3 Adab Menyentuh, Membawa, dan Menulis Al-Qur’an – Adab Pemangku Al-Qur’an

ADAB PEMANGKU AL-QUR’ĀN
Oleh: Syaikh ‘Ali bin Muhammad ad-Diba‘i al-Mishri

Penerjemah: Drs. Rasyid Ridho
Penerbit: Gunung Jati Jarkata

آدَابُ مَسَّ الْمُصْحَفِ وَ حَمْلِهِ وَ كِتَابَتِهِ

Adab Menyentuh, Membawa Dan Menulis al-Qur’ān

 

يَحْرُمُ عَلَى الْمُحْدِثِ وَ لَوْ أَصْغَرَ مَسَّ شَيْءٍ مِنَ الْمُصْحَفِ وَ حَمْلُهُ وَ كَذَا مَسُّ خَرِيْطَةٍ وَ صُنْدُوْقٍ فِيْهِمَا مُصْحَفٌ بِشَرْطِ أَنْ يَكُوْنَا مُعَدَّيْنِ لَهُ، وَ كَذَا مَسُّ عَلَاقَةِ اللَّائِقَةِ بِهِ بِشَرْطِ أَنْ يَكُوْنَ عَلَيْهَا الْمُصْحَفُ وَ كَذَا يَحْرُمُ عَلَيْهِ مَسُّ مَا كُتِبَ اللدِّرَاسَةِ وَ لَوْ بَعْضَ آيَةٍ كَلَوْحٍ وَ عَلَاقَتِهِ.

1. Haram orang yang berhadats walaupun hadats kecil menyentuh bagian al-Qur’ān dan membawanya, menyentuh kantong dan kotak yang di dalamnya ada al-Qur’ān dengan syarat kedua tempat itu khusus disediakan untuk al-Qur’ān, menyentuh tali yang menempel dengan al-Qur’ān, dengan syarat di atasnya ada al-Qur’ān, dan menyentuh tulisan al-Qur’ān untuk dipelajarin, walaupun sebagian ayat. Seperti menyentuh papan atau talinya (haram).

وَ يَجِبُ مَنْعُ الْمَجْنُوْنِ وَ الصَّبِيِّ الَّذِيْ لَا يُمَيِّزُ مِنْ مَسِّهِ مَخَافَةَ انْتِهَاكِ حُرْمَتِهِ، وَ أَمَّا الصَّبِيُّ الْمُمَيِّزُ فَلَا يُمْنَعُ مِنْ مَسِّ مُصْحَفٍ وَ لَوْحٍ لِدِرَاسَةٍ وَ تَعَلُّمٍ وَ لَا يُكَلَّفُ بِالطَّهَارَةِ لِذلِكَ خَوْفَ الْمَشَقَّةِ.

2. Wajib melarang orang gila dan anak kecil yang belum tamyīz untuk menyentuh al-Qur’ān karena dikhawatirkan merengut kehormatannya, adapun yang sudah tamyiz tidak dilarang menyentuhnya, begitu juga menyentuh papannya, karena untuk membaca dan belajar, anak kecil tidak dipaksakan untuk bersuci karena dikhawatirkan akan memberatkan.

وَ أَمَّ لِتَعْلِيْمٍ وَ غَيْرِهِ فَلَا يَجُوْزُ لَهُ ذلِكَ، لكِنْ أَفْتَى الْإِمَامُ ابْنُ حَجَرٍ بِأَنَّهُ يُسَامَحُ لِمُؤَدِّبِ الْأَطْفَالِ الَّذِيْ لَا يَسْتَطِيْعُ أَنْ يُقِيْمَ عَلَى الطَّهَارَةِ فِيْ مَسِّ الْأَلْوَاحِ لِمَا فِيْهِ مِنَ الْمَشَقَّةِ، لكِنَّهُ يَتَيَمَّمُ وَ هُوَ أَوْلَى، وَ يُمْنَعُ الْكَافِرُ بِتَاتًا مِنْ مَسِّ الْمُصْحَفِ كُلِّهِ أَوْ بَعْضِهِ وَ لَا يُمْنَعُ مِنْ سَمَاعِ الْقُرْآنِ، وَ يَجُوْزُ تَعْلِيْمُهُ إِنْ رَجَى إِسْلَامَهُ.

3. Adapun untuk mengajarkan atau tujuan lain, anak kecil tidak boleh menyentuhnya, tetapi menurut fatwa Ibnu Ḥajar = dimaafkan untuk guru anak-anak, yang tidak dapat terus-menerus dalam keadaan suci ketika menyentuh papan tulisan al-Qur’ān, karena hal ini memberatkannya; tetapi yang lebih utama agar dia bertayammum ketika berhadats. Orang kafir dilarang sama sekali menyentuh seluruh al-Qur’ān atau sebagiannya tidak dilarang untuk mendengar bacaan al-Qur’ān, dan boleh mengajarkannya bila diharapkan masuk Islam.

أَمَّا مَا كُتِبَ تَمِيْمَةً لِلتَّبَرُّكِ فَلَا يَحْرُمُ مَسُّهَا وَ لَا حَمْلُهَا لكِنْ بِشَرْطِ أَنْ تُجْعَلَ فِيْ حِرْزٍ يَقِيْهَا مِنْ كُلِّ أَذًى. وَ لَا يَجُوْزُ جَعْلُ صَحِيْفَةٍ بَالِيَةٍ مِنْهُ وِقَايَةً لِكِتَابٍ بَلْ يَجِبُ مَحْوُهَا بِمَاءٍ طَاهِرٍ وَ يُصَبُّ فِيْ بَحْرٍ أَوْ نَهَرٍ جَارٍ.

4. Tidak haram menyentuh tulisan al-Qur’ān dan membawanya. Yang ditulis sebagai wafak untuk mengambil berkah dengan syarat tulisan itu tersimpan dalam tempat yang terlindung dari segala kotoran. Dan tidak boleh menjadikan lembaran yang sudah usang (untuk tabarruk tersebut) hal ini karena untuk memelihara keutuhannya, tetapi wajib menghapusnya dengan air yang suci (tidak bernajis) dan dituangkan ke dalam laut atau sungai yang mengalir.

وَ يَحْرُمُ كَتْبُ الْقُرْآنِ وَ كَذَا أَسْمَاءُ اللهِ تَعَالَى بِنَجِسٍ أَوْ عَلَى نَجِسٍ وَ مَسُّهُ بِهِ إِذَا كَانَ غَيْرَ مَعْفُوٍّ عَنْهُ، وَ يُكْرَهُ كَتْبُهُ عَلَى حَائِطٍ وَ لَوْ لِمَسْجِدٍ وَ ثِيَابٍ وَ طَعَامٍ وَ نَحْوِ ذٰلِكَ، وَ يَجُوْزُ هَدْمُ الْحَائِطِ وَ لُبْسُ الثِّيَابِ وَ أَكْلُ الطَّعَامِ وَ لَا تَضُرُّ مَلَاقَاتُهُ مَا فِي الْمِعْدَةِ بِخِلَافِ ابْتِلَاعِ قِرْطَاسٍ فَإِنَّهُ يَحْرُمُ عَلَيْهِ.

5. Haram menulis al-Qur’ān dan nama-nama Allah dengan najis atau di atasnya najis dan menyentuhnya tulisan tersebut dengan najis yang tidak dimaafkan, makruh menulis al-Qur’ān di atas dinding walaupun dinding masjid, dipakaian, makanan dan lain-lain, dan boleh merubuhkan dinding tersebut, memakai pakaian dan memakan makanan tersebut, dan tidak mengapa bertemunya makanan tersebut di dalam perut besar (yang bernajis, karena makanan sudah hancur tercerna), tetapi haram menelan kertas yang bertuliskan al-Qur’ān.

وَ لَا يَجُوْزُ كَتْبُهُ عَلَى الْأَرْضِ وَ لَا عَلَى بِسَاطٍ وَ نَحْوِهِ مِمَّا يُوْطَأُ بِالْأَقْدَامِ وَ لَا يُكْرَهُ كُتْبُ شَيْءٍ مِنْهُ فِيْ إِنَاءٍ لِيُسْقَى مَاءُهُ لِلشِّفَاءِ خِلَافًا لِمَا وَقَعَ لِلْإِمَامِ ابْنِ عَبْدِ السَّلَامِ فِيْ فَتَاوِيْهِ مِنَ التَّحْرِيْمِ

6. Tidak boleh menulisnya di atas tanah atau karpet dan lain-lain yang dapat terinjak, tidak makruh menulisnya pada bejana, untuk dituang air sebagai obat penyembuhan, tetapi Imām ‘Abd-us-Salām dalam fatwa-fatwanya mengharamkan.

وَ يُسَنُّ كَتْبُهُ، وَ إِيْضَاحُهُ إِكْرَامًا لَهُ، وَ كَذَا يُسْتَحَبُّ نَقْطُهُ وَ شَكْلُهُ صِيَانَةً مِنَ اللَّحْنِ وَ التَّحْرِيْفِ، وَ يَنْبَغِيْ أَنْ يَكْتُبَ عَلَى مُقْتَضَى الرَّسْمِ الْعُثْمَانِيِّ، لَا عَلَى مُقْتَضَى الْخَطِّ الْمُتَدَاوِلِ عَلَى الْقِيَاسِ

7. Disunnahkan menulis dan menjelaskan ayat al-Qur’ān, karena memuliakannya, juga disunnahkan memberi titik dan baris karena untuk menghindari kesalahan membaca dan perubahan, dan seyogyanya ditulis berdasarkan ketentuan tulisan ‘Utsmānī, tidak berdasarkan ketentuan tulisan lain yang beredar berdasarkan kias.

وَ لَا يَجُوْزُ لِأَحَدٍ أَنْ يَطْعَنَ فِيْ شَيْءٍ مِنْ مَرْسُوْمِ الصَّحَابَةِ، إِذَا الطَّعْنُ فِي الْكِتَابَةِ كَالطَّعْنِ فِي التِّلَاوَةِ، وَ تَجِبُ صِيَانَةُ الْمُصْحَفِ مِنْ كُلِّ أَذًى، وَ يَحْرُمُ سَبُّهُ وَ الْاِسْتِخْفَافُ بِهِ.

8. Tidak boleh seseorang mencela tulisan para sahabat, karena mencela tulisan sama artinya mencela bacaan, wajib menjaga al-Qur’ān dari segala kotoran, haram mecela al-Qur’ān dan meremehkannya.

وَ يُسْتَحَبُّ تَطْيِيْبُهُ وَ تَعْظِيْمُهُ وَ جَعْلُهُ عَلَى كُرْسِيٍّ أَوْ فِيْ مَحَلٍّ مُرْتَفِعٍ فَوْقَ سَائِرِ الْكُتُبِ تَعْظِيْمًا لَهُ، وَ تَقْبِيْلُهُ قِيَاسًا عَلَى تَقْبِيْلِ الْحَجَرِ الْأَسْوَدِ، وَ الْقِيَامُ إِذَا أُقْدِمَ بِهِ، وَ عَدَّهُ بَعْضُهُمْ بِدْعَةً لِكَوْنِهِ لَمْ يُعْهَدْ فِي الصَّدْرِ الْأَوَّلِ.

9. Dianjurkan mewangikan, mengagungkan dan meletakkannya di atas kursi atau tempat tinggi di atas kitab-kitab yang lain, karena membesarkan al-Qur’ān, juga dianjurkan menciumnya karena mengkias mencium hajar aswad, begitu juga berdiri jika berhadapan dengannya, tetapi sebagian ulama menganggapnya bid‘ah karena tidak dikenal di masa permulaan Islam (berdiri jika berhadapan dengan mushḥaf).

وَ يُسْتَحَبُّ تَعَاهُدُهُ بِالْقِرَاءَةِ فِيْهِ يَوْمِيًّا، وَ يَحْرُمُ تُوَسُّدُهُ، وَ مَدُّ الرِّجْلَيْنِ إِلَيْهِ، وَ اِلْقَاءُهُ عَلَى الْقَاذُوْرَةِ، وَ الْمُسَافَرَةُ بِهِ إِلَى أَرْضِ الْعَدُوِّ إِذَا خِيْفَ وُقُوْعُهُ فِيْ أَيْدِيْهِمْ.

10. Dianjurkan perhatiannya membaca al-Qur’ān setiap hari, haram menjadikannya sebagai bantal, memanjangkan kaki (blonjor) di hadapannya, meletakkannya di tempat kotor, membawanya ketika musafir ke negeri musuh jika dikhawatirkannya, jatuh ke tangan mereka.

وَ يَحْرُمُ مَحْوُهُ بِالرِّيْقِ: أَيْ بِالْبَصْقِ عَلَيْهِ، فَإِنْ بَصَقَ عَلَى خِرْقَةٍ وَ مَحَاهُ بِهَا لَمْ يَحْرُمْ، وَ يَصِحُّ بَيْعُهُ وَ شِرَاءُهُ عَلَى الصَّحِيْحِ وَ كَرِهَهُ جَمَاعَةٌ، وَ يَحْرُمُ بَيْعُهُ مِنَ الذِّمِّيِّ مُطْلَقًا.

11. Haram menghapusnya dengan ludah, dan tidak haram, jika seseorang berludah di atas percak kain lalu dihapus dengannya, berdasarkan pendapat yang shaḥīḥ: sah menjual dan membelinya, satu kelompok ulama memakruhkan, dan haram menjualnya secara mutlak kepada kafir Dzimmī.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *