2-4-0&1 Fathah & Letak-Letaknya – Tanda-tanda I‘rab Nashab – Ilmu Nahwu Tuhfat-us-Saniyah

Dari Buku:
Ilmu Nahwu Terjemah Tuhfat-us-Saniyah
(Judul Asli: Tuḥfat-us-Saniyati Syarḥu Muqaddimat-il-Ajurrumiyyah)
Oleh: Muhammad Muhyidin ‘Abdul Hamid
Penerjemah: Muhammad Taqdir
Penerbit: Media Hidayah

Rangkaian Pos: 2-4-0 Tanda-tanda I‘rab Nashab - Ilmu Nahwu Tuhfat-us-Saniyah
  1. 1.Anda Sedang Membaca: 2-4-0&1 Fathah & Letak-Letaknya – Tanda-tanda I‘rab Nashab – Ilmu Nahwu Tuhfat-us-Saniyah
  2. 2.2-4-2 Alif Sebagai Pengganti Fathah – Tanda-tanda I‘rab Nashab – Ilmu Nahwu Tuhfat-us-Saniyah
  3. 3.2-4-3 Kasrah Sebagai Pengganti Fathah – Tanda-tanda I‘rab Nashab – Ilmu Nahwu Tuhfat-us-Saniyah
  4. 4.2-4-4 Ya’ Sebagai Pengganti Fathah – Tanda-tanda I‘rab Nashab – Ilmu Nahwu Tuhfat-us-Saniyah
  5. 5.2-4-5 Hadzfun Nun (Membuang Nun) Sebagai Pengganti Fathah – Tanda-tanda I‘rab Nashab – Ilmu Nahwu Tuhfat-us-Saniyah

TANDA-TANDA I‘RĀB NASHAB

MATAN

وَ لِلنَّصْبِ خَمْسُ عَلَامَاتٍ الْفَتْحَةُ وَ الْأَلِفُ وَ الْكَسْرَةُ وَ الْيَاءُ وَ حَذْفُ النُّوْنِ

I‘rab nashab memiliki 5 tanda, yaitu: fatḥah, alif, kasrah, yā’ dan hadzfun nūn (membuang huruf nūn).

SYARAH

Anda dapat menghukumi bahwa suatu kata adalah manshūb (dibaca nashab) jika anda menemukan salah satu dari 5 tanda (tersebut) di atas pada akhir sebuah kata. Satu di antaranya adalah tanda asli i‘rāb nashab yaitu fatḥah, sedangkan empat (4) tanda lainnya adalah tanda yang merupakan cabang dari tanda ini, yaitu: alif, kasrah, yā’, dan hadzfun nūn (membuang huruf nūn).

FATḤAH DAN LETAK-LETAKNYA

MATAN

وَ أَمَّا الْفَتْحَةُ فَتَكُوْنُ عَلَامَةً لِلنَّصْبِ فِيْ ثَلَاثَةِ مَوَاضِعَ فِي الْاِسْمِ الْمُفْرَدِ وَ جَمْعِ التَّكْسِيْرِ وَ الْفِعْلِ الْمُضَارِعِ إِذَا دَخَلَ عَلَيْهِ نَاصِبٌ وَ لَمْ يَتَّصِلْ بِآخِرِهِ شَيْءٌ

Fatḥah menjadi tanda i‘rāb nashab pada tiga (3) tempat, yaitu pada isim mufrad, jama‘ taksīr, dan pada fi‘il mudhāri‘ jika dimasuki oleh ‘āmil yang me-nashab-kan dan akhir fi‘il tersebut tidak bersambung dengan sesuatu apa pun.

SYARAH

Fatḥah menjadi tanda manshūb pada tiga (3) tempat, yaitu pada ism mufrad, jama‘ taksīr, dan fi‘il mudhāri‘ yang didahului ‘āmil yang me-nashab-kan dan akhir fi‘il itu tidak bersambung dengan alif itsnain, wāwu jamā‘ah, atau yā’ mukhāthabah, tidak pula bersambung dengan nūn taukīd atapun nūn niswah.

Adapun isim mufrad, telah disebutkan definisinya sebelum ini.

Fatḥah tampak di akhirnya, seperti pada kata:

(لَقِيْتُ عَلِيًّا) – Saya bertemu dengan ‘Alī.

(قَابَلْتُ هِنْدًا) – Saya bertemu dengan Hindun.

Dengan demikian kata (عَلِيًّا) dan (هِنْدًا) adalah isim mufrad (bentuk tunggal). Kedua kata ini manshūb karena keduanya berkedudukan sebagai maf‘ūl bihi (obyek penderita). Tanda nashab dari kedua kata tersebut adalah fatḥah yang zhāhirah (tampak). Kata pertama berjenis mudzakkar (laki-laki), sedangkan kata kedua berjenis mu’annats (perempuan).

Namun, terkadang pada kata-kata yang manshūb ada fatḥah yang muqaddarah (diperkirakan ada), contohnya:

(لَقِيْتُ الْفَتَى) – Saya bertemu dengan pemuda itu.

(حَدَّثْتُ لَيْلَى) – Saya berbicara dengan Lailā.

Kata (الْفَتَى) dan (لَيْلَى) adalah isim mufrad yang manshūb karena kedua kata ini berkedudukan sebagai maf‘ūl bihi. Tanda nashab kedua kata ini adalah fatḥah muqaddarah. Faktor yang menghalangi munculnya harakat adalah ta‘dzdzur. Kata pertama (الْفَتَى) jenisnya mudzakkar, sedangkan kata kedua (لَيْلَى) jenisnya mu’annats.

 

Adapun jama‘ taksīr, definisi kata ini telah dikemukakan di depan. Harakat fatḥah terkadang tampak di akhirnya, seperti:

(صَاحَبْتُ الرِّجَالَ) – Saya menemani para lelaki itu.

(رَعَيْتُ الْهُنُوْدَ) – Saya telah mengawasi Hindun-Hindun itu.

Kata (الرِّجَالَ) dan (الْهُنُوْدَ) adalah jama‘ taksīr yang manshūb karena kedua kata ini berkedudukan sebagai maf‘ūl bihi. Tanda nashab-nya adalah fatḥah yang zhāhirah (tampak). Kata pertama, yaitu (الرِّجَالَ) jenisnya mudzakkar, sedangkan kata kedua, yaitu (الْهُنُوْدَ) jenisnya mu’annats.

Terkadang fatḥah pada jama‘ taksīr adalah fatḥah yang muqaddarah, sebagaimana yang tersebut dalam firman Allah ta‘ālā:

(وَ تَرَى النَّاسَ سُكَارَى) – Anda lihat manusia dalam keadaan mabuk. (al-Hajj: 2).

(أَنْكِحُوا الْأَيَامَى) – Kawinkanlah orang-orang yang sendirian. (an-Nūr: 32).

Kata (سُكَارَى) dan (الْأَيَامَى) adalah jama‘ taksīr yang manshūb karena keduanya berkedudukan sebagai maf‘ūl bihi. Tanda nashab-nya adalah fatḥah muqaddarah yang terdapat pada alif lāzimah. Yang menghalangi munculnya fatḥah adalah ta‘adzdzur.

 

Adapun fi‘il mudhāri‘ yang telah disebutkan di atas, contohnya adalah firman Allah ta‘ālā:

(لَنْ نَبْرَحَ عَلَيْهِ عَاكِفِيْنَ) – Mereka menjawab: “Kami akan tetap menyembah patung anak lembu itu.” (Thāhā: 91).

Kata (نَبْرَحَ) adalah fi‘il mudhāri‘ yang di-manshūb-kan dengan huruf (لَنْ).Tanda nashab-nya adalah fatḥah yang zhāhirah (tampak). Akan tetapi, terkadang fatḥah-nya adalah fatḥah yang muqaddarah seperti:

(يَسُرُّنِيْ أَنْ تَسْعَى إِلَى الْمَجْدِ) – Upaya yang kamu lakukan untuk mencapai kemuliaan menggembirakanku.

Kata (تَسْعَى) adalah fi‘il mudhāri‘ manshūb dengan huruf (أَنْ). Tanda nashab-nya adalah fatḥah yang muqaddarah. Faktor yang menghalangi munculnya harakat huruf alif lāzimah adalah ta‘adzdzur.

Jika akhir fi‘il mudhāri‘-nya bersambung dengan alif itsnain, seperti:

(لَنْ يَضْرِبَا) – Mereka [dua orang] tidak akan memukul.

atau bersambung dengan wāwu jamā‘ah, seperti:

(لَنْ تَضْرِبُوْا) – Kalian tidak akan memukul.

atau bersambung dengan yā’ mukhāthabah, seperti:

(لَنْ تَضْرِبِيْ) – Kamu [seorang perempuan] tidak akan memukul.

maka kata-kata ini tidak di-nashab-kan dengan fatḥah. Kata-kata (تَضْرِبِيْ، تَضْرِبُوْا، يَضْرِبَا) di-manshūb-kan dengan huruf (لَنْ) dan tanda nashab-nya adalah hadzfun nūn (dibuang huruf nūn-nya). Adapun huruf alif, wāwu, dan yā’ adalah fā‘il-nya, berkedudukan mabnī dengan harakat sukūn dan menempati kedudukan rafa‘. Pembahasan ini akan anda ketahui sebentar lagi.

Jika akhir fi‘il mudhāri‘ bersambung dengan nūn taukīd yang tsaqīlah (berat), seperti:

(وَ اللهِ لَنْ تَذْهَبَنَّ) – Demi Allah, kamu benar-benar tidak akan pergi.

Atau bersambung dengan nūn taukīd yang khafīfah (ringan), seperti:

(وَ اللهِ لَنْ تَذْهَبَنْ) – Demi Allah, kamu benar-benar tidak akan pergi.

maka fi‘il mudhāri‘ tersebut di-mabnī-kan dengan harakat fatḥah dan menempati kedudukan nashab.

Jika akhir fi‘il mudhāri‘ bersambung dengan nūn niswah, seperti:

(لَنْ تُدْرِكْنَ الْمَجْدَ إِلَّا بِالْعَفَافِ) – Kalian [perempuan] tiadak akan mencapai kemuliaan kecuali dengan menjaga kesucian.

maka fi‘il mudhāri‘ tersebut di-mabnī-kan dengan harakat sukūn dan menempati kedudukan nashab.

Latihan:

  1. Gunakan kata-kata berikut ini dalam kalimat yang sempurna yang mana kata-kata tersebut berkedudukan manshūb!

الحقل، الزهرة، الطلاب، الأكرة، الحديقة، النهر، الكتاب، البستان، القلم، الفرس، الغلمان، العَذَارَى، العَصا، الْهُدَى، يَشْرَبُ، يَرْضَى، يَرْتَجِيْ، تسافر.

  1. Cantumkanlah isim manshūb dengan fatḥah zhāhirah pada titik-titik dalam kalimat-kalimat di bawah ini, kemudian harakatilah!
  1. إِنَّ ….. يَعْطِفون على أبنائهم.
  2. أَطع ….. لأنه يهذبك وَ يثقفك
  3. احتَرِمْ ….. لأنها رَبَّتْكَ
  4. ذَاكِرْ ….. قَبْلَ أَنْ تَحْضُرَهَا
  5. أَدِّ …..
  6. كُنْ ….. فَإِنَّ الْجُبْنَ لَا يُؤَخِّرُ الْأَجَل
  7. الْزمْ ….. فإن الهذرَ عَيْبٌ
  8. احْفَظْ ….. عن التكلم في الناس
  9. إن الرَّجُلَ ….. هو الذي يؤدي واجبه
  10. مَنْ أَطَاعَ ….. أَوْرَدَهُ المهالك
  11. اعْمَلْ ….. وَ لَوْ في غَيْرِ أَهْلِهِ
  12. أَحْسِنْ ….. يَرْضَ عَنْكَ الله.

Pertanyaan:

  1. Pada berapa tempat fatḥah menjadi tanda bagi i‘rāb nashab!
  2. Berilah empat (4) contoh isim mufrad yang manshūb! Pada contoh pertama isim mufrad mudzakkar yang di-nashab-kan dengan fatḥah yang zhāhirah; yang kedua, isim mufrad mudzakkar yang di-nashab-kan dengan fatḥah yang muqaddarah; yang ketiga, isim mu’annats yang di-nashab-kan dengan fatḥah yang zhāhirah; dan yang keempat, isim mufrad yang di-nashab-kan dengan fatḥah yang muqaddarah!
  3. Berilah empat (4) contoh berbeda dari jama‘ taksīr yang manshūb!
  4. Kapan fi‘il mudhāri‘ di-nashab-kan dengan fatḥah?
  5. Berilah dua (2) contoh fi‘il mudhāri‘ manshūb yang berbeda.
  6. Di-nashab-kan dengan tanda apa fi‘il mudhāri‘ yang bersambung dengan alif itsnain.
  7. Apa hukum fi‘il mudhāri‘ yang didahului oleh ‘āmil yang me-nashab-kan jika fi‘il tersebut bersambung dengan nūn taukīd?
  8. Berilah contoh fi‘il mudhāri‘ yang huruf akhirnya bersambung dengan nūn niswah dan didahului oleh ‘āmil yang me-nashab-kan. Jelaskan pula hukumnya!
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas