedua (Raja manusia), yaitu bahwa Tuhannya yang memiliki perbuatan-perbuatan ini adalah Raja-nya dan Dia-lah yang bertindak pada segala ciptaan-Nya itu, Dia-lah yang menguasai urusannya dan seluruh perkaranya, dan Pemilik urusan dunia dan akhirat seluruhnya.

Jika dengan pengakuannya ia telah sampai kepada pemahaman ini, maka dengan sendirinya ia akan mengakui ketuhanan-Nya, yaitu tingkatan terakhir. (إِلهِ النَّاسِ.) maksudnya yang dipertuhan mereka dan disembah mereka, yaitu alasan penciptaan mereka: (وَ مَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَ الْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ) “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (adz-Dzāriyāt [51]: 56).

Dalam idhāfah (الملك) kepada (النَّاس) mengandung makna pengkhususan, padahal Allah s.w.t. adalah Raja segala sesuatu, sama seperti idhāfah (الرب) kepada (النَّاس) yang telah lewat pembahasannya. (قُلِ اللهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَ تَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَ تُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ …) “Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan. Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki.” (Āli ‘Imrān [3]: 26).

(لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ) “Hanya Allah-lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua pujian.” (at-Taghābun [64]: 1).

(لَهُ مُلْكُ السَّموَاتِ وَ الْأَرْضِ) “Kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah.” (al-Baqarah [2]: 107).

(الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ) “Raja Yang Maha Suci.” (al-Ḥasyr [59]: 23).

Allah s.w.t. yang sendirian menguasai, tak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya, sebagaimana firman-Nya: (وَ قُلِ الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَ لَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيْكٌ فِي الْمُلْكِ.) “Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya”.” (al-Isrā’ [17]: 111).

Dia memulai dengan pujian terlebih dahulu.

(فَسُبْحَانَ الَّذِيْ بِيَدِهِ مَلَكُوْتُ كُلِّ شَيْءٍ) “Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu.” (Yāsīn [36]: 83).

Dia memulai dengan menyucikan Diri-Nya karena keumuman kekuasaan, kemutlakan bertindak, dan nafi sekutu. Kekuasaan-Nya adalah kekuasaan bertindak dan mengatur, yang disertai dengan kesempurnaan dalam pujian dan penyucian.

(تَبَارَكَ الَّذِيْ بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ) “Maha Suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (al-Mulk [67]: 1).

Dengan nash-nash ini diketahuilah kesempurnaan kerajaan Allah s.w.t. dan kekurangan kerajaan yang selain-Nya dari raja-raja dunia, dan kita ketahui bahwa kerajaan mereka adalah dengan pengangkatan dari Allah terhadap mereka, sebagaimana dalam firman-Nya:

(وَ اللهُ يُؤْتِيْ مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ) “Dan Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (al-Baqarah [2]: 247).

(قُلِ اللهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَ تَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ…) “Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan. Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki.” (Āli ‘Imrān [3]: 26).

Raja-raja dunia adalah raja politik dan pengayoman, bukan raja yang memiliki dan bertindak, sebagaimana dalam firman Allah:

وَ قَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوْتَ مَلِكًا قَالُوْا أَنّى يَكُوْنُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَ نَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَ لَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ الْمَالِ قَالَ إِنَّ اللهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَ زَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَ الْجِسْمِ وَ اللهُ يُؤْتِيْ مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ وَ اللهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”. Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah [2]: 147).

Hal yang perlu diingatkan dalam konteks ini yaitu, Inggris sampai sekarang masih menghormati sistem kerajaan dengan motif dari keyakinan ini, bahwa tidak ada raja kecuali dengan pengangkatan dari Allah, dan raja-raja dunia adalah dengan pilihan dari Allah s.w.t.

Ayat tersebut mengisyaratkan kepada apa yang sedang kami jelaskan, bahwa raja-raja dunia tidak menguasai urusan rakyat, karena Thalut adalah raja, dan dia tidak menguasai harta benda mereka. Sedangkan kerajaan Allah adalah kerajaan menciptakan, menjadikan, dan bertindak, sebagaimana firman-Nya:

للهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَ الْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُوْرَ. أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَ إِنَاثًا وَ يَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيْمًا إِنَّهُ عَلِيْمٌ قَدِيْرٌ

Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa yang dikehendaki-Nya), dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (asy-Syūrā [42]: 49-50)

(عَلِيْمٌ قَدِيْرٌ) “Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa” di sini termasuk keistimewaan Allah s.w.t. Dia bertindak pada kerajaan-Nya dengan ilmu dan dari kekuasaan yang sempurna. Dia pemilik kerajaan langit dan bumi, menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Hakikat hal tersebut jelas terlihat ketika datang Hari Kiamat, yang setiap kerajaan lenyap, maka setiap raja menjadi hina, dan tak ada yang langgeng kecuali kerajaan Allah s.w.t.:

يَوْمَ هُمْ بَارِزُوْنَ لاَ يَخْفى عَلَى اللهِ مِنْهُمْ شَيْءٌ لِّمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ للهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ

(Yaitu) hari (ketika) mereka keluar (dari kubur); tiada suatu pun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (Lalu Allah berfirman): “Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?” Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” (Ghāfir/Mu’min [40]: 16).

(مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ) “Yang menguasai di Hari Pembalasan.” (al-Fātiḥah [1]: 4).

Dalam qirā’āt lain: (مَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ) “Yang merajai di Hari Pembalasan.”

Kedua qirā’āh tersebut sama-sama menyiratkan perbedaan antara kerajaan Allah dengan kerajaan manusia, seperti perbedaan antara raja mutlak dengan raja keturunan, sebab raja keturunan tidak memiliki, sedangkan raja mutlak Dialah Raja Yang Maha Suci dan di tangan-Nya kerajaan segala sesuatu dan kepada-Nya dikembalikan seluruh makhluk. Siapa pun yang begini sifat-sifatnya, maka Dialah yang pantas disembah dan tidak dipersekutukan seorang pun bersamanya. Inilah semboyan hamba dalam melaksanakan rukun kelima dari rukun-rukun Islam ketika ia mengumandangkan talbiyah: (إِنَّ الْحَمْدَ وَ النِّعْمَةَ لَكَ وَ الْمُلْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ) “Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan, dan kerajaan adalah bagi-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu.”

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *