Surah al-Kautsar 108 ~ Tafsir al-Jalalain

Tafsir Jalalain | Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi

Dari Buku:
Tafsir Jalalain.
(Jilid 4. Dari Sūrat-uz-Zumar sampai Sūrat-un-Nās)
Oleh: Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi

Penerjemah: Bahrun Abu Bakar L.C.
Penerbit: Sinar Baru Algensindo Bandung

108

 SŪRAT-UL-KAUTSAR

Makkiyyah atau Madaniyyah, 3 ayat

Turun sesudah Sūrat-ul-‘Adiyāt

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

 

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ.

1. (إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ.) “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu” hai Muḥammad (الْكَوْثَرَ) “Al-Kautsar” merupakan sebuah sungai di surga dan telaga milik Nabi saw. kelak akan menjadi tempat minum bagi umatnya. Al-Kautsar juga berarti kebaikan yang banyak, yaitu berupa kenabian, al-Quran, syafaat dan lain sebagainya.

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَ انْحَرْ.

2. (فَصَلِّ لِرَبِّكَ.) “Maka dirikanlah salat karena Rabbmu” yaitu salat Hari Raya Qurban (وَ انْحَرْ) “dan berkurbanlah” untuk manasik hajimu.

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ.

3. (إِنَّ شَانِئَكَ.) “Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu” yakni orang-orang yang tidak menyukai kamu (هُوَ الْأَبْتَرُ) “dialah yang terputus” terputus dari semua kebaikan; atau putus keturunannya. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang yang bersikap demikian, dia adalah ‘Ash bin Wā’il, sewaktu Nabi saw. ditinggal wafat putranya yang bernama Qāsim, lalu ‘Ash menjuluki Nabi sebagai Abtar yakni orang yang terputus keturunannya.

 

ASBĀB-UN-NUZŪL

SŪRAT-UL-KAUTSAR

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

 

Imām Bazzār dan lain-lainnya telah mengetengahkan sebuah hadits dengan sanad yang shaḥīḥ melalui Ibnu ‘Abbās r.a. yang telah menceritakan, bahwa Ka‘b ibn-ul-Asyraf datang berkunjung ke Makkah. Orang-orang Quraisy berkata kepadanya: “Engkau adalah pemimpin mereka, tidakkah kamu lihat orang yang sabar lagi terputus oleh kaumnya ini (yakni Nabi Muḥammad); dia mengira bahwa dirinya lebih baik daripada kami, padahal kami adalah ahli haji, pemilik Siqāyah, dan Sidānah”. Laku Ka‘b ibn-ul-Asyraf menjawab: “Kalian lebih baik daripadanya”. Maka turunlah ayat ini yaitu firman-Nya:

Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus” (108, al-Kautsar: 3)

Imām Ibnu Abī Syaibah di dalam kitab al-Mushannaf-nya dan Ibn-ul-Mundzir, keduanya telah mengetengahkan sebuah hadits melalui ‘Ikrimah yang telah menceritakan, bahwa ketika wahyu telah turun kepada Nabi s.a.w., orang-orang Quraisy mengatakan, Muḥammad telah kami putuskan. Lalu turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya”

Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus” (108, al-Kautsar: 3)

Imām Ibnu Abī Ḥātim telah mengetengahkan sebuah hadits melalui as-Suddī yang telah menceritakan, bahwa orang-orang Quraisy itu apabila ada seseorang lelaki kematian anak laki-lakinya, maka mereka mengatakan, bahwa si Fulan telah terputus. Ketika putra Nabi s.a.w., meninggal dunia, maka al-‘Ash ibnu Wā’il mengatakan: “Muḥammad telah terputus”, lalu turunlah ayat ini.

Imām Baihaqī di dalam kitab ad-Dalā’il-nya telah mengetengahkan pula hadits yang serupa melalui Muḥammad ibnu ‘Alī; di dalam hadits yang diketengahkannya itu disebutkan, bahwa nama anak Nabi s.a.w. yang meninggal itu bernama al-Qāsim.

Imām Baihaqī telah mengetengahkan pula hadits lainnya melalui Mujāhid yang telah menceritakan, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan sikap al-‘Ash ibnu Wā’il. Demikian itu karena ia telah mengatakan: “Aku membenci Muḥammad.”

Imām Thabrānī telah mengetengahkan sebuah hadits dengan sanad yang dha‘īf (lemah) melalui Abū Ayyūb, yang telah menceritakan, bahwa ketika Ibrāhīm anak lelaki Rasulullah s.a.w. meninggal dunia, sebagian di antara orang-orang musyrik, berjalan menuju ke sebagian yang lainnya seraya mengatakan: “Sesungguhnya orang yang membawa agama baru ini telah terputus keturunannya malam ini”. Maka Allah menurunkan firman-Nya:

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar” (108, al-Kautsar: 1 hingga akhir surat).

Imām Ibnu Jarīr telah mengetengahkan sebuah hadits melalui Sa‘īd ibnu Jubair sehubungan dengan firman-Nya:

Maka dirikanlah salat karena Rabbmu dan berkurbanlah” (108, al-Kautsar: 2)

Sa‘īd ibnu Jubair mengatakan, bahwa ayat tersebut diturunkan pada hari perjanjian Hudaibiyyah; Nabi s.a.w. kedatangan malaikat Jibril seraya berkata kepadanya: “Berkurbanlah dan dirikanlah salat.” Lalu Nabi s.a.w. berdiri untuk melakukan khuthbah Hari Raya, kemudian salat dua rakaat. Setelah itu Nabi s.a.w. pergi menuju ke tempat unta kurbannya, lalu menyembelihnya. Imām Ibnu Jarīr memberikan komentarnya, hanya saja di dalam hadits ini terdapat keanehan yang sangat.

Imām Ibnu Jarīr telah mengetengahkan pula hadits lainnya melalui Syamr ibnu ‘Athiyyah yang telah menceritakan, sesungguhnya ‘Aqabah ibnu Abū Mu‘īth telah mengatakan, bahwasanya tiada lagi anak yang masih hidup bagi Nabi s.a.w. dia adalah orang yang terputus keturunannya. Maka Allah menurunkan ayat ini sehubungan dengan dia, yaitu firman-Nya:

Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus” (108, al-Kautsar: 3)

Imām Ibn-ul-Mundzir telah mengetengahkan sebuah hadits melalui Ibnu Juraij yang telah menceritakan, bahwa telah sampai suatu hadits kepadaku, bahwasanya ketika Ibrāhīm anak Nabi s.a.w., meninggal dunia, orang-orang Quraisy mengatakan: “Kini Muḥammad menjadi orang yang abtar (yakni terputus keturunannya)”. Mendengar kata-kata tersebut Nabi s.a.w. berduka cita, lalu turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya:

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar” (108, al-Kautsar: 1).

dimaksud sebagai ucapan bela sungkawa kepada Nabi s.a.w.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *