Surah al-Muddatstsir 74 – Tafsir Ayat (Bag 1) ~ Tafsir ash-Shabuni

Dari Buku: SHAFWATUT TAFASIR
(Tafsir-tafsir Pilihan)
Jilid 5 (al-Fath – an-Nas)
Oleh: Syaikh Muhammad ‘Ali ash-Shabuni
Penerjemah: KH.Yasin
Penerbit: PUSTAKA AL-KAUTSAR.

Rangkaian Pos: Surah al-Muddatstsir 74 ~ Tafsir ash-Shabuni

Tafsīr Ayat (Bagian 1)

Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan!”; hai orang yang menutupi dirinya dengan selimutnya dan menginginkan tidur dan beristirahat, bangunlah kamu dari tempat tidurmu dengan keteguhan dan keyakinan. Peringatan umat manusia dari siksa Allah jika mereka tidak beriman. Nabi Muḥammad s.a.w. dipanggil dengan redaksi “Hai orang yang berselimut” untuk menghibur dengan kelembutan kepada beliau. Sebagaimana beliau dipanggil dengan “hai orang yang berselimut” pada surat sebelumnya. Ulama tafsir berkata: “Nabi s.a.w. melakukan ibadah di gua Hirā’. Lalu, Jibril mendatangi beliau dengan menurunkan ayat di awal Sūrat-ul-‘Alaq: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.” (al-‘Alaq: 1) dan inilah al-Qur’ān yang pertama kali turun. Nabi s.a.w. kembali pulang dengan hati bergetar. Lalu, bersabda kepada Khadijah: “Selimutilah aku, selimutilah aku.” Lalu, turunlah Sūrat-ul-Muzzammil: “Hai orang yang berselimut (Muḥammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (darinya).” (al-Muzzammil: 1-2). Kemudian wahyu tidak kunjung turun, sampai Nabi s.a.w. sedih. Ketika sedang berjalan, Nabi mendengar sebuah suara dari langit. Lalu, beliau mendongakkan kepala. Ternyata malaikat yang mendatangi beliau di gua dulu duduk di atas sebuah kursi di antara langit dan bumi. Pemandangan itu membuat beliau takut dan terkejut. Lalu, beliau mendatangi keluarganya dan bersabda: “Selimuti aku, selimutilah aku.” (7821) Maka Allah menurunkan ayat: “Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan!” Al-Qurthubī berkata: “Panggilan ini mengandung sikap lemah lembut kepada Nabi Muḥammad s.a.w. dari Allah kepada kekasih-Nya. Allah memanggil beliau dengan sifat beliau (yang sedang berselimut) dan tidak memanggilnya dengan “Hai Muḥammad” untuk mempertegas kelembutan-Nya. Hal ini sama dengan panggilan Nabi s.a.w. kepada Ḥudzaifah bin al-Yaman r.a. pada saat perang Khandaq: “Bangunlah hai Naumān (orang yang banyak tidur).” (7832).

dan Tuhanmu agungkanlah”; agungkanlah Tuhanmu dan khususkanlah Dia dengan kesucian serta keagungan, sebab tidak ada yang lebih agung daripada Allah. Al-Alūsī berkata: “Maknanya, khususkan pengagungan hanya kepada Tuhanmu, kamu menyifati-Nya dengan kebesaran dan keagungan, baik dalam keyakinan maupun ucapan.” (7843) Kalimat ini disebutkan setelah perintah untuk memberi peringatan. Hal ini untuk mengingatkan agar Nabi s.a.w tidak usah bersedih dan takut kepada orang kafir. Sebab, ubun-ubun seluruh makhluk ada di tangan-tangan Allah Yang Maha Perkasa. Maka seyogyanya Nabi s.a.w. tidak mempedulikan siapapun di antara makhluk dan tidak takut selain kepada Allah. Sebab, segala yang besar tetap berada di bawah keagungan Allah dan kebesaran-Nya. “dan pakaianmu bersihkanlah”; bersihkanlah pakaianmu dari najis dan hal yang menjijikkan, sebab mu’min itu bersih dan harum. Dia tidak layak membawa najis. Ibnu Zaid berkata: “Orang-orang kafir tidak pernah bersuci. Karena itu, Allah menyuruh Nabi s.a.w. untuk bersuci dan mensucikan pakaian.” (7854) Ibnu ‘Abbās berkata: “Yang dimaksud Allah dengan pakaian di sini adalah hati. Maksudnya, bersihkan hatimu dari dosa dan maksiat.” Ibnu ‘Abbās mengatakan demikian dengan dasar syair Ghayalān:

وَ إِنِّيْ بِحَمْدِ اللهِ لَا ثَوْبَ فَاجِرٍلَبِسْتُ وَ لَا مِنْ غَدْرَةٍ أَتَقَنَّعُ

Dengan puji Allah, kami tidak memakai pakaian (hati) orang jahat

Dan tidak bercadar dengan pengkhianatan.” (7865).

Jika bangsa ‘Arab berkata: “Fulan suci dan bersih pakaian.” Maksud mereka bersih dari aib dan sifat tercela. Mereka mengatakan: Fulan kotor pakaiannya, maksudnya, bersifat tercela. Ini disebut kināyah (sindiran atau ungkapan). Ar-Rāzī berkata: “Penyebab indahnya kināyah ini adalah pakaian bagaikan sesuatu yang selalu ada pada manusia. Itulah sebabnya mereka menjadikan pakaian sebagai kināyah dari manusia. Lalu, mereka mengatakan: Keagungan ada di pakaiannya dan kehormatan ada di sarungnya. (7876).

dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah”; tinggalkanlah penyembahan berhala dan janganlah kamu mendekatinya. Ibnu Zaid berkata: “Yang dimaksud berhala di sini adalah berhala yang disembah oleh bangsa ‘Arab. Allah menyuruh Nabi s.a.w. untuk menjauhinya, tidak menghampiri dan tidak mendekatinya.” (7887) Imām ar-Rāzī berkata: “Yang dimaksud “rujza” adalah benda buruk yang menjijikkan, seperti najis.” Allah berfirman: “Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu.” (al-Ḥajj: 30). Firman “dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah” adalah firman yang menghimpun segala bentuk akhlak yang mulia. Seakan Allah berfirman kepada Nabi s.a.w. “Tinggalkanlah sifat kasar, bodoh dan segala hal yang buruk. Janganlah kamu berakhlak seperti akhlak orang-orang kafir. Yang dimaksudkan meninggalkan adalah meninggalkan secara konsisten dan berkesinambungan. Sebagaimana muslim yang membaca: “Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.” (al-Fātiḥah: 5). Bukan berarti dia menyimpang dari jalan yang lurus. Namun yang dimaksud adalah tetapkanlah kami atas jalan yang lurus.” (7898).

dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak”; janganlah kamu memberikan sesuatu kepada orang lain dan menganggapnya banyak. Sebab seorang dermawan menganggap sedikit apa yang dia berikan, meskipun banyak.” (7909) Berilah sebagaimana memberi orang yang tidak takut melarat. Ibnu ‘Abbas berkata: “Maksud ayat ini, janganlah kamu memberi sesuatu dengan menginginkan sesuatu yang lebih baik. (79110) Janganlah kamu memberikan sesuatu agar kamu diberi sesuatu yang lebih banyak. Hikmah larangan ini adalah agar pemberian itu bersih dari menantikan dan menunggu pengganti. Ini agar pemberian itu sebagai bentuk ‘iffah (menjaga harga diri) dan kesempurnaan dalam memberi. Sebab, Nabi s.a.w. diperintah beretika paling sempurna dan berakhlak paling mulia. “Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah”; bersabarlah kamu atas gangguan kaummu demi meraih ridha Tuhanmu.

Kemudian Allah menjelaskan prahara hari kiamat dan petakanya. “Apabila ditiup sangkakala”; jika sangkakala ditiup untuk membangkitkan dari kubur. Tiupan sangkakala dijelaskan dengan redaksi “nuqira fin-nāqūr” untuk menunjukkan betapa besarnya prahara saat itu. Makna “nāqūr” adalah suara. Jika suara itu mengeras maka akan semakin menakutkan dan mengagetkan. Seolah Allah berfirman: “Bersabarlah kamu atas gangguan mereka. Sebab, mereka akan menghadapi hari menakutkan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka karena mengganggu. Dan, kamu hai Muḥammad akan menerima pahala akibat kesabaranmu.” Itulah sebabnya Allah berfirman selanjutnya: “maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit”; hari itu adalah hari yang berat dan menakutkan, besar praharanya dan sulit bagi mereka. Penggunaan kata tunjuk “dzālika” (itu) di sini untuk objek jauh. Ini untuk menunjukkan, bahwa kedahsyatan hari itu sangat menakutkan dan mengerikan.” (79211) “bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah”; hari itu sulit bagi orang kafir, tidak mudah bagi mereka. Sebab, mereka persulit dalam perhitungan ‘amal. Wajah mereka menghitam, dikumpulkan dalam keadaan membiru, dan dipermalukan di hadapan seluruh makhluk. Ash-Shāwī berkata: “Ayat ini menunjukkan, hari itu mudah bagi orang mu’min. Sebab kesulitan itu dibatasi hanya bagi orang kafir. Ayat ini mengandung tambahan ancaman bagi orang kafir dan tambahan berita gembira bagi mu’min.” (79312).

Kemudian Allah menjelaskan kisah si kafir yang celaka, al-Walīd bin al-Mughīrah dan ucapannya yang keji mengenai al-Qur’ān. Allah berfirman: “Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian”; hai Muḥammad, biarkan Aku dan orang celaka ini yang Aku ciptakan di perut ibunya sendirian tanpa membawa harta benda, anak, tanpa daya maupun bantuan. Namun kemudian dia kafir dan mendustakan ayat-ayatku. Ulama tafsir berkata: “Ayat ini turun atas al-Walīd bin al-Mughīrah. Dia bermasuk pemimpin dan pujaan kaum Quraisy. Itu sebabnya dia dijuluki al-Walīd (orang yang sendirian) dan Bunga Quraisy. Allah memberikan nikmat duniawi kepadanya berupa materi dan anak lelaki serta melapangkan rezeki kepadanya. Hartanya bagaikan sungai yang mengalir deras. Dia memiliki sebuah kebun di Thā’if yang tidak pernah berhenti buahnya pada musim penghujan maupun kemarau. Namun dia tidak bersyukur atas nikmat Allah dan menggantinya dengan sikap kufur serta menentang ayat-ayat Allah. Dialah obyek turunnya ayat: “Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian.” Susunan ayat ini begitu menarik dalam mengancam. Dia juga menjadi obyek turunnya ayat-ayat terdahulu dalam surat Nūn. (79413) “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. – Kelak akan Kami beri tanda dia di belalai(nya).” (al-Qalam: 10-16). Dialah yang menyakiti dan merancang makar jahat terhadap Nabi Muḥammad s.a.w. Ketika para pembesar Quraisy bosan kepada Nabi s.a.w. dan mereka tidak punya jalan untuk menghentikan beliau serta memadamkan cahaya dakwah Islam, maka mereka menghadap al-Walīd. Gayung bersambut, al-Walīd memberi isyarat agar mereka menyebut dan memanggil Muhammad sebagai penyihir dan menyuruh para sahaya dan anak kecil mereka untuk meneriakkannya di Makkah. Sahaya dan anak-anak itu berteriak bahwa Muḥammad adalah penyihir dan hal itu membuat Nabi s.a.w. bersedih. Maka turunlah ayat-ayat tersebut untuk mengancam al-Walīd dan meredam kesombongannya.

Catatan:


  1. 782). Riwayat ini disebutkan oleh ath-Thabarī dari Jābir bin ‘Abdullāh, 29/90. 
  2. 783). Tafsīr-ul-Qurthubī, 19/60. 
  3. 784). Rūḥ-ul-Ma‘ānī, 29/116. 
  4. 785). Tafsīru Ibni Katsīr, 3/568. 
  5. 786). Tafsīr-uth-Thabarī, 29/91. Ibnu Jarīr memilih pendapat pertama dan mengatakan, bahwa pendapat itu lebih jelas. 
  6. 787). At-Tafsīr-ul-Kabīr, 30/192. 
  7. 788). Tafsīr-uth-Thabarī, 29/93. 
  8. 789). At-Tafsīr-ul-Kabīr, 30/193. 
  9. 790). At-Tasḥīl, 4/160. 
  10. 791). Mukhtasharu Ibni Katsīr, 3/568. 
  11. 792). Tafsīru Abī Su‘ūd, 5/208. 
  12. 793). Ḥāsyiyat-ush-Shāwī, 4/265. 
  13. 794). Lihat tulisan kami dalam surat al-Qalam atau surat Nūḥ mengenai kisah al-Walīd ini dari tafsir ini. 

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.