Surah al-Mursalat 77 ~ Tafsir asy-Syanqithi (2/2)

Dari Buku:
Tafsir Adhwa’-ul-Bayan
(Tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an
(Jilid 11, Juz ‘Amma)
Oleh: Syaikh asy-Syanqithi

Penerjemah: Ahmad Affandi, Zubaidah Abdurrauf, Kholid Hidayatulullah, Muhammad Yusuf.
Penerbit: PUSTAKA AZZAM

Rangkaian Pos: Surah al-Mursalat 77 ~ Tafsir asy-Syanqithi
  1. 1.Surah al-Mursalat 77 ~ Tafsir asy-Syanqithi (1/2)
  2. 2.Anda Sedang Membaca: Surah al-Mursalat 77 ~ Tafsir asy-Syanqithi (2/2)

Firman Allah s.w.t.:

أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ كِفَاتًا. أَحْيَاءً وَ أَمْوَاتًا.

77:25. Bukankah Kami menjadikan bumi (tempat) berkumpul,
77:26. Orang-orang hidup dan orang-orang mati?
(al-Mursalāt [77]: 25-26)

 

Syaikh raḥimahullāh telah terlebih dahulu memaparkan hal ini dalam firman-Nya: (الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ مَهْدًا) “(Tuhan) yang telah menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu.” (Thāhā [20]: 53).

(الكفات) adalah tempat berkumpul.

Al-kiftu adalah tempat pengumpulan makhluk hidup yang ada di atas permukaan bumi, dan yang mati di dalam perutnya (terkubur), sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: (وَ فِيْهَا نُعِيْدُكُمْ) “Dan kepadanyalah Kami akan mengembalikan kamu.” (Thāhā [20]: 55).

Telah digabungkan dua makna sekaligus dalam firman-Nya Allah ta‘ala: (وَ اللهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ نَبَاتًا، ثُمَّ يُعِيْدُكُمْ فِيْهَا وَيُخْرِجُكُمْ اِخْرَاجًا) “Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah, tumbuh (berangsur-angsur), kemudian Dia akan mengembalikan kamu ke dalamnya (tanah) dan mengeluarkan kamu (pada Hari Kiamat) dengan pasti.” (Nūh [71]: 17-18).

 

Firman Allah s.w.t.:

اِنْطَلِقُوْا إِلَى مَا كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُوْنَ.

77:29. (Dikatakan kepada mereka pada hari Kiamat): “Pergilah kamu mendapatkan adzab yang dahulunya kamu mendustakannya.”
(al-Mursalāt [77]: 29)

 

Hal ini dijelaskan setelah firman-Nya: (انطَلِقُوْا إِلَى ظِلٍّ ذِيْ ثَلَاثِ شُعَبٍ. لَا ظَلِيْلٍ وَ لَا يُغْنِيْ مِنَ اللَّهَبِ. إِنَّهَا تَرْمِيْ بِشَرَرٍ كَالْقَصْرِ. كَأَنَّهُ جِمَالَتٌ صُفْرٌ.) “Pergilah kamu mendapatkan naungan (asap api neraka) yang mempunyai tiga cabang, yang tidak melindungi dan tidak pula menolak nyala api neraka.” Sesungguhnya neraka itu melontarkan bunga api sebesar dan setinggi istana, seolah-olah iringan unta yang kuning.” (al-Mursalāt [77]: 30-33)

Artinya adalah Neraka Jahannam.

Allah ta‘ala  telah menjelaskan di tempat lain bahwa mereka akan didorong sekaligus: (يَوْمَ يُدَعُّوْنَ إِلَى نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا) “Pada hari (ketika) itu mereka didorong ke Neraka Jahannam dengan sekuat-kuatnya.” (ath-Thūr [52]: 13).

 

Firman Allah s.w.t.:

هذَا يَوْمُ لَا يَنْطِقُوْنَ

77:35. Ini adalah hari yang mereka tidak berbicara (pada hari itu).
(al-Mursalāt [77]: 35)

 

Naskah ini menyatakan bahwa mereka tidak dapat berbicara pada hari itu, sekalipun mereka dapat berbicara dan mampu menjawab apa yang ditanyakan, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: (وَقِفُوْهُمْ إِنَّهُمْ مَسْئُوْلُوْنَ) “Tahanlah mereka (di tempat perhentian), sesungguhnya mereka akan ditanya.” (ash-Shaffat [37]: 24)

(فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ يَتَلَاوَمُوْنَ.) “Lalu mereka saling berhadapan dan saling menyalahkan.” (al-Qalam [68]: 30).

(وَ وَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ بِمَا ظَلَمُوْا فَهُمْ لَا يَنْطِقُوْنَ) “Dan berlakulah perkataan (janji adzab) atas mereka karena kezhaliman mereka, maka mereka tidak dapat berkata.” (an-Naml [27]: 85).

Bentuk jama‘ tersebut telah dijelaskan melalui referensi yang terdapat dalam Daf‘u Iham-il-Idhthirāb tentang surah al-Mursalāt ini, sebab hal tersebut terdapat di beberapa kondisi dan tempat.

 

Firman Allah s.w.t.:

كُلُوْا وَ اشْرَبُوْا هَنِيْئًا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ.

77:43. “(Katakan kepada mereka): “Makan dan minumlah dengan rasa nikmat sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan.”
(al-Mursalāt [77]: 43)

 

Ayat tersebut menerangkan bahwa perbuatan mereka di dunia yang menyebabkan mereka mendapatkan kenikmatan surga di akhirat.

Ayat yang serupa disebutkan dalam firman-Nya: (وَ نُوْدُوْا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُوْرِثْتُمُوْهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ) “Diserukan kepada mereka: “Itulah surga yang telah diwariskan kepadamu, karena apa yang telah kamu kerjakan.”” (al-A‘rāf [7]: 43).

Disebutkan dalam hadits:

لَنْ يَدْخُلَ أَحُدُكُمُ الْجَنَّةَ بِعَمَلِهِ.

Salah seorang di antara kalian tidak akan masuk surga karena amal perbuatannya.” (2841)

Hadits tersebut tidak bertentangan dengan kedua naskah tersebut, karena masuk surga melalui karunia dan keutamaan dari Allah, baru setelah itu mendapatkan warisan. Surga memiliki beberapa tingkatan.

Dengan demikian, bersenang-senang disebabkan amal perbuatan. Semua itu berkolaborasi dalam karunia yang diberikan Allah kepada mereka, yaitu masuk ke dalam surga, lalu setelah masuk mereka mendapatkan beberapa perbedaan tingkatan berdasarkan amal perbuatan.

 

Firman Allah s.w.t.:

إِنَّا كَذلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنيْنَ.

77:44. Sesungguhnya, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
(al-Mursalāt [77]: 44)

 

Pada ayat sebelumnya Allah ta‘ala berfirman: (بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ.) “dari apa yang telah kamu kerjakan.” (al-Mursalāt [77]: 43).

Di sini Allah berfirman: (نَجْزِي الْمُحْسِنيْنَ.) “Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” Tidak mengatakan: “Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang melakukan amal perbuatan”, sebab hal tersebut sudah diketahui, bahwa yang dimaksud dengan balasan adalah kebaikan yang datang akibat melakukan amal perbuatan, bukan semata-mata amal perbuatan. Telah terdahulu dipaparkan bahwa tujuan merupakan bagian dari taklif. Sebenarnya taklif adalah kebaikan dalam melakukan perbuatan: (تَبَاركَ الَّذِيْ بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَ الْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَ هُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ) “Maha Suci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (al-Mulk [67]: 1-2).

Syaikh raḥimahullāh telah memaparkan terlebih dahulu penjelasan ayat tersebut dalam firman-Nya: (إِنَّا جَعْلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِيْنَةً لَهَا لَنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا) “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami menguji mereka, siapakah di antaranya yang terbaik perbuatannya.” (al-Kahfi [18]: 7)

 

Firman Allah s.w.t.:

وَ إِذَا قِيْلَ لَهُمُ ارْكَعُوْا لَا يَرْكَعُوْنَ.

77:48. Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ruku‘lah,” mereka tidak mau ruku‘.
(al-Mursalāt [77]: 48)

 

Ayat tersebut merupakan bagian dari tanda-tanda yang menyatakan bahwa orang-orang kafirlah yang mendapatkan kecaman tersebut, karena telah meninggalkan beberapa bagian dan cabang. Pemaparan tentang penjelasan hal tersebut telah seringkali diutarakan, dan yang terpenting di sini adalah mengenai beberapa cabang yang sering kali disebutkan, yaitu shalat. Hal itu telah ditegaskan, bahwa shalat merupakan tiang agama.

 

Firman Allah s.w.t.:

فَبِأَيِّ حَدِيْثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُوْنَ

77:50. Maka kepada ajaran manakah (selain al-Qur’an) ini mereka akan beriman?
(al-Mursalāt [77]: 50)

 

Maksudnya, sesudah al-Qur’an ini, yang telah membahas beberapa bukti, tanda, serta nasihat, seperti firman-Nya: (فَبِأَيِّ حَدِيْثٍ بَعْدَ اللهِ وَ آيَاتِهِ يُؤْمِنُوْنَ) “Maka dengan perkataan mana lagi mereka akan beriman setelah Allah dan ayat-ayatNya.” (al-Jātsiyah [45]: 50).

Allah ta‘ala telah menerangkan bahwa Ia telah menurunkan perkataan yang paling baik sebagai petunjuk, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: (اللهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيْثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُوْدُ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِيْنُ جُلُوْدُهُمْ وَ قُلُوْبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللهِ. ذلِكَ هُدَى اللهِ يَهْدِيْ بِهِ مَنْ يَشَاءُ) “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur’an yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gementar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (az-Zumar [39]: 23).

Ibnu Katsir telah menyebutkan dalam tafsirnya dari Ibnu Abi Hatim hingga kepada perawi Abu Hurairah: Apabila membaca ayat: (وَ الْمُرْسَلَاتِ عُرْفًا.) “Demi (malaikat-malaikat) yang diutus untuk membawa kebaikan,” (al-Mursalāt [77]: 1) Lalu ia membaca: (فَبِأَيِّ حَدِيْثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُوْنَ) “Maka kepada ajaran manakah (selain al-Qur’an) ini mereka akan beriman?” (al-Mursalāt [77]: 50). Jadi, hendaklah ia mengucapkan: “Aku beriman kepada Allah dan kepada apa yang telah Dia turunkan.” (2852).

Dalam surah al-Qiyāmah telah disebutkan dari Abu Daud (2863) dan Ahmad (2874) beberapa hadits melalui beberapa jalur, bahwa Nabi s.a.w. bersabda:

مَنْ قَرَأَ فِيْ سُوْرَةِ الْإِنْسَانِ: (أَلَيْسَ ذلِكَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يُحْيِيَ الْمُوْتَى) قَالَ: سُبْحَانَكَ، اللَّهُمَّ فَبَلَى، وَ إِذَا قَرَأَ سُوْرَةَ التِّيْنِ فَانْتَهَى إِلَى قَوْلِهِ: (أَلَيْسَ اللهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِيْنَ) فَلْيَقُلْ: بَلَى، وَ أَنَا عَلَى ذلِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ. وَ مَنْ قَرَأَ: (وَ الْمُرْسَلَاتِ)، فَبَلَغَ (فَبِأَيِّ حَدِيْثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُوْنَ) فَلْيَقُلْ: آمَنَّا بِاللهِ.

Barang siapa membaca surah al-Insan – dan sampai pada ayat: “Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?” maka – hendaklah – ia mengucapkan: Maha Suci Engkau, ya Allah, ya benar.” Dan apabila membaca surah at-Tin, hingga selesai dan sampai pada firman Allah: “Bukankah Allah Hakim Yang Paling Adil?” Maka hendaklah ia mengucapkan: “Ya, dan aku termasuk orang-orang yang menyaksikan atas yang demikian itu.” Dan barang siapa membaca ayat al-Mursalat dan sampai pada ayat: “Maka kepada ajaran manakah (selain al-Qur’an) ini mereka akan beriman?” maka hendaklah mengucapkan: “Kami beriman kepada Allah.

Sesungguhnya kami mengatakan: Kami beriman kepada Allah, sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah s.a.w. kepada kami.

 

Sampai di sini akhir jilid delapan (teks asli dalam Bahasa Arab) bagian dari kitab al-Adhwa.

Ini menjadi bagian pertama dari bagian penyempurnaan, dari permulaan surah al-Hasyr hingga akhir surah al-Mursalāt, dan dimulai dari surah an-Naba’ hingga akhir surah an-Nās. Pengarangnya adalah ‘Athiyyah Muhammad Salim, murid Syaikh raḥimahullāh.

Akan dilanjutkan dengan jilid kesembilan, yaitu Daf‘u Iham-il-Idhthirābi ‘An Āyāt-il-Kitāb dan risalah Man‘-ul-Majāz ‘An-il-Munzil Litta‘abudi wal-I‘jāz karya Syaikh Muhammad Amin raḥimahullāh, serta daftar isi untuk beberapa pembahasan tentang fikih ketika disebutkan pada beberapa sisi yang terpisah dari pengumpulan kitab. Lalu dilanjutkan dengan terjemahan karya Syaikh raḥimahullāh, sebab kedua kitab tersebut ditulis dengan goresan pena sang murid, yaitu ‘Athiyyah Muhammad Salim.

Hanya kepada Allah kami memohon agar semua itu dapat bermanfaat dan dijadikan lembaran yang baik bagi semua orang yang ikut serta dalam memprosesnya dan memperlihatkannya, karena hanya Dia Yang Maha Mendengar lagi Maha Menjawab.

Shalawat dan salam ditujukan kepada pemimpin dan Nabi kami, Nabi Muhammad s.a.w., serta keluaga dan sahabat beliau.

 

1 Muharram, 1397 H.

‘Athiyyah Muhammad Salim.

Catatan:

  1. 284). Takhrīj-nya telah dijelaskan sebelumnya.
  2. 285). Tafsir (4/462).
  3. 286). Pembahasan tentang shalat (no. 887).
  4. 287). Al-Musnad (2/249.
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *