Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir al-Qur’an-ul-Majid an-Nur

Judul Buku:
TAFSĪR AL-QUR’ĀNUL MAJĪD AN-NŪR

JILID 4

Penulis: Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy
Diterbitkan oleh: Cakrawala Publishing

Rangkaian Pos: Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir al-Qur'an-ul-Majid an-Nur
  1. 1.Anda Sedang Membaca: Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir al-Qur’an-ul-Majid an-Nur
  2. 2.Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir al-Qur’an-ul-Majid an-Nur (Bagian 2)

Surat Ke-72

AL-JINN

(Bagian 1 dari 2)

Surat al-Jinn bermakna jinn. Diturunkan di Makkah sesudah surat al-A‘raf terdiri dari 28 ayat. Dinamakan al-Jinn, karena menjelaskan pernyataan-pernyataan jinn dalam menghargai iman dan merendahkan nilai kekafiran.

 

A. KANDUNGAN ISI

Surat ini menjelaskan berbagai kenyataan yang dikemukakan oleh al-Qur’ān dengan perantaraan jinn. Mereka menerangkan bahwa Tuhan Yang Maha Esa tidak beranak, tidak beristri, bahwa beberapa golongan manusia mencari perlindungan kepada jinn, bahwa jinn dahulu selalu mengintai kabar-kabar yang datang dari alam atas, yang sejak Muḥammad diutus menjadi nabi, hal itu tidak mereka lalukan lagi. Jinn ada yang baik dan ada yang jahat. Jinn dan manusia memperoleh kekayaan, apabila mereka tetap berlaku lurus. Bahwa masjid adalah milik Allah dan golongan jinn selalu datang bermakmum kepada Nabi s.a.w.

Dalam surat ini juga dijelaskan tentang beberapa tuntunan yang harus dituruti oleh Nabi Muḥammad s.a.w.

 

B. KAITAN DENGAN SURAT SEBELUMNYA

Persesuaian antara surat yang telah lalu (Nūḥ) dan surat ini adalah:

1. Dalam surat yang telah lalu, Allah menyuruh kita memohon ampunan kepada-Nya, sedangkan dalam surat ini Allah menjelaskan bahwa orang yang tetap berjalan lurus sesuai dengan kehendak syara‘ akan diberi kehidupan yang baik.

2. Dalam surat yang telah lalu diterangkan hal-hal yang berpautan dengan langit. Hal itu juta diulangi kembali dalam surat ini.

 

C. TAFSĪR SURAT AL-JINN

1. Sekumpulan jinn mendengarkan al-Qur’ān. Jinn mengakui bahwa Allah tidak beristri dan tidak beranak. Di antara jinn ada yang mu’min, ada yang fasik dan ada yang kafir.

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Bismillāhirraḥmānirraḥīm

Dengan (menyebut) nama Allah Yang Maha Pemurah, yang senantiasa mencurahkan rahmat-Nya.

 

قُلْ أُوْحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوْا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا. يَهْدِيْ إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَ لَنْ نُّشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا.

Qul ūhiya ilayya annah-us-tama‘a nafarum min-al-jinni faqālū innā sami‘nā qur’ānan ‘ajabā. Yahdī ilar-rusydi fa āmannā bihi wa lan nusyrika bi rabbinā aḥadā.

Katakanlah: “Diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jinn mendengarkan pembacaan al-Qur’ān. Kemudian mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengar al-Qur’ān (kitab yang lengkap) yang mengagumkan. (11) Kitab itu memberikan petunjuk kepada jalan yang benar, karena itu kami mengimaninya. Kami sama sekali tidak akan mempersekutukan seseorang pun dengan Allah.” (Al-Jinn ]72]: 1-2)

Allah memerintahkan Rasūl-Nya untuk menjelaskan kepada para sahabat bahwa Dia telah mewahyukan kepada beliau yang menyebutkan, segolongan jinn telah datang mendengarkan pembacaan al-Qur’ān dan beliau. Allah memerintahkan Nabi menjelaskan hal itu, maksudnya agar para sahabat mengetahui bahwa selain diutus kepada jinn, sehingga mereka perlu mengetahui bahwa golongan jinn itu mendengar pembicaraan kita dan memahami bahasa kita. Jinn juga dibebani tugas-tugas agama, jinn yang mu’min mengajak kawan-kawannya untuk beriman, dan supaya golongan Quraisy mengetahui bahwa golongan jinn, setelah mendengar pembacaan al-Qur’ān dan meyakini kemu‘jizatannya, mereka pun beriman.

Menurut lahiriah ayat ini, Nabi mengetahui bahwa para jinn mendengar beliau membaca al-Qur’ān adalah berdasarkan wahyu, sedangkan beliau tidak menyaksikannya sendiri.

Dijelaskan oleh al-Bukhārī dan Muslim bahwa Rasūlullāh s.a.w. pergi dengan segolongan sahabat ke Pasar ‘Ukkāzh. Ketika itu jinn tidak dibenarkan lagi naik ke langit untuk mendengar apa yang dipercakapkan oleh penduduk langit. Mereka pergi ke timur dan ke barat. Maka, segolongan pergi ke Tihamah pada saat Nabi shalat subuh beserta para sahabatnya di suatu tempat yang bernama Nakhlah. Setelah mereka mendengarkan bacaan Nabi, mereka pun berkata: “Inilah yang menghalangi kita naik ke langit.” Mereka semua kembali kepada kaumnya dan menjelaskan apa yang mereka dengar itu.

Berkenaan dengan peristiwa tersebut, maka turunlah ayat-ayat ini. Hal ini terjadi tiga tahun sebelum Nabi hijrah ke Madīnah.

Setelah jinn-jinn itu kembali kepada kaum mereka, maka mereka pun mengatakan: “Kami telah mendengar bacaan sebuah kitab yang sangat indah susunannya, sangat tinggi nilainya, yang tidak menyerupai pembicaraan manusia, bahkan tidak menyerupai susunan bahasa kitab-kitab yang lain, baik dalam segi kandungan dan maksud maupun dalam segi ketinggian bahasa. Al-Qur’ān merupakan sebuah kitab yang menunjuk kepada kebajikan dan kebenaran. Kami telah beriman kepadanya dan kepada Nabi yang membacanya. Kami sama sekali tidak akan mempersekutukan makhluk-Nya dengan Allah.

 

وَ أَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَ لَا وَلَدًا.

Wa annahū ta‘ālā jaddu rabbinā mattakhdza shāḥibataw wa lā waladā.

Sesungguhnya sangat tinggi kebesaran Tuhan kami. Dia tidak mengambil istri dan anak.” (22). (al-Jinn [72]: 3).

Para jinn itu, sebagaimana tidak mempersekutukan sesuatu dengan Allah, mereka pun mengakui bahwa Allah tidak beristri dan tidak beranak. Kalau Allah beristri berarti Dia memerlukan istri dari jenisnya sendiri. Hal ini mustahil.

 

وَ أَنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ سَفِيْهُنَا عَلَى اللهِ شَطَطًا.

Wa annahū kāna yaqūlu safīhunā ‘allāhi syathathā.

Sesungguhnya orang-orang yang menyesatkan (orang yang kurang akal) di antara kami mengucapkan perkataan-perkataan yang tidak benar terhadap Tuhan.” (al-Jinn [72]: 4).

Jinn-jinn yang berusaha menyesatkan teman-temannya telah mengatakan sesuatu yang tidak benar tentang Allah, yaitu mengatakan bahwa Allah beranak dan beristri.

 

وَ أَنَّا ظَنَنَّا أَنْ لَّنْ تَقُوْلَ الْإِنْسُ وَ الْجِنُّ عَلَى اللهِ كَذِبًا.

Wa annā zhanannā an lan taqūlal insu wal jinnu ‘alallāhi kadzibā.

Sesungguhnya kami mengira, manusia dan jinn itu sama sekali tidak akan mengucapkan perkataan yang palsu terhadap Allah.” (al-Jinn [72]: 5).

Kami, kata jinn yang datang kepada Nabi, menyangka bahwa tidak ada seorang pun yang berani berdusta terhadap Allah. Karena itu, Kami membenarkan perkataan-perkataan orang yang menyesatkan itu. Setelah kami mendengar pembacaan al-Qur’ān, barulah kami mengetahui bahwa yang menyatakan Allah beranak dan beristri adalah dusta.

 

وَ أَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ رَهَقًا.

Wa anahū kāna rijālun minal insi ya‘ūdzūna bi rijālin minal jinni fa zādūhum rahaqa.

Sesungguhnya ada beberapa orang dari manusia berlindung terhadap beberapa jinn, maka jinn itu menjadikan mereka bertambah sesat.” (33) (al-Jinn [72]: 6).

Ada beberapa manusia yang berlindung di padang-padang tandus kepada sejumlah jinn, maka sebenarnya jinn-jinn itu hanyalah menambahkan kesesatan dan dosa. (44) Atau mereka itu menambah kesombongan dan keangkuhan bagi jinn-jinn tersebut.

 

وَ أَنَّهُمْ ظَنُّوْا كَمَا ظَنَنْتُمْ أَنْ لَّنْ يَبْعَثَ اللهُ أَحَدًا.

Wa annahum zhannū kama zhanantum al lay yab‘atsallāhu aḥadā.

Sesungguhnya mereka mengira seperti perkiraanmu bahwa Allah sama sekali tidak akan membangkitkan seorang jua pun.” (al-Jinn [72]: 7).

Para manusia itu menyangka bahwa yang kamu sangkakan, yaitu Allah tidak membangkit (mengutus) seseorang rasūl kepada hamba-Nya atau tidak membangkitkan (menghidupkan kembali) seorang makhluk sesudah makhluk itu mati.

 

وَ أَنَّا لَمَسْنَا السَّمَاءَ فَوَجَدْنَاهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيْدًا وَ شُهُبًا.

Wa annā lamasnas samā’a fa wajadnāhā muli’at ḥarasan syadīdaw wa syuhubā.

Sesungguhnya kami berusaha sampai ke langit, tetapi kami dapati penuh dengan penjagaan keras (ketat) dan suluh api yang menyala.” (al-Jinn [72]: 8).

Allah menjelaskan apa yang diucapkan oleh para jinn ketika Dia mengutus Muḥammad dan menurungkan al-Qur’ān. Para jinn berkata: “Sekarang ini langit penuh dengan pengawal dan penjaga yang kuat, dan penuh pula dengan malaikat yang melempar kita dengan suluh-suluh api yang menghalangi kita naik ke langit untuk mendengar ucapan-ucapan penduduk alam tinggi, sebagaimana yang kita lakukan selama ini.

 

وَ أَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ فَمَنْ يَسْتَمِعِ الْآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَّصَدًا.

Wa annā kunnā naq‘udu minhā maqā’ida lis sam‘i, fa may yastami‘ilāna yajid lahū syihābar rashadā.

Sesungguhnya kami telah menduduki beberapa tempat di langit untuk mendengarkan, maka sekarang siapa yang mencoba mendengarkan, niscaya dia dapati baginya suluh api yang mengintainya.” (al-Jinn [72]: 9).

Sebelum kejadian ini, ujar jinn, kami sudah pernah duduk di situ dalam beberapa tempat yang tidak dijaga, tidak ada suluh api, untuk mendengarkan pembicaraan penduduk langit. Tetapi sekarang kita tidak dapat mendengar apa-apa lagi. Karenanya, kita tidak dapat lebih dahulu mengetahui ayat-ayat al-Qur’ān yang dibaca di langit untuk dapat kita sampaikan kepada para penenung. Demikianlah Allah memelihara al-Qur’ān, kitab-Nya.

Sekarang ini, siapa saja yang ingin mendengarkan pembicaraan penduduk langit pastilah dia mendapati suluh-suluh api yang menyala yang tidak dapat dilewatinya. Bahkan mengejarnya ke sana kemari, yang kemudian membakarnya.

 

وَ أَنَّا لَا نَدْرِيْ أَشَرٌّ أُرِيْدَ بِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا.

Wa annā lā nadrī asyarrun urīda bi man fil ardhi am arāda bihim rabbukum rasyadā.

Kami tidak mengetahui, apakah bencana yang dikehendaki untuk orang-orang yang ada di bumi atau Tuhan mereka berkehendak memberikan petunjuk yang benar kepada mereka.” (al-Jinn [72]: 10).

Kami tidak mengetahui, mengapa langit itu dikawal dan dijaga ketat. Mungkin dikawal, karena Allah akan menimpakan adzab kepada penduduk bumi secara tiba-tiba dan kemungkinan pula karena telah didatangkan seorang Nabi yang membawa perbaikan untuk segenap manusia.

 

وَ أَنَّا مِنَّا الصَّالِحُوْنَ وَ مِنَّا دُوْنَ ذلِكَ كُنَّا طَرَائِقَ قِدَدًا.

Wa annā minnash shāliḥūna wa minnā duna dzālika kunnā tharā’iqa qidadā.

Di antara kami ada yang baik dan di antara kami ada juga yang kurang dari itu. Adalah kami menempuh jalan yang berlain-lainan (mengikuti hawa nafsu yang bermacam-macam jenis-nya).” (al-Jinn [72]: 11).

Di antara kami ada yang menyerahkan diri dan menaati Allah, tetapi ada juga yang tidak. Ringkasnya, kami ini berkelompok-kelompok, dan masing-masing kelompok mengikuti hawa nafsunya. Ada yang mu’min, ada yang fasik, dan ada yang kafir, seperti halnya manusia.

 

وَ أَنَّا ظَنَنَّا أَنْ لَّنْ نُّعْجِزَ اللهَ فِي الْأَرْضِ وَ لَنْ نُّعْجِزَهُ هَرَبًا.

Wa annā zhanannā al lan nu‘jizallāha fil ardhi wa lan nu‘jizahu harabā.

Kami mengetahui bahwa kami sama sekali tidak sanggup mengalahkan Allah di muka bumi dan sama sekali tidak sanggup mengalahkan-Nya dengan melarikan diri.” (al-Jinn [72]: 12).

Kami benar-benar meyakini bahwa kami tidak dapat melemahkan Allah di mana saja kami berada, dan kami meyakini kami tidak dapat melarikan diri dari tuntutan Allah. Allah itu Maha Berkuasa atas diri kami di mana saja kita berada.

 

وَ أَنَّا لَمَّا سَمِعْنَا الْهُدَى آمَنَّا بِهِ فَمَنْ يُؤْمِنْ بِرَبِّهِ فَلَا يَخَافُ بَخْسًا وَ لَا رَهَقًا.

Wa anna lamma sami‘nal huda amanna bihi fa may yu’mim bi rabbihi fa la yakhafu bakhsaw wa la rahaqa.

Sesungguhnya kami, ketika mendengar pembacaan al-Qur’ān yang menunjuk kepada kebenaran, kami pun beriman kepada Allah. Maka, barang siapa beriman kepada Tuhannya, niscaya dia tidak merasa takut menderita kerugian dan aniaya.” (al-Jinn [72]: 13).

Setelah kami mendengar pembacaan al-Qur’ān yang isinya menunjuk kepada jalan yang benar, kami pun membenarkannya dan mengakui bahwa al-Qur’ān itu dari Allah. Karena itu, orang yang membenarkan Allah dan membenarkan al-Qur’ān yang diturunkan kepada Rasūl dari Tuhan, tentu tidak takut kebijakannya berkurang. Juga tidak khawatir akan memikul dosa yang tidak dikerjakannya. Dia akan memperoleh ganjaran yang sempurna.

 

وَ أَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُوْنَ وَ مِنَّا الْقَاسِطُوْنَ فَمَنْ أَسْلَمَ فَأُوْلئِكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا.

Wa annā minnal muslimūna wa minnal qāsithūna fa man aslama fa ulā’ika taḥarrau rasyadā.

Sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang menyerahkan diri dan di antara kami ada orang yang menyimpang. Maka, barang siapa menyerahkan diri, itulah orang yang sengaja menempah jalan yang benar.” (al-Jinn [72]: 14).

Ada di antara kami yang beriman, menaati Allah dan mengerjakan amalan saleh dengan tulus ikhlas dan di antara kami ada pula yang menyimpang dari jalan yang benar, tidak mau beriman. Orang yang beriman kepada Allah dan menaati-Nya, merekalah yang menempuh jalan yang lurus, yang menyampaikannya kepada kebahagiaan.

Catatan:


  1. 1). Kaitkan dengan QS. al-Aḥqāf [46]. Baca QS. al-Aḥqāf [46]: 29-30; Bukhārī 65: 72; Muslim 4: 149. 
  2. 2). Kaitkan dengan QS. al-An‘ām [6]: 101. 
  3. 3). Kaitkan dengan QS. ash-Shāffāt [37]; QS. al-A‘rāf [7]: 38-39; QS. Saba’ [34]; QS. Ghāfir [40]; QS. Ibrāhīm [14]; QS. al-An‘ām [6]; QS. Yāsīn [36]; QS. asy-Syu‘arā’ [26]; Al-Kahfi [18]: QS. al-Ḥijr [15]; QS. ar-Raḥmān [55]. 
  4. 4). Baca Muslim 48 Hadits ke 54, 55. 
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *