Surah al-Haqqah 69 ~ Tafsir ash-Shabuni (2/4)

Tafsir ash-Shabuni | Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni

Dari Buku: SHAFWATUT TAFASIR
(Tafsir-tafsir Pilihan)
Jilid 5 (al-Fath – an-Nas)
Oleh: Syaikh Muhammad ‘Ali ash-Shabuni
Penerjemah: KH.Yasin
Penerbit: PUSTAKA AL-KAUTSAR.

Rangkaian Pos: Surah al-Haqqah 69 ~ Tafsir ash-Shabuni

Tafsir Ayat

Hari kiamat”; salah satu nama hari kiamat. Hari kiamat disebut demikian, sebab pasti benar terjadinya. Kiamat adalah benar dan sesuatu yang tidak ada kebimbangan maupun perdebatan. “apakah hari kiamat itu?”; firman ini diulangi untuk mengagungkan kiamat. Isim zhāhir diletakkan pada tempat isim dhamīr agar lebih mengagungkan kiamat. “Dan tahukah kamu apakah hari kiamat itu?”; hai Muhammad apa yang kamu ketahui tentang hari kiamat? Kamu tidak mengetahuinya, sebab kamu belum menyaksikannya dan melihat prahara yang terjadi pada hari itu. Hebat dan sulitnya kiamat tidak bisa dibayangkan oleh khayalan. (7301) Dalam metode bangsa ‘Arab, jika ingin membuat penasaran seseorang terhadap sesuatu, maka mereka mengatakan: Tahukah kamu apa yang terjadi? Ayat ini termasuk dalam metode tersebut. Seakan-akan dikatakan: Hari kiamat adalah hari yang menakutkan.

Setelah memberikan gambaran hebatnya kiamat, Allah menuturkan nasib orang yang mendustakannya dan siksa yang menimpanya karena mendustakannya. Ini untuk memperingatkan kaum kafir Makkah dan mengancam mereka. Allah berfirman: “Kaum Tsamūd dan ‘Ād telah mendustakan hari kiamat”: kaum Shāliḥ a.s. dan kaum Hūd a.s. mendustakan hari kiamat yang praharanya mampu menggetarkan hati. “Adapun kaum Tsamūd maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa”; Tsamūd kaum Nabi Shāliḥ, dihancurkan dengan teriakan luar biasa kerasnya yang menghancurkan mereka. Qatādah berkata: “Yaitu teriakan yang suaranya melebihi semua jenis teriakan.” (7312) “Adapun kaum ‘Ād maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin”; sementara kaum ‘Ād yaitu kaum Hūd dihancurkan dengan angin yang bersuara keras. Dalam hadits disebutkan: “Kami ditolong dengan angin timur dan ‘Ad dihancurkan dengan angin barat.” (7323) “lagi amat kencang”; kencang dan dinginnya angin itu melebihi batas kebiasaan, seakan-akan angin itu durhaka kepada para penjaganya, sehingga mereka tidak bisa mengatasinya. (7334) Ibnu ‘Abbās berkata: “Allah tidak pernah melepaskan angin, kecuali dengan kadar yang ditentukan dan Allah tidak pernah menurunkan tetes hujan kecuali dengan kadar yang ditentukan, kecuali pada hari Nūḥ dan hari ‘Ād pada saat mereka ditimpa siksa. Air pada hari Nūḥ durhaka kepada para penjaga, sehingga mereka tidak bisa mengatasinya.” Lalu Ibnu ‘Abbās membaca firman: “Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek moyang), kamu ke dalam bahtera” (al-Ḥāqqah: 11) Dan angin ‘Ād mendurhakai para penjaganya sehingga mereka tidak bisa mengatasinya. Lalu Ibnu ‘Abbās membaca ayat: “dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang” (7345) “yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus”; Allah menguasakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam delapan hari secara berturut-turut tanpa kendor maupun henti. “maka kamu lihat kaum ‘Ād pada waktu itu mati bergelimpangan”; lalu kamu hai manusia melihat orang-orang itu mati di rumah-rumah mereka tanpa bergerak. “seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)”; seakan-akan mereka adalah pokok pohon kurma yang rapuh bagian dalamnya. ‘Ulamā’ tafsir berkata: “Angin itu memotong kepala mereka sebagaimana memutuskan pokok pohon kurma. Angin itu masuk melalui mulut dan keluar dari anus sampai mereka mati. Mereka bagaikan pohon kurma yang rapuh bagian dalamnya.” “Maka kamu tidak melihat seorang pun yang tinggal di antara mereka”; apakah kamu melihat seorang pun dari mereka yang tersisa atau kamu menemukan jejak mereka? Mereka musnah sampai akar-akarnya. Ini senada dengan firman Allah: “Maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka.” (al-Aḥqāf: 25).

Dan telah datang Fir‘aun dan orang-orang yang sebelumnya”; maka datanglah Fir‘aun yang kejam dan umat-umat sebelumnya yang kafir kepada rasūlnya, “dan (penduduk) negeri-negeri yang dijungkir balikkan”; juga penduduk yang rumahnya menimpa mereka sendiri, yaitu negeri kaum Luth. Bagian atasnya dibalikkan oleh Allah menjadi bagian bawah. Ash-Shawi berkata: “Mu’tafikat adalah daerah-daerah yang terbalik, yaitu negeri-negeri kaum Luth. Jibril mencerabutnya dari bumi dan mengangkatnya di atas sayapnya sampai dekat dengan langit, lalu membaliknya. Negeri mereka berjumlah lima wilayah.” (7356) “karena kesalahan yang besar”; mereka disiksa akibat perbuatan yang salah dan mungkar, (7367) yaitu kafir dan durhaka. “Maka (masing-masing) mereka mendurhakai rasūl Tuhan mereka”; Fir‘aun mendurhakai utusan Allah Mūsā dan kaum Lūth mendurhakai utusan Allah Lūth. “, lalu Allah menyiksa mereka dengan siksaan yang sangat keras”; Allah menyiksa mereka dengan siksaan yang melebihi siksa umat sebelum mereka. Ini karena kejahatan mereka lebih buruk daripada kaum kafir lainnya. “Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek moyang) kamu ke dalam bahtera”; ketika air melebihi batas sampai menenggelamkan segala sesuatu, maka Kami angkut kalian di dalam kapal “agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kamu”; supaya Kami jadikan peristiwa itu sebagai pelajaran dan nasihat bagi umat manusia di mana siksaan Allah akan ditimpahkan kepada orang yang mendustakan rasūl-rasūlNya. “dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar”; Qatādah berkata: “Maksud telinga yang mau mendengar adalah yang mau berpikir dan mengambil pelajaran dan manfaat dari isi kitab Allah yang didengarnya.” (7388).

*Missing (7379).

Setelah menuturkan kisah orang-orang yang mendustakan, Allah meneruskannya dengan menjelaskan prahara hari kiamat. “Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup”; ketika Isrāfīl a.s. meniup sangkakala sekali untuk menghancurkan alam semesta. Ibnu ‘Abbās berkata: “Yaitu tiupan pertama yang menyebabkan alam semesta hancur lebur. “dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur”; bumi dan gunung diangkat dari tempatnya, lalu sebagian dipukulkan pada yang lain, sehingga hancur-lebur dan menjadi pasir. “Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat”; saat itulah terjadi kiamat besar dan peristiwa heboh, “dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah”; langit retak lalu menjadi lemah dan jatuh serta tidak saling mengikat (grafitasinya). “Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit”; para malaikat ada pada sisi-sisi langit. ‘Ulamā’ tafsir berkata: “Hal itu dikarenakan langit adalah tempat tinggal para malaikat. Jika langit retak, maka mereka berdiri pada sisi-sisinya karena takut akan prahara saat itu dan takut kepada kebesaran Allah: “Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arasy Tuhanmu di atas (kepala) mereka”; ‘Arasy ar-Raḥmān saat itu dipikul oleh delapan malaikat agung di atas kepala mereka. Ibnu ‘Abbās berkata: “Ya‘ni delapan baris malaikat yang jumlahnya hanya diketahui oleh Allah.” (73910). “Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah)”; pada saat yang mengerikan itu, kalian dihadapkan kepada Maha Raja untuk dihitung dan diberi balasan amal kalian. Tidak seorang pun dari kalian yang samar bagi-Nya dan tidak ada rahasia kalian yang lepas dari-Nya, sebab Dia Maha Tahu yang lahir dan yang rahasia serta tersembunyi.

Kemudian Allah menjelaskan keadaan orang-orang yang bahagia dan orang-orang yang celaka di hari kiamat itu. “Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya”; adapun orang yang diberi catatan ‘amal perbuatannya, dan menerimanya dengan tangan kanan karena termasuk orang yang beruntung: “maka dia berkata: “Ambillah, bacalah kitabku (ini)””; maka dia berkata dengan gembira dan suka cita: “Ambillah catatan ‘amal perbuatanku dan bacalah”. Hā’ pada (سُلْطَانِيَهْ), (مَالِيَهْ), (حِسَابِيَهْ), (كِتَابِيَهْ) adalah hā’ sakt (berhenti dan diam). Ar-Rāzī berkata: “Firman “Ambillah, bacalah kitabku” dengan tambahan hā’ di akhir kalimat menunjukkan kegembiraannya tiada tara. Ketika dia diberi catatan ‘amal dengan tangan kanan, di tahu bahwa dia termasuk orang yang selamat dan memperoleh keni‘matan. Karen itu, dia ingin menampakkan kegembiraannya kepada orang lain agar mereka gembira karena apa yang dia peroleh.” (74011) “Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku”; yakin dan pasti, aku akan bertemu dengan hisabku dan balasanku pada hari kiamat, sehingga kami mempersiapkan iman dan ‘amal shalih untuknya. Al-Ḥasan berkata: “Seorang mu’min berbaik-sangka kepada Allah, karena itu dia berbuat amal shalih. Sedangkan munafiq berburuk sangka kepada Allah, karena dia berbuat amal buruk.” (74112) Adh-Dhaḥḥāk berkata: “Kata (ظَن) dalam al-Qur’ān jika keluar dari seorang mu’min berma‘na yakin, jika keluar dari munafiq berarti bimbang dan ragu.” (74213).

Catatan:

  1. 730). Abū Su‘ūd berkata: “Pengulangan ayat dimaksudkan menguatkan prahara kiamat dan menjelaskan bahwa hari kiamat jauh di atas penalaran manusia. Dengan arti hampir-hampir tidak seorangpun bisa menjangkau prahara kiamat.”
  2. 731). Diriwayatkan dari Mujāhid, bahwa ma‘na ayat adalah mereka dihancurkan karena kedurhakaan mereka. Namun tafsir pertama lebih tepat, sebab ada perbandingannya, yaitu siksa kaum ‘Ād. Abū Su‘ūd 5/188.
  3. 732). Diriwayatkan Bukhārī dan Muslim.
  4. 733). Pendapat ini pendapat ‘Alī dan diriwayatkan dari al-Kalabī serta Ibnu ‘Abbās.
  5. 734). Tafsīr-uth-Thabarī…. 29/32. Al-Qurthubī me-marfū‘-kan hadits ini, namun yang shaḥīḥ adalah ini hadits mauqūf pada Ibnu ‘Abbās.
  6. 735). Ḥāsyiyat-ush-Shāwī, 4/240.
  7. 736). Mujāhid berkata: “Maksudnya mereka mendatangkan dosa dan kesalahan yang mereka lakukan.
  8. 738). Al-Baḥr-ul-Muḥīth, 8/322.
  9. 737). Tafsīr-ul-Qurthubī, 18/263.
  10. 739). Pendapat pertama adalah pendapat Ibnu Zaid dan ini lebih kuat dan didukung oleh hadits: “Para pemikul ‘Arasy ar-Raḥmān empat. Jika hari kiamat terjadi, maka Allah menguatkan mereka dengan empat lainnya, atau menjadi delapan.” Lihat Tafsīr-uth-Thabarī, 29/38.
  11. 740). At-Tafsīr-ul-Kabīr, 30/111.
  12. 741). Tafsīr-ul-Qurthubī, 18/270.
  13. 742). Idem.
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *