Ilmu Ladunni dan Nabi Khidhir – Tarekat dalam Timbangan Syariat

ILMU LADUNNI DAN NABI KHIDHIR   Klaim Salafī Wahhābī bahwa ilmu ladunni hanya dimiliki oleh Nabi Khidhir adalah ucapan tanpa dalil, meski sebagian kalangan memastikan demikian. Bahkan, pernyataan tersebut secara pasti berseberangan dengan penjelasan ‘ulamā’-‘ulamā’ ahl-us-sunnah, bahwa ‘ilmu ladunnī (futūḥ atau ‘ilmu wahbī) bisa saja diperoleh seorang hamba yang shalih yang bersih jiwa dan hatinya. (30) Klaim tersebut juga bertentangan dengan ucapan tokoh pujian Salafī Wahhābī, Nu‘mān al-Alūsī, dalam muqaddimah…

Bertemu Nabi Muhammad – Tarekat dalam Timbangan Syariat

BERTEMU NABI MUḤAMMAD   Syaikh Akbar Ibnu ‘Arabī meyakini jika para shūfī atau auliyā’ yang mempunyai maqām tertentu dapat bertemu secara langsung dengan Rasūlullāh s.a.w. Beliau secara jasad memang telah wafat, akan tetapi beliau hidup dalam alam barzakhnya. Imām Mālik bin Anas, sebagaimana dikutip Ibnu Qayyim dalam ar-Rūḥ (hal. 144), berkata: “Telah sampai kepadaku bahwa rūḥ bebas pergi ke mana ia suka”. Perkataan Imām Mālik di atas juga dikutip al-Ḥāfizh…

Shufi dan Hadits Dha’if dan Palsu – Tarekat dalam Timbangan Syariat

SHŪFĪ DAN HADITS DHA‘ĪF DAN PALSU   Bukti yang sering diajukan untuk tuduhan ini adalah hadits-hadits yang tercantum dalam kitab Iḥyā’u ‘Ulūm-id-Dīn karya Ḥujjat-ul-Islām al-Ghazālī, Qūt-ul-Qulūb karya Abū Thālib al-Makkī, dan Ghunyat-uth-Thālibīn karya Syaikh ‘Abd-ul-Qādir al-Jilānī. Kitab Iḥyā’ misalnya, menurut mereka kitab tersebut dijejali hadits-hadits yang batil, munkar, palsu dan lain-lain. Dan setelah itu, mereka berlindung di bawah nama ‘ulamā’ yang mengkritisi hadits-hadits kitab Iḥyā’. Dan di antara tuduhan yang…

Komentar ‘Ulama’ Tentang Tashawwuf – Tarekat dalam Timbangan Syariat (2/2)

Imām Abū Ḥanīfah: Al-Faqīh al-Ḥanafī al-Ashfukī, penulis kitab ad-Durr-ul-Mukhtar, berkata: “Abū ‘Alī ad-Daqqāq berkata: “Aku mengambil tarekat dari Abū Qāsim an-Nash Abadzī, beliau berkata: “Aku mengambil dari asy-Syiblī, beliau dari Sarī as-Saqathī, beliau dari Ma‘rūf al-Karkhī, beliau dari Dāwūd ath-Thā’ī, beliau mengambil ilmu dan tarekat dari Abū Ḥanīfah an-Nu‘mān. Dan semua ‘ulamā’ memuji dan mengakui keutamaan beliau.” (9).   Imām Aḥmad bin Ḥanbal: Imām Aḥmad bin Ḥanbal pada mulanya pernah…

Komentar ‘Ulama’ Tentang Tashawwuf – Tarekat dalam Timbangan Syariat (1/2)

KOMENTAR ‘ULAMĀ’ TENTANG TASHAWWUF   Ilmu tashawwuf, menurut Ibnu Khaldun dalam al-Muqaddimah, tersiar mulai kurun kedua Hijriah di saat manusia mulai cenderung kepada duniawi. Dan karena itu, orang yang taat beribadah kepada Allah membuat predikat khusus dengan nama shūfī. Kendati demikian, menurut beliau, ilmu tersebut bukan hal baru yang dibuat-buat dalam agama (bid‘ah), tetapi sebuah ilmu pendidikan yang tersarikan dari prilaku Rasūlullāh s.a.w. dan kehidupan para sahabat sehari-hari. Dengan begitu,…

Hizb-ul-Bahr – Kenapa Harus Berthariqah?

ḤIZIB BAḤR Imām al-Quthb Abul-Ḥasan asy-Syādzilī r.a.   بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ Dengan Nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang يَا عَلِيُّ يَا عَظِيْمُ يَا حَلِيْمُ يَا عَلِيْمُ. أَنْتَ رَبِّيْ وَ عِلْمُكَ حَسْبِيْ. فَنِعْمَ الرَّبُّ رَبِّيْ وَ نِعْمَ الْحَسْبُ حَسْبِيْ. تَنْصُرُ مَنْ تَشَاءُ وَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُ. نَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِي الْحَرَكَاتِ وَ السَّكَنَاتِ وَ الْكَلِمَاتِ وَ الْإِرَادَاتِ وَ الْخَطَرَاتِ. مِنَ الشُّكُوْكِ وَ الظُّنُوْنِ وَ الْأَوْهَامِ السَّاتِرَةِ لِلْقُلُوْبِ عَنْ مُطَالَعَةِ

Shalawat-ul-Masyisyiyyah – Kenapa Harus Berthariqah?

الصَّلَاةُ الْمَشِيْشِيَّةُ لِلْإِمَامِ الْقُطْبُ مَوْلَاي عَبْدِ السَّلَامِ ابْنِ بَشِيْشٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ.   بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مَنْ مِنْهُ انْشَقَّتِ الْأَسْرَارُ. وَ انْفَلَقَتِ الْأَنْوَارُ. وَ فِيْهِ ارْتَقَتِ الْحَقَائِقُ. وَ تَنَزَّلَتْ عُلُوْمُ سَيِّدِنَا آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَأَعْجَزَ الْخَلاَئِقَ. وَ لَهُ تَضَاءَلَتِ الْفُهُوْمُ فَلَمْ يُدْرِكْهُ مِنَّا سَابِقٌ وَ لَا لَاحِقٌ. فَرِيَاضُ الْمَلَكُوْتِ بِزَهْرِ جَمَالِهِ مُوْنِقَةٌ. وَ حِيَاضُ الْجَبَرُوْتِ بِفَيْضِ أَنْوَارِهِ مُتَدَفِّقَةٌ. وَ لَا شَيْءَ إِلَّا وَ هُوَ بِهِ مَنُوْطٌ.

Pondasi Thariqah – Kenapa Harus Berthariqah? (2/2)

Barang siapa yang mengaku-ngaku bahwa ḥāliyyah (keadaan)-nya telah bersama Allah, lalu muncul salah satu dari lima sikap di bawah ini maka ia adalah pembohong atau tercerabut ḥāliyyah-nya, lima penyakit itu adalah: Tidak mengendalikan anggota badannya dari maksiat. Melakukan ketaatan secara pura-pura. Memiliki sifat thama‘ (mengharap-harap) pada makhluk. Bermusuhan dengan Ahlullāh. Tidak menjaga kehormatan kaum muslimin sebagaimana yang diperintahkan Allah. Orang-orang yang terjangkit oleh penyakit di atas maka jarang sekali dari…

Pondasi Thariqah – Kenapa Harus Berthariqah? (1/2)

PONDASI THARĪQAH   Syaikh Aḥmad Zarrūq asy-Syādzilī r.a. berkata: “Ada lima pondasi dalam thariqah kami, yaitu: Bertaqwa kepada Allah s.w.t. dalam keadaan sepi maupun ramai Mengikuti Sunnah dalam perkataan dan perbuatan. Berpaling dari makhluk, tidak peduli mereka menerima atau meninggalkan. Ridhā atas pemberian Allah s.w.t., menerima yang sedikit maupun banyak. Senantiasa mengembalikan urusan kepada Allah s.w.t. dalam keadaan susah maupun bahagia. Ketahuilah, bahwa ketaqwaan dinyatakan dengan sikap wara‘ dan istiqāmah,…

Adab (Etika/Tatakrama) Dalam Thariqah – Kenapa Harus Berthariqah?

ADAB (ETIKA/TATAKRAMA) DALAM THARĪQAH   Dalam kitab “Ad-Durr-un-Naqiyyah” karangan Abul-Fadhl Sayyid ‘Abdullāh Bin Muḥammad Shiddīq al-Ghumarī r.a. dikemukakan bahwa adab seorang murid dalam suluk tharīqah terbagi pada empat bagian yaitu adab kepada Allah s.w.t. dan Rasūlullāh s.a.w., adab kepada Syekh tharīqah yang menjadi mursyid pembimbingnya, adab kepada sesama ikhwan sesama tharīqah dan adab kepada sesama kaum muslimin secara umum. Adab Seorang Murid Kepada Allah s.w.t.: Seorang murid wajib menjaga adabnya…