Surah al-Humazah 104 ~ Tafsir ash-Shabuni

Tafsir ash-Shabuni | Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni

Dari Buku: SHAFWATUT TAFASIR
(Tafsir-tafsir Pilihan)
Jilid 5 (al-Fath – an-Nas)
Oleh: Syaikh Muhammad ‘Ali ash-Shabuni
Penerjemah: KH.Yasin
Penerbit: PUSTAKA AL-KAUTSAR.

104

SŪRAT-UL-HUMAZAH.

Pokok-pokok Kandungan Surat.

Sūrat-ul-Humazah adalah Makkiyyah. Ia berbicara mengenai orang-orang yang mencela dan menggunjing orang lain dengan cara menyebutkan di hadapan orang, mengejek, menertawakan dan menghina, perbuatan orang-orang bodoh.

Sebagaimana surat ini mencela orang-orang yang sibuk menumpukkan harta benda dan menimbun kekayaan, seakan-akan mereka hidup selamanya di dunia ini. Karena kebodohan dan kelalaian, mereka mengira bahwa harta dapat mengabadikan dan mengekalkan mereka di dunia.

Sūrat-ul-Humazah ditutup dengan penjelasan kesudahan orang-orang celaka itu, di mana mereka masuk neraka yang tidak akan padam untuk selamanya dan menghancur-luluhkan orang-orang berdosa serta manusia yang dilemparkan ke dalamnya, sebab ia adalah neraka penghancur.

 

TAFSĪR SŪRAT-UL-HUMAZAH

Sūrat-ul-Humazah: Ayat: 1-9.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ.

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ. الَّذِيْ جَمَعَ مَالًا وَ عَدَّدَهُ. يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ. كَلَّا لَيُنْبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِ. وَ مَا أَدْرَاكَ مَا الْحُطَمَةُ. نَارُ اللهِ الْمُوْقَدَةُ. الَّتِيْ تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِ. إِنَّهَا عَلَيْهِمْ مُّؤْصَدَةٌ. فِيْ عَمَدٍ مُّمَدَّدَةٍ

104:1. Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela,
104:2. Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya,
104:3. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya,
104:4. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Ḥuthamah.
104:5. Dan tahukah kamu apa Ḥuthamah itu?
104:6. (Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan,
104:7. Yang (membakar) sampai ke hati.
104:8. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka,
104:9. (Sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.

Tinjauan Bahasa.

(هُمَزَةٍ): orang yang menggunjing orang lain serta mencela harga diri mereka. Bentuk kata ini menunjukkan makna; orang yang terbiasa melakukan hal itu.

(لُّمَزَةٍ): orang yang mencela orang lain dengan mengisyaratkan dengan mata dan alis.

(الْحُطَمَةِ): api Jahannam. Arti asalnya melumatkan. Disebut demikian, sebab api itu meremukkan segala sesuatu yang dilemparkan ke dalamnya.

(مُّؤْصَدَةٌ): ditutup dan dirapatkan.

Tafsir Ayat.

Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela”; siksa berat dan kebinasaan akan ditimpakan kepada tiap orang yang mencela dan menggunjing orang lain atau mengisyaratkan gunjingan secara rahasia dengan mata dan alis. Ulama tafsir berkata: “Sasaran turunnya ayat ini adalah al-Akhnas bin Syarīq. Dia sangat sering menggunjing, baik dengan lidah maupun dengan isyarat mata, baik di depan mata atau di belakang punggung. Hukum ayat ini bersifat umum. Sebab yang dihukumi adalah lafazhnya umum, bukan sebabnya turunnya yang khusus.” (11311) “yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya”; yang mengumpulkan banyak harta dan menghitungnya serta menjaga jumlahnya agar tidak berkurang. Hal itu menyebabkan dia tidak bisa melakukan kebaikan. Ath-Thabarī berkata: “Yakni dia menghitung jumlahnya dan tidak menginfakkannya di jalan Allah serta tidak menunaikan kewajiban Allah pada harta. Dia mengumpulkannya dan menjaganya.” (11322).

Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya”; orang bodoh itu dan sangat bodohnya mengira hingga dia mengira hartanya akan membuat dia kekal abadi di dunia dan tidak akan mati. “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Ḥuthamah”; hendaknya dia menghentikan prasangka itu. Sebab, demi Allah, dia pasti akan dijebloskan ke dalam api yang menghancurkan segala yang dilemparkan ke dalamnya. “Dan tahukah kamu apa Ḥuthamah itu?”; ini mengagungkan dan membesarkan neraka Ḥuthamah. Yakni apa yang kamu ketahui, apa hakikat neraka Ḥuthamah yang besar itu? Ia adalah penghancur yang meluluhkan tulang belulang dan memakan daging, hingga mencapai jantung. Kemudian Allah menjelaskannya: “(Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan”; Ḥuthamah adalah neraka Allah yang dinyalakan dengan perintah dan kehendak-Nya. Ia tidak sebagaimana api yang lain, sebab ia tidak akan padam untuk selamanya. Dalam hadits disebutkan: “Neraka dihidupkan seribu tahun sampai memerah, lalu dihidupkan seribu tahun sampai memutih, lalu dihidupkan seribu tahun sampai menghitam. Maka ia hitam dan gelap.” (11333) “Yang (membakar) sampai ke hati”; derita Ḥuthamah sampai ke jantung, lalu membakarnya. Al-Qurthubī berkata: “Secara khusus jantung disebut, sebab jika derita sampai ke hati, maka pemilik hati mati. Ahli neraka seperti orang mati, namun mereka tidak mati. Sebagaimana firman Allah: “Dia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.” (al-A‘la: 13). Dengan demikian, mereka itu hidup, namun sama dengan orang mati.” (11344) “Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka”; Jahannam ditutup dan dikunci pada mereka, sehingga angin maupun ruh tidak bisa memasuki mereka. “(Sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang”; sedangkan mereka diikat pada belenggu dan rantai. Tangan dan kaki mereka diikat dengannya setelah pintu-pintu Jahannam ditutup atas mereka. Maka mereka putus asa dari keluar dengan tertutupnya pintu atas mereka. Tiang-tiang itu dipanjangkan untuk menunjukkan bahwa mereka kekal tanpa ada batasnya.

Aspek Balaghah.

Dalam sūrat-ul-Humazah terdapat sejumlah keindahan bahasa sebagaimana berikut ini:

Pertama, shīghat mubālaghah (redaksi, pola kata yang bermakna lebih): (لُّمَزَةٍ، هُمَزَةٍ ). Kedua kata ini, menunjukkan bahwa mereka terbiasa menggunjing.

Kedua, nakirah (redaksi kata umum) untuk mengagungkan: (جَمَعَ مَالًا) “mengumpulkan harta benda” yakni harta yang banyak dan hampir tidak terhitung dari berbagai jenis.

Ketiga, menciptakan rasa takut dan ngeri:

وَ مَا أَدْرَاكَ مَا الْحُطَمَةُ.

Dan tahukah kamu apa Ḥuthamah itu?

Keempat, jinās ghairu tamm: antara (هُمَزَةٍ) dan (لُّمَزَةٍ) dan disebut jinas naqis.

Kelima, keserasian akhir-akhir ayat, misalnya (أَخْلَدَهُ، الْمُوْقَدَةُ، مُمَدَّدَةٍ). Ini disebut saja‘.

Berkat pertolongan Allah, tafsir sūrat-ul-Humazah selesai.

Catatan:

  1. 1131). Lihat al-Qurthubī (20/183) dan ar-Rāzī (31/91).
  2. 1132). Tafsīr-uth-Thabarī (30/189).
  3. 1133). Diriwayatkan Tirmidzī dari Abū Hurairah mauqūf. Tirmidzī berkata: “Yang paling benar, hadits ini mauqūf.”
  4. 1134). Tafsīr-ul-Qurthubī (20/189).
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *