Surah al-Ma’arij 70 ~ Tafsir al-Mishbah (2/4)

Tafsir al-Mishbāḥ
(Jilid ke-15, Juz ‘Amma)
Oleh: M. Quraish Shihab

Penerbit: Penerbit Lentera Hati

Rangkaian Pos: Surah al-Ma'arij 70 ~ Tafsir al-Mishbah
  1. 1.Surah al-Ma’arij 70 ~ Tafsir al-Mishbah (1/4)
  2. 2.Anda Sedang Membaca: Surah al-Ma’arij 70 ~ Tafsir al-Mishbah (2/4)
  3. 3.Surah al-Ma’arij 70 ~ Tafsir al-Mishbah (3/4)
  4. 4.Surah al-Ma’arij 70 ~ Tafsir al-Mishbah (4/4)

KELOMPOK 2

 

AYAT 19-35.

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًا. إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًا. وَ إِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًا. إِلَّا الْمُصَلِّيْنَ. الَّذِيْنَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ دَائِمُوْنَ. وَ الَّذِيْنَ فِيْ أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُوْمٌ. لِّلسَّائِلِ وَ الْمَحْرُوْمِ. وَ الَّذِيْنَ يُصَدِّقُوْنَ بِيَوْمِ الدِّيْنِ. وَ الَّذِيْنَ هُمْ مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِمْ مُّشْفِقُوْنَ. إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُوْنٍ. وَ الَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حَافِظُوْنَ. إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَ. فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذلِكَ فَأُوْلئِكَ هُمُ الْعَادُوْنَ. وَ الَّذِيْنَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَ عَهْدِهِمْ رَاعُوْنَ. وَ الَّذِيْنَ هُمْ بِشَهَادَاتِهِمْ قَائِمُوْنَ. وَ الَّذِيْنَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُوْنَ. أُولئِكَ فِيْ جَنَّاتٍ مُّكْرَمُوْنَ.

 

AYAT 19-21.

70: 19. Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat gelisah.
70: 20. Apabila ia disentuh kesusahan ia sangat berkeluh kesah,
70: 21. dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.

Ayat yang lalu menggambarkan keberpalingan manusia yang durhaka dari kebenaran. Ayat di atas menggambarkan sebab yang mengantar mereka ke sana. Allah berfirman: Sesungguhnya jenis manusia diciptakan bersifat gelisah dan rakus. Ini tecermin pada sikapnya yang apabila ia disentuh, yakni ditimpa walau sedikit, kesusahan ia sangat berkeluh kesah dan apabila ia mendapat kebaikan seperti limpahan harta atau rezekinya lainnya, ia amat kikir.

Kata (هَلُوْعًا) halū‘an terambil dari kata (هَلع) hala‘ yang berarti cepat gelisah atau berkeinginan meluap-luap semacam rakus.

Thabāthabā’ī mengomentari ayat di atas antara lain bahwa keinginan manusia meraih segala sesuatu yang merupakan potensi manusiawi yang dilekatkan Allah pada diri manusia, bukannya keinginan untuk meraih segala sesuatu baik atau buruk berguna atau tidak, tetapi keinginan meluap untuk meraih kebaikan dan manfaat, baik berkaitan dengan dirinya maupun orang lain, tetapi apa yang dinilainya baik dan bermanfaat untuk dirinya. Nah, keinginan meluap inilah yang menjadikan manusia goyah dan bimbang ketika ia disentuh oleh keburukan (lawan kebaikan) dan enggan memberi kebaikan itu ketika ia memperolehnya serta mengutamakan dirinya sendiri atas orang lain, kecuali bila ia menilai bahwa memberinya mengundang kedatangan kebaikan dan manfaat yang lebih besar buat dirinya. Dengan demikian, keluh-kesah ketika disentuh keburukan dan kikir ketika meraih kebaikan dan rezeki merupakan akibat dari penciptaannya menyandang sifat hala‘, yakni gelisah dan berkeinginan meluap.

Sifat tersebut, yang merupakan naluri manusia dan yang merupakan bagian dari cinta diri sendiri (egoisme), bukanlah sesuatu yang buruk. Betapa ia dinilai buruk, padahal itulah satu-satunya cara yang mengundang manusia untuk meraih kebahagiaannya dan kesempurnaan wujudnya. Memang, ia akan menjadi buruk kalau manusia keliru menggunakannya, yakni menggunakannya dalam hal-hal yang dibolehkan dan tidak dibolehkan, dengan hak dan dengan bathil. Ia akan menjadi sifat yang terpuji – sebagaimana hal-nya sifat-sifat yang lain – jika diterapkan sisi keseimbangan. Bila ia menyimpang arah, berlebih, atau berkurang, ia akan menjadi sifat buruk dan tercela. Manusia sejak kecilnya memiliki sifat tersebut dan bertindak atas dasar apa dianggapnya baik untuk dirinya atau buruk, ini berdasar naluri manusiawinya. Ia melakukan kegiatannya tanpa dibatasi oleh batas tertentu dari dalam dirinya, tetapi ketika ia telah dianugerahi akal dan mengetahui yang hak dan yang bathil, baik dan buruk, demikian juga sebaliknya. Demikian lebih kurang Thabāthabā’ī yang kemudian menegaskan bahwa sebenarnya tidak ada masalah dalam pernyataan ayat di atas bahwa manusia diciptakan menyandang sifat-sifat yang disebut ayat di atas karena sifat-sifat itu baru tercela akibat ulah manusia yang menggunakan nikmat Allah itu tidak sesuai dengan yang dikehendaki-Nya.

 

AYAT 22-23.

70: 22. Kecuali para yang shalat,
70: 23. yang mereka itu menyangkut shalat mereka tetap bersinambung,

Ayat ini dapat dihubungkan dengan ayat sebelumnya, seakan-akan Allah menyatakan bahwa ada orang-orang yang tidak menyandang sifat-sifat yang disebut sebelumnya; mereka itu adalah para yang shalat dan melaksanakannya secara tetap dan pada waktunya. Pengecualian ini mengesankan bahwa sifat-sifat yang disebut sebelumnya adalah sifat-sifat buruk yang tidak disandang oleh orang-orang mu’min. Banyak ‘ulamā’ tafsir masa lalu yang memahaminya demikian. Tetapi, ‘ulamā’ kontemporer, antara lain Thabāthabā’ī dan Ibn ‘Āsyūr, menegaskan bahwa sifat yang diuraikan ayat-ayat yang lalu adalah sifat bawaan seluruh manusia, hanya saja kedua ‘ulamā’ ini berbeda pendapat tentang pengecualian tersebut. Thabāthabā’ī memahaminya berhubungan dengan ayat-ayat sebelumnya secara langsung, hanya saja ‘ulamā’ ini menegaskan bahwa pengecualian orang-orang yang melaksanakan shalat dan lain-lain bukan berarti bahwa mereka tidak dilengkapi dengan naluri itu, tetapi bahwa mereka menggunakannya sesuai dengan tuntunan Allah serta memfungsikannya sesuai dengan fungsinya yang sebenarnya. Ayat di atas bagaikan menyatakan: Kecuali para yang shalat yang mereka itu menyangkut shalat mereka tetap melakukannya pada waktunya secara bersinambung tanpa meninggalkan satu shalat pun.

Thāhir Ibn ‘Āsyūr tidak memahami pengecualian itu berkaitan dengan bawaan manusia yang disebut oleh ayat 19 dan yang dijelaskan maknanya oleh ayat 20-21. Tetapi, menurutnya, ayat 22 itu berkaitan dengan firman-Nya pada ayat 11 yang lalu. Ayat 22 itu, menurutnya, bagaikan berkata: Para pendurhaka berkeinginan untuk menebus dirinya dengan anak-anak mereka agar terhindar dari siksa, tetapi para yang shalat yang mereka itu menyangkut shalat mereka tetap melakukannya pada waktunya secara bersinambung serta menyandang pula sifat-sifat seperti yang disebut berikut – mereka itu tidak akan mengalami siksa dan akan masuk ke surga.

 

AYAT 24-26.

70: 24. Dan orang-orang yang dalam harta mereka ada hak tertentu,
70: 25. bagi orang yang meminta dan yang tidak mempunyai apa-apa,
70: 26. dan orang-orang yang mempercayai hari Pembalasan,

Akhir ayat yang lalu menguraikan sifat bawaan manusia secara umum dan mengecualikan, dalam arti memuji, orang-orang yang melaksanakan shalat secara tetap sebagai orang-orang yang menggunakan secara baik potensi yang dianugerahi Allah itu. Ayat itu sekaligus menggambarkan juga harmonisnya hubungan yang bersangkutan dengan Allah s.w.t. Kini, melalui ayat di atas, digambarkan keharmonisan hubungan mereka dengan anggota masyarakat apalagi kaum lemah. Ini jika anda memahami ayat yang lalu sebagaimana pemahaman Thabāthabā’ī. Tetapi, jika anda memahaminya sebagaimana dipahami oleh Ibn ‘Āsyūr, menurut ‘ulamā’ asal Tunisia itu, ayat yang lalu dan ayat-ayat di atas demikian pula ayat-ayat berikut merupakan uraian tentang sifat-sifat kaum mu’minin yang bertolak-belakang dengan sifat-sifat orang-orang yang disebut sebelum ini. Ada delapan sifat yang disebutkan satu per satu dan secara berdiri sendiri guna mengisyaratkan bahwa setiap sifat yang disebut itu merupakan salah satu sebab yang dapat mengantar pelakunya menjadi penghuni surga.

Ayat-ayat di atas menyatakan bahwa: Dan orang-orang yang dalam harta mereka ada hak, yakni bagian, tertentu yang mereka peruntukkan bagi orang-orang yang butuh – yang meminta dan yang tidak mempunyai apa-apa – tetapi enggan dan malu meminta, dan juga orang-orang yang mempercayai keniscayaan hari Pembalasan sehingga mempersiapkan bekal.

Sementara ‘ulamā’ memahami makna (حَقٌّ مَّعْلُوْمٌ) ḥaqqun ma‘lūm/hak tertentu dalam arti zakat karena zakat adalah kewajiban yang telah tertentu kadarnya. ‘Ulamā’ lain memahaminya dalam arti kewajiban yang ditetapkan sendiri oleh yang bersangkutan – selain zakat – dan yang mereka berikan secara sukarela dan jumlah tertentu kepada fakir-miskin. Ini karena ayat di atas dikemukakan dalam konteks pujian, dan tentu saja pendapat kedua ini lebih menonjol sifat terpujinya.

Ada pun maknanya, yang jelas salah satu sikap terpuji mereka yang dipahami dari pemberiannya kepada al-maḥrūm adalah bahwa mereka berusaha mencari siapa yang butuh lalu memberinya tanpa dimintai.

 

AYAT 27-28.

70: 27. Dan orang-orang yang mereka itu – terhadap siksa Tuhan mereka – sangat takut.
70: 28. Sesungguhnya siksa Tuhan mereka, tidaklah aman.

Akhir ayat yang lalu menggambarkan kepercayaan mereka terhadap adanya hari Pembalasan, yakni Hari Kiamat. Pembalasan pada hari itu dapat merupakan pemberian sanksi dan dapat juga perolehan ganjaran. Kaum beriman itu dilukiskan oleh ayat di atas sebagai orang-orang yang sangat takut kepada jatuhnya sanksi, yakni tidak menonjol harapan mereka dalam perolehan ni‘mat. Ayat-ayat di atas menyatakan: Dan orang-orang yang mereka itu – terhadap siksa Tuhan mereka – sangat takut. Karena Sesungguhnya siksa Tuhan yang mereka sembah dan yang selama ini berbuat baik terhadap mereka, tidaklah dapat orang merasa aman dari jatuhnya.

Ayat 28 di atas menegaskan bahwa seseorang tidak dapat memperoleh jaminan keselamatan dan keterhindaran dari siksa Allah. Ini disebabkan ganjaran dan siksa adalah hak prerogatif Allah s.w.t. Kita tidak mengetahui secara pasti apakah amal-amal kebajikan yang kita laksanakan benar-benar telah memenuhi syarat ketulusan keikhlasan serta persesuaiannya dengan tuntunan Allah s.w.t. Karena itu, rasa takut harus menghiasi diri seseorang disertai dengan harapan. Di sisi lain, seperti sabda Nabi Muḥammad s.a.w.: “Tidak seorang pun yang masuk ke surga karena amalnya.” Para sahabat beliau bertanya: “Walaupun engkau, wahai Rasūl?” Beliau menjawab: “Walau aku! Kecuali jika Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku.” (HR. Bukhārī dan Muslim). Karena itulah orang-orang yang dekat kepada Allah selalu prihatin dan menanamkan dalam jiwa mereka bahwa: Seseorang hendaknya jangan merasa aman dari jatuhnya siksa Allah terhadap dirinya. Sayyidinā ‘Umar pernah berkata: “Seandainya ada pengumuman bahwa yang masuk neraka hanya seseorang, aku khawatir akulah dia.” Sebaliknya pun demikian.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *