Surah al-Kafirun 109 ~ Tafsir al-Jailani

Dari Buku: TAFSIR al-Jaelani
Oleh: Syekh ‘Abdul-Qadir Jaelani
Penerjemah: Abdul Hamid
Penerbit: PT. SAHARA intisains.

Surah ke 109; 6 ayat
Al-Kāfirūn
(orang-orang kafir).

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

 

Pembuka Surah al-Kāfirūn.

Orang yang menyelami tanda-tanda arah tauhid dan memahami isyarat yang menunjukkan kepada jalan kefana’an bersama Allah s.w.t. dan kekal dengan kekekalan-Nya; pasti mengetahui bahwa jalan menuju Allah s.w.t. itu berbeda-beda, dan tangga menuju kepada-Nya itu bermacam-macam. Sebab setiap umat ada kiblatnya sendiri-sendiri yang ia menghadap kepadanya.

Adapun jalan yang paling sempurna, paling lengkap, dan paling selamat adalah jalan yang dilalui dan ditempuh oleh Nabi terakhir, Muhammad s.a.w. Sebab jalan beliau mencakup semua jalan yang ada. Jalan beliau dibangun di atas pondasi tauhid inti yang meliputi semua tauhid sifat dan perbuatan. Tidak seorang pun yang mendapat petunjuk untuk menempuh jalan Nabi s.a.w. kecuali dengan adanya tarikan dari Allah s.w.t. dan karunia dari sisi-Nya. Siapa pun yang tidak mendapat bantuan dan pertolongan dari-Nya, ia tidak akan mendapat petunjuk untuk menempuh jalan-Nya.

Karena itulah Allah s.w.t. memerintahkan sang kekasih-Nya Muḥammad s.a.w., dalam surah ini, untuk tidak berpaling kepada perkataan orang-orang kafir yang batil dan menuruti pendapat mereka yang menyimpang pada saat mereka mengajaknya untuk menyembah tuhan mereka yang batil selama satu tahun, lalu mereka akan menyembah Allah s.w.t. Yang Maha Esa lagi berhak untuk disembah, selama satu tahun pula. Setelah memberikan keberkahan, Allah s.w.t. berfirman: (بِسْمِ اللهِ) [Dengan menyebut nama Allah] yang mengetahui hidayah maupun kesesatan yang tersembunyi dalam setiap hati hamba-Nya, (الرَّحْمنِ) [Yang Maha Pemurah] kepada mereka dengan cara mengutus para Rasul yang mengajak mereka menuju jalan keselamatan dan petunjuk, (الرَّحِيْمِ) [lagi Maha Penyayang] kepada mereka dengan mengantarkan mereka menuju tempat kembali yang terbaik.

Ayat 1.

(قُلْ) [Katakanlah], wahai Rasul yang paling sempurna, berserulah kepada orang yang mengajakmu untuk menyembah tuhannya yang batil, (يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ) [Hai orang-orang kafir] yang menutupi matahari kebenaran, yang muncul pada jiwa dan cakrawala dengan awan hawa nafsu kalian yang batil:

Ayat 2.

(لَا أَعْبُدُ) [Aku tidak akan menyembah], tidak patuh, dan tidak menghadap, apalagi setelah Allah s.w.t. memberi anugerah kepadaku untuk mengesakan-Nya, memberi hidayah kepadaku untuk menghadap matahari Dzat-Nya, dan memuliakan aku dengan dapat melihat wajah-Nya yang Maha Mulia: (مَا تَعْبُدُوْنَ) [apa yang kamu sembah] dari tuhan-tuhan palsu, sesat, fanā’, dan sia-sia, yang dijadikan tuhan oleh jiwa kalian dan nenek moyang kalian, padahal Allah s.w.t. tidak menurunkan kekuasaan kepadanya sama sekali. Bahkan kalian menjadikannya sebagai tuhan hanya berdasarkan persangkaan dan dorongan hawa nafsu semata, bukan didasarkan pada adanya hidayah yang berasal dari Allah s.w.t.

Ayat 3.

(وَ لَا أَنْتُمْ) [Dan kamu] juga (عَابِدُوْنَ مَا أَعْبُدُ) [bukan penyembah Ilah yang aku sembah], yakni Tuhan sebenarnya Yang Maha Esa, yang paling berhak untuk disembah dan ditaati. Sebab tidak ada tuhan lain bersama-Nya, dan tidak ada sesuatu pun yang menyamai-Nya hingga menyekutukan-Nya dalam sifat-Nya yang paling istimewa, yakni sifat ketuhanan-Nya. Sebab kalian tidak mampu dan tidak bersedia mengimani serta meyakini keesaan dan kebebasan-Nya dalam kekuasaan dan kerajaan-Nya. Di sisi lain, Allah s.w.t. tidak memberi anugerah maupun mentakdirkan kalian untuk melakukan hal tersebut.

Ayat 4.

(وَ) [Dan] intinya (لَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدْتُّمْ) [aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah], sebab yang kalian sembah tidak layak menyandang predikat “tuhan” hingga aku tidak perlu menyembahnya.

Ayat 5.

(وَ لَا أَنْتُمْ عَابِدُوْنَ مَا أَعْبُدُ) [Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Ilah yang aku sembah]. Sebab mengimani-Nya, mengetahui keberadaan-Nya, dan bersifat dengan pengetahuan dan penyaksian-Nya bukanlah sesuatu hal yang mudah bagi kalian. Sebab bagaimana mungkin kalian menyembah Allah s.w.t. Dzat Yang Maha Esa dan menjadi tempat bergantung, tanpa ada tarikan dan taufiq dari-Nya. Demikian pula dengan saya, saya tidak menyembah sesembahan kalian yang batil.

Ayat 6.

Ringkasnya, (لَكُمْ دِيْنُكُمْ) [Untukmulah agamamu] yang kamu pegang dan jalanmu yang kamu tempuh, setelah Allah s.w.t. tidak memberikan anugerah hidayah dan keimanan kepadamu, (وَ لِيَ دِيْنِ) [dan untukkulah agamaku] yang aku pegang. Janganlah kamu meninggalkan agamamu untuk mengikuti agamaku. Demikian pula dengan aku. Aku tidak akan meninggalkan agamaku demi untuk mengikuti agamamu. Jadi, bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Sebab anugerah, hidayah, maupun kesesatan, semuanya berada di tangan Allah s.w.t.


Penutup Surah al-Kāfirūn.

Wahai orang yang mengimani keesaan Allah s.w.t., mengikuti ajaran Nabi Muḥammad s.a.w. yang lurus, dan yang berpaling dari semua agama dan pemikiran yang meniadakan sumber air ketauhidan; janganlah kamu duduk bersama orang-orang lalai, sesat, dan yang sedang berada dalam kebimbangan di lembah kebodohan – dengan berbagai macam khayalan batil dan angan-angan yang sia-sia – yang memunculkan hawa nafsu mereka yang fanā’ dan identitas mereka yang samar. Janganlah kamu bergaul dengan mereka dalam kondisi apa pun. Sebab pergaulanmu dengan mereka dapat menjauhkanmu dari kebenaran dan menggiringmu menuju kebatilan. Sebab jiwa manusia adalah jiwa yang paling cepat merespon permusuhan dan paling besar kecenderungannya pada perkara bid‘ah, hawa nafsu yang merusak, dan pemikiran batil yang sia-sia.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *