Surah al-Haqqah 69 ~ Tafsir al-Mishbah (6/6)

Tafsir al-Mishbāḥ
(Jilid ke-15, Juz ‘Amma)
Oleh: M. Quraish Shihab

Penerbit: Penerbit Lentera Hati

Rangkaian Pos: Surah al-Haqqah 69 ~ Tafsir al-Mishbah

AYAT 44-47.

Dan seandainya dia mengada-adakan atas Kami sebagian perkataan niscaya benar-benar Kami menyiksanya dengan tangan kanan. Kemudian benar-benar Kami telah memotong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak seorang pun dari kamu yang dapat menjadi penghalang-penghalang.

Setelah ayat yang lalu menegaskan bahwa al-Qur’ān adalah firman-firman suci yang bersumber dari Allah s.w.t. dan bahwa Nabi Muḥammad s.a.w. hanya berfungsi menyampaikan, ayat-ayat di atas menggambarkan ketiadaan peranan Nabi Muḥammad s.a.w. dalam menyusun kandungan dan kata-katanya. Ayat-ayat di atas bagaikan menyatakan: “Seandainya al-Qur’ān bukan bersumber dari Tuhan Pemelihara semesta alam, tentulah kamu dapat menyusun semacamnya atau Nabi Muḥammad dan membuat yang serupa dengannya, dan seandainya – dan ini hanya perandaian yang tidak mungkin terjadi sebagaimana dipahami dari kata (لَوْ) “lau” – seandainya dia, ya‘ni Nabi Muḥammad s.a.w., mengada-adakan atas nama Kami – jangankan semua – sebagian perkataan saja yang tidak Kami firmankan atau tidak Kami idzinkan kepadanya untuk disampaikan, niscaya benar-benar Kami, melalui makhluq yang Allah tugaskan, menyiksanya dengan tangan kanan, ya‘ni dengan sangat kuat. Kemudian, yang lebih mengerikan lagi, adalah benar-benar Kami, telah ya‘ni pasti akan, memotong urat tali jantungnya sehingga dia tidak akan bertahan hidup sekejap pun. Jika Kami menindakinya, maka sekali-kali tidak ada seorang pun dari kamu, wahai manusia, yang dapat menjadi penghalang-penghalang terhadap Kami melakukan tindakan serta pemotongan urat nadi itu.

Kata (الْيَمِيْنِ) al-yamīn antara lain berarti tangan kanan. Tangan kanan pada umumnya lebih kuat daripada tangan kiri. Dari sini, lahir antara lain ma‘na kuat untuk kata tersebut dan itulah menurut banyak ‘ulamā’ yang dimaksud ayat di atas. Sementara ‘ulamā’ memahami kata tersebut dalam arti hina sehingga ayat tersebut bagaikan menyatakan: Kami akan menyiksanya dengan hina. Pengertian ini lahir dari kebiasaan para raja, yang bila hendak menghina dan menyiksa seseorang dia berkata kepada petugas: “Ambillah dia” lalu ia diambil dengan tangan kanan petugas. Bisa juga kata bilyamīn dipahami dalam arti arah kanan seseorang. Ini dapat dipahami sebagai ilustrasi kejam dan ngerinya pembunuhan. Hal itu demikian karena, jika seseorang akan dipancung lehernya, biasanya algojo menariknya dengan tangan kiri, lalu menebas lehernya dari belakang. Pembunuhan semacam ini relatif lebih ringan karena yang terbunuh tidak melihat ayunan pedang atau kilaunya; leher bagian belakang pun relatif lebih lebar dari pada bagian depan. Tetapi kalau dia dipancung dari arah kanan, maka yang bersangkutan dapat melihat ayunan pedang – kalaupun matanya ditutup – algojo boleh jadi tidak tepat mengarahkan pedang ke leher yang bersangkutan sehingga pemenggalan dapat dilakukan lebih dari sekali, dan ini tentu saja lebih mengerikan.

Kata (الْوَتِيْنَ) al-watīn ada yang memahaminya dalam arti urat yang berhubungan dengan jantung, ada juga yang menyatakan ia adalah urat nadi yang terdapat di leher. Apa pun ma‘nanya, yang jelas ayat di atas bermaksud menyatakan bahwa, seandainya Nabi Muḥammad s.a.w. mengada-ada, niscaya dia tidak akan bertahan hidup sampai turunnya ayat di atas. Tuhan segera akan membinasakannya. Namun, karena itu tidak terjadi, ini adalah salah satu bukti bahwa apa yang beliau sampaikan adalah wahyu Ilahi.

 

AYAT 48-52.

Dan sesungguhnya ia benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang bertaqwa. Dan sesungguhnya Kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kamu ada pengingkar-pengingkar. Dan sesungguhnya ia benar-benar penyesalan bagi orang-orang kafir. Dan sesungguhnya ia benar-benar Ḥaqq-ul-Yaqīn, maka bertasbihlah dengan nama Tuhanmu Yang Maha Agung.”

Setelah menegaskan tentang sumber al-Qur’ān dan bahwa Nabi Muḥammad s.a.w. sama sekali tidak memiliki peranan – kecuali menyampaikan (dan menjelaskan kandungannya) – ayat di atas menyebutkan fungsi kitab suci serta tanggapan manusia terhadapnya. Allah berfirman: Dan sesungguhnya ia ya‘ni al-Qur’ān yang merupakan peringatan bagi seluruh alam, benar-benar suatu pelajaran yang sangat berharga bagi orang-orang bertaqwa karena mereka menyadari sumbernya serta mengamalkan tuntunannya. Dan sesungguhnya Kami Yang Maha Kuasa bersama hamba-hamba Kami, seperti para malaikat, benar-benar mengetahui bahwa di antara kamu, wahai seluruh manusia, ada pengingkar-pengingkar-nya sebagaimana ada juga yang tulus membenarkannya. Dan sesungguhnya ia, ya‘ni al-Qur’ān  itu, benar-benar menjadi penyesalan bagi orang-orang kafir khususnya di akhirat nanti setelah mereka melihat ganjaran yang diperoleh orang-orang bertaqwa dan mengetahui siksa yang mereka alami. Dan sesungguhnya ia ya‘ni al-Qur’ān atau siksa dan ganjaran yang akan diperoleh di akhirat nanti, benar-benar Ḥaqq-ul-Yaqīn, ya‘ni kebenaran yang menyakinkan tanpa sedikit keraguan pun. Karena itu, maka bertasbihlah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Maha Agung.

Kata (حَسْرَةٌ) ḥasrah digunakan dalam arti penyesalan yang besar dan berulang-ulang atas luputnya sesuatu yang disenangi. Kata ini terambil dari kata ḥasr yang berarti terbuka. Penyesalan datang setelah terbuka dan nyatanya sesuatu setelah sebelumnya tertutup dan tersembunyi. Seandainya hal itu sejak semula terbuka tentu penyebabnya tidak akan dilakukan.

Kata (الْيَقِيْن) al-yaqīn adalah pembenaran hati yang sangat mantap terhadap sesuatu sehingga tidak ada lagi sedikit kerancuan pun yang menyertainya – setelah sebelumnya kerancuan itu pernah dirasakan. Al-Qur’ān memperkenalkan tiga macam yaqīn, yaitu ‘Ilm-ul-Yaqīn, ‘Ain-ul-Yaqīn, yang disebut pada QS. at-Takātsur, sedang yang ketiga adalah yang disebut di atas, ya‘ni Ḥaqq-ul-Yaqīn, dan inilah puncak dari keyakinan itu. Sementara ‘ulamā’ memahami istilah ‘Ain-ul-Yaqīn dalam arti satu keyakinan yang demikian mantap sehingga seakan-akan jiwa manusia memandang secara kasat mata hal-hal yang bersifat immaterial, sedang Ḥaqq-ul-Yaqīn adalah tingkat yang tertinggi di mana jiwa bagaikan telah berhubungan langsung secara ‘aqliyyah dan rūḥāniyyah dengan objek keyakinannya. Sebagai ilustrasi, dapat dikatakan bahwa jika anda membenarkan adanya kota yang bernama Kairo berdasar penuturan banyak orang – walau anda sendiri belum pernah melihatnya – maka ini dapat dipersamakan dengan ‘Ilm-ul-Yaqīn. Jika anda pernah melihat Kairo walau sepintas – dan dengan demikian anda yakin akan keberadaannya – maka ini dapat dipersamakan dengan ‘Ain-ul-Yaqīn, dan bila anda pernah tinggal di sana, mengenal jalan-jalannya, dan sekian banyak penduduknya, maka itulah Ḥaqq-ul-Yaqīn.

Akhir surah ini memerintahkan Nabi Muḥammad s.a.w. menyucikan Allah dari segala kekurangan. Kaum musyrikin tidak mempercayai adanya Hari Kiamat dengan alasan bahwa Allah tidak lagi mengetahui bagian-bagian jasad manusia yang telah punah dan bercampur dengan tanah atau lainnya serta, kalaupun Dia mengetahui, Dia tidak kuasa menghimpunnya. Kaum musyrikin tidak mempercayai informasi al-Qur’ān tentang keniscayaan Kiamat. Maka, setelah bukti keniscayaannya dipaparkan serta dalih-dalih penolakan al-Qur’ān sebagai firman-Nya dipatahkan, tidak ada lagi yang wajar dilakukan kecuali menyucikan-Nya dari kepercayaan itu sambil mengagungkan nama-Nya. Demikian bertemu akhir uraian surah ini dengan awalnya. Wa Allāh A‘lam. Maha Benar Allah dalam segala firman-Nya.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *