Surah al-Muddatstsir 74 – Tafsir Ayat (Bag 4) ~ Tafsir ash-Shabuni

Dari Buku: SHAFWATUT TAFASIR
(Tafsir-tafsir Pilihan)
Jilid 5 (al-Fath – an-Nas)
Oleh: Syaikh Muhammad ‘Ali ash-Shabuni
Penerjemah: KH.Yasin
Penerbit: PUSTAKA AL-KAUTSAR.

Rangkaian Pos: Surah al-Muddatstsir 74 ~ Tafsir ash-Shabuni

Tafsīr Ayat (Bagian 4)

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya”; setiap jiwa tergantung perbuatannya di sisi Allah dengan usahanya. Ia tidak dilepaskan, sampai hak orang lain dan hukuman ditunaikan padanya. “kecuali golongan kanan”; kecuali kelompok orang yang beruntung dan mu’min. Mereka melepaskan diri dan membebaskannya dari siksa berkat keimanan dan ketaatan kepada Allah. “berada di dalam surga, mereka tanya menanya tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa”; mereka di dalam surga dan kebun yang indah dan menakjubkan tiada terkira. Sebagian dari mereka bertanya kepada yang lain mengenai orang-orang berdosa yang ada di neraka. Pertanyaan ini untuk mempermalukan dan mencela serta memperdalam penderitaan ke dalam jiwa mereka. Golongan kanan bertanya kepada mereka: “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)”; apakah yang menyebabkan kalian masuk ke neraka Saqar dan merasakan panasnya? Dalam al-Baḥr-u-Muḥīth disebutkan, pertanyaan ini untuk menghinakan dan mencela, sebab mereka tahu apa yang menyebabkan mereka masuk neraka. (8171).

Mereka menjawab: Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat”; para pelaku dosa itu menjawab: Kami tidak termasuk orang yang shalat karena Allah selama di dunia. “dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin”; dan kami tidak bersedekah dan berbuat baik kepada kaum fakir miskin. Ibnu Katsīr berkata: “Maksud jawaban mereka; kami tidak menyembah Tuhan kami dan kami tidak berbuat baik kepada makhluk.” (8182) “dan adalah kami membicarakan yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya”; kami berbicara mengenai kebatilan beserta orang-orang yang sesat dan durhaka. Kami bersama mereka terjerumus ke dalam hal yang tidak layak bersama mereka. Dalam at-Tasḥīl disebutkan, yakni banyak bicara hal yang tidak berguna berupa kebatilan dan sejenisnya. (8193) “dan adalah kami mendustakan hari pembalasan”; kami mendustakan hari kiamat, pembalasan dan kehidupan akhirat. Perihal pendustaan mereka terhadap hari kiamat yang diakhirkan dalam ayat ini adalah untuk mengagungkannya. Ini dosa mereka yang paling fatal dan buruk. “hingga datang kepada kami kematian”; sampai kematian datang kepada kami, sedangkan kami berada dalam kesesatan dan kemungkaran.

Allah berfirman mengomentari pengakuan mereka atas kejahatan mereka sendiri. “Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat dari orang-orang yang memberikan syafaat”; mereka tidak mempunyai pemberi syafaat yang menyelamatkan mereka dari siksa Allah. Seandainya penghuni bumi memberikan syafaat kepada mereka, maka syafaat itu tidak diterima. Ibnu Katsīr berkata: “Barang siapa memiliki sifat-sifat (dosa-dosa) tersebut, maka syafaat pada hari kiamat tidak berguna baginya. Sebab, syafaat hanya berguna jika yang diberi syafaat memenuhi syarat menerimanya. Adapun orang yang kembali kepada Allah dalam keadaan kafir, dia kekal di neraka.” (8204).

Setelah menyebutkan keburukan dan kejahatan mereka, Allah kembali mencela dan mempermalukan mereka. Allah berifirman: “Maka mengapa mereka berpaling dari peringatan (Allah)”; kenapa orang-orang kafir itu berpaling dari al-Qur’ān, terhadap ayat-ayatnya dan isinya yang berupa nasihat, petuah dan arahan? “seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut”; seolah orang-orang kafir itu keledai liar yang lari dari al-Qur’ān. “lari dari singa”; melarikan diri dari singa karena sangat takut. Dalam al-Baḥr-u-Muḥīth disebutkan, Allah menyerupakan mereka dengan keledai liar untuk menghinakan mereka. (8215) Ibnu ‘Abbās berkata: “Keledai liar jika melihat singa, ia lari. Demikian juga orang-orang kafir itu, jika melihat Muḥammad, mereka melarikan diri darinya seperti keledai lari dari singa. (8226) “Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka”; malah tiap orang dari orang-orang jahat itu berharap supaya diturunkan kitab dari Allah kepadanya, sebagaimana kitab diturunkan kepada Muḥammad. Ia ingin wahyu diturunkan kepadanya, sebagaimana wahyu turun kepada para rasul. Tujuan ayat ini ingin menjelaskan parahnya kesesatan mereka. Seolah Allah berfirman: “Janganlah kamu mengingat berpalingnya dan larinya mereka sebagaimana larinya keledai dari sesuatu yang menyebabkan mereka bahagia. Dengarkan apa yang lebih aneh dan mengherankan, di mana setiap orang dari mereka berharap menjadi rasul yang diberi wahyu. Mustahil orang-orang sesat itu mencapai tingkatan para nabi.

Kemudian Allah berfirman: “Sekali-kali tidak. Sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat”; hendaknya mereka menghentikan harapan seperti itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang tidak beriman kepada hari kebangkitan dan perhitungan, nikmat dan siksa di akhirat. Hal ini merusak dan menjadikan mereka berpaling dari nasihat-nasihat al-Qur’ān. “Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya al-Qur’ān itu adalah peringatan”; Allah mengulangi larangan terhadap mereka al-Qur’ān ini adalah nasihat yang sempurna. Sudah mencukupi seandainya mereka ingin kebahagiaan untuk diri mereka sendiri. “Maka barang siapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya”; barang siapa ingin kebaikan maka dia mampu menerima nasihat dari isi al-Qur’ān dan memperoleh manfaat dari petunjuknya. “Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran daripadanya, kecuali (jika) Allah menghendakinya”; namun mereka tidak akan mampu memperoleh taufik untuk mengambil nasihat dari al-Qur’ān, kecuali jika Allah menghendaki. Ayat ini mengandung hiburan bagi Nabi s.a.w. dan mengistirahatkan hati beliau dari kesedihan karena mereka berpaling dan mendustakan: “Dia adalah Tuhan Yang patut (kita) bertaqwa kepada-Nya dan berhak memberi ampun”; kita layak bertaqwa kepada Allah karena siksa-Nya berat dan Dia berhak mengampuni dosa karena Dia pemurah dan luas rahmat-Nya. Al-Alūsī berkata: “Maksudnya, Allah layak untuk ditakuti siksa-Nya dan layak ditaati. Allah juga layak untuk mengampuni hamba yang beriman dan taat kepada-Nya.” (8237) Dalam hadits riwayat Anas disebutkan, bahwa Nabi s.a.w. membaca ayat: “Dia adalah Tuhan Yang patut (kita) bertaqwa kepada-Nya dan berhak memberi ampun.” Lalu beliau bersabda: “Tuhan kalian berfirman: Aku layak untuk ditakuti. Maka barang siapa takut kepada-Nya, lalu tidak menjadikan tuhan bersama-Ku, maka Aku layak untuk mengampuninya.” (8248).

Catatan:


  1.  817). Al-Baḥr-ul-Muḥīth, 8/380. 
  2.  818). Mukhtasharu Ibni Katsīr, 3/573. 
  3.  819). At-Tasḥīl, 4/162. 
  4.  820). Mukhtasharu Ibni Katsīr, 3/573. 
  5.  821). Al-Baḥr-ul-Muḥīth, 8/380. 
  6.  822). At-Tafsīr-ul-Kabīr, ar-Rāzī, 30/212. 
  7.  823). (Rūḥ-ul-Ma‘ānī ?????), 29/135. 
  8.  824). Diriwayatkan Aḥmad dan Tirmidzī dan dia meng-ḥasan-kannya. 

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *