Surah al-Kafirun 109 ~ Tafsir al-Jalalain

Tafsir Jalalain | Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi

Dari Buku:
Tafsir Jalalain.
(Jilid 4. Dari Sūrat-uz-Zumar sampai Sūrat-un-Nās)
Oleh: Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi

Penerjemah: Bahrun Abu Bakar L.C.
Penerbit: Sinar Baru Algensindo Bandung

109

SŪRAT-UL-KĀFIRŪN

Makkiyyah atau Madaniyyah, 56 ayat

Turun sesudah Sūrat-ul-Mā‘ūn

 

Surat ini diturunkan sewaktu segolongan dari kaum musyrikin mengatakan kepada Rasulullah s.a.w.: “Sembahlah tuhan-tuhan kami selama satu tahun, kami pun akan menyembah Tuhan kamu selama satu tahun.”

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

 

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ.

1. (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ.) “Katakanlah: “Hai orang-orang kafir!”.”

لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُوْنَ.

2. (لَا أَعْبُدُ) “Aku tidak akan menyembah” maksudnya sekarang aku tidak akan menyembah (مَا تَعْبُدُوْنَ) “apa yang kalian sembah” yakni berhala-berhala yang kalian sembah itu.

وَ لَا أَنْتُمْ عَابِدُوْنَ مَا أَعْبُدُ.

3. (وَ لَا أَنْتُمْ عَابِدُوْنَ) “Dan kalian bukan penyembah” dalam waktu sekarang (مَا أَعْبُدُ) “Tuhan yang aku sembah” yaitu Allah s.w.t. semata.

وَ لَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدْتُّمْ.

4. (وَ لَا أَنَا عَابِدٌ) “Dan aku tidak mau menyembah” di masa mendatang (مَّا عَبَدْتُّمْ) “apa yang kalian sembah.”

وَ لَا أَنْتُمْ عَابِدُوْنَ مَا أَعْبُدُ.

5. (وَ لَا أَنْتُمْ عَابِدُوْنَ.) “Dan kalian tidak mau pula menyembah” di masa mendatang (مَا أَعْبُدُ) “Tuhan yang aku sembah” Allah s.w.t. telah mengetahui melalui ilmu-Nya, bahwasanya mereka di masa mendatang pun tidak akan mau beriman. Disebutkannya lafal dengan maksud Allah adalah hanya meninjau dari segi Muqābalah-nya. Dengan kata lain, bahwa yang pertama tidaklah sama dengan yang kedua.

لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَ لِيَ دِيْنِ

6. (لَكُمْ دِيْنُكُمْ) “Untuk kalianlah agama kalian” yaitu agama kemusyrikan (وَ لِيَ دِيْنِ) “dan untukkulah agamaku” yakni agama Islam. Ayat ini diturunkan sebelum Nabi saw. diperintahkan untuk memerangi mereka. Yā’ Idhāfah yang terdapat pada lafal ini tidak disebutkan oleh ahli qirā’at sab‘ah, baik dalam keadaan Waqaf atau pun Washal. Akan tetapi Imām Ya‘qūb menyebutkannya dalam kedua kondisi tersebut.

 

ASBĀB-UN-NUZŪL

SŪRAT-UL-KĀFIRŪN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Imām Thabrānī dan Imām Ibnu Abī Ḥātim, telah mengetengahkan sebuah hadits melalui Ibnu ‘Abbās r.a. yang telah menceritakan, bahwasanya orang-orang Quraisy mengajak Rasulullah s.a.w. supaya meninggalkan seruannya dengan imbalan, bahwa mereka akan memberikan kepadanya harta yang berlimpah, sehingga akan membuatnya menjadi lelaki yang terkaya di kota Makkah dan mereka akan menikahkannya dengan wanita-wanita yang disukainya. Untuk itu orang-orang Quraisy mengatakan: “Semuanya itu adalah untukmu, hai Muḥammad, asal kamu cegah dirimu dari mencaci maki tuhan-tuhan kami dan jangan pula kamu menyebut-nyebutnya dengan sebutan yang buruk. Jika kamu tidak mau, maka sembahlah tuhan-tuhan kami selama setahun.”

Lalu Rasulullah s.a.w. menjawab: “Tunggulah sampai ada wahyu yang turun kepadaku dari Rabbku”. Maka Allah menurunkan firman-Nya:

Katakanlah: “Hai orang-orang kafir…..” (109, al-Kāfirūn, 1 hingga akhir surat).

Allah s.w.t. menurunkan pula ayat lainnya, yaitu firman-Nya:

Katakanlah: “Apakah kalian menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?” (39, az-Zumar, 64).

‘Abd-ur-Razzāq telah mengetengahkan sebuah hadits melalui Wahab yang telah menceritakan, bahwasanya orang-orang Quraisy telah berkata kepada Nabi s.a.w.: “Jika kamu suka kamu boleh mengikuti kami selama satu tahun, dan kami akan mengikuti pula agamamu selama setahun”. Maka Allah menurunkan firman-Nya:

Katakanlah: “Hai orang-orang kafir…..” (109, al-Kāfirūn, 1 hingga akhir surat).

Imām Ibn-ul-Mundzir telah mengetengahkan pula hadtis yang serupa melalui Ibnu Juraij.

Imām Ibnu Abī Ḥātim telah mengetengahkan sebuah hadits melalui Sa‘īd ibnu Mīnā yang telah menceritakan, bahwasanya al-Walīd ibn-ul-Mughīrah, al-‘Ash ibnu Wail, al-Aswād ibn-ul-Muththalib dan Umayyah ibnu Khalaf mereka semuanya bertemu dengan Rasulullah s.a.w. lalu mereka mengatakan: “Hai Muḥammad kemarilah, mari kamu sembah apa yang kami sembah, maka kami pun akan menyembah Tuhan yang kamu sembah. Dan marilah kita bersama-sama bersekutu antara kami dan kamu di dalam perkara kita ini secara keseluruhan.” Maka Allah menurunkan firman-Nya:

Katakanlah: “Hai orang-orang kafir…..” (al-Kāfirūn [109]: 1 hingga akhir surat).

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *