Surah al-‘Adiyat 100 ~ Tafsir al-Wasith

Dari Buku:

Tafsīr al-Wasīth
(Jilid 3, al-Qashash – an-Nās)
Oleh: Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili

Penerjemah: muhtadi, dkk.
Penerbit: GEMA INSANI

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

 

SŪRAT-UL-‘ĀDIYĀT.

 

SIFAT INGKAR DAN KIKIR YANG DIMILIKI MANUSIA.

Ada dua sifat tercela yang mendominasi watak manusia; ingkar nikmat atau mengingkari kebaikan dan karunia, dan kikir atau pelit. Manusia lupa, ia berada di dunia adalah untuk diuji. Bila ia berbuat baik, ia beruntung dan selamat dan bila berbuat buruk, ia sesat, rugi dan celaka. Allah Maha Teliti dan mengetahui semua ‘amal perbuatan manusia dan mencatat semuanya agar menjadi bukti penguat untuk mereka. Ini ancaman siksa keras pada hari kiamat yang terlihat jelas melalui surah al-‘Ādiyāt, surah Makkiyyah menurut pendapat sekelompok ahl-ul-‘ilmi, pendapat rājiḥ:

وَ الْعَادِيَاتِ ضَبْحًا. فَالْمُوْرِيَاتِ قَدْحًا. فَالْمُغِيْرَاتِ صُبْحًا. فَأَثَرْنَ بِهِ نَقْعًا. فَوَسَطْنَ بِهِ جَمْعًا. إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُوْدٌ. وَ إِنَّهُ عَلَى ذلِكَ لَشَهِيْدٌ. وَ إِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيْدٌ. أَفَلَا يَعْلَمُ إِذَا بُعْثِرَ مَا فِي الْقُبُوْرِ. وَ حُصِّلَ مَا فِي الصُّدُوْرِ. إِنَّ رَبَّهُمْ بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّخَبِيْرٌ

Demi kuda perang yang berlari kencang terengah-engah, dan kuda yang memercikkan bunga api (dengan pukulan kuku kakinya), dan kuda yang menyerang (dengan tiba-tiba) pada waktu pagi, sehingga menerbangkan debu, lalu menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh, sungguh, manusia itu sangat ingkar (tidak bersyukur) kepada Tuhannya, dan sesungguhnya dia (manusia) menyaksikan (mengakui) keingkarannya, dan sesungguhnya cintanya kepada harta benar-benar berlebihan. Maka tidakkah dia mengetahui apabila apa yang ada di dalam kubur dikeluarkan, dan apa yang tersimpan di dalam dada dilahirkan? sungguh, Tuhan mereka pada hari itu Maha Teliti terhadap keadaan mereka.” (al-‘Ādiyāt [100]: 1-11).

Bazzār, Abū Ḥātim dan hadits meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās, ia berkata: “Rasulūllāh s.a.w. mengirim seekor kuda, sebulan berselang tidak ada kabar berita mengenainya, lalu turun ayat “Demi kuda perang yang berlari kencang terengah-engah.” (al-‘Ādiyāt [100]: 1).

Makna: Allah s.w.t. bersumpah demi kuda yang berlari kencang membawa para mujāhidīn di jalan Allah s.w.t. menuju musuh, mengeluarkan suara panjang dan nafas terengah-engah karena berlari sangat kencang, kuku kakinya memercikkan api saat berlari karena batu berbenturan dengan batu dan karena kuku kakinya membentur batu yang memercikkan api, menyerang musuh waktu Shubuḥ. Dhabḥ adalah suara terengah-engah saat lari kencang, bukan suara ringkikan.

Di waktu Shubuḥ atau di medan perang, kuda-kuda itu menghamburkan debu yang memenuhi udara, setelah itu mereka pun menyerbu kumpulan musuh. Para musuh itu berkumpul di satu tempat lalu dicerai-beraikan oleh kuda-kuda itu. Naq‘ adalah debu yang beterbangan. Firman Allah s.w.t.: “Kumpulan musuh” (al-‘Ādiyāt [100]: 5) maksudnya kumpulan manusia, mereka adalah orang-orang yang berperang.

Jawab sumpah: “sungguh, manusia itu sangat ingkar (tidak bersyukur) kepada Tuhannya,” (al-‘Ādiyāt [100]: 6) artinya, jenis manusia baik mu’min atau kafir sangat mengingkari nikmat berdasarkan wataknya. Maksudnya manusia benar-benar mengingkari atau mendurhakai nikmat Rabb.

Di samping sangat mendurhakai dan mengingkari nikmat, manusia juga bersaksi terhadap dirinya bahwa ia mengingkari nikmat dengan bahasa kondisi dan pengaruh hal tersebut yang terlihat dalam ucapan dan tindakan dengan mendurhakai Rabb.

Di samping itu, karena sangat mencintai harta, manusia sangat kikir, atau manusia begitu kuatnya mencintai harta. Ia terlihat bersungguh-sungguh dalam mencari dan mendapatkan harta dengan mengorbankan diri. Ada dua ma‘na benar untuk ayat ini:

Pertama; manusia sangat menyukai harta. Kedua; manusia sangat kikir karena cinta harta. Artinya, karena sangat mencintai harta, manusia kikir dan menggenggam erat harta. Kebaikan dalam istilah al-Qur’ān adalah harta.

Selanjutnya, Allah s.w.t. mengancam manusia bila terus-menerus menyandang sifat-sifat itu, Allah s.w.t. berfirman: “Maka tidakkah dia mengetahui apabila apa yang ada di dalam kubur dikeluarkan” (al-‘Ādiyāt [100]: 9) artinya, apakah si pengingkar nikmat itu tidak tahu saat mayit-mayit dikeluarkan dari kubur, saat semua niat, tekad, kebaikan dan keburukan yang ada di dalam jiwa atau di dada ditampakkan? Sungguh Rabb mereka yang dibangkitkan itu Maha Teliti dan melihat seluruh kondisi mereka, tidak ada sesuatu pun yang samar bagi-Nya pada hari itu dan lainnya. Di hari itu, Ia akan membalas semua ‘amal perbuatan mereka dengan sempurna tanpa dizhalimi seberat biji atom pun. Bila mereka tahu dan memahami hal itu, selayaknya mereka tidak disibukkan (sepertinya ada teks yang hilang ms.) untuk bersyukur kepada Rabb, beribadah dan mempersiapkan diri untuk akhirat dengan ‘amal shāliḥ karena sangat cinta harta. Secara khusus ‘amalan-‘amalan hati disebut karena ‘amalan-‘amalan hati merupakan pendorong tindakan-tindakan anggota badan yang dilakukan manusia.

Ini pemberitahuan akan tempat kembali. Artinya, apakah manusia tidak mengetahui tempat kembalinya lalu mempersiapkan diri untuk itu. Mengeluarkan apa pun yang ada di dalam kubur artinya mengeluarkan apa pun yang tertutupi dan mencarinya. Ini ungkapan tentang kebangkitan. Kemudian dilanjutkan oleh berita yang benar, yaitu Allah Maha Teliti terhadap mereka pada hari itu. Allah s.w.t. senantiasa Maha Teliti. Pada hari itu disebut secara khusus karena hari itu adalah hari pembalasan. Ini menyiratkan ancaman tegas untuk sesuatu yang akan terjadi.

Ayat ini menunjukkan, Allah Maha Mengetahui bagian-bagian waktu karena secara nash Allah s.w.t. menyatakan, Ia mengetahui seperti apa kondisi manusia pada hari itu, dan orang yang mengingkari ‘ilmu Allah s.w.t. ini dianggap kafir.

Sumpah Ilahi demi kuda-kuda jihad yang menyebutkan watak manusia; mengingkari nikmat, membenarkan watak itu terhadap dirinya sendiri, cinta harta dan sangat kikir, ini mengharuskan kita supaya mewaspadai watak tersebut, berusaha untuk membenahinya, memerangi dan melatih diri agar terlepas dari sifat-sifat buruk tersebut.

Terus-menerus menyandang watak ini artinya mengundang ancaman dan pengingkaran keras, terlebih saat manusia tahu akan menemui Rabb, Rabb akan menghisab seluruh ‘amal perbuatannya secara jeli dan akan memberi balasan yang sempurna untuk perbuatan yang dilakukan.

Bila memperhatikan kondisi dan fatalnya tempat kembali ini, akhirnya manusia pun tahu, ia sendiri yang berbuat jahat terhadap diri sendiri bila lalai dalam melaksanakan kewajiban, tidak menunaikan kewajiban yang harus ditunaikan, tidak semangat untuk berbuat baik dan tidak puas melakukan keburukan.

Pada akhirnya, saat mati, manusia meninggalkan semua kejahatannya, harta tidak lagi membawa guna selain pahala yang tersimpan di sisi Allah s.w.t., dengan menginfaqkan harta untuk diri sendiri, keluraga dan untuk jalan Allah s.w.t., mencakup jihad dan menolong orang-orang yang memerlukan bantuan.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *