Surah az-Zalzalah 99 ~ Tafsir al-Jailani

Dari Buku: TAFSIR al-Jaelani
Oleh: Syekh ‘Abdul-Qadir Jaelani
Penerjemah: Abdul Hamid
Penerbit: PT. SAHARA intisains.

Surah ke 99; 8 ayat
Az-Zalzalah
(kegoncangan).

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

 

Pembuka Surah az-Zalzalah.

Orang-orang yang dapat menyingkap kehidupan akhirat yang merupakan tempat perpindahan amal dan balasannya; pasti mengetahui bahwa hikmah ilahiyah yang mendorong diadakannya hal-hal yang maujud dan diciptakannya makhluk, menghendaki agar kehidupan dunia – yang menjadi tempat cobaan dan ujian – mendahului kehidupan akhirat supaya berbagai rahasia taklif Ilahi dan fa’idah dari perintah, larangan, dan hukum-hukum yang turun dari Allah s.w.t. dapat terlihat; dan agar dapat dibedakan antara martabat sifat ketuhanan dengan martabat sifat kehambaan, dan antara posisi ketuhanan dengan yang anggap tuhan.

Setelah hikmah ilahiyah menghendaki kehidupan akhirat berada setelah kehidupan dunia, Allah s.w.t. pun menyebutkan tanda-tanda datangnya kehidupan akhirat dengan berfirman: (بِسْمِ اللهِ) [Dengan menyebut nama Allah] yang mengatur semua urusan hamba-Nya di dua kehidupan ini, (الرَّحْمنِ) [Yang Maha Pemurah] kepada mereka pada saat mereka berada di dunia, di mana Dia menetapkan berbagai macam taklif yang menghasilkan sebaik-baik pahala bagi mereka, (الرَّحِيْمِ) [lagi Maha Penyayang] kepada orang-orang khusus-Nya yang berada di akhirat dengan cara Dia memberikan pahala yang berlimpah kepada mereka.

Ayat 1.

Wahai Rasul yang paling sempurna, peringatkanlah orang yang mendustakan kehidupan akhirat dan mengingkari hari pemeriksaan dan pembalasan, apa yang akan dilakukannya (إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ) [ketika bumi digoncangkan], digelarkan, dan diombang-ambingkan, setelah perintah Allah s.w.t. untuk menggerakkan dan mengombang-ambingkan sudah sampai kepada bumi: (زِلْزَالَهَا) [dengan goncangannya (yang dahsyat)] yang telah ditakdirkan Allah s.w.t. pada saat tiupan sangkakala yang pertama.

Ayat 2.

(وَ) [Dan] setelah bumi bergoncang dan bergerak, (أَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا) [bumi mengeluarkan beban-beban beratnya], yakni harta karun dan kandungannya serta orang-orang mati yang ada di perut bumi.

Ayat 3.

(وَ) [Dan] setelah manusia melihat goncangannya dan kandungan yang dikeluarkannya, (قَالَ الْإِنْسَانُ) [manusia bertanya] dengan penuh kebingungan dan keheranan, (مَا لَهَا) [mengapa bumi (jadi begini)] Maksudnya: apa yang terjadi pada bumi hingga sampai membuatnya bergerak dan bergoncang, padahal esensinya diam dan tidak bergerak sama sekali.

Ayat 4.

Ringkasnya, (يَوْمَئِذٍ) [pada hari itu], dengan adanya ilham dari Allah s.w.t., (تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا) [bumi menceritakan beritanya], yaitu menceritakan perbuatan manusia yang telah dilakukan kepadanya.

Diriwayatkan bahwa suatu hari Abū Hurairah r.a. membacakan ayat: “Pada hari itu bumi menceritakan beritanya” di hadapan Rasulullah s.a.w., lalu beliau bertanya: “Tahukah kalian apa yang diberitakannya?” Para sahabat menjawab: “Allah s.w.t. dan Rasul-Nya-lah yang paling tahu.” Beliau pun berkata: “Yang diberitakannya adalah bahwa ia akan bersaksi di hadapan setiap laki-laki dan perempuan tentang apa yang telah diperbuat oleh manusia di atasnya. Ia akan berkata: “Si fulan telah melakukan ini dan itu kepadaku pada hari ini.” Nah inilah yang akan diberitakannya.” (701).

Ayat 5.

Hal ini terjadi (بِأَنَّ رَبَّكَ) [karena sesungguhnya Rabbmu], wahai Rasul yang paling sempurna, (أَوْحَى لَهَا) [telah memerintahkan kepadanya], mengizinkannya untuk berbicara, dan memberi ilham kepadanya. Maka pada saat itu bumi pun dapat berbicara dan berkata-kata.

Ayat 6.

Ingatlah wahai Rasul yang paling sempurna, bahwa (يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ) [pada hari itu manusia keluar] dan kembali dari tempat pertunjukan dan penghisaban (أَشْتَاتًا) [dalam keadaan yang bermacam-macam] dan berkelompok-kelompok, sesuai dengan posisi mereka dalam penghisaban. Setiap mereka, dengan berbagai macam penampilannya masing-masing, akan (لِّيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ) [diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka]. maksudnya, akan dipersiapkan bagi mereka tempat di surga dan neraka.

Ayat 7.

Singkatnya, (فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةِ خَيْرًا) [barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun], yakni kira-kira sebera semut kecil, (يَرَهُ) [niscaya ia akan melihat (balasan)nya pula] di surga.

Ayat 8.

(وَ مَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةِ شَرًّا يَرَهُ) [Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya pula] di neraka.

Ini adalah ayat yang paling tepat, paling adil, dan paling luas cakupan hukumnya di antara ayat-ayat yang menunjukkan kesempurnaan keadilan Allah s.w.t. Karena itulah Rasulullah s.a.w. bersabda: “Surah az-Zalzalah sebanding dengan setengah al-Qur’an, Surah al-Ikhlāsh sebanding dengan sepertiganya, dan surah al-Kāfirūn sebanding dengan seperempatnya.” (712).

 

Penutup Surah az-Zalzalah.

Wahai orang yang sedang berjalan menuju Allah s.w.t., kamu harus mempersiapkan dan membekali dirimu dengan berbagai macam amal shaleh dan menjauhi amal-amal buruk agar kamu diperlihatkan balasan yang paling baik, dan balasan itu semakin bertambah banyak sesuai dengan keikhlasan dan kekhusyu‘anmu dalam menjalankan amalan baik tersebut. Kamu harus menjadikan kandungan ayat ini senantiasa berada di hadapanmu, dalam semua keadaan dan perbuatan yang kamu lalui, supaya kamu berada dalam keadaan terus berdzikir dan memahami secara sempurna pahala yang dihasilkan dari amal perbuatanmu.

Semoga Allah s.w.t. memasukkan kita dalam golongan orang-orang yang senantiasa mengingat dan mengerjakan perintah-Nya.

Catatan:


  1. 70). Lihat at-Tāj-ul-Jami‘ lil-Ushūli fī Ahādits-ir-Rasūl, nomor: 6276, dari Ibnu ‘Abbās r.a. Hadits ini juga dikeluarkan oleh at-Tirmidzī. 
  2. 71). H.R. al-Ḥakīm dari Ibnu ‘Abbās r.a. dengan redaksi: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Surah az-Zalzalah sebanding dengan setengah al-Qur’an, surah al-Ikhlāsh sebanding dengan sepertiganya, dan surah al-Kāfirūn sebanding dengan seperempatnya.” Ia mengatakan bahwa sanad hadits ini shaḥīḥ meskipun tidak dikeluarkan oleh al-Bukhārī dan Muslim. Lihat al-Mustadrak [5/754, nomor: 2078, bab: Keutamaan Surah dan Ayat yang Terpisah-pisah], at-Tirmidzī [5/166, nomor: 2894, bab: tentang surah az-Zalzalah], ‘Abd-ur-Razzāq dalam al-Mushannaf [3/372, nomor: 6008, bab: Mempelajari al-Qur’an dan Keutamaannya]. Hanya saja ‘Abd-ur-Razzāq, dalam riwayatnya, tidak menyebutkan keutamaan surah al-Ikhlāsh ini. Namun tentang keutamaan surah al-Ikhlāsh sendiri hadits telah disebutkan dalam ash-Shaḥīhḥin. Lihat Shaḥīḥ al-Bukhārī dengan beberapa riwayat [4/1915-1916] dan [6/2449-2685, hadits nomor: 4726, 4727, 6267, 6939, bab: Keutamaan Surah al-Ikhlāsh], Shaḥīḥ Muslim [1/556-557, hadits nomor 811-812, bab: Keutamaan Membaca Surah al-Ikhlāsh] dan perawi-perawi lainnya dari para penulis kitab as-Sunan dan al-Musnad. Al-Manawī bahkan mengklaim kalau hadits ini telah mencapai derajat mutawātir. Lihat Faidh-ul-Qādir [4/520]. 
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *