Surah al-Lahab 111 ~ Tafsir al-Jailani

Dari Buku: TAFSIR al-Jaelani
Oleh: Syekh ‘Abdul-Qadir Jaelani
Penerjemah: Abdul Hamid
Penerbit: PT. SAHARA intisains.

Surah ke 111; 5 ayat
Al-Lahab
(gejolak api).

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

 

Pembuka Surah al-Lahab.

Orang yang ditunjukkan kekayaan Dzat Ilahi dan ditampakkan kepadanya bahwa dunia – dengan segala isinya – tidak lain hanyalah fatamorgana palsu dan bayang-bayang dusta yang tidak akan langgeng bagi penikmatnya dan tidak akan abadi bagi pemukimnya; pasti mengetahui bahwa tertipu oleh dunia, reruntuhannya, kenikmatannya yang fana’, dan kebatilan yang palsu; pasti akan mengakibatkan seseorang melalaikan Allah s.w.t. dan kelezatan akhirat yang disiapkan di sisi-Nya bagi orang-orang yang mendapatkan pertolongan-Nya; sebagaimana yang diberitakan Allah s.w.t. dalam surah ini tentang sebagian orang yang melampaui batas dan terhalang dari-Nya serta berpaling dari tuntutan ketuhanan-Nya akibat ia mengalami ketertipuan yang begitu besar oleh harta, pangkat, kekayaan, dan kekuasaan di tengah-tengah manusia. Setelah memberikan keberkahan, Allah s.w.t. berfirman: (بِسْمِ اللهِ) [Dengan menyebut nama Allah] yang Maha Kaya dengan Dzat-Nya dibandingkan dengan semua makhluk dan ciptaan-Nya, (الرَّحْمنِ) [Yang Maha Pemurah] kepada mereka dengan menambahkan wujud, (الرَّحِيْمِ) [lagi Maha Penyayang] kepada mereka dengan mengantarkan mereka ke martabat kasyf (penyingkapan) dan syuhud (penyaksian) pada hari yang dijanjikan, seandainya mereka benar-benar ikhlas dalam ketaatan dan dalam menghadap Sang Pencipta Yang Maha Pengasih.

Ayat 1.

(تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ) [Binasalah kedua tangan Abu Lahab] maksudnya; sia-sia dan merugilah kedua tangan Abu Lahab, dan ini adalah kalimat kiasan. Semua ini menimpa Abu Lahab tidak lain karena besarnya arogansi dan kesombongannya. Ia akan mengalami kehancuran dalam api neraka yang mengerikan, seperti halnya ia mengalami kegagalan abadi dan kerugian total pada saat ia menimpakan berbagai macam keburukan pada Rasulullah s.a.w. dan melawan beliau dengan cara-cara yang tidak layak dengan status beliau, dengan mengandalkan harta, pangkat, kekayaan, dan kekuasaan yang dimilikinya.

 

Kesombongan Abu Lahab ini terekam saat turunnya ayat:

وَ أَنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ الْأَقْرَبِيْنَ

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (asy-Syu‘ara’ [26]: 214).

 

Pada saat itu, Nabi s.a.w. naik ke bukit Shafa, lalu berseru: “Wahai Bani Fihr, wahai Bani ‘Adiy”, dan juga kepada kelompok suku Quraisy lainnya sampai mereka semua berkumpul. Kemudian beliau mengajukan pertanyaan: “Apa pendapat kalian seandainya aku beritahu kalau ada seekor kuda yang berada di lembah itu, akan berjalan menuju kalian. Apakah kalian mempercayaiku?” Mereka menjawab: “Ya, tidak ada yang dapat kami lakukan selain hanya mempercayaimu.” Beliau berkata lagi: “Saya peringatkan kalian kalau di kedua tanganku ini ada siksaan yang amat pedih.” Dengan nada merendahkan, Abu Lahab berkata: “Sialan kamu Muhammad, apakah hanya untuk ini kamu mengumpulkan kami di sini?” Maka turunlah ayat: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.” (al-Lahab [111]: 1) karena tindakannya yang mendekat Nabi s.a.w. dan berniat meremehkan serta mencemoohnya. (721) (وَ تَبَّ) [Dan sesungguhnya ia akan binasa] dan mati dengan cara yang telah disampaikan Allah s.w.t. tentang kebinasaannya, di mana:

Ayat 2.

(مَا أَغْنَى) [Tidaklah berfaedah] dan bermanfaat, (عَنْهُ مَالُهُ) [baginya, harta bendanya] yang menjadi tempatnya bersandar, dan harta itu juga tidak dapat menolongnya dari kemarahan Allah s.w.t. Demikian pula dengan (وَ مَا كَسَبَ) [apa yang ia usahakan] dan ia kumpulkan dari kekayaan, anak, dan pengikut; semua itu juga tidak dapat memberi manfaat maupun menolongnya.

Dikatakan bahwa Abu Lahab meninggal di ‘Adasah, beberapa hari setelah Perang Badar. Jasadnya dibiarkan begitu saja selama tiga hari sampai membusuk. Akhirnya orang-orang pun menyewa beberapa orang kulit hitam untuk menguburkannya. Kematiannya ini tergolong sebagai berita gaib dan benar-benar terbukti, seperti yang telah diberitakan. Ini adalah tempat kembalinya di dunia.

Ayat 3.

Adapun tempat kembalinya di akhirat adalah (سَيَصْلَى) [kelak ia akan masuk] dan dijerumuskan (نَارًا) [ke dalam api]. Api macam apa? Api (ذَاتَ لَهَبٍ) [yang bergejolak] dan menyala hebat akibat dari kekerasan dan kengerian yang sangat besar yang ditimbulkannya.

Ayat 4.

(وَامْرَأَتُهُ) [Dan (begitu pula) istrinya] yang suka mengadu domba antar manusia, dan menyalakan api fitnah dan permusuhan di antara mereka. ia menjadi (حَمَّالَةَ الْحَطَبِ) [pembawa kayu bakar] yang menjadi bahan bakar api neraka Jahannam. Ia mengumpulkan kayu bakar dari pohon berduri dan pohon zaqqum (sejenis pohon untuk makanan penghuni neraka) untuk bahan bakar neraka Jahannam. Jika lafal (حَمَّالَةَ) dibaca rafa‘, yakni menjadi (حَمَّالَةُ), maka sifat adu dombanya diilustrasikan atau disamakan dengan tindkan menyalakan api fitnah, dan api itu akan terus mengiringinya.

Ayat 5.

(فِيْ جِيْدِهَا حَبْلٌ) [Yang di lehernya ada tali] berantai yang dibuat (مِّنْ مَّسَدٍ) [dari sabut], yakni tali dipintal dari besi, lalu dengan tali itu ia memikul kayu bakar. Padahal ia, dengan suaminya, berasal dari kalangan terhormat suku Quraisy.

 

Penutup Surah al-Lahab.

Wahai orang-orang yang bisa mengambil pelajaran, semoga Allah s.w.t. menjagamu dari kebinasaan, kerugian, dan kerusakan di dunia dan di akhirat; kamu harus dapat merenungkan berbagai kisah, hukum, ibrah, dan perumpamaan yang digambarkan al-Qur’an. Lalu mengambil bagianmu yang menguntungkan, sejauh yang dimudahkan Allah s.w.t. bagimu dan dititipkan-Nya dalam usaha dan kekuatanmu.

Ketahuilah bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk dan penyempurna. Maka dari isyarat-isyarat yang terkandung dalam surah ini, kamu bisa mengambil pelajaran tentang tatacara pergaulan yang baik dan etika bersahabat. Kamu juga harus menganggap remeh perhiasan dunia dan kenikmatan semu yang dihasilkan darinya, yang berasal dari pemikiran menyimpang yang tanpa dasar dan sandaran pasti.

Catatan:


  1. 72). H.R. Muttafaqun ‘alaih. Al-Bukhari [4/1787, hadits nomor: 4491], Muslim [1/193, hadits nomor: 208] 
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *