Surah al-Ikhlash 112 ~ Tafsir al-Jailani

Dari Buku: TAFSIR al-Jaelani
Oleh: Syekh ‘Abdul-Qadir Jaelani
Penerjemah: Abdul Hamid
Penerbit: PT. SAHARA intisains.

Surah ke 112; 4 ayat
Al-Ikhlāsh
(memurnikan keesaan Allah s.w.t.).

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

 

Pembuka Surah al-Ikhlāsh

Kalangan yang disifati sebagai orang yang mengetahui tentang masalah ketuhanan (ma‘rifah ilāhiyyah), menyingkap keesaan dan keindependenan Allah s.w.t. dalam wujud dan kewajiban dzati, menyingkap ketidakbutuhan dzat-Nya dari semua makhluk dan ciptaan-Nya, dan menyingkap superioritas-Nya dari segala macam bentuk kebutuhan dan keperluan sehingga Dia terbebas dari yang namanya kemungkinan, meminta kesempurnaan, maupun mengalami kekurangan; pasti mengetahui kalau Dzat Yang Maha Esa itu terbebas dari segala macam pembatasan dan pensifatan yang digambarkan oleh orang-orang yang mensifati Dzat-Nya dengan semua sifat makhluk. Dia juga terbebas dari yang namanya memerlukan dan membutuhkan yang dapat menghasilkan beberapa kemungkinan.

Karena itulah Allah s.w.t. menjelaskan Dzat-Nya dalam surah ini dan menggambarkan diri-Nya sesuai dengan pengetahuan-Nya bagi hamba-hambaNya. Setelah memberikan keberkahan, Allah s.w.t. berfirman: (بِسْمِ اللهِ) [Dengan menyebut nama Allah] yang Dzat-Nya tidak dapat tersentuh sama sekali oleh pengetahuan makhluk dan ciptaan-Nya, (الرَّحْمنِ) [Yang Maha Pemurah] kepada mereka dengan menggambarkan Dzat-Nya pada mereka, (الرَّحِيْمِ) [lagi Maha Penyayang] kepada orang-orang khusus dari hamba-hambaNya dengan memberi petunjuk kepada mereka untuk menuju rahasia-rahasia ma‘rifat dan keesaan-Nya.

Ayat 1.

(قُلْ) [Katakanlah] wahai Rasul yang paling sempurna, kepada orang yang bertanya kepadamu: “Gambarkan kepada kami tentang Rabbmu yang membuatmu mengajak kami untuk mengimani dan menyembah-Nya.” Katakanlah bahwa (هُوَ اللهُ أَحَدٌ) [Dia-lah Allah, Yang Maha Esa]. Maksudnya: Dialah Dzat yang disifati dengan sifat ulūhiyyah di alam gaib maupun alam nyata; yang Maha Tinggi dari keduanya sesuai dengan Dzat-Nya yang disifati dengan sifat ulūhiyyah dan rubūbiyyah; yang mencakup semua syarat kesempurnaan sesuai dengan nama-nama dan sifat-sifat yang sempurna, yang tersimpan dalam dzat yang disifati dengan sifat keesaan dan terbebas dari keberbilangan; yang memiliki kebebasan mutlak dalam wujud, kehidupan, dan kekuatan; yang tetap berada dalam kekekalan yang abadi, di mana kekekalan dan keabadian-Nya tidak bisa diukur sama sekali dengan berbagai macam timbangan dan takaran, serta tidak tercakup oleh berbagai macam pengaturan dan takdir.

Ayat 2.

Sebab bagaimana mungkin Allah s.w.t. menjadi objek takdir, sedang Dia adalah (اللهُ الصَّمَدُ) [Allah yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu], yaitu yang memiliki kekuasaan untuk menolong di mana Dialah yang menjadi tujuan dan tempat kembali semua yang zhahir dan yang bathin dari makhluk hidup, dan segala bentuk kerusakan yang ada di alam gaib maupun di alam nyata, di dunia maupun di akhirat. Di sisi lain, Dia Sendiri tidak membutuhkan semua itu sama sekali.

Ayat 3.

Bagaimana mungkin Dia membutuhkan sesuatu, sedang Dia adalah Allah s.w.t. yang (لَمْ يَلِدْ) [tidak beranak]. Sebab beranak hanya pantas diperuntukkan bagi sesuatu yang berketurunan dan takut pada ketiadaan dan kemusnahan; sedangkan Allah s.w.t. berdasarkan kekuasaan-Nya, keberadaan-Nya yang wajib, dan kekekalan-Nya yang abadi, tidak mungkin terjadi kepada-Nya sesuatu yang mengindikasikan adanya kekurangan semacam ini, yang sudah pasti memiliki kesudahan dan membutuhkan tempat kembali. Sebab pada diri-Nya tidak berlaku kata berkesudahan dan keberpindahan. (وَ) [Dan] Dia (لَمْ يُوْلَدْ) [tiada pula diperanakkan] untuk itu semua. Sebab segala sesuatu yang zhahir dan bathin, yang azali dan abadi; adalah berasal dari-Nya, dengan-Nya, untuk-Nya, dan dalam diri-Nya. Segala sesuatu yang diharuskan ada dari makhluk sejak zaman azali, tidak keluar dari cakupan bayang-bayang nama-Nya dan pantulan sifat-Nya. Jadi, bagaimana mungkin bisa dibayangkan ada sesuatu selain Dia yang mendahului diri-Nya, padahal tidak ada sesuatu pun – selain Diri-Nya – yang menjadi ada sampai Dia menciptakannya.

Ayat 4.

(وَ) [Dan] ringkasnya, Allah s.w.t. sendirian dalam keesaan-Nya, Maha Esa dalam kesendirian-Nya, dan merdeka dalam kebebasan-Nya. Sebab (وَ لَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ) [tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia], tidak sebelum Dia maupun sesudah Dia. Bahkan tidak ada tuhan selain diri-Nya dan tidak ada yang maujud selain Dia.

 

Penutup Surah al-Ikhlāsh.

Wahai orang yang mengimani keesaan Allah s.w.t., mengikuti jalan Muhammad s.a.w., dan menyingkap keesaan Dzat-Nya – semoga Allah s.w.t. menempatkanmu di tempat muliamu -; kamu harus mengalihkan tali kendali tujuan dan cita-citamu – setelah disingkapkan keesaan Dzat-Nya dan kesempurnaan nama serta sifat-Nya kepadamu – mengarah kepada karunia dan kenikmatan dari-Nya yang berlimpah, sesuai dengan kelembutan nama-namaNya yang baik dan sifat-sifatNya yang agung; dan menyaksikan berbagai pengaruh kekuatan-Nya yang membuat bingung semua akal dan pikiran.

Berhati-hatilah, jangan sampai kamu melupakan Allah s.w.t. sejenak pun karena dapat membuatmu mengalami kesedihan yang berkepanjangan. Sebab dalam setiap tarikan nafas Ilahi yang mengalir pada dirimu sepanjang hidupmu, itu mengandung berbagai keajaiban karya-Nya dan keindahan hikmah-Nya yang unggul, di mana tidak ada yang sepadan dengan-Nya sebelumnya maupun yang menyerupai-Nya di masa mendatang selamanya.

Kamu harus bisa memanfaatkan kesempatan dan membuka diri untuk menerima anugerah Allah s.w.t., namun jangan sampai anugerah itu malah memalingkanmu dari-Nya. Semoga Allah s.w.t. menjadikan anugerah-Nya dan merindukan hembusan nafas ruh dan kenyamanan dari-Nya dengan karunia dan kedermawanan-Nya.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *