Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir asy-Syaukani (6/6)

Dari Buku:
TAFSIR FATHUL-QADIR
(Jilid 12, Juz ‘Amma)
Oleh:  Imam asy-Syaukani

Penerjemah: Amir Hamzah, Besus Hidayat Amin
Penerbit: PUSTAKA AZZAM

Rangkaian Pos: Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir asy-Syaukani

Pembahasan mengenai perdukunan telah dijelaskan dalam agama ini, dan itu menjadi salah satu cara mengetahui sebagian perkara ghaib melalui curi dengar dari syaithan-syaithan sehingga hal itu dilarang dengan diutusnya Nabi s.a.w., lalu syaithan-syaithan itu berkata: (وَ أَنَّا لَمَسْنَا السَّمَاءَ فَوَجَدْنَاهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيْدًا وَ شُهُبًا. وَ أَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ فَمَنْ يَسْتَمِعِ الْآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَّصَدًا) “Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api. Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barang siapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).” (Qs. al-Jinn [72]: 8-9).

Oleh karena itu pembahasan tentang perdukunan pada waktu itu dikhususkan dengan dalil-dalilnya tersendiri. Dan itu termasuk yang dikhususkan dalam keumuman ini, sehingga klaimnya itu tidak membantah masuknya pada dukun dalam ayat ini.

Adapun hadits yang dipaparkannya mengenai perempuan tersebut, itu adalah hadits khurafat. Kalau sedikit saja dari banyak hal yang diceritakannya itu menjadi kenyataan, maka itu termasuk dalam bab hadits: (إِنَّ فِيْ هذِهِ الْأُمَّةِ مُحَدِّثِيْنَ وَ إِنَّ مِنْهُمْ عُمَرَ) “Sesungguhnya di dalam umat ini ada beberapa muhaddits (1541), dan di antara mereka adalah ‘Umar.” (1552) maka menjadi seperti pengkhususan terhadap keumuman ayat ini, bukan pengukuhan untuknya (dukun perempuan).

Adapun keberaniannya kepada Allah dan kepada Kitāb-Nya melalui pernyataannya di akhir kata-katanya: “Seandainya kami mengatakan bahwa al-Qur’ān menunjukkan hal-hal yang bertentangan dengan perkara-perkara yang jelas ini (real), maka akan sangat banyak tuduhan-tuduhan terhadap al-Qur’ān.” Maka dikatakan kepadanya bahwa ini bukanlah penyimpanganmu dan keteledoranmu yang pertama, melainkan telah banyak hal-hal yang serupa yang timbul dari pola pikir filosofimu, dan syaithan yang senantiasa menyertaimu dalam pembahasan-pembahasan tafsirmu. Sungguh mengherankan bagaimana engkau berpikir bahwa berita tentang perempuan itu dan yang sejenisnya akan menjadi tuduhan-tuduhan terhadap al-Qur’ān.

Jika engkau katakan: “Jadi, dapat ditetapkan dengan dalil al-Qur’ān ini bahwa Allah memperlihatkan sebagian perkara ghaib yang dikehendaki-Nya kepada para rasūl yang diridhai-Nya, lalu apakah rasūl yang telah Allah perlihatkan kepadanya perkara ghaib sesuai kehendak-Nya ini boleh memberitahu sebagian umatnya?

Saya jawab: “Ya, tidak ada larangan untuk hal tersebut, dan itu telah terjadi dari Nabi s.a.w. yang tidak tersembunyi bagi mereka yang mengerti hadits-hadits Nabi yang suci. Di antaranya riwayat yang valid bahwa Nabi s.a.w. menempati sebuah tempat dan memberitahu apa yang akan terjadi sampai Hari Kiamat, dan beliau tidak meninggalkan sesuatu pun yang berkaitan dengan fitnah-fitnah dan sejenisnya. Sebagian orang ada yang hafal dan sebagian lain ada yang lupa.

Juga, riwayat yang valid bahwa Ḥudzaifah bin al-Yaman telah diberitahu oleh Rasūlullāh s.a.w. tentang fitnah-fitnah yang akan terjadi setelahnya, hingga ia ditanya oleh para sahabat senior dan mengembalikan berbagai perkata kepadanya.

Dalam hadits shahih dan lainnya ditetapkan bahwa ‘Umar bin al-Khaththāb bertanya kepadanya tentang fitnah yang bergelombang seperti riak pasang surut gelombang lautan, maka Ḥudzaifah bin al-Yaman menjawab: “Sesungguhnya antara anda dan fitnah itu terdapat sebuah pintu.” ‘Umar bertanya: “Apakah pintu itu bisa dibuka atau harus dirusak?” Dia menjawab: “Akan tetapi dirusak.” Maka ‘Umar mengerti bahwa dia (diibaratkan) sebagai pintu, dan perusakannya yakni kematiannya. (1563).

Sebagaimana terdapat di dalam hadits shaḥīḥ yang sudah dikenal, bahwa dikatakan kepada Ḥudzaifah: “Apakah ‘Umar mengerti hal itu?” Dia menjawab: “Ya, dia mengerti sebelum malam keesokan harinya.”

Juga, riwayat yang valid mengenai pemberitaan Ḥudzaifah kepada Abū Dzarr tentang apa yang akan terjadi padanya. Juga pemberitaannya kepada ‘Alī bin Abī Thālib mengenai dzū tsaduyah yang memiliki nama asli Nāfi‘ dan berita-berita sejenis yang banyak jumlahnya, yang jika keseluruhannya dihimpun maka akan menjadi sebuah buku tersendiri. Jika hal ini telah ditetapkan, maka tidak ada halangan untuk dikhususkan kepada sebagian orang-orang shaleh dari umat ini untuk diperlihatkan sebagian berita-berita ghaib yang Allah telah perlihatkan kepada Rasūl-Nya, kemudian Rasūl-Nya memberitahu sebagian umatnya, lalu sebagian umat ini memberitahu generasi berikutnya. Maka karamah-karamah yang dimiliki orang-orang shaleh berasal dari sini, dan semuanya berasal dari karunia ilahi melalui sisi kenabian.

Kemudian Allah menyebutkan bahwa Dia memelihara berita ghaib yang diperlihatkan kepada Rasūl itu dan berfirman: (فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَ مِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا) “Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” Kalimat ini merupakan pernyataan untuk menunjukkan manfaat dari pengecualian ini, dan maknanya: “Bahwa Allah s.w.t. mengadakan di hadapan Rasūl dan di belakangnya para penjaga dari kalangan malaikat yang senantiasa mengawal beliau dari intaian syaithan-syaithan untuk mengetahui perkara ghaib yang diperlihatkan-Nya kepada beliau, atau mengadakan di hadapan wahyu dan di belakangnya para penjaga dari kalangan malaikat yang senantiasa mengawal beliau supaya syaithan-syaithan tidak mencuri dengar wahyu tersebut dan menyampaikannya kepada para dukun.

Yang dimaksud “dari segala arah”, Adh-Dhaḥḥāk mengatakan: Allah tidak mengutus seorang nabi melainkan (mengutus) bersamanya para malaikat yang senantiasa menjaganya dari syaithan-syaithan yang hendak menyerupai sosok malaikat, apabila syaithan mendatangi nabi tersebut dalam sosok malaikat, maka para malaikat akan berseru: “Itu syaithan, waspadalah terhadapnya.” Dan jika ia didatangi malaikat, maka para malaikat penjaga itu akan berseru: “Itu adalah utusan Tuhanmu.”

Ibnu Zaid berkata: (رَصَدًا) “Penjaga-penjaga” yakni para malaikat penjaga yang menjaga Nabi s.a.w. dari arah depan dan belakang beliau, dari gangguan jinn dan syaithan. Qatādah dan Sa‘īd bin al-Musayyab berkata: “Mereka adalah empat malaikat penjaga.” Al-Farrā’ berkata: “Yang dimaksud adalah Jibrīl.” Dikatakan di dalam ash-Shiḥāḥ, (رَصَدًا) “penjaga-penjaga” adalah kaum yang mengintai, seperti para penjaga. Penyebutannya berlaku sama, baik untuk tunggal, banyak, dan mu’annats.” Pemantau sesuatu berarti ia mengawasinya, dikatakan: (رصده، يرصده، رَصَدًا، وَ رصدًا), (الترصد) bermakna (الترقب) “penjagaan/pengintaian/pengawasan”, dan (الْمَرْصَدُ) adalah tempat pengintaian.

(لِيَعْلَمَ أَنْ قَدْ أَبْلَغُوْا رِسَالَاتِ رَبِّهِمْ) “Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasūl-rasūl itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya”, huruf lām di sini terkait dengan (يَسْلُكُ), dan yang dimaksud dengannya adalah mengetahui apa yang terikat dengan penyampaian yang ada secara nyata. Dan itu merupakan kata yang diringankan (mukhaffafah) dari yang berat (tsaqīlah), dan isimnya adalah dhamīr sya’n, dan khabar-nya adalah susunan kalimat, dan (رِسَالَاتِ) “risalah-risalah” merupakan penggambaran dari perkara ghaib yang hendak diperlihatkan kepada rasūl yang Allah ridhai.

Dhamīr (يعود) kembali kepada (الرصَدُ). Qatādah dan Muqātil berkata: Supaya Muḥammad mengetahui bahwa para rasūl sebelum beliau telah menyampaikan risalah sebagaimana beliau menyampaikan risalahnya, di sini terdapat kata yang dihilangkan yang berkaitan dengan lām, yakni: Kami memberitahunya bahwa kami menjaga wahyu itu, supaya beliau mengetahui bahwa para rasūl sebelum beliau memiliki kondisi yang sama dalam hal menyampaikan risalah.

Pendapat lain menyebutkan: Supaya Muḥammad mengetahui bahwa Jibrīl dan malaikat-malaikat yang bersamanya telah menyampaikan kepada beliau risalah-risalah Tuhannya. Ini dinyatakan oleh Sa‘īd bin Jubair.

Pendapat lain menyebutkan supaya para rasūl mengetahui bahwa para malaikat itu menyampaikan risalah-risalah Tuhannya. Pendapat lain lagi menyatakan supaya Iblīs mengetahui bahwa para rasūl telah menyampaikan risalah Tuhannya tanpa bercampur-aduk.

Ibnu Qutaibah berkata: Supaya jinn-jinn mengetahui bahwa para rasūl menyampaikan apa yang diturunkan kepada mereka dan bukan jinn-jinn itu yang menyampaikan apa yang mereka curi dengar dari wahyu langit.

Mujāhid berkata: Supaya orang yang mendustakan para rasūl mengetahui bahwa para rasūl itu menyampaikan risalah Tuhan mereka.

Jumhur ulama membaca (لِيَعْلَمَ) dengan fatḥah pada yā’ dalam bentuk mabnī lil-fā‘il. Ibnu ‘Abbās, Mujāhid, Ḥumaid, dan Ya‘qūb, dan Zaid bin ‘Alī membaca dengan dhammah dalam bentuk mabnī lil-maf‘ūl, yakni supaya manusia mengetahui bahwa para rasūl telah menyampaikan. Az-Zajjāj mengatakan, supaya Allah mengetahui bahwa para rasūl telah menyampaikan risalah-Nya, yakni supaya Dia mengetahui hal itu secara nyata sesuai pengetahuan-Nya di keghaiban. Sementara Ibnu Abī ‘Ablā dan az-Zuhrī membaca dengan dhammah pada yā’ dan kasrah pada lām.

(وَ أَحَاطَ بِمَا لَدَيْهِمْ) “Sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka” yakni pada pemantauan para malaikat-Nya, atau pada para rasūl yang menyampaikan risalah-risalahNya. Kalimat ini berkedudukan nashab sebagai ḥāl dari fā‘il (يَسْلُكُ) “mengadakan” dengan menyembunyikan (قَدْ). Yakni, keberadaannya bahwa Allah Ta‘ālā mengetahui kondisi mereka. Sa‘īd bin Jubair: Supaya diketahui bahwa Tuhan mereka meliputi apa yang ada pada mereka, maka mereka menyampaikan risalah-Nya.

(وَ أَحْصَى كُلَّ شَيْءٍ عَدَدًا.) “Dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu.” Segala sesuatu yang telah ada dan yang akan ada mendatang, dan kalimat ini di-‘athaf-kan kepada (عَدَدًا. وَ أَحَاطَ) boleh berkedudukan nashab sebagai tamyīz yang diubah dari maf‘ūl bih, yakni (وَ أَحْصَى عَدَدَ كُلَّ شَيْءٍ.) “dan Dia menghitung jumlah segala sesuatu”, sebagaimana Allah berfirman: (وَ فَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُوْنًا) “Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air.” (Qs. al-Qamar [54]: 12) dan boleh pula berkedudukan nashab sebagai mashdar, atau posisi ḥāl yaitu (مَعْدُوْدًا) dan maknanya: bahwa ilmu Allah s.w.t. terhadap segala sesuatu bukan secara global, melainkan secara terperinci, yakni Allah menghitung semua individu dari makhluk-makhlukNya secara detil.

 

Atsar-atsar yang berkaitan dengan penafsiran ayat-ayat diatas:

Ibnu Jarīr meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās, ia mengatakan: (الْقَاسِطُوْنَ) “orang-orang yang menyimpang dari kebenaran” adalah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Ibnu Jarīr juga meriwayatkan darinya tentang firman-Nya: (وَ أَنْ لَّوِ اسْتَقَامُوْا عَلَى الطَّرِيْقَةِ) “Dan bahwasanya: Jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam).” Ia (Ibnu ‘Abbās) berkata: “Melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka.” (لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَّاءً غَدَقًا.) “Benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak).” Ia berkomentar: “Tertentu.”

‘Abd bin Ḥumaid dan Ibnu Jarīr meriwayatkan dari as-Suddī, ia berkata: “‘Umar membaca: (وَ أَنْ لَّوِ اسْتَقَامُوْا عَلَى الطَّرِيْقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَّاءً غَدَقًا. لِنَفْتِنَهُمْ فِيْهِ) “Dan bahwasanya: Jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak). Untuk Kami beri cobaan kepada mereka padanya.” Kemudian ia berkomentar: “Di mana ada air akan ada harta, di mana ada harta akan ada fitnah.”

Ibnu Jarīr meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās tentang (لِنَفْتِنَهُمْ فِيْهِ) “Untuk Kami beri cobaan kepada mereka padanya” ia berkomentar: “Supaya Kami menguji mereka dengannya.” Dan tentang firman-Nya: (وَ مَنْ يُعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا.) “Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam adzab yang amat berat.” ia berkomentar: “Tingkatan adzab yang naik.”

Diriwayatkan oleh Hannād, ‘Abd bin Ḥumaid, Ibnu Mundzir, al-Ḥākim dan ia menilainya shaḥīḥ, dari Ibnu ‘Abbās tentang firman-Nya: (يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا) “Niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam adzab yang amat berat.” ia berkomentar: “Sebuah gunung di neraka Jahannam.”

Ibnu Jarīr meriwayatkan darinya juga tentang (عَذَابًا صَعَدًا) “Adzab yang amat berat” ia berkomentar: “Tidak ada istirahat padanya.” Ibnu Abī Ḥātim meriwayatkan darinya juga tentang firman-Nya: (وَ أَنَّ الْمَسَاجِدَ للهِ) “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah” ia berkomentar, “Pada hari diturunkannya ayat ini belum ada masjid di bumi selain masjid-il-ḥarām dan masjid Iliyā di Bait-ul-Maqdis.”

Ibnu Mardawaih dan Abū Nu‘aim di dalam ad-Dalā’il meriwayatkan dari Ibnu Mas‘ūd, ia berkata: “Rasūlullāh s.a.w. keluar sebelum hijrah ke pojok-pojok kawasan Makkah, kemudian beliau menuliskan sesuatu untukku dan berkata: (لَا تُحَدِّثَنَّ شَيْئًا حَتَّى آتِيْكَ) “Jangan engkau berbicara sesuatu sampai aku mendatangimu.” Kemudian beliau bersabda lagi: (لَا يَهُوْلَنَّكَ شَيْئًا تَرَاهُ) “Janganlah mengejutkanmu sesuatu yang kau lihat.” (1574) Beliau maju sedikit lalu duduk, dan ternyata ada orang-orang hitam seakan-akan mereka adalah orang-orang Zuth (sebuah gunung di India), sebagaimana firman Allah: (كَادُوْا يَكُوْنُوْنَ عَلَيْهِ لِبَدًا) “hampir saja jinn-jinn itu desak-mendesak mengerumuninya.”

Ibnu Jarīr dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās tentang ayat itu, dan ia berkata: “Tatkala mereka mendengar Nabi s.a.w. membaca al-Qur’ān, hampir-hampir mereka mengendarainya karena sangat bersemangat untuk mengetahui apa yang mereka dengar, dan mereka mendekat kepada beliau, dan beliau tidak mengetahui keberadaan mereka hingga seorang utusan (Jibrīl) mendatangi beliau dan membacakan kepada beliau: (قُلْ أُوْحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ) “Katakanlah (hai Muḥammad): Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jinn (akan al-Qur’ān).

‘Abd bin Ḥumaid, at-Tirmidzī dan ia menilainya shaḥīḥ, Ibnu Jarīr, al-Ḥākim dan ia menilainya shaḥīḥ, Ibnu Mardawaih di dalam al-Mukhtarah, darinya (Ibnu ‘Abbās) mengenai ayat di atas, ia berkata: “Tatkala jinn mendatangi Rasūlullāh s.a.w. yang sedang mengimani pelaksanaan shalat bersama para sahabat beliau, mereka ruku‘ sesuai ruku‘ beliau, dan sujud sesuai sujud beliau, maka jinn-jinn merasa kagum dengan ketaatan para sahabat beliau, dan mereka berkata kepada kaumnya: (قَامَ عَبْدُ اللهِ يَدْعُوْهُ) “hamba Allah (Muḥammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadah).” Dan hampir saja jinn-jinn itu desak-mendesak mengerumuninya. (1585).

Ibnu Mundzir meriwayatkan darinya juga tentang (لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللهِ يَدْعُوْهُ) “Tatkala hamba Allah (Muḥammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadah).” yakni memohon kepada Allah. Ibnu Mundzir dan Ibnu Abī Ḥātim meriwayatkan darinya tentang firman-Nya: (كَادُوْا يَكُوْنُوْنَ عَلَيْهِ لِبَدًا) “Hampir saja jinn-jinn itu desak mendesak mengerumuninya” ia berkomenter: “Teman-teman” Ibnu Mundzir dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan darinya juga tentang: (فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا. إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَّسُوْلٍ) “maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasūl yang diridhai-Nya” ia berkata: Allah memberitahukan kepada Rasūl-Nya sebagian perkara ghaib dan wahyu, dan Allah memperlihatkan beberapa perkara ghaib yang diwahyukan kepada beliau. Adapun apa yang menjadi hukum Allah, tidak ada yang mengetahuinya selain-Nya.

Ibnu Abī Ḥātim dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan darinya juga tentang: (رَصَدًا) “Penjaga-penjaga” ia berkomentar: “Itu adalah para malaikat yang menjaga Rasūlullāh s.a.w. dari syaithan-syaithan hingga jelas apa yang beliau diutus dengannya kepada mereka. Hal itu sehingga orang-orang musyrik mengatakan bahwa beliau telah menyampaikan risalah Tuhan mereka. Ibnu Mardawaih meriwayatkan darinya juga, ia berkomentar: “Allah tidak menurunkan sebuah ayat kepada Nabi-Nya s.a.w. kecuali bersamanya ada empat malaikat yang menjaganya hingga mereka menyampaikannya kepada Rasūlullāh s.a.w., kemudian ia membaca: (عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا. إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَّسُوْلٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَ مِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا) “(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasūl yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” yaitu empat malaikat tersebut. (لِيَعْلَمَ أَنْ قَدْ أَبْلَغُوْا رِسَالَاتِ رَبِّهِمْ) “Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasūl-rasūl itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya”. Selesai.

Catatan:

  1. 154). Muḥaddits adalah orang yang tepat dalam ucapannya, atau kerap tebersit sesuatu dalam pikirannya sebagai keutamaan dan taufiq dari Allah – penerj.
  2. 155). Shaḥīḥ; HR. al-Bukhārī (3689) dari hadits Abū Hurairah dan Muslim (4/1864) dari hadits ‘Ā’isyah r.a.
  3. 156). Muttafaq ‘alaih; HR. Al-Bukhārī (7096) dan Muslim (4/2218) dari hadits Ḥudzaifah.
  4. 157). HR. al-Baihaqī di dalam ad-Dalā’il (2/230, 231) dari Ibnu Mas‘ūd melalui beberapa jalur dan dengan beberapa matan yang saling berdekatan (mirip).
  5. 158). Shaḥīḥ; at-Tirmidzī (3323) dan ia berkomentar: “Ḥasan shaḥīḥ”, Ibnu Jarīr (29/74), al-Ḥākim (2/504) dan ia berkomentar: “Sanadnya shaḥīḥ.” Disepakati oleh adz-Dzahabī, dan hadits ini sebagaimana yang keduanya nyatakan.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *