Surah al-Haqqah 69 ~ Tafsir ash-Shabuni (3/4)

Tafsir ash-Shabuni | Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni

Dari Buku: SHAFWATUT TAFASIR
(Tafsir-tafsir Pilihan)
Jilid 5 (al-Fath – an-Nas)
Oleh: Syaikh Muhammad ‘Ali ash-Shabuni
Penerjemah: KH.Yasin
Penerbit: PUSTAKA AL-KAUTSAR.

Rangkaian Pos: Surah al-Haqqah 69 ~ Tafsir ash-Shabuni

Allah berfirman menjelaskan bahasannya: “Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai”; dia berada di dalam kehidupan yang ni‘mat dan memuaskan. Dalam hadits shahih disebutkan: “Mereka hidup dan tidak akan mati untuk selamanya, sehat dan tidak akan sakit untuk selamanya, merasakan keni‘matan dan tidak akan melihat kesengsaraan dan masalah untuk selamanya.” “dalam surga yang tinggi”; dalam surga yang kedudukannya tinggi dan istana menjulang. “Buah-buahannya dekat”; bisa diraih oleh orang yang berdiri, orang yang duduk dan orang yang berbaring. Dalam at-Tasḥīl, disebutkan: “Yang dimaksudkan adalah buah yang dipetik dan matang dari tandannya. Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa hamba bisa mengambil buah itu dengan mulutnya dari pohonnya, baik dalam berdiri atau duduk atau berbaring.” (7431) “Makan dan minumlah dengan sedap”; untuk memberi anugrah dan ni‘mat, kepada mereka dikatakan: “Makan dan minumlah kalian dengan enak, jauh dari gangguan dan bebas dari segala hal yang tidak disuka.” “disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu”; karena ‘amal shalih yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lewat, yaitu sewaktu di dunia.

Setelah menuturkan keadaan orang-orang yang beruntung, Allah menuturkan keadaan orang-orang yang celaka. “Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya”; adapun orang yang diberi catatan ‘amal perbuatannya dengan tangan kirinya sebagai pertanda dia celaka dan merugi. “maka dia berkata: “Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini)”; ketika melihat ‘amal-‘amal buruknya, dia berkata: “Aduh seandainya kami tidak diberi catatan ‘amal perbuatan ini”. ‘Ulamā’ tafsir berkata: “Hai itu disebabkan dia malu dan dipermalukan, sehingga saat itu dia berangan-angan tidak diberi catatan ‘amal perbuatannya. Ia pun menyesal dengan penyesalan paling hebat.” “Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku”; dan kami tidak tahu beratnya hisabku. Pertanyaan “apa” untuk menunjukkan berat dan hebatnya hisab serta untuk memberikan ancaman dan ketakutan. “Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu”; aduhai, seandainya kematian pertama yang kami alami di dunia adalah yang mengakhiri hidupku, lalu kami tidak dibangkitkan setelah itu dan tidak disiksa. Qatādah berkata: “Dia berharap mati dan tidak ada yang lebih dia benci melebihi kematian, (7442) sebab dia melihat keadaan yang lebih berat dan buruk daripada kematian, yaitu hari perhitungan.” “Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku”; harta yang kami timbun tidak ada gunanya bagiku karena tidak bisa menolak sedikitpun siksa Allah. “Telah hilang kekuasaanku dariku”; kekuasaan, kedudukan, nasab dan pangkatku telah sirna, sehingga tidak ada penolong, sahabat dekat maupun pembantu bagiku.

Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya”; Allah berfirman kepada malaikat Zabāniyah: “Tangkaplah penjahat dan pendosa ini. Ikatlah dia dengan belenggu.” Al-Qurthubī berkata: “Seratus ribu malaikat memegangnya. Lalu tangannya dibelenggu ke lehernya. Ini maksud firman Allah: “lalu belenggulah tangannya ke lehernya.” (7453) “Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala”; lalu masukkanlah dia ke neraka yang amat besar yang menyala-nyala agar dia masuk ke dalam panasnya. “Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta”; lalu lilitlah dia ke dalam rantai besi yang panjangnya tujuh puluh hasta. Ibnu ‘Abbās berkata: “Yang dimaksud adalah hasta malaikat. Rantai tersebut masuk anusnya dan keluar dari tenggorokannya, lalu ubun-ubunnya dan kedua telapak kakinya dipertemukan.” (7464) Rantai adalah besi yang dirangkai. Masing-masing lingkaran rantai itu membelitnya sehingga dia tidak bisa bergerak.

Setelah menjelaskan siksa yang berat itu, Allah menjelaskan penyebabnya: “Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar”; dia tidak meyakini keesaan dan kebesaran Allah. Dalam al-Baḥr-ul-Muḥīth disebutkan: “Allah memulai dengan penyebab siksa paling besar, yaitu kafir kepada Allah. Ini alasan yang merupakan kalimat musta’naf (permulaan kembali), seakan-akan Allah berfirman: Kenapa dia disiksa dengan siksa yang pedih itu? Allah menjawab, bahwa dia tidak beriman kepada Allah: (7475) “Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin”; dan dia tidak mendorong dirinya maupun orang lain untuk memberikan makan orang miskin. ‘Ulamā’ tafsir berkata: “Allah menyebutkan dorongan dan motivasi, bukan menyebutkan perbuatan, untuk mengingatkan bahwa tidak mendorong saja akibatnya sudah demikian. Apalagi yang tidak melakukan perbuatan itu.” “Maka tiada seorang teman pun baginya pada hari ini di sini”; maka di akhirat dia tidak mempunyai teman yang menolak siksa darinya. Semua teman-temannya menjauhinya dan lari darinya. “Dan tiada (pula) makanan sedikit pun (baginya) kecuali dari darah dan nanah”; dan dia tidak mempunyai makanan, kecuali nanah ahli neraka yang mengalir dari luka mereka. (7486) “Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa”; makanan itu hanya dimakan oleh orang-orang yang berdosa dan berbuat salah. ‘Ulamā’ tafsir berkata: “Ya‘ni orang-orang yang sengaja melakukan kesalahan, bukan orang-orang yang berbuat salah tanpa sengaja.”

Setelah menuturkan keadaan orang-orang yang beruntung dari ahli surga, lalu keadaan orang-orang yang celaka dari ahli neraka, Allah menutup pembicaraan dengan mengagungkan al-Qur’ān. “Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat. Dan dengan apa yang tidak kamu lihat”; Aku bersumpah demi hal-hal yang kelihatan dan hal-hal yang tidak kelihatan, Aku bersumpah demi hal-hal yang kalian lihat dan hal yang tidak kalian lihat, hal yang bisa diindera kasat mata dan yang tidak kasat mata. Kata (لَا) di sini untuk mengungkapkan sumpah, bukan huruf nafi (yang artinya tidak)” (7497). Imām ar-Rāzī berkata: “Ayat ini menunjukkan arti umum yang mencakup segala sesuatu. Sebab segala sesuatu itu tidak keluar dari lingkup dua hal itu; yang kelihatan dan yang tidak kelihatan. Maka sumpah itu meliputi Allah sendiri sebagai Pencipta dan makhluq-Nya, dunia dan akhirat, jasad dan ruh, manusia dan jinn, ni‘mat lahir dan ni‘mat batin.” (7508) Qatādah berkata: “Sumpah itu mencakup seluruh makhluq Allah. ‘Athā’ berkata: “Ya‘ni apa yang kalian lihat yaitu bukti kekuasaan Allah dan apa yang tidak kalian lihat yaitu rahasia kekuasaan-Nya.” (7519). “Sesungguhnya al-Qur’ān itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasūl yang mulia”; al-Qur’ān ini adalah firman ar-Raḥmān, dibaca oleh seorang rasul yang mulia, yaitu Muḥammad s.a.w. Al-Qurthubī berkata: “Rasūl di sini adalah Muḥammad s.a.w. Al-Qur’ān dinisbatkan kepada beliau, sebab beliaulah pembacanya atas nama Allah.” (75210) “dan al-Qur’ān itu bukanlah perkataan seorang penyair”; Al-Qur’ān bukan ucapan penyair sebagaimana tuduhan kalian, sebab al-Qur’ān berbeda dengan not-not syair. Al-Qur’ān bukan syair dan juga bukan prosa. “Sedikit sekali kamu beriman kepadanya”; sangat sedikit kalian beriman kepada al-Qur’ān ini. Muqātil berkata: “Yang dimaksudkan sedikit adalah mereka tidak beriman secara keseluruhan bahwa al-Qur’ān itu dari Allah, ya‘ni mereka tidak beriman kepadanya sama sekali. Bangsa ‘Arab berkata: “Sedikit sekali kamu mengunjungi kita. Maksud mereka adalah kamu tidak mengunjungi kita.” (75311) “Dan bukan pula perkataan tukang tenung”; Al-Qur’ān juga bukan ucapan dukun yang mengklaim mengetahui hal yang ghaib, sebab al-Qur’ān, lain dengan gaya sajak para dukun. “Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya”; sangat sedikit kalian mengambil pelajaran dan menerima nasihat. “Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam”; Al-Qur’ān diturunkan oleh Allah. Ini senada dengan firman Allah: “Dan sesungguhnya al-Qur’ān ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh ar-Rūḥ-ul-Amīn (Jibrīl), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa ‘Arab yang jelas.” (Asy-Syu‘arā’: 192-195). Tujuan ayat adalah membersihkan dan membebaskan Nabi Muḥammad s.a.w. dari tuduhan orang kafir kepada beliau sebagai penyihir dan dukun.

Kemudian Allah menguatkan hal tersebut dengan dalil paling kuat bahwa al-Qur’ān adalah dari sisi Allah: “Seandainya dia (Muḥammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami”; seandainya Muḥammad membuat-buat sebagian ucapan sendiri dan menisbatkan kepada Kami apa yang tidak Kami firmankan, “niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya”; Kami siksa dia dengan kekuatan dan kekuasaan Kami. (75412) “Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya”; kemudian Kami potong urat jantungnya sampai dia mati. Al-Qurthubī berkata: “Ya‘ni urat yang berhubungan dengan jantung, di mana jika dipotong maka seseorang mati.” (75513) Tujuan ayat ini adalah Allah segera menyiksanya dan tidak menunda-nunda seandainya dia menisbatkan sesuatu kepada Allah, meskipun sedikit. Dalam ayat ini Allah mengungkapkan “aqāwīl” bukan yang jama‘ yang lazim dipakai “aqwāl” (kata-kata) untuk menganggap bahwa ucapan selain al-Qur’ān itu kecil. “Maka sekali-kali tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu”; seandainya Kami berkehendak untuk menyiksanya karena mengada-ada, dia tidak mampu menolak siksa Kami dan tak seorangpun mampu untuk menghalanginya. Al-Khāzin berkata: “Maksudnya, Muḥammad tidak mengatakan dusta kepada Kami demi kalian. Dia mengetahui bahwa jika berbicara bohong atas kami, tentu Kami menyiksanya dan tidak seorangpun mampu menolak siksa Kami darinya.” (75614).

Dan sesungguhnya al-Qur‘ān itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa”; Al-Qur’ān ini adalah nasihat bagi orang mu’min yang bertaqwa dan takut kepada Allah. Orang-orang yang bertaqwa secara khusus disebutkan, sebab merekalah yang mampu mengambil manfaat dari al-Qur’ān. “Dan sesungguhnya Kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kamu ada orang yang mendustakan (nya)”; Kami mengetahui di antara kalian ada orang yang mendustakan al-Qur’ān ini, padahal dalil-dalilnya jelas. Orang itu mengatakan bahwa al-Qur’ān hanyalah dongengan orang-orang dahulu. Maka, ayat ini mengandung ancaman bagi orang yang mendustakan al-Qur’ān tersebut. (75715) “Dan sesungguhnya al-Qur’ān itu benar-benar menjadi penyesalan bagi orang-orang kafir (di akhirat)”; Al-Qur’ān di akhirat kelak menjadi bahan penyesalan bagi orang kafir. Mereka bersedih ketika melihat agungnya pahala orang yang beriman kepadanya. “Dan sesungguhnya al-Qur’ān itu benar-benar kebenaran yang diyakini”; Al-Qur’ān adalah kebenaran yang pasti tanpa ada kebimbangan dan tidak ada orang berakal yang menyangsikannya sebagai kalam Allah. “Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu Yang Maha Besar”; maka sucikanlah Tuhanmu dari keburukan dan kekurangan dan bersyukurlah kepada-Nya atas ni‘mat-ni‘mat besar yang Dia berikan kepadamu dan termasuk ni‘mat terbesar yaitu al-Qur’ān.

Catatan:

  1. 743). At-Tasḥīl, 4/143.
  2. 744). Tafsīr-uth-Thabarī, 29/39.
  3. 745). Tafsīr-ul-Qurthubī, 18/272.
  4. 746). At-Tafsīr-ul-Kabīr, 30/114. Al-Ḥasan berkata: “Allah lebih tahu, hasta apa yang dijadikan ukuran?”
  5. 747). Al-Baḥr-ul-Muḥīth, 8/326.
  6. 748). Ath-Thabarī mengutipnya dari Ibnu ‘Abbās. Qatādah berkata: “Inilah makanan paling buruk, paling busuk dan paling jelek.
  7. 749). Inilah pendapat yang rājiḥ. Pendapat lain, kata (لَا) adalah nafi, seakan-akan Allah berfirman: Urusan ini karena sudah jelas tidak perlu sumpah.
  8. 750). At-Tafsīr-ul-Kabīr, 30/116.
  9. 751). Tafsīr-ul-Alūsī, 29/52.
  10. 752). Tafsīr-ul-Qurthubī, 18/274.
  11. 753). At-Tafsīr-ul-Kabīr, 30/117.
  12. 753). At-Tafsīr-ul-Kabīr, 30/117.
  13. 753). At-Tafsīr-ul-Kabīr, 30/117.
  14. 756). Tafsīr-ul-Khāzin, 4/148.
  15. 757). Demikian tafsir yang jelas. Ath-Thabarī berkata: “Ya‘ni sikap mendustakan itu menjadi penyesalan bagi orang kafir di akhirat kelak.” Demikian juga pendapat Muqātil.
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *