Surah al-Ghasyiyah 88 ~ Tafsir Ibni ‘Arabi

Tafsir Ibni 'Arabi - Isyarat Ilahi

Dari Buku:
Isyarat Ilahi
(Tafsir Juz ‘Amma Ibn ‘Arabi)
Oleh: Muhyiddin Ibn ‘Arabi

Penerjemah: Cecep Ramli Bihar Anwar
Penerbit: Iiman
Didistribusikan oleh: Mizan Media Utama (MMU)

الْغَاشِيَةُ

AL-GHĀSYIYAH

Surah Ke-88: 26 Ayat

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Dengan nama Allah, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

 

هَلْ أَتَاكَ حَدِيْثُ الْغَاشِيَةِ. وُجُوْهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ. عَامِلَةٌ نَّاصِبَةٌ. تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً. تُسْقَى مِنْ عَيْنٍ آنِيَةٍ. لَّيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إِلَّا مِنْ ضَرِيْعٍ. لَا يُسْمِنُ وَ لَا يُغْنِيْ مِنْ جُوْعٍ. وُجُوْهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاعِمَةٌ. لِسَعْيِهَا رَاضِيَةٌ. فِيْ جَنَّةٍ عَالِيَةٍ. لَا تَسْمَعُ فِيْهَا لَاغِيَةً. فِيْهَا عَيْنٌ جَارِيَةٌ.

088:1. Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan.

088:2. Banyak muka pada hari itu tunduk terhina,

088:3. bekerja keras lagi kepayahan,

088:4. memasuki api yang sangat panas (neraka),

088:5. diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas.

088:6. Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri,

088:7. yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.

088:8. Banyak muka pada hari itu berseri-seri,

088:9. merasa senang karena usahanya,

088:10. dalam surga yang tinggi,

088:11. tidak kamu dengar di dalamnya perkataan yang tidak berguna.

088:12. Di dalamnya ada mata air yang mengalir.

Hal atāka hadīts-ul-ghāsyiyyah. (Apakah telah datang kepadamu berita tentang hari pembalasan [al-ghāsyiyyah]? – ayat 1). Yang dimaksud al-ghāsysyih adalah bencana besar yang menghantam semua orang dengan kedahsyatannya. Itulah kiamat besar (al-kubrā) yang melindas semua orang dan meleburkannya dengan cahaya “penyibakan Dzat-Nya” (al-tajalliy-adz-dzāt). Maka, pada hari bencana besar itu, tersibaklah semua orang. Pada saat-saat itu berbagilah mereka menjadi dua golongan: golongan malang dan golongan bahagia. Di samping berarti kiamat besar, al-ghāsyiyah juga berarti kiamat kecil (shughrā) yang menggulung kesadaran akal dengan dahsyatnya sekarat (sakarat-ul-maut) dan dicekam rasa seram. Maka, pada saat kiamat kecil (kematian) itu, semua orang dihantam badai besar, entah mereka termasuk golongan bahagia ataupun golongan malang.

Wujūhun yauma’idzin khāsyiah (Banyak muka pada hari itu tunduk terhina – ayat-2). Jelasnya, pada hari itu banyak orang tertunduk hina dan tercekam.

‘āmilatun nāshibah (bekerja keras serta kepayahan – ayat 3). Mereka selalu mengalami kesulitan-kesulitan yang melelahkan, seperti jatuh ke dasar neraka yang paling dalam, memanjat tebing-tebing neraka, menanggung berbagai beban bentuk amal mereka yang amat memberatkan, dan seterusnya. Atau mereka selalu bekerja keras karena siksaan yang tak henti-hentinya dari malaikat Zabāniyah. Ia disiksa Zabaniyah untuk terus menjalankan laku-laku yang amat memberatkan – sebagai siksaan yang setimpal dengan berbagai lakunya di dunia. Dengan laku-laku yang amat menyakitkan itu, ia pun amat kepayahan.

Tashlā nāran ḥāmiyah (memasuki api yang sangat panas – ayat 4). Yang dimaksud api yang sangat panas adalah “neraka efek-efek tabiat rendah.” (nirān ātsar-ith-thabī‘ah). Panas menyakitkan setimpal dengan laku tabiat rendah itu.

Tusqā min aynin āniyah (diberi minum [dengan air] dari sumber yang sangat panas – ayat: 5). Sumber yang amat panas adalah kebodohan ganda yang tak lain adalah minuman mereka sendiri, atau sumber yang amat panas itu adalah kepercayaan rusak (sesat) yang amat menyakitkan.

Laisa lahum tha‘āmun illā min dharī‘ (Mereka tidak memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri – ayat 6). Pohon yang yang berduri adalah lambang dari keraguan, ilmu-ilmu yang tak berguna dan menyakitkan, seperti “logika yang keliru dan sesat” (al-mughālathah), perselisihan paham (khilāfiyyah), dan sofisme (sufusthah/safsathah) (1), dan sebagainya.

Lā yusminu wa lā yughnī min jū‘ (Yang tidak menggemukkan dan tidak pula mengenyangkan lapar – ayat 7). Jelasnya, “makanan-makanan” seperti itu memperkuat jiwa dan tidak pula menenteramkan gejolak jiwa. “Makanan-makanan” seperti itu tidak memuaskan kelahapan mereka yang ulet mempelajari dan memperbicangkan berbagai “makanan” itu. Mungkin pula, mereka yang celaka ini akan dikumpulkan dalam bentuk “makanan-makanan mereka yang keras dan kering, sebagian dalam bentuk pohon zaqqūm (pohon yang tumbuh di neraka untuk makanan orang-orang pendosa [37: 62; 44: 43]), sebagian lagi dalam bentuk ghislin (darah dan nanah [69: 36]).

Wujūhun yauma’idzin nādhirah, lisa‘yihā rādhiyah, fī jannatin ‘āliyah, lā tasma‘u fīhā lāghiyah, fīhā ‘aynun jāriyah. (Banyak muka pada hari itu berseri-seri. Merasa senang karena usahanya dalam surga yang tinggi. Tidak kamu dengar di dalamnya perkataan yang tidak berguna. Di dalamnya ada mata air yang mengalir – ayat 8-12). Banyak wajah yang tampak berseri-seri dengan kelemah-lembutan dan kebercahayaan karena kesucian mereka. Ini bisa diraih karena mereka berupaya keras dalam menempuh kebaikan dan keutamaan serta dalam perjalanan menuju Allah. Terhadap apa yang telah mereka usahakan, mereka benar-benar merasa puas dan bersyukur. Tidak seperti golongan malang tadi, mereka sama sekali tak menyesal atas apa yang telah mereka kerjakan. Dalam surga dari berbagai surga sifat-sifatNya dan Kehadiran Quddūs yang tinggi, yang sangat mulia karena ketinggian tempatnya, mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang tidak berguna, karena pembicaraan mereka adalah di seputar ḥikmah, ma‘rifat, tasbīḥ dan taḥmīd. Di dalamnya ada mata air yang mengalir, berupa mata air berbagai ilmu makrifat, cita-rasa pengalaman langsung (dzauq), penyingkapan, penemuan dan tauhid sejati.

فِيْهَا سُرُرٌ مَّرْفُوْعَةٌ. وَ أَكْوَابٌ مَّوْضُوْعَةٌ. وَ نَمَارِقُ مَصْفُوْفَةٌ. وَ زَرَابِيُّ مَبْثُوْثَةٌ. أَفَلَا يَنْظُرُوْنَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ. وَ إِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ. وَ إِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ. وَ إِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ. فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ. لَّسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ. إِلَّا مَنْ تَوَلَّى وَ كَفَرَ. فَيُعَذِّبُهُ اللهُ الْعَذَابَ الْأَكْبَرَ. إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ. ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ

088:13. Di dalamnya ada takhta-takhta yang ditinggikan,

088:14. dan gelas-gelas yang terletak (di dekatnya),

088:15. dan bantal-bantal sandaran yang tersusun,

088:16. dan permadani-permadani yang terhampar.

088:17. Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan,

088:18. Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?

088:19. Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?

088:20. Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?

088:21. Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.

088:22. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka,

088:23. tetapi orang yang berpaling dan kafir,

088:24. maka Allah akan mengadzabnya dengan adzab yang besar.

088:25. Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka,

088:26. kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.

Fīhā sururun marfū‘ah. Wa akwābun maudhū‘ah. Wa namāriqu mashfūfah. Wa zarābiyyu mabtsūtsah (Di dalamnya ada tahta-tahta yang ditinggikan. Dan gelas-gelas yang terletak [di dekatnya], dan bantal-bantal sandaran yang tersusun, dan permadani-permadani yang terhampar – ayat 13-16). Yang dimaksud dengan tahta-tahta yang ditinggikan adalah berbagai tingkatan nama-nama Tuhan yang telah mereka capai dengan cara mencerap sifat-sifatNya. Berbagai tingkatan itu derajatnya jauh lebih mulia dibanding martabat jasmani. Sedangkan yang dimaksud gelas-gelas adalah berbagai sifat Dzat Murni dan kebaikannya yang tak lain adalah “wadah” kemabukan cinta. “Gelas-gelas” itu diletakkan (maudhū‘ah) karena tetapnya kemabukan cinta itu di dalam “wadah-wadah” maqām itu. Adapun yang dimaksud bantal-bantal sandaran adalah berbagai maqām dan “tempat duduk” mereka di dalam berbagai tingkatan sifat-sifatNya. Berbagai tingkatan sifat itu disebut bantal-bantal sandaran atau “tempat duduk” karena sesungguhnya setiap sifat, mulai dari proses penampakannya (tajalli) kepada seseorang, pelimpahan cahaya-cahayanya, pencerapan sepenuhnya, sampai sifat itu benar-benar menjadi kerajaan dan maqām baginya, semua tingkatan proses itu pada dasarnya adalah “alas-alas kaki” dan “tempat duduk”. Karena itu, jika seorang penempuh-ruhani (sālik) telah mencapai jatah kesempurnaan tertentu sesuai dengan tingkat kesiapan-ruhaninya, lalu dalam kesempurnaan yang telah ia capai itu (maqām) pada dasarnya adalah “bantal sandarang” di atas tahta-tahta. Dan tahta-tahta itu tak lain adalah “tempat” sifat itu bersamaan dengan Dzat-Nya. Bantal-bantal sandaran itu tersusun secara bertingkat-tingkat.

Sementara itu, yang dimaksud dengan permadani-permadani adalah berbagai maqām penampakkan perbuatan-perbuatanNya yang berada di bawah berbagai maqām (penampakan) sifat-sifatNya; seperti maqām tawakkal (yang merupakan buah dari penampakan perbuatan-Nya kepada seseorang, yang dengan penampakan ini ia menjadi sepenuhnya yakin bahwa perbuatannya hanyalah pinjaman, dari perbuatan-Nya yang hakiki – pen.) yang berada di bawah maqām ridhā’. Berbagai maqām perbuatan itu terhampar (mabtsūtsah) di bawah mereka.

Afalā yanzhurūna (Maka apakah mereka tidak memperhatikan – ayat 17) berbagai sebab sekunder yang kasat mata, sehingga dengan begitu mereka bisa memetik pelajaran: menyeberang dari sebab-sebab sekunder itu sampai ke penampakan sifat-sifatNya?

Fa dzakkir. Innamā anta mudzakkir. Lasta ‘alaihim bi musaithir. (Maka, berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka – ayat 21-22). Jelasnya, berilah peringatan, semoga di antara mereka ada yang siap tergugah dan sadar sehingga mendaki tangga yang mengantarkannya ke sisi-Nya. Tetapi, kamu tak perlu (bersikeras) memberi peringatan kepada mereka yang berpaling dan terhijab oleh sebab-sebab sekunder (al-ātsār) yang kasat mata sehingga mengabaikan Penyebab Hakiki (al-mu’atstsir).

Fa yu‘adzdzibuh-ullāh-ul-‘adzāb-al-akbar (Maka Allah mengazabnya dengan azab yang terbesar – ayat 24). Itulah neraka terbesar yang telah diisyaratkan dalam surah al-A‘lā, yang dipersiapkan untuk orang-orang tenggelam dalam hijab seluruh tingkatan wujud. Sedangkan firman-Nya: Sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka, adalah teguran. Artinya: Tugas kamu tak lebih dari sekadar memperingatkan, bukan memaksa atau mengalahkan. Ini seperti difirmankan-Nya: Sesungguhnya kamu tidak akan bisa memberi petunjuk kepada orang yang kamu cintai (al-Qashash [28]: 56); …. dan kamu sekali-kali bukanlah pemaksa terhadap mereka. (Qaf [50]: 45).

Inna ilainā iyābahum. Tsumma inna ‘alainā hisābahum (Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Kami. Kemudian sesungguhnya Kamilah yang akan menghisab mereka – ayat 25-26). Tegasnya, hanya kepada Kamilah mereka akan kembali, tidak kepada selain Kami. Lalu Kamilah yang akan menghisab mereka dan mengadzab dengan adzab yang paling besar. Sebab, pemaksaan adalah milik Kami semata, bukan milik kamu.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *