‘Amil-‘amil yang Me-jazam-kan Fi‘il Mudhari‘ – Ilmu Nahwu Tuhfat-us-Saniyah

Dari Buku:
Ilmu Nahwu Terjemah Tuhfat-us-Saniyah
(Judul Asli: Tuḥfat-us-Saniyati Syarḥu Muqaddimat-il-Ajurrumiyyah)
Oleh: Muhammad Muhyidin ‘Abdul Hamid
Penerjemah: Muhammad Taqdir
Penerbit: Media Hidayah

Rangkaian Pos: Fi‘il dan Macam-macamnya - Ilmu Nahwu Tuhfat-us-Saniyah

‘Āmil-‘āmil yang Me-jazam-kan Fi‘il Mudhāri‘

 

MATAN

وَ الْجَوَازِمُ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ وَ هِيَ لَمْ وَ لَمَّا وَ أَلَمْ وَ أَلَمَّا وَ لَامُ الْأَمْرِ وَ الدُّعَاءِ وَ لَا فِي النَّهْيِ وَ الدُّعَاءِ وَ إِنْ وَ مَا وَ مَنْ وَ مَهْمَا وَ إِذْمَا وَ أَيٌّ وَ مَتَى وَ أَيَّانَ وَ أَيْنَ وَ أَنَّى وَ حَيْثُمَا وَ كَيْفَمَا وَ إِذًا فِي الشِّعْرِ خَاصَّةً.

‘Āmil-‘āmil yang menjazamkan fi‘il mudhāri‘ ada 18, yaitu (لَمْ), (لَمَّا), (أَلَمْ), (أَلَمَّا), (لَامُ الْأَمْرِ وَ الدُّعَاءِ), (وَ لَا فِي النَّهْيِ وَ الدُّعَاءِ), (إِنْ), (مَا), (مَنْ), (مَهْمَا), (إِذْمَا), (أَيٌّ), (مَتَى), (أَيَّانَ), (أَيْنَ), (أَنَّى), (حَيْثُمَا), (كَيْفَمَا) dan (إِذًا) yang hanya terdapat pada sya‘ir.

SYARAḤ

‘Āmil-‘āmil yang men-jazam-kan fi‘il mudhāri‘ ada 18 buah.
‘Āmil-‘āmil tersebut terbagi menjadi 2 macam, yaitu:

  1. ‘Āmil-‘āmil yang men-jazam-kan satu fi‘il.
  2. ‘Āmil-‘āmil yang men-jazam-kan dua fi‘il.
  • Bagian pertama jumlahnya ada 6 huruf yaitu: (لَمْ), (لَمَّا), (أَلَمْ), (أَلَمَّا), (لَامُ الْأَمْرِ وَ الدُّعَاءِ) huruf (لَام) untuk perintah dan doa, (وَ لَا فِي النَّهْيِ وَ الدُّعَاءِ) serta (لَا) untuk larangan dan doa. Seluruh ‘āmil ini adalah huruf, berdasarkan kesepakatan para ahli nahwu.
  1. Adapun (لَمْ) adalah huruf nafi, jazm, dan qalb (10). Contohnya adalah firman Allah ta‘ālā:

(لَمْ يَكُنِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا) – “Orang-orang kafir ya‘ni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan…..” (al-Bayyinah: 1).

(قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوْا) – “Katakanlah kepada mereka: “Kalian belum beriman…..” (al-Ḥujurāt: 14).

  1. Adapun huruf (لَمَّا) fungsinya seperti huruf (لَمْ) yaitu huruf nafi, jazm, dan qalb. Contohnya firman Allah ta‘ālā:

(لَمَّا يَذُوْقُوْا عَذَابِ) – “Sebenarnya mereka belum merasakan ‘adzāb-Ku” (Shād: 8).

  1. Adapun (أَلَمْ) adalah huruf (لَمْ) yang mendapat tambahan hamzah taqrīr. Contohnya firman Allah ta‘ālā:

(أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ) – “Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu” (asy-Syarḥ: 1).

  1. Adapun (أَلَمَّا) adalah huruf (لَمَّا) yang mendapat tambahan hamzah taqrīr, seperti:

(أَلَمَّا أُحْسِنْ إِلَيْكَ) – “Bukankah aku telah berbuat baik kepadamu

  1. Adapun (لَام), penulis telah menyebutkan bahwa huruf (لَام) digunakan untuk menyatakan perintah dan du‘ā’ (doa, permintaan). Tujuan diletakkannya huruf ini adalah untuk meminta agar suatu perbuatan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Perbedaan antara keduanya adalah bahwa pada amr permintaan itu berasal dari pihak yang lebih tinggi kepada pihak yang lebih rendah, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits:

(فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ يَصْمُتْ.) – “Hendaknya kamu berkata benar atau diam” (Muttafaqun ‘alaih).

Adapun du‘ā’ (doa – permintaan) berasal dari pihak yang lebih rendah kepada pihak yang lebih tinggi, seperti tersebut dalam firman Allah ta‘ālā:

(لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ) – “Biarkan Tuhanmu membunuh kami saja” (az-Zukhruf: 77).

  1. Adapun (لَا) telah penulis sebutkan bahwa huruf ini digunakan untuk nahyi (melarang sesuatu) dan du‘ā’ (doa – memohon sesuatu). Maksud diletakkannya huruf ini adalah untuk meminta agar suatu pekerjaan tidak dilakukan atau ditinggalkan. Perbedaan keduanya (nahyi dan du‘ā’) adalah bahwa nahyi berasal dari pihak yang lebih tinggi kepada yang lebih rendah. Contohnya adalah firman Allah ta‘ālā:

(لَا تَخَفْ) – “Janganlah kamu takut” (an-Naml: 10).

(لَا تَقُوْلُوْا رَاعِنَا) – “Janganlah kalian katakan kepada Muḥammad: rā‘inā” (al-Baqarah: 104).

(لَا تَغْلُوْا فِيْ دِيْنِكُمْ.) – “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam agama kalian” (an-Nisā’: 17).

Adapun du‘ā’ (doa) berasal dari pihak yang lebih rendah kepada yang lebih tinggi, seperti pada firman Allah ta‘ālā:

(رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا) – “Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami”. (al-Baqarah: 286).

(وَ لَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا) – “Janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat”. (al-Baqarah: 286).

  • Bagian kedua yaitu ‘āmil-‘āmil yang men-jazam-kan dua fi‘il. Fi‘il yang pertama dinamakan fi‘il syarat dan fi‘il yang kedua dinamakan jawāb syarat dan balasannya. Bagian ini terdiri dari empat jenis yaitu:

‘āmil yang disepakati sebagai ḥurūf.
‘āmil yang disepakati sebagai isim.
‘āmil yang berdasar pendapat yang lebih kuat sebagai ḥurūf,
‘āmil yang berdasar pendapat yang lebih kuat sebagai isim.

  1. Jenis pertama adalah ‘āmil yang disepakati sebagai ḥurūf. Jenis ini hanya terdiri dari satu ḥurūf yaitu (إِنْ). Contohnya:

(إِنْ تُذَاكِرْ تَنْجَحْ) – “Apabila anda belajar maka anda akan berhasil”.

(إِنْ) adalah huruf syarth dan jazm berdasarkan kesepakatan para ahli nahwu. Huruf ini men-jazam-kan dua fi‘il. Fi‘il yang pertama merupakan fi‘il syarat dan yang kedua merupakan jawāb syarat/balasan. Fi‘il mudhāri‘ (تُذَاكِرْ) adalah fi‘il syarat yang di-jazam-kan oleh (إِنْ). Tanda jazam-nya adalah harakat sukūn. Adapun fā‘ilnya adalah dhamīr yang wajib mustatir (disembunyikan), taqdīr-nya (أَنْتَ). Fi‘il mudhāri‘ (تَنْجَحْ) adalah jawāb syarat dan balasan yang di-jazam-kan. Tanda jazam-nya adalah harakat sukūn. Adapun fā‘il-nya adalah dhamīr yang wajib mustatir (disembunyikan), taqdīr-nya (أَنْتَ).

  1. Jenis kedua adalah ‘āmil yang disepakati sebagai isim. Jumlahnya ada 9, yaitu: (مَنْ), (مَا), (أَيٌّ), (مَتَى), (أَيَّانَ), (أَيْنَ), (أَنَّى), (حَيْثُمَا) dan (كَيْفَمَا).

Contoh (مَنْ) adalah:

(مَنْ يَكْرِمْ جَارَهُ يُحْمَدْ) – “Barang siapa yang memuliakan tetangganya maka terpujilah dia”.

(مَنْ يُذَاكِرْ يَنْجَحْ) – “Barang siapa yang mengulan-ulang pelajaran maka dia akan berhasil”.

dan firman Allah ta‘ālā:

(فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ) – “Barang siapa mengerjakan kebaikan sebiji dzarrah pun niscaya ia akan melihat (balasannya).” (az-Zalzalah: 7).

Contoh (مَا) adalah ucapanmu:

(مَا تَصْنَعْ تُجْزَ بِهِ) – “Apa pun yang anda perbuat maka anda akan dibalas dengannya

(مَا تَقْرَأْ تَسْتَفِدْ مِنْهُ.) – “Apa pun yang anda baca maka anda dapati manfaat darinya”.

dan firman Allah ta‘ālā:

(وَ مَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ.) – “Apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan niscaya kamu akan mendapatkan balasan yang cukup” (al-Baqarah: 272).

Contoh (أَيٌّ) adalah ucapanmu:

(أَيَّ كِتَابٍ تَقْرَأْ تَسْتَفِدْ مِنْهُ) – “Buku mana pun yang anda baca, anda dapat mengambil manfaat darinya”.

dan firman Allah ta‘ālā:

(أَيًّا مَا تَدْعُوْا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى) – “Dengan nama yang mana saja kamu menyeru, bagi-Nyalah nama-nama yang indah.” (Al-Isrā’: 110).

Contoh (مَتَى) “kapan” adalah ucapanmu:

(مَتَى تَلْتَفِتْ إِلَى وَاجِبِكَ تَنَلْ رِضَا رَبَّكَ.) – “Kapan pun kamu memperhatikan kewajibanmu maka kamu akan mendapatkan keridhāan dari Rabbmu”.

dan ucapan seorang penyair:

(أَنَا ابْنُ جَلَا وَ طَلَاعُ الثَّنَايَا مَتَى أَضَعِ الْعِمَامَةَ تُعْرِفُوْنِيْ.) – “Aku adalah Ibnu Jalā (orang yang jelas nasabnya) dan yang senang menentang maut, kapan saja aku menaruh imamah maka kalian dapat mengenaliku

Contoh (أَيَّانَ) adalah ucpanmu:

(أَيَّانَ تَلْقَنِيْ أُكْرِمْكَ) – “Di mana pun kamu menemui aku maka aku akan memuliakanmu.”

dan ucapan seorang penyair:

(فَأَيَّانَ مَا تَعْدِلْ بِهِ الرِّيْحُ تَنْزِلِ) – “Ke mana pun ia dihembus angin (kencang) maka di situlah dia akan singgah

Contoh (أَيْنَ) atau (أَيْنَمَا) adalah ucapanmu:

(أَيْنَمَا تَتَوَجَّهْ تَلْقَ صَدِيْقًا) – “Ke mana pun anda pergi anda akan mendapatkan kawan”.

dan firman Allah ta‘ālā:

(أَيْنَمَا يُوَجِّهْهُ لَا يَأْتِ بِخَيْرٍ) – “Ke mana saja dia disuruh oleh penanggungnya maka dia tidak bisa mendatangkan suatu kebaikan.” (an-Naḥl: 76).

(أَيْنَمَا تَكُوْنُوْا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ.) – “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkanmu” (an-Nisā’: 78).

Contoh (حَيْثُمَا) “di mana pun” adalah ucapan penyair:

(حَيْثُمَا تَسْتَقِمْ يُقَدِّرْ لَكَ اللهُ نَجَاحًا فِيْ غَابِرِ الْأَزْمَانِ.) – “Di mana pun kamu berbuat lurus maka Allah akan menentukan keberhasilan bagimu pada masa yang akan datang”.

Contoh (كَيْفَمَا) “bagaimana pun” adalah ucapanmu:

(كَيْفَمَا تَكُنِ الْأُمَّةُ يَكُنِ الْوُلَاةُ) – “Bagaimana pun keadaan umat seperti itulah keadaan para pemimpinnya”.

(كَيْفَمَا تَكُنْ نِيَّتُكَ يَكُنْ ثَوَابُ اللهِ لَكَ) – “Bagaimana pun niatanmu maka pahala dari Allah akan kamu dapatkan”.

Pada 9 isim di atas ditambahkan (إِذَا) “apabila” yang digunakan dalam syair sebagaimana yang penulis katakan. Kata ini diucapkan karena darurat, seperti ucapan seorang penyair:

(اَسْتَعِنْ مَا أَغْنَاكَ رَبُّكَ بِالْغَنِي وَ إِذَا تُصِبْكَ خَصَاصَةٌ فَتَجَمَّلِ.) – “Merasa cukuplah dengan kekayaan yang telah Allah berikan kepadamu. Ketika kesulitan (kefakiran) menimpamu maka bersabarlah (dalam menghadapinya).

  1. Jenis ketiga adalah ‘āmil yang diperselisihkan, apakah merupakan isim atau ḥurūf. Akan tetapi, yang lebih kuat, ‘āmil itu adalah ḥurūf. ‘Āmil ini hanya terdiri dari satu ḥurūf yaitu (إِذْمَا). Contohnya adalah ucapan seorang penyair:

(وَ إِنَّكَ إِذْمَا تَأْتِ مَا أَنْتَ آمِرٌ بِهِ تَلْفِ مَنْ إِيَّاهُ تَأْمُرُ آتِيًا.) – “Bila anda mengerjakan sesuatu yang anda perintahkan, maka anda akan dapati orang-orang yang anda perintah telah mengerjakannya pula.

  1. Jenis keempat adalah ‘āmil yang diperselisihkan, apakah merupakan isim atau ḥurūf. Akan tetapi, yang lebih kuat, ‘āmil tersebut merupakan isim. ‘Āmil jenis ini hanya terdiri dari satu isim yaitu (مَهْمَا). Contohnya adalah firman Allah ta‘ālā:

(مَهْمَا تَأْتِنَا بِهِ مِنْ آيَةٍ لِتَسْحَرَنَا بِهَا فَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِيْنَ.) – “Bagaimana pun kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir dengan keterangan itu maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu.” (al-A‘rāf: 132).

dan ucapan seorang penyair:

(وَ إِنَّكَ مَهْمَا تُعْطِ بَطْنِكَ سُؤْلَهُ وَ فَرْجَكَ نَالَا مُنْتَهَى الذَّمِّ أَجْمَعًا.) – “Sesungguhnya bagaimana pun kamu memberikan kepada perut dan kemaluanmu apa-apa yang ia minta, maka keduanya hanyalah akan mendapatkan sejelek-jelek celaan”.

******

Latihan:

  1. Identifikasikanlah fi‘il mudhāri‘-fi‘il mudhāri‘ yang ada pada kalimat-kalimat di bawah ini, kemudian tentukan fi‘il mudhāri‘ yang marfū‘, yang manshūb, dan yang majzūm serta jelaskan tanda i‘rāb-nya!

من يزرع الخير يحصد الخير.
لا تتوان في واجبك.
إياك أن تشرب و أنت تعب.
كثرة الضحك تميت القلب.
من يعرض عن الله يعرض الله عنه.
إن تثابر على العمل تفز.
من لم يعرف حق الناس عليه لم يعرف حقه عليهم.
أينما تسع تجد رزقًا.
حيثما يذهب العالم يحترمه الناس.
لا يجمل بذي المروة أن يكثر المزاح.
كيفما تكونوا يول عليكم.
إِن تدخر المال ينفعك.
إن تكن مهملًا تسوء حالك.
مهما تبطن تظهره الأيام.
لا تكن مهذارًا فتشقى.

  1. Gunakanlah berbagai fi‘il mudhāri‘ di bawah ini dalam 3 kalimat, dengan syarat fi‘il mudhāri‘ itu dalam keadaan rafa‘ pada contoh yang pertama, manshub pada contoh yang kedua, dan majzum pada contoh yang ketiga!

تزرع، تسافر، تلعب، تظهر، تحبون، تشربين، تذهبين، ترجو، يهذي، ترضى.

  1. Isilah titik-titik pada kalimat-kalimat di bawah ini dengan kata syarat yang tepat!
  1. …… تحضر يحضر أبوك.
  2. ……تصاحب أصحابه.
  3. ……تلعب تندم.
  4. ……تُخِف تظهره أفعالُكَ.
  5. ……تذهب أذهب معك.
  6. ……تذاكر فيه ينفعك.
  1. Sempurnakanlah kalimat-kalimat di bawah ini menggunakan fi‘il mudhāri‘ yang tepat dan harakatilah huruf akhirnya!
  1. إن تذنب……
  2. إن يسقط الزجاج……
  3. مهما تفعلوا…….
  4. أي إنسان تصاحبه…….
  5. إن تضع الملح في الماء…….
  6. أينما تسر…….
  7. كيفما يكن الماء…….
  8. من يزرني……..
  9. أيان يكن العالم……..
  10. أنى يذهب العلم……..
  1. Bentuklah dua buah kalimat yang sesuai dan diawali dengan kata syarat yang paling tepat untuk keduanya dari berbagai kalimat berikut ini!

تنتبه إلى الدرس، تمسك سلك الكهرباء، تصل بسرعة، تستفد منه، تركيب سيارة، تصعق، تغلق نوافذ حجرتك، تؤد واجبك، يسقط المطر، يفسد الهواء، يفز برضاء الناس، افتح المظلة.

Pertanyaan:

  1. Terbagi menjadi berapakah ‘āmil-‘āmil yang men-jazam-kan itu?
  2. Apa saja ‘āmil yang men-jazam-kan satu fi‘il?
  3. Apa saja ‘āmil yang men-jazam-kan dua fi‘il?
  4. Jelaskan isim-isim yang telah disepakati atas ke-isim-annya dan ḥurūf-ḥurūf yang telah disepakati akan ke-ḥurūf-annya dari kata-kata yang men-jazam-kan dua fi‘il?
  5. Berilah masing-masing dua contoh dari ‘āmil-‘āmil yang men-jazam-kan satu fi‘il dan satu contoh dari ‘āmil yang men-jazam-kan dua fi‘il?, yang mana fi‘il syarth dan jawāb-nya dalam keadaan mabni!

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.