Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir al-Qur’an-ul-Majid an-Nur (Bagian 2)

Judul Buku:
TAFSĪR AL-QUR’ĀNUL MAJĪD AN-NŪR

JILID 4

Penulis: Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy
Diterbitkan oleh: Cakrawala Publishing

Rangkaian Pos: Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir al-Qur'an-ul-Majid an-Nur
  1. 1.Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir al-Qur’an-ul-Majid an-Nur
  2. 2.Anda Sedang Membaca: Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir al-Qur’an-ul-Majid an-Nur (Bagian 2)

Surat Ke-72

AL-JINN

(Bagian 2 dari 2)

 

وَ أَمَّا الْقَاسِطُوْنَ فَكَانُوْا لِجَهَنَّمَ حَطَبًا.

Wa ammal qasithuna fa kanu li jahannama hathaba.

Orang-orang yang menyimpang itu, maka mereka menjadi kayu api neraka Jahannam.” (al-Jinn [72]: 15).

Orang-orang yang menyimpang dari garis-garis yang telah ditentukan oleh Islam, maka orang tersebut akan menjadi kayu api Jahannam.

Dalam ayat-ayat ini Allah menjelaskan bahwa jinn mendengarkan pembacaan al-Qur’ān yang isinya mengagumkan mereka. Karenanya, mereka pun beriman kepada al-Qur’ān dan mengesakan Allah. Bahwa sebagian jinn ada yang menuduh Allah beristri dan beranak, tetapi tuduhan itu sama sekali tidak benar.

Kemudian Allah menjelaskan bahwa jinn-jinn yang mendengarkan pembacaan al-Qur’ān itu, dahulunya menyangka tidak ada orang yang berdusta terhadap Allah. Setelah ternyata di antara mereka ada yang berani mendustakan Allah, maka mereka pun memperbaiki kekeliruannya.

Para jinn sendiri merasa heran ada manusia yang berlindung kepada jinn. Sebab dengan itu menyebabkan jinn-jinn yang dimintai perlindungan menjadi sombong dan menyimpangg dari kebenaran.

Ada pula para jinn yang menyangka bahwa Allah tidak mengutus seorang rasūl dan tidak menghidupkan kembali orang setelah mati. Sebelum al-Qur’ān diturunkan, mereka dapat mendengarkan berita dari langit. Tetapi sesudah al-Qur’ān diturunkan, mereka tidak lagi bisa melakukan hal itu. Mereka tidak lagi bisa naik ke langit untuk duduk di beberapa tempat mendengarkan berita-berita langit.

Jinn mengaku tidak mengetahui apa yang dikehendaki Allah, karena dihalangi untuk mendengar berita dari langit. Mereka mengakui pula bahwa di antara mereka ada yang saleh dan ada yang tidak.

 

2. Apabila Manusia dan Jinn Tetap Melalui Jalan Kebenaran Allah Melimpahkan Keberkatan yang Banyak kepada Mereka. Allah Menyediakan Pengawal Bagi Rasūl-rasūl.

 

وَ أَنْ لَّوِ اسْتَقَامُوْا عَلَى الطَّرِيْقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَّاءً غَدَقًا.

Wa al lawistaqāmū ‘alath tharīqati la asqaināhum mā’an ghadaqā.

Kalau manusia dan jinn tetap menempuh jalan kebenaran, maka Kami benar-benar menurunkan air yang melimpah kepada mereka.” (51) (al-Jinn [72]: 16).

Seandainya jinn dan manusia itu berjalan lurus di atas agama Islam yang menjamin kebaikan di dunia dan akhirat, tentulah Allah melimpahkan keberkatatan-Nya yang banyak kepada mereka. Ini memberi pengertian bahwa kemajuan dan kemewahan suatu masyarakat itu bersendi kepada keamanan dan ketenteraman, serta keadilan yang tegak secara penuh.

 

لِنَفْتِنَهُمْ فِيْهِ وَ مَنْ يُعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا.

Li naftinahum fīh, wa may yu‘ridh ‘an dzikir rabbihī yaslukhu ‘adzāban sha‘adā.

Untuk Kami uji mereka dengan (rahmat) itu. Barang siapa berpaling dari ajaran Tuhannya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam siksaan yang tidak tertahankan sakitnya.” (62) (al-Jinn [72]: 17).

Kami memberikan kebaikan dan kekayaan kepada mereka untuk mengujinya, apakah mereka itu mensyukuri Kami atas nikmat-nikmat yang telah diterima mereka ataukah mereka tidak tahu berterima kasih.

Barang siapa berpaling dari al-Qur’ān dan pengajaran-pengajarannya, baik mau mengikuti perintah-perintah al-Qur’ān, serta tidak mau menjauhi larangan al-Qur’ān, tentulah Allah memasukkan mereka ke dalam adzab yang sangat berat dan mereka tidak mampu memikulnya.

 

وَ أَنَّ الْمَسَاجِدَ للهِ فَلَا تَدْعُوْا مَعَ اللهِ أَحَدًا.

Wa annal masājida illāhi fa lā tad‘ū ma‘allāhi aḥadā.

Sesungguhnya masjid-masjid itu hanyalah untuk Allah semata, karena itu janganlah kamu seru siapa saja bersama Allah.” (al-Jinn [72]: 18).

Diwahyukan kepadamu, hai Muḥammad, bahwa semua masjid (tempat beribadat) dan tempat-tempat bersujud adalah kepunyaan Allah. Karena itu, janganlah kamu menyembah di dalamnya selain Allah.

Qatādah mengkhususkan pembicaraan ini pada orang-orang Yahudi dan Nasrani, yang apabila mereka telah memasuki gereja-gereja atau biara, kemudian di dalam mereka mempersekutukan Allah dengan pujaan-pujaan mereka yang lain. Maka ayat ini memerintahkan kita agar apabila telah berada di masjid, hendaklah kita mengikhlaskan diri beribadat dan berdoa hanya kepada Allah.

Menurut pendapat al-Ḥasan, yang dimaskud dengan masjid-masjid di sini adalah seluruh tempat yang dipergunakan untuk bersujud, baik telah disiapkan untuk menjadi tempat ibadat atau belum.

 

وَ أَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللهِ يَدْعُوْهُ كَادُوْا يَكُوْنُوْنَ عَلَيْهِ لِبَدًا.

Wa annahū lammā qāma ‘abdullāhi yad‘ūhu kādū yakūnūna ‘alaihi libadā.

Sesungguhnya ketika hamba Allah berdiri menyeru kepada-Nya, hampir-hampir mereka (para jinn) berdesak-desakan di sekitarnya.” (al-Jinn [72]: 19).

Ketika Muḥammad berdiri menyembah Allah, maka para jinn berkerumun di sekelilingnya, kagum melihat Nabi s.a.w. shalat bersama-sama dengan para sahabat. Jelasnya, ketika Muḥammad berdiri menyembah Allah, maka para jinn yang melihatnya merasa kagum terhadap apa yang disaksikan dan apa yang mereka dengarkan, serta bagaimana para sahabat berdiri berbaris (shaf-shaf) di belakang Nabi. Sebagian ulama mengembalikan kata “mereka” kepada kafir musyrikin.

Al-Ḥasan dan Qatādah mengatakan bahwa ketika Muḥammad melaksanakan tugasnya hanya menyembah Allah, menyalahi para musyrik yang menyembah berhala, maka orang-orang kafir itu saling membantu. Bahkan hampir-hampir merupakan gerombolan manusia yang akan menyerang Nabi.

Muqātil menyatakan bahwa orang-orang kafir Makkah mengatakan kepada Muḥammad: “Kamu telah membawa suatu urusan yang sangat menyimpang dari kebiasaan kami dan kamu telah memusuhi segenap anggota masyarakat. Karena itu hentikanlah kegiatanmu itu.”

 

قُلْ إِنَّمَا أَدْعُوْ رَبِّيْ وَ لَا أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا.

Qul innamā ad‘ū rabbī wa lā usyriku bihī aḥadā.

Katakanlah: “Aku hanya menyeru Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan siapa pun dengan Dia.” (al-Jinn [72]: 20).

Katakanlah, hai Muḥammad, kepada mereka yang berkelompok mengelilingi kamu: “Aku hanya menyembah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seseorang atau sesuatu apa pun dalam menyembah Allah.”

 

قُلْ إِنِّيْ لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَ لَا رَشَدًا.

Qul innī lā amliku lakum dharran wa lā rasyadā.

Katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak mempunyai kekuasaan untuk mendatangkan bahaya kepadamu dan tidak pula (mendatangkan) kebaikan.” (al-Jinn [72]: 21).

Katakanlah, hai Rasūl, kepada musyrikin yang menolak seruanmu: “Aku tidak dapat memberi suatu kemudaratan kepadamu, baik mengenai agamamu atau mengenai duniamu. Aku juga tidak dapat mendatangkan suatu kemanfaatan untuk kamu, dan Allah yang memiliki semua itu.”

 

قُلْ إِنِّيْ لَنْ يُجِيْرَنِيْ مِنَ اللهِ أَحَدٌ وَ لَنْ أَجِدَ مِنْ دُوْنِهِ مُلْتَحَدًا. إِلَّا بَلَاغًا مِّنَ اللهِ وَ رِسَالَاتِهِ وَ مَنْ يَعْصِ اللهَ وَ رَسُوْلَهُ فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِيْنَ فِيْهَا أَبَدًا.

Qul innī lay yujīranī minallāhi aḥaduw wa lan ajida min dūnihī multaḥadā. Illā balāgham minallāhi wa risālātihī, wa may ya‘shillāha wa rasūlahu fa inna lahū nāra jahannam khālidīna fīhā abadā.

Katakanlah: “Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang sanggup memberikan perlindungan kepadaku terhadap hukuman Tuhan dan aku tidak memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya. Aku tidak memiliki apa-apa, kecuali menyampaikan keterangan-keterangan dari Allah dan risalah-risalahNya. Barang siapa durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya untuk orang itu neraka Jahannam. Mereka tetap berada di dalamnya untuk masa yang lama.” (al-Jinn [72]: 22-23).

Tidak ada seorang makhluk pun yang dapat melindungi diriku dari Allah, jika Allah hendak menimpakan suatu bencana kepada diriku dan juga tidak ada seorang pun yang menolong aku. Aku hanya dibebani dan ditugasi menyampaikan risalah-Nya (hukum-hukumNya) kepadamu. Maka, jika aku berayal-ayal, tentulah Dia menyiksa aku. Kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Orang yang mendengar seruan Allah dan mengikuti semua perintah dan menjauhkan semua larangan, tentulah dia akan memperoleh surga yang kekal.

Barang siapa bertindak durhaka kepada Allah, tidak mau mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan, bahkan mendustakan Rasūl-Nya, maka kelak dia akan dibenamkan di dalam neraka dan terus-menerus tinggal di dalamnya. Tidak ada jalan baginya melepaskan diri dari adzab Allah.

 

حَتَّى إِذَا رَأَوْا مَا يُوْعَدُوْنَ فَسَيَعْلَمُوْنَ مَنْ أَضْعَفُ نَاصِرًا وَ أَقَلُّ عَدَدًا.

Ḥattā idzā ra’au mā yū‘adūna fasaya‘lamūna man adh‘afu nāshiran wa aqallu ‘adadā.

Hingga apabila mereka telah melihat sendiri siksaan yang diancamkan kepada mereka, maka kelak mereka mengetahui siapa yang paling lemah penolongnya dan amat sedikit jumlahnya.” (al-Jinn [72]: 24).

Mereka terus-menerus menindas dan memperlemah orang-orang yang beriman dan mengolok-oloknya, sehingga apabila telah tampak berbagai macam adzab yang diancamkan kepadanya, barulah mereka mengetahui siapa yang sebenarnya berjumlah banyak dan siapa yang berjumlah kecil, serta mana golongan yang lebih baik dan lebih sejahtera.

 

قُلْ إِنْ أَدْرِيْ أَقَرِيْبٌ مَّا تُوْعَدُوْنَ أَمْ يَجْعَلُ لَهُ رَبِّيْ أَمَدًا.

Qul in adrī aqarībum mā tū‘adūna am yaj‘alu lahū rabbī amadā.

Katakanlah: “Aku tidak mengetahui sudah dekatlah siksaan yang diancamkan kepadamu ataukah Tuhan memberi panangguhan sampai waktu yang ditentukan.” (al-Jinn [72]: 25).

Oleh karena para musyrik setiap mendengar ancaman adzab, mereka memperolok-olokkan, maka Allah memerintahkan Nabi untuk mengatakan kepada mereka: “Adzab yang diancamkan itu pasti datang. Hanya saja aku tidak mengetahui, apakah sudah dekat waktunya atau masih lama.”

 

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا.

‘Ālimul ghaibi fa lā yuzhhiru ‘alā ghaibihī aḥadā.

Allah Maha Mengetahui perkara yang ghaib dan Dia tidak menjelaskan rahasia-Nya itu kepada siapa pun jua.” (73) (al-Jinn [72]: 26).

Allah-lah yang mengetahui semua barang yang ghaib dan tidak dilihat oleh mata manusia. Barang siapa ghaib itu hanya diketahui oleh para rasul yang dikhususkan oleh Allah untuk mengetahuinya. Namun tetap terbatas pada bagian-bagian yang ada gunanya diketahui oleh para rasūl tersebut.

 

إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَّسُوْلٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَ مِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا.

Illā manirtadhā mir rasūlin fainnahū yasluku mim baini yadaihi wa min khalfihī rashadā.

Selain kepada utusan yang dipilih-Nya, maka sesungguhnya Dia memberikan pengawasan di depan dan di belakang utusan itu.” (84) (al-Jinn [72]: 27).

Allah menyiapkan sekumpulan malaikat Ḥafazhah di depan dan di belakang rasūl tersebut yang memelihara mereka dari gangguan syaithan, sehingga mereka dapat menyampaikan semua wahyu yang diterimanya dari Allah dan terhindarkan dari lupa dan lalai dalam menyampaikan risalah itu.

Inilah yang dinamakan oleh ulama tauhid: amanah dan ‘ishmah.

Ringkasnya, kepada setiap nabi disediakan serombongan malaikat yang mengawal mereka atas gangguan syaithan yang mungkin datang kepada para nabi dengan bentuk wajah malaikat.

 

لِيَعْلَمَ أَنْ قَدْ أَبْلَغُوْا رِسَالَاتِ رَبِّهِمْ وَ أَحَاطَ بِمَا لَدَيْهِمْ وَ أَحْصَى كُلَّ شَيْءٍ عَدَدًا.

Li ya‘lama an qad ablaghū risālāti rabbihim wa aḥātha bimā ladaihim wa aḥshā kulla syai’in ‘adadā.

Supaya para malaikat itu mengetahui bahwa rasūl-rasūl tersebut telah menyampaikan risalah Tuhannya dan Allah itu meliputi apa yang ada di sisi pengawal itu, dan Dia menghitung segala sesuatu.” (al-Jinn [72]: 28).

Allah memberikan pengawal-pengawal kepada rasul-Nya agar para rasūl itu bisa menunaikan tugasnya menyampaikan wahyu yang diterimanya dari Allah dan memeliharanya. Malaikat mengetahui bahwa para rasūl telah menunaikan tugasnya.

 

KESIMPULAN SURAT

Dalam ayat-ayat ini dijelaskan bahwa barang siapa berjalan di atas jalan yang lurus, maka Allah akan melimpahkan nikmat yang banyak. Tetapi nikmat itu kemudian menjadi batu ujian. Sesudah itu, Allah menjelaskan bahwa seluruh masjid adalah kepunyaan-Nya, dan kita tidak dibenarkan mempersekutukan sesuatu dengan Allah di dalam masjid-masjid itu.

Allah juga menjelaskan bahwa ketika Muḥammad menunaikan tugasnya, sekelompok musyrik hampir menyerangnya. Pada akhirnya Allah menyuruh Nabi untuk mengatakan bahwa dia tidak mengetahui kapan terjadinya kiamat dan hal-hal yang ghaib, kecuali apabila Allah memberitahukannya.

Catatan:


  1. 5). Kaitkan dengan QS. al-Mā’idah [5]: 65-66; QS. al-A‘rāf [7]. 
  2. 6). Kaitkan dengan akhir-akhir QS. Thāhā [20]; QS. Maryam [19] dan QS. az-Zumar [39]. 
  3. 7). Baca QS. al-Baqarah [2]: 255. 
  4. 8). Kaitkan dengan QS. Muḥammad [47], akhir-akhir QS. asy-Syu‘arā’ [26]. 
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *