002 Hukum Nun & Mim Bertasydid – Pelajaran Tajwid – Tuhfat-ul-Athfal

PELAJARAN TAJWĪD
Terjemah (TUḤFAT-UL-ATHFĀL)
Oleh: Syaikh Sulaimān ‘Abdullāh bin Ḥusain bin Muḥammad

Alih Bahasa: Achmad Sunarto
Penerbit: AL-HIDAYAH Surabaya

BAB II

الْمِيْمُ وَ النُّوْنُ الْمُشَدِّدَتَيْنِ

TENTANG HUKUM NŪN DAN MĪM BERTASYDĪD

 

وَ غُنَّ مِيْمًا ثُمَّ نُوْنًا شُدِّدًاوَ سَمِّ كُلًّا حَرْفَ غُنَّةٍ بَدَا

Apabila ada mīm dan nūn diberi tasydīd, maka hukum bacaannya wajib ghunnah (mendengung).

 

Contoh:

إِنَّا اَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ– قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ
وَ امْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ– عَمَّ يَتَسَاءَلُوْنَ.

 

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *