Surah al-Lail 92 ~ Tafsir al-Jalalain

Tafsir Jalalain | Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi

Dari Buku:
Tafsir Jalalain.
(Jilid 4. Dari Sūrat-uz-Zumar sampai Sūrat-un-Nās)
Oleh: Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi

Penerjemah: Bahrun Abu Bakar L.C.
Penerbit: Sinar Baru Algensindo Bandung

Rangkaian Pos: Surah al-Lail 92 ~ Tafsir al-Jalalain

092

SŪRAT-AL-LAIL

Makkiyyah, 21 ayat

Turun sesudah Sūrat-ul-A‘lā

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

 

 

وَ اللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى.

1. (وَ اللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى.) “Demi malam apabila menutupi” semua apa yang ada di langit dan di bumi dengan kegelapannya.

وَ النَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى.

2. (وَ النَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى.) “Dan siang apabila terang benderang” apabila menampilkan dirinya. Lafal idzā yang ada pada dua tempat di atas hanya menunjukkan makna zharaf atau waktu. Sedangkan yang menjadi ‘āmil-nya adalah fi‘il qasam.

وَ مَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَ الْأُنْثَى.

3. (وَ مَا) “Dan apa” lafal di sini bermakna man, yakni manusia; atau dianggap sebagai mā mashdariyah (خَلَقَ الذَّكَرَ وَ الْأُنْثَى) “yang Dia telah menciptakannya, yaitu laki-laki dan perempuan” yang dimaksud adalah Adam dan Hawa, demikian pula setiap laki-laki dan perempuan lainnya.

Adapun banci/wadam yang tidak dapat diketahui apakah ia sebagai laki-laki atau perempuan di sisi Allah s.w.t., maka jika seseorang yang bersumpah bahwa dia tidak akan berbicara dengan siapa pun baik laki-laki atau perempuan, lalu dia berbicara dengan orang banci, maka dia dianggap telah melanggar sumpahnya itu.

إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّى.

4. (إِنَّ سَعْيَكُمْ) “Sesungguhnya usaha kalian” atau kerja kalian (لَشَتَّى) “memang berbeda-beda” beraneka macam; ada orang yang beramal atau bekerja untuk mendapatkan surga, dengan cara menempuh jalan ketaatan; dan ada pula orang yang beramal atau bekerja untuk neraka, dengan cara menempuh jalan kemaksiatan.

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَ اتَّقَى.

5. (فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى) “Adapun orang yang memberikan” menginfakkan hartanya di jalan Allah (وَ اتَّقَى) “dan bertakwa” kepada Allah.

وَ صَدَّقَ بِالْحُسْنَى.

6. (وَ صَدَّقَ بِالْحُسْنَى.) “Dan membenarkan perkara yang baik” yaitu makna yang terkandung di dalam lafal Lā Ilāha Illallāh yang artinya tiada Tuhan selain Allah. Dengan kata lain, bahwa infak di jalan Allah yang dilakukannya dan bertakwa kepada-Nya yang dijalankannya itu tiada lain berangkat dari keimanannya kepada kalimat Lā Ilāha Illallāh.

فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى.

7. (فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى) “Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya tempat yang mudah”) yaitu surga.

وَ أَمَّا مَنْ بَخِلَ وَ اسْتَغْنَى.

8. (وَ أَمَّا مَنْ بَخِلَ) “Dan adapun orang yang bakhil” tidak mau menginfakkan hartanya di jalan Allah (وَ اسْتَغْنَى) “dan merasa dirinya cukup” artinya tidak membutuhkan pahala-Nya.

وَ كَذَّبَ بِالْحُسْنَى.

9. (وَ كَذَّبَ بِالْحُسْنَى.) “Serta mendustakan perkara yang baik.”

فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى.

10. (فَسَنُيَسِّرُهُ) “Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya” menyediakan baginya (لِلْعُسْرَى) “tempat yang sukar” yaitu neraka.

وَ مَا يُغْنِيْ عَنْهُ مَالُهُ إِذَا تَرَدَّى.

11. (وَ مَا) “Dan tiadalah” huruf di sini bermakna Nafi yakni tidaklah (يُغْنِيْ عَنْهُ مَالُهُ إِذَا تَرَدَّى) “berguna bagi dirinya harta miliknya apabila ia telah terjerumus” ke dalam neraka.

إِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدَى.

12. (إِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدَى.) “Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk” untuk membedakan antara jalan hidayah dan jalan kesesatan; dimaksud supaya ia mengerjakan perintah Kami dengan menempuh jalan yang pertama, dan ia Kami larang dari menempuh jalan yang kedua.

وَ إِنَّ لَنَا لَلْآخِرَةَ وَ الْأُولَى.

13. (وَ إِنَّ لَنَا لَلْآخِرَةَ وَ الْأُولَى.) “Dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia” maka barang siapa yang mencari keduanya tanpa meminta kepada Kami berarti dia telah sesat jalan.

فَأَنْذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظَّى

14. (فَأَنْذَرْتُكُمْ نَارًا) “Maka Kami memperingatkan kalian” maksudnya Kami pertakuti kalian hai penduduk Makkah (تَلَظَّى) “dengan neraka yang menyala-nyala” asal kata talazhzhā adalah tatalazhzhā, kemudian salah satu di antara kedua huruf tā’ dibuang, sehingga jadilah talazhzhā. Akan tetapi ada juga suatu qira’at yang membaca sesuai dengan huruf asalnya.

لَا يَصْلَاهَا إِلَّا الْأَشْقَى.

15. (لَا يَصْلَاهَا) “Tidak ada yang masuk ke dalamnya” atau memasukinya (إِلَّا الْأَشْقَى) “kecuali orang yang celaka” sekalipun lafal al-asyqā ini menunjukkan arti yang paling celaka, akan tetapi makna yang dimaksud ialah orang yang celaka.

الَّذِيْ كَذَّبَ وَ تَوَلَّى.

16. (الَّذِيْ كَذَّبَ) “Yang mendustakan” Nabi s.a.w. (وَ تَوَلَّى) “dan berpaling” dari iman. Pengecualian yang terdapat pada ayat sebelum ayat ini merupakan takwil dari makna yang terkandung di dalam ayat lainnya yaitu, firman-Nya: “dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (Q.S. An-Nisā’, 48) Dengan demikian berarti makna yang dimaksud dengan masuk neraka pada ayat 15 tadi adalah masuk untuk selama-lamanya, yakni untuk menjadi penghuni yang abadi.

وَ سَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى.

17. (وَ سَيُجَنَّبُهَا) “Dan kelak akan dijauhkan dari neraka itu” dihindarkan daripadanya (الْأَتْقَى) “orang yang bertakwa” demikian pula lafal al-atqā, sekalipun menunjukkan makna tafdhīl, tetapi makna yang dimaksud adalah at-taqiyyu, yakni orang yang bertakwa.

الَّذِيْ يُؤْتِيْ مَالَهُ يَتَزَكَّى.

18. (الَّذِيْ يُؤْتِيْ مَالَهُ يَتَزَكَّى.) “Yang menafkahkan hartanya untuk membersihkannya” untuk membersihkannya di sisi Allah s.w.t. seumpamanya dia mengeluarkannya bukan karena ria atau pamer dan gengsi, maka setelah itu harta yang dimilikinya menjadi bersih di sisi-Nya nanti. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abū Bakar ash-Shiddiq r.a. yaitu sewaktu ia membeli Bilal yang sedang disiksa oleh majikannya karena beriman. Setelah membelinya lalu langsung memerdekakannya. Pada saat itu juga orang-orang kafir mengatakan, bahwa tiada lain Abū Bakar melakukan hal tersebut karena ia telah berutang jasa kepadanya. Maka pada saat itu turunlah ayat ini.

وَ مَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِّعْمَةٍ تُجْزَى.

19. (وَ مَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِّعْمَةٍ تُجْزَى.) “Padahal tidak ada seseorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya,”

إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَى.

20. (إِلَّا) “melainkan” tetapi hanya semata-mata (ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَى) “karena mencari keridaan Rabbnya Yang Maha Tinggi” artinya dia memberikan hartanya itu hanya karena mengharapkan pahala Allah.

وَ لَسَوْفَ يَرْضَى

21. (وَ لَسَوْفَ يَرْضَى) “Dan kelak Dia benar-benar mendapat kepuasan” dari pahala pemberiannya itu di surga nanti. Makna ayat ini mencakup pula setiap orang yang mengerjakan amal perbuatan seperti yang telah dilakukan oleh Abū Bakar r.a. Kelak dia akan dijauhkan dari neraka dan mendapatkan pahala yang berlimpah.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *