Surah al-Kafirun 109 ~ Tafsir al-Qur’an-ul-Majid an-Nur

Judul Buku:
TAFSĪR AL-QUR’ĀNUL MAJĪD AN-NŪR

JILID 4

Penulis: Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy
Diterbitkan oleh: Cakrawala Publishing

Surat Ke-109

AL-KĀFIRŪN

Surat al-Kāfirūn bermakna orang-orang kafir. Diturunkan di Makkah sesudah surat al-Mā‘ūn, terdiri dari 6 ayat.

 

A. SEJARAH TURUN

Diriwayatkan bahwa al-Walīd ibn Mughīrah, al-‘Āsh ibn Wail as-Sahmī, al-Aswad ibn ‘Abd-il-Muththalib, Umayyah ibn Khalaf, serta segolongan pemuka Quraisy lainnya pada suatu hari datang kepada Nabi untuk menganjurkan adanya sikap timbal balik. Yakni, Muḥammad mengikuti agama mereka selama satu tahun dan pada tahun berikutnya, mereka mengikuti agama Muḥammad untuk selama setahun pula.

Mereka mengatakan: “Kalau agamamu adalah yang baik, hai Muḥammad, maka berarti kami memperoleh sebagian kebaikan. Kalau agama kami yang baik, maka berarti kamu memperoleh sebagian kebaikan dari agama kami.”

Mendengar keterangan itu, Nabi menjawab: “Saya berlindung kepada Allah dari mempersekutukan Dia dengan sesuatu makhluk.”

Untuk menandaskan penolakan terhadap ajakan para kafir, Allah menurunkan surat ini. Nabi pun, setelah menerima surat ini, segera pergi ke Masjid al-Ḥaram, yang kebetulan saat itu para tokoh Quraisy sedang berkumpul di tempat itu. Dengan suara lantang, Nabi di depan mereka membacakan surat al-Kāfirūn. Karena penolakannya yang sangat tegas dan keras, sejak saat itu para kafir semakin sering mengganggu Nabi dan umatnya, bahkan gangguan yang dilontarkan bertambat berat.

 

B. KAITAN DENGAN SURAT SEBELUMNYA

Dalam surat yang telah lalu, Allah memerintahkan Rasūl-Nya supaya hanya menyembah Dia dengan ikhlas dan mensyukuri nikmat-nikmatNya. Hal yang sama juga diulangi dalam surat ini.

 

C. TAFSIR SURAT AL-KĀFIRŪN

Penegasan Allah bahwa yang harus disembah hanyalah Dia

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Bismillāhirraḥmānirraḥīm

Dengan (menyebut) nama Allah Yang Maha Pemurah, yang senantiasa mencurahkan rahmat-Nya.

 

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ. لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُوْنَ.

Qul yā ayyuhal kāfirūn. Lā a‘budu ma ta‘budūn.

“Katakan: “Hai orang-orang kafir.” (11) Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah.”

(al-Kāfirūn [109]: 1-2).

Katakanlah, hai Muḥammad, kepada orang kafir yang tidak dapat diharapkan untuk beriman: “Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Sebab, kamu menyembah berhala-berhala dan dewa-dewa yang tidak memberi syafaat kepadamu. Kamu menyembah dewa-dewa yang kamu sangka berdiam di suatu bangunan, sedangkan aku menyembah Tuhan yang tidak bersekutu, yang tidak mempunyai bandingan, tidak mempunyai anak dan istri, tidak hinggap pada suatu tubuh, tidak berdiam pada sesuatu tempat, yang kita tidak memerlukan adanya orang-orang menjadi perantara.”

وَ لَا أَنْتُمْ عَابِدُوْنَ مَا أَعْبُدُ.

Wa lā antum ‘ābidūna ma a‘bud.

“Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah.”

(al-Kāfirūn [109]: 3).

Kamu, ujar Muḥammad, tidak pula menyembah Tuhanku yang aku seru agar kamu menyembah-Nya. Sebab, sifat-sifat Tuhanku sangat berbeda jauh dari sifat-sifat dewamu.

Sesudah dijelaskan perbedaan Tuhan masing-masing yang disembah, maka ditegaskan pula perbedaan cara dan tujuan ibadat, dengan firman-Nya:

وَ لَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدْتُّمْ. وَ لَا أَنْتُمْ عَابِدُوْنَ مَا أَعْبُدُ.

Wa lā anā ‘ābidum ma ‘abattum. Wa lā antum ‘ābidūna ma a‘bud.

“Dan aku tidak beribadat dengan ibadatmu. Dan kamu tidak beribadat dengan ibadatku.”

(al-Kāfirūn [109]: 3).

Aku, kata Muḥammad lagi, tidak akan beribadat dengan cara kamu beribadat, dan kamu tidak pula akan beribadat dengan cara ibadatku. Ibadatku semata-mata untuk Allah, sedangkan ibadatmu, seluruhnya syirik dan mempersekutukan Allah dengan sesusatu makhluk.

لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَ لِيَ دِيْنِ

Lakum dīnukum wa liya dīn.

“Untuk kamu agamamu, dan untuk aku agamaku.”

(al-Kāfirūn [109]: 3).

Kamu akan memperoleh pembalasan terhadap amalan-amalanmu, dan aku pun memperoleh pembalasan terhadap amalan-amalanku.

Catatan:


  1. 1). Kaitkan dengan QS. al-Fātiḥah [1], QS. an-Nisā’ [4]: 150, 151, QS. al-Mā’idah [5]: 78, 79, QS. al-An‘ām [6], QS. al-A‘rāf [7], QS. al-Anfāl [8], QS. ar-Ra‘d [13], QS. an-Naḥl [16], QS. al-Isrā’ [17], QS. al-Kahfi [18], QS. al-Anbiyā’ [21], QS. al-Ḥajj [22], QS al-Furqān [25], QS. Saba’ [34], QS. Yāsīn [36], QS. Shād [38], QS az-Zumar [39], QS. Ghāfir [40], QS. Fushshilat [41], QS. az-Zukhruf [43], QS. al-Jātsiyah [45], QS. al-Wāqi‘ah [56], QS. al-Munāfiqūn [63], QS. al-Mā‘ūn [107] untuk mengetahui sifat-sifat orang kafir. 
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *