Surah al-Balad 90 ~ Tafsir al-Jalalain

Tafsir Jalalain | Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi

Dari Buku:
Tafsir Jalalain.
(Jilid 4. Dari Sūrat-uz-Zumar sampai Sūrat-un-Nās)
Oleh: Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi

Penerjemah: Bahrun Abu Bakar L.C.
Penerbit: Sinar Baru Algensindo Bandung

090

SŪRAT-AL-BALAD

Makkiyyah, 20 ayat

Turun sesudah Sūratu Qāf

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

لَا أُقْسِمُ بِهذَا الْبَلَدِ.

1. (لَا) “Sungguh” huruf di sini adalah huruf zā’idah mengandung makna taukīd (أُقْسِمُ بِهذَا الْبَلَدِ) “Aku bersumpah dengan kota ini” yakni kota Makkah.

وَ أَنْتَ حِلٌّ بِهذَا الْبَلَدِ.

2. (وَ أَنْتَ) “Dan kamu” hai Muḥammad (حِلٌّ) “halal” maksudnya dihalalkan bagimu (بِهذَا الْبَلَدِ) “kota ini” artinya Dia menghalalkannya untukmu melakukan peperangan di dalamnya untuk melawan orang-orang musyrik. Allah memenuhi janji-Nya itu pada waktu penaklukan kota Mekah. Ayat ini merupakan jumlah mu‘taridhah yang terletak di antara qasam yang pertama dengan qasam yang selanjutnya.

وَ وَالِدٍ وَ مَا وَلَدَ.

3. (وَ وَالِدٍ) “Dan demi bapak” yaitu Nabi Adam (وَ مَا وَلَدَ) “dan anaknya” atau anak cucunya; huruf di sini bermakna man.

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِيْ كَبَدٍ.

4. (لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ) “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia” semuanya (فِيْ كَبَدٍ) “berada dalam susah payah” yaitu lelah dan susah karena selalu menghadapi musibah-musibah di dunia dan kesengsaraan-kesengsaraan di akhirat.

أَيَحْسَبُ أَنْ لَّنْ يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ.

5. (أَيَحْسَبُ) “Apakah manusia itu menyangka” atau apakah manusia menduga, bahwa dia itu adalah kuat. Yang dimaksud adalah asyad dari kalangan kaum Quraisy ia terkenal kekuatannya (أَنْ) “bahwa” huruf an di sini adalah bentuk takhfīf dari anna, sedangkan isim-nya tidak disebutkan, lengkapnya annahū (لَّنْ يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ) “sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atas dirinya?” Allahlah yang berkuasa atas dirinya.

يَقُوْلُ أَهْلَكْتُ مَالًا لُّبَدًا.

6. (يَقُوْلُ أَهْلَكْتُ) “Dia mengatakan: “Aku telah menghabiskan” untuk memusuhi Muḥammad (مَالًا لُّبَدًا) “harta yang banyak”” maksudnya banyak mengeluarkan harta untuk memusuhinya.

أَيَحْسَبُ أَنْ لَّمْ يَرَهُ أَحَدٌ.

7. (أَيَحْسَبُ أَنْ) “Apakah dia menyangka bahwa” dirinya (لَّمْ يَرَهُ أَحَدٌ) “tiada seorang pun yang melihatnya?” artinya melihat apa-apa yang telah dibelanjakannya itu, sehingga ada orang yang mengetahui berapa jumlah harta yang telah dibelanjakannya. Allahlah yang mengetahui berapa jumlah yang telah dibelanjakannya itu, dan jumlah sedemikian itu tidak berarti apa-apa di sisi-Nya, bahkan Dia kelak akan membalas perbuatannya yang buruk dan keji itu.

أَلَمْ نَجْعَلْ لَّهُ عَيْنَيْنِ.

8. (أَلَمْ نَجْعَلْ) “Bukankah Kami telah menjadikanIstifhām atau kata tanya di sini mengandung arti taqrīr (لَّهُ عَيْنَيْنِ) “baginya dua buah mata,”

وَ لِسَانًا وَ شَفَتَيْنِ.

9. (وَ لِسَانًا وَ شَفَتَيْنِ.) “lidah dan dua buah bibir?

وَ هَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ.

10. (وَ هَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ.) “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” maksudnya Kami telah menjelaskan kepadanya jalan kebaikan dan jalan keburukan.

فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ.

11. (فَلَا) “Maka kenapa ia tidak” atau mengapa ia tidak (اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ.) “menempuh jalan yang sulit?

وَ مَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ.

12. (وَ مَا أَدْرَاكَ) “Tahukah kamu” maksudnya apakah kamu mengetahui (مَا الْعَقَبَةُ) “apakah jalan yang sulit” yang akan ditempuhnya itu? Ungkapan ini mengagungkan kedudukan jalan tersebut. Ayat ini merupakan jumlah mu‘taridhah atau kalimat sisipan; kemudian dijelaskan oleh ayat berikutnya, yaitu:

فَكُّ رَقَبَةٍ.

13. (فَكُّ رَقَبَةٍ.) “Melepaskan budak” dari perbudakan, yaitu dengan cara memerdekakannya.

أَوْ إِطْعَامٌ فِيْ يَوْمٍ ذِيْ مَسْغَبَةٍ.

14. (أَوْ إِطْعَامٌ فِيْ يَوْمٍ ذِيْ مَسْغَبَةٍ.) “Atau memberi makan pada hari kelaparan” yakni sewaktu terjadi bencana kelaparan.

يَتِيْمًا ذَا مَقْرَبَةٍ.

15. (يَتِيْمًا ذَا مَقْرَبَةٍ.)Kepada anak yatim yang ada hubungan kerabat” atau famili.

أَوْ مِسْكِيْنًا ذَا مَتْرَبَةٍ.

16. (أَوْ مِسْكِيْنًا ذَا مَتْرَبَةٍ.) “Atau orang miskin yang sangat fakir” artinya karena amat miskinnya hanya beralaskan tanah. Menurut suatu qira’at kedua fi‘il tersebut diganti menjadi dua mashdar yang kedua-duanya di-rafa‘-kan. Yang pertama di-mudhāf-kan kepada lafal raqabatin sedangkan yang kedua di-tanwīn-kan, maka sebelum lafal al-‘aqabah diperkirakan adanya lafal iqtiḥām. Qira’at ini merupakan penjelasan dari makna ayat-ayat tersebut.

ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَ تَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَ تَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ.

17. (ثُمَّ كَانَ) “Kemudian dia adalah” lafal ayat ini di-‘athaf-kan kepada lafal Iqtaḥama; dan lafal tsumma menunjukkan makna urutan penyebutan atau –tartīb-udz-dzikr. Artinya dia sewaktu menempuh jalan yang sulit itu (مِنَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَ تَوَاصَوْا) “termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan” yakni sebagian di antara mereka berpesan kepada sebagian yang lain (بِالصَّبْرِ) “untuk bersabar” di dalam menjalankan amal ketaatan dan menjauhi perbuatan kemaksiatan (وَ تَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ) “dan saling berpesan untuk berkasih sayang” terhadap semua makhluk.

أُولئِكَ أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ.

18. (أُولئِكَ) “Mereka” yaitu orang-orang yang memiliki sifat-sifat demikian itu (أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ) “adalah golongan kanan.”

وَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِآيَاتِنَا هُمْ أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ.

19. (وَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِآيَاتِنَا هُمْ أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ.) “Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri

عَلَيْهِمْ نَارٌ مُّؤْصَدَةٌ

20. (عَلَيْهِمْ نَارٌ مُّؤْصَدَةٌ)orang-orang kiri itu berada dalam neraka yang ditutup rapat” dapat dibaca mu’shadah dan mūshadah, artinya neraka yang tertutup rapat.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *