Surah al-Lahab 111 ~ Tafsir al-Jalalain

Tafsir Jalalain | Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi

Dari Buku:
Tafsir Jalalain.
(Jilid 4. Dari Sūrat-uz-Zumar sampai Sūrat-un-Nās)
Oleh: Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi

Penerjemah: Bahrun Abu Bakar L.C.
Penerbit: Sinar Baru Algensindo Bandung

111

SŪRAT-UL-LAHAB

Makkiyyah, 5 ayat

Turun sesudah Sūrat-ul-Fatḥ

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Ketika Nabi s.a.w., mengajak kaumnya seraya mengatakan: “Sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan kepada kalian di hadapan azab yang keras”. Maka, pamannya yang bernama Abu Lahab menjawab: “Celakalah kamu ini, apakah kepada hal itukah kamu menyeru kami.” Kemudian turunlah ayat-ayat berikut ini, yaitu:

تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ وَ تَبَّ.

1. (تَبَّتْ) “Binasalah” atau merugilah (يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ) “kedua tangan Abu Lahab” maksudnya diri Abu Lahab; di sini diungkapkan dengan memakai kata-kata kedua tangan sebagai ungkapan Majāz, karena sesungguhnya kebanyakan pekerjaan yang dilakukan oleh manusia itu dikerjakan dengan kedua tangannya; Jumlah kalimat ini mengandung makna doa (وَ تَبَّ.) “dan sesungguhnya dia binasa” artinya, dia benar-benar merugi. Jumlah ayat ini adalah kalimat berita; perihalnya sama dengan perkataan mereka: Ahlakahullāahu Waqad Halaka, yang artinya: “Semoga Allah membinasakannya; dan sungguh dia benar-benar binasa.” Ketika Nabi saw. menakut-nakutinya dengan azab, ia berkata: “Jika apa yang telah dikatakan oleh anak saudaraku itu benar, maka sesungguhnya aku akan menebus diriku dari azab itu dengan harta benda dan anak-anakku.” Lalu turunlah ayat selanjutnya, yaitu:

مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَ مَا كَسَبَ.

2. (مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَ مَا كَسَبَ.) “Tidaklah berfaedah kepadanya harta benda dan apa yang ia usahakan” maksudnya apa yang telah diusahakannya itu, yakni anak-anaknya. Lafal Aghnā di sini bermakna Yughnī, artinya tidak akan berfaedah kepadanya harta dan anak-anaknya.

سَيَصْلى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ.

3. (سَيَصْلى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ.) “Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak” yang besar nyalanya; kata-kata ini pun dijadikan pula sebagai julukan namanya, karena ia mempunyai muka yang berbinar-binar memancarkan sinar merah api.

وَ امْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ.

4. (وَ امْرَأَتُهُ) “Dan begitu pula istrinya” lafal ini di-‘athaf-kan kepada Dhamīr yang terkandung di dalam lafal Yashlā, hal ini diperbolehkan karena di antara keduanya terdapat pemisah, yaitu Maf‘ūl dan sifatnya; yang dimaksud adalah Ummu Jamil (حَمَّالَةَ) “pembawa” dapat dibaca Ḥammalātun dan Ḥammālatan (الْحَطَبِ) “kayu bakar” yaitu duri dan kayu Sa‘dan yang banyak durinya, kemudian kayu dan duri itu ia taruh di tengah jalan tempat Nabi saw. lewat.

فِيْ جِيْدِهَا حَبْلٌ مِّنْ مَّسَدٍ

5. (فِيْ جِيْدِهَا) “Yang di lehernya” atau pada lehernya (حَبْلٌ مِّنْ مَّسَدٍ) “ada tali dari sabut” yakni pintalan dari sabut; Jumlah ayat ini berkedudukan menjadi Ḥāl atau kata keterangan dari lafal Ḥammālatal Ḥathab yang merupakan sifat dari istri Abu Lahab. Atau kalimat ayat ini dapat dianggap sebagai Khabar dari Mubtada’ yang tidak disebutkan.

 

ASBĀB-UN-NUZŪL

SŪRAT-UL-LAHAB

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Imām Bukhārī dan lain-lainnya telah mengetengahkan sebuah hadits melalui Ibnu ‘Abbās r.a. yang telah menceritakan, bahwa pada suatu hari Nabi s.a.w., naik ke atas bukit Shafā, lalu beliau berseru: “Hai orang-orang berkumpullah di pagi hari ini”. Lalu orang-orang Quraisy berkumpul mengerumuninya. Nabi s.a.w. melanjutkan pembicaraannya: “Bagaimana pendapat kalian, jika aku beritakan kepada kalian bahwasanya musuh datang menyerang kalian di waktu pagi ini, atau akan menyerang kalian di waktu sore nanti, apakah kalian akan mempercayaiku?” Mereka menjawab: “Tentu saja kami percaya kepadamu”. Nabi s.a.w. melanjutkan pembicaraannya: “Sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan kepada kalian di hadapan azab yang keras.”

Lalu Abū Lahab menjawab: “Celakalah kamu ini, apakah untuk inikah kamu mengumpulkan kami?” Maka Allah menurunkan firman-Nya:

Binasalah kedua tangan Abū Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.” (al-Lahab [111]: 1 hingga akhir surat).

Imām Ibnu Jarīr telah mengetengahkan sebuah hadits melalui jalur Isrā’īl yang ia terima dari Isḥāq, Isḥāq menerimanya dari seorang laki-laki dari kalangan Ḥamdan yang dikenal dengan nama Yazīd ibnu Zaid. Disebutkan, bahwa istri Abū Lahab pernah melemparkan duri di tengah jalan yang biasa dilewati oleh Nabi s.a.w. lalu turunlah ayat-ayat ini mulai dari firman-Nya:

Binasalah kedua tangan Abū Lahab …..” (al-Lahab [111]: 1 sampai dengan firman-Nya:

Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar.” (al-Lahab [111]: 4).

Imām Ibn-ul-Mundzir telah mengetengahkan pula hadits yang serupa, hanya hadits yang diketengahkannya itu melalui ‘Ikrimah.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *