Mursyid Sebagai Khalifah Rasul – Tugas Mursyid – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin

Mursyid Sebagai Khalīfah Rasūl   Imam-imam Hadits, selain al-Bukhārī dan Muslim, meriwayatkan sebuah hadits perpisahan yang di dalamnya antara lain Nabi s.a.w. bersabda: … عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَ سُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ….Kalian harus mengikuti sunnahku dan sunnah al-Khulafā’-ur-Rāsyidūn yang memperoleh petunjuk; berpeganglah kepada sunnah-sunnah itu dan “gigitlah” sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham kalian.” (Ḥilyat-ul-Auliyā’i wa Thabaqāt-ul-Ashfiyā’, juz 1, halaman: 18, Sunan-ul-Kubrā lil-Baihaqī, juz 10, halaman:…

Mursyid sebagai Pemandu Jalan – Tugas Mursyid – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin (2/2)

Mi‘rāj adalah karunia Tuhan yang berupa perjalanan menuju Dia s.w.t. dengan perbentangan berbagai fenomena ghaib (metafisik) sesuai dengan yang dikehendaki-Nya. Dalam sejarah Nabi s.a.w. dikenal dua jenis mi‘rāj: Khusus dan umum. Mi‘rāj khusus dialami Nabi s.a.w. pada saat beliau menerima perintah shalat wajib lima waktu. Sedangkan mi‘rāj umum dialami Nabi s.a.w. pada saat-saat yang lain termasuk ketika beliau dimuliakan Allāh dengan diangkat sebagai Rasūl. Dalam wacana sufi mi‘rāj umum lebih…

Mursyid sebagai Pemandu Jalan – Tugas Mursyid – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin (1/2)

Tugas mursyid a). Mursyid sebagai Pemandu Jalan Mursyid dalam tharīqah adalah seorang wali yang layak diikuti sebagai imam dalam perjalanan menuju Tuhan. Ia adalah wali Allāh s.w.t. yang ciri khasnya sebagaimana disebutkan di atas. Jalan menuju Tuhan bukan jalan yang mulus melainkan jalan yang berliku-liku dan penuh dengan rintangan-rintangan berupa ranjau-ranjau Iblīs sehingga diperlukan pemandu yang ‘ārif untuk bisa selamat dari semua rintangan itu. Seorang sālik, orang yang menempuh perjalanan…

Mursyid – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin

Unsur-unsur Tharīqah Mursyid   Kata mursyid berasal dari bahasa ‘Arab dan merupakan isim fā‘il (Inggris: present participle) dari kata kerja arsyada-yursyidu yang berarti membimbing, menunjuki (jalan yang lurus). Dari kata itu terbentuk kata rasyad (hal memperoleh petunjuk/kebenaran) atau rusyd dan rasyada (hal mengikuti jalan yang benar/lurus). (Lisān-ul-‘Arab, juz 3, halaman: 175-176). Dengan demikian, makna mursyid adalah “(orang) yang membimbing atau menunjuki jalan yang lurus” Dalam wacana tashawwuf/tharīqah mursyid sering digunakan…

01-10 Lafal Dzikir yang Paling Utama – Sabil-us-Salikin

Lafal Dzikir yang Paling Utama Di dalam al-Qur’ān perintah berdzikir diungkapkan berkali-kali dan pada umumnya muncul dalam tiga redaksi, yaitu: وَ اذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ بُكْرَةً وَ أَصِيْلًا، (ألإنسان :٢٥) “Sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang” (QS. al-Insān [76]: 25), atau قَالَ رَبِّ اجْعَل لِّيَ آيَةً قَالَ آيَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ إِلَّا رَمْزًا وَ اذْكُر رَّبَّكَ كَثِيْرًا وَ سَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَ الْإِبْكَارِ ، (آل عمران :٤١) “Berkata…

01-9 Thariqah, Teknik Berdzikir Efektif – Sabil-us-Salikin

Tharīqah, Teknik Berdzikir Efektif Di samping menunjuk kepada pengertian-pengertian yang telah disebutkan sebelumnya, tharīqah juga dapat didefinisikan secara singkat sebagai “teknik berdzikir efektif”. Sebelumnya telah disebutkan bahwa istilah tharīqah dalam al-Qur’ān dan al-Ḥadīts digunakan dalam konteks dzikrullāh dalam kerangka tauhid. Dalam hadits al-Bukhārī berikut kata thuruq (bentuk jama‘ dari tharīq dan tharīqah) juga digunakan dalam konteks ini: وَ فِي الْحَدِيْثِ إِنَّ للهَ تَعَالَى مَلَائِكَةٌ سِيَاحِيْنَ فِي الدُّنْيَا سِوَى مَلَائِكَةِ الْخَلْقِ

01-8 Thariqah, Cara Mengamalkan Syari‘ah – Sabil-us-Salikin

Tharīqah, Cara Mengamalkan Syarī‘ah Dengan mengacu pada uraian sebelumnya, dapat dipahami bahwa tharīqah atau tharīq-ush-shāfiyyah (jalan para sufi) pada hakikatnya adalah: jalan yang ditempuh oleh para nabi dan rasūl dalam merealisasikan penghambaan diri dan tauhid yang murni dengan cara mengosongkan qalbu dari hal-hal selain Allāh, serta memenuhinya dengan dzikrullāh dalam setiap keadaan (berdiri, duduk, dan berbaring). (Dasarnya: ) الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ قِيَامًا وَ قُعُوْدًا وَ عَلَى جُنُوْبِهِمْ وَ يَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ

01-7 Thariqah, Tarekat dalam Pandangan Ibnu Taimiyah – Sabil-us-Salikin

Tharīqah dalam Pandangan Ibnu Taimiyah Penjelasan Ibn Taimiyah mengenai tarekat sangat penting untuk dikemukakkan lebih jauh di sini, sebab – sekali lagi – selama ini ia sering dituding sebagai antitharīqah, bahkan dijadikan rujukan utama oleh sebagian kecil umat untuk menentang tharīqah. Padahal Ibnu Taimiyah tidak pernah menentang tharīqah/tashawwuf kecuali yang nyata sekali bertentangan dengan al-Qur’ān dan as-Sunnah. Ketika memuji Imām al-Junaid al-Baghdādī berkenaan dengan kewajiban seorang salik (Orang yang berjalan…

01-6 Dasar Hadits – Sabil-us-Salikin

Dasar Hadits Sejalan dengan apa yang disitir dalam al-Qur’ān, sebagaimana dijelaskan di atas, ternyata tashawwuf juga dapat dilihat dalam kontek Hadits. Umumnya yang dinyatakan sebagai landasan dan dasar ajaran-ajaran tashawwuf adalah hadits-hadits berikut. مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُBarang siapa yang mengenal dirinya sendiri, maka akan mengenal Tuhannya.” (Iḥyā’u ‘Ulūm-id-Dīn, juz 4, halaman: 301) كُنْتُ كَنْزًا مَخْفِيًّا فَأَحْبَبْتُ اَنْ اُعْرَفَ فَخَلَقْتُ الْخَلْقَ فَبِهِ عَرَفُوْنِيْAku adalah

01-5 Dasar al-Qur’an – Sabil-us-Salikin

Dasar al-Qur’ān Al-Qur’ān dan as-Sunnah adalah nash. Setiap muslim kapan dan di mana pun dibebani tanggung-jawab untuk memahami dan melaksanakan kandungannya dalam bentuk amalan yang nyata. Pemahaman terhadap nash tanpa pengamalan akan menimbulkan kesenjangan. Ketika ditanya tentang akhlak Rasūlullāh, ‘Ā’isyah menyawab: “al-Qur’ān”. Para sahabat dikenal sebagai orang-orang yang banyak menghafalkan isi al-Qur’ān dan kemudian menyebarkannya kepada yang lain dengan disertai pengamalan atau penjiwaan terhadap isinya. Mereka berusaha menerapkan akhlak atau…