Akhlaq Mulia (Husn-ul-Kuluq) – Tashawwuf & Thariqah – Sabil-us-Salikin

Sabīl-us-Sālikīn – Jalan Para Sālik
Ensiklopedi Tharīqah/Tashawwuf

 
Tim Penyusun:
Santri Mbah KH. Munawir Kertosono Nganjuk
Santri KH. Sholeh Bahruddin Sengonagung Purwosari Pasuruan
 
Penerbit: Pondok Pesantren NGALAH

Rangkaian Pos: Tashawwuf dan Thariqah - Sabil-us-Salikin (Bab II)

Akhlāq Mulia (Ḥusn-ul-Khuluq)

 

Etika baik, budi pekerti luhur, atau akhlāq terpuji memang bisa dibentuk oleh lingkungan. Namun, akhlāq mulia bukan semata karena dibentuk oleh lingkungan. Akhlāq mulia adalah sebuah anugerah yang Allāh s.w.t. berikan kepada hamba-Nya yang terpilih.

Seorang hamba yang dikehendaki Allāh s.w.t. untuk menjadi hamba yang baik, maka Allāh s.w.t. akan menganugerahkan baginya akhlāq mulia. Sebaliknya, jika seorang hamba dikehendaki menjadi orang yang tidak baik, maka Allāh s.w.t. berikan baginya akhlāq yang tidak baik.

إِنَّ هٰذِهِ الْأَخْلَاقَ مِنَ اللهِ، فَمَنْ أَرَادَ اللهُ تَعَالَى بِهِ خَيْرًا مَنَحَهُ خُلُقًا حَسَنًا، وَ مَنْ أَرَادَ بِهِ سُوْءًا مَنَحَهُ خُلُقًا سَيِّئًا، (فيض القدير، ج 2، ص: 694).

Sesungguhnya akhlāq ini dari Allāh s.w.t., barang siapa yang Allāh s.w.t. kehendaki baik maka Allāh s.w.t. memberinya akhlāq yang mulia dan barang siapa yang Allāh s.w.t. kehendaki buruk maka Allāh s.w.t. memberinya akhlāq yang buruk. (Faydh-ul-Qadīr, juz 2 halaman: 694).

فَالْخُلُقُ عِبَارَةٌ عَنْ هَيْئَةٍ فِي النَّفْسِ رَاسِخَةٍ عَنْهَا تَصْدُرُ الْأَفْعَالُ بِسُهُوْلَةٍ وَ يُسْرٍ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ إِلَى فِكْرٍ وَ رِوَايَةٍ فَإِنْ كَانَتْ الْهَيْئَةُ بِحَيْثُ تَصْدُرُ عَنْهَا الْأَفْعَالُ الْجَمِيْلَةُ الْمَحْمُوْدَةُ عَقْلًا وَ شَرْعًا سُمِيَتْ تِلْكَ الْهَيْئَةُ خُلُقًا حَسَنًا. (إحياء علوم الدين، ج 3 ص 49)

Ḥusn-ul-khuluq merupakan suatu ungkapan keadaan jiwa yang tertanam di dalamnya. Berbagai perbuatan muncul darinya dengan mudah dan gampang tanpa memerlukan pemikiran dan penelitian. Dan apabila keadaan yang tertanam itu muncul darinya perbuatan yang baik menurut akal dan norma, maka disebut dengan etika yang baik. (Iḥyā’u ‘Ulūm-id-Dīn, juz 3 halaman: 49).

فَالْخُلُقُ الْحَسَنُ صِفَةُ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَ أَفْضَلُ أَعْمَالِ الصِّدِّيْقِيْنَ وَ هُوَ عَلَى التَّحْقِيْقِ شَطْرُ الدِّيْنِ وَ ثَمْرَةُ مُجَاهَدَةِ الْمُتَّقِيْنَ وَ رِيَاضَةِ الْمُتَعَبِّدِيْنَ. (إحياء علوم الدين، ج 3 ص 45)

Ḥusn-ul-khuluq merupakan sifat para Rasūl dan perbuatan utama para shiddīqīn. Ḥusn-ul-khuluq secara hakiki merupakan separuh dari keimanan, hasil dari mujāhadah para muttaqīn, dan hasil latihan orang yang beribadah, (Iḥyā’u ‘Ulūm-id-Dīn, juz 3 halaman: 45).

Berikut ini adalah dasar Ḥusn-ul-khuluq:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ، رواه أحمد والحاكم والبيهقي، (إحياء علوم الدين، ج 3 ص 46).

Diriwayatkan dari Abū Hurairah r.a. Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya aku diutus Allāh s.w.t. untuk menyempurnakan akhlāq yang mulia”. (Iḥyā’u ‘Ulūm-id-Dīn, Juz 3 halaman: 46)

Allāh s.w.t. berfirman:

وَ إِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ. (القلم: ٤)

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Q.S. al-Qalam: 4)

عَنْ أَبيْ دَرْدَاءَ قَالَ: قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: أَثْقَلُ مَا يُوْضَعُ فِي الْمِيْزَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَقْوَى اللهِ وَ حُسْنُ الْخُلُقِ، رواه أبو داود والترمذي. (إحياء علوم الدين، ج 3 ص 46).

Rasūlullāh bersabda: “Amal yang paling berat di mīzān (timbangan amal) pada hari kiamat adalah taqwā kepada Allāh s.w.t. dan budi pekerti yang baik”. (Iḥyā’u ‘Ulūm-id-Dīn, Juz 3 halaman: 46).

Berikut ini empat rukun yang dapat menghasilkan Ḥusn-ul-khuluq dengan cara mengambil jalan tengah (i‘tidāl) dan sesuai dengan keadaan:

الْأَرْكَانُ الْأَرْبَعَةُ وَ اعْتَدَلَتْ وَ تَنَاسَبَتْ حَصَلَ حُسْنُ الْخُلُقِ وَ هُوَ قُوَّةُ الْعِلْمِ وَ قُوَّةُ الْغَضَبِ وَ قُوَّةُ الشَّهْوَةِ وَ قُوَّةُ الْعَدْلِ بَيْنَ هذِهِ الْقُوَى. (إحياء علوم الدين، ج 3 ص 49)

  1. قُوَّةُ الْعِلْمِ, berfungsi mempermudah menemukan perbedaan antara ucapan, i‘tiqād dan perbuatan yang benar dan yang salah. Jika berhasil maka bisa menghasilkan hikmah yang menjadi pokok akhlāq yang baik.
  2. قُوَّةُ الْغَضَبِ, berfungsi mengekang dan mampu melepaskan menurut batas kebijaksanaan (akal dan norma).
  3. قُوَّةُ الشَّهْوَةِ, berada di bawah kendali hikmah (akal dan norma).
  4. قُوَّةُ الْعَدْلِ, berfungsi menguasai قُوَّةُ الشَّهْوَةِ dan قُوَّةُ الْغَضَبِ di bawah akal dan norma, (Iḥyā’u ‘Ulūm-id-Dīn, Juz 3 halaman: 49).

 

  1. الحِكْمَةُ حَالَةٌ لِلنَّفْسِ بِهَا يُدْرِكُ الصَّوَابَ مِنَ الْخَطَاءِ فِيْ جَمِيْعِ الْأَفْعَالِ الْاِخْتِيَارِيَّةِ
  2. الشَّجَاعَةُ كَوْنُ قُوَّةِ الْغَضَبِ مُنْقَادَةُ لِلْعَقْلِ فِيْ إِقْدَامِهَا وَ إِحْجَامِهَا
  3. الْعِفَّةُ تَأَدُّبُ قُوَّةِ الشَّهْوَةِ بِتَأْدِيْبِ الْعَقْلِ وَ الشَّرْعِ
  4. الْعَدْلُ حَالَةٌ لِلنَّفْسِ وَ قُوَّةٌ بِهَا تُسَوِّسُ الْغَضَبَ وَ الشَّهْوَةَ وَ تَحْمِلُهُمَا عَلَى مُقْتَضَى الْحِكْمَةِ وَ تَضْبِطُهُمَا فِي الْاِسْتِرْسَالِ وَ الْاِنْقِبَاضِ عَلَى حَسَبِ مُقْتَضَاهَا. فَمَنِ اعْتَدَلَ هذِهِ الْأُصُوْلَ الْأَرْبَعَةَ تَصْدُرُ الْأَخْلَاقُ الْجَمِيْلَةُ كُلُّهَا. (إحياء علوم الدين، ج 3 ص 49-50)

Pokok dan sumber akhlāq

  1. Hikmah adalah keadaan jiwa yang dapat digunakan untuk menemukan kebenaran dari semua perbuatan sadar yang salah.
  2. Keberanian adalah kekuatan sifat kemarahan yang ditundukkan oleh akal dalam keputusan maju dan mundurnya.

Sifat yang muncul dari keberanian adalah al-Karām (dermawan), an-Najdah (keberanian), at-Tasāhum (keinginan pada hal-hal yang menyebabkan perbuatan baik), Kasr-un-Nafsi (mengekang hawa nafsu), al-Iḥtimāl (menanggung penderitaan), al-Ḥilm (sabar dan pemaaf), ats-Tsabat (pendirian teguh), Kazhm-ul-Ghaidh (menahan amarah), al-Waqar (berwibawa), at-Tawādud (penuh cinta) dll.

Jika keberanian terlalu lemah, maka menimbulkan sifat-sifat yang seperti an-Nihānah (rendah diri), adz-Dzullah (hina), al-Jaz‘u (penyesalan), al-Khusasah (pendek pikir dan hina), Shagr-un-Nafsi (kecil jiwa), al-Inkibāt (merasa terkekang untuk menuntut haknya).

Jika keberanian terlalu tinggi, maka muncul sifat-sifat yang jelek seperti Taḥawwur (berani tanpa perhitungan dan pemikiran), al-Badzahu (angkuh), al-Shalifu (pengakuan terhadap sesuatu yang tidak dimilikinya, dalam arti perbuatan atau suatu hal), Isytisyāthah (sifat amarah yang berlebihan), sombong/‘Ujub (membanggakan diri).

  1. Menjaga kehormatan diri adalah mendidik kekuatan syahwat dengan didikan akal dan norma.

Sifat baik yang muncul dari menjaga kehormatan diri adalah pemurah, malu, sabar, toleran, Qanā‘ah (menerima apa adanya), Wira’i, lemah lembut, suka menolong, tidak tamak.

Jika dorongan ‘Iffah (menjaga kehormatan diri) terlalu lemah dan kuat maka akan memunculkan sifat yang jelek seperti sifat rakus, sedikit rasa malu, keji, boros, kikir, riyā’, mencela diri, gila, suka bergurau, pembujuk, hasud, iri hati, mengadu domba, merendahkan diri di hadapan orang-orang kaya dan meremehkan fakir miskin, dll.

  1. Adil adalah keadaan jiwa dan kekuatannya yang mengusai kemarahan dan syahwat dan membawanya kepada kehendak hikmah (ilmu dan norma), dan mencegahnya menurut batas kebijaksanaan.

Sifat baik yang muncul dari sifat adil adalah Ḥusn-ut-Tadbīr (penalaran yang baik), Jūdah adz-Dzihn (kejernihan hati), Tsiqabat-ur-Ra’yi (kecerdasan berpikir), Ishābat-uzh-Zhann (kebenaran dugaan), kecerdasan berpikir terhadap ‘amal-‘amal yang lembut dan kecerdasan berfikir terhadap bahaya jiwa yang tersembunyi.

Jika dorongan adil terlalu lemah maka akan menimbulkan sifat-sifat yang jelek seperti kebodohan, al-Ghumārah (tidak punya kepandaian), al-Ḥumq (dungu), gila, dll.

Jika dorongan adil terlalu kuat maka akan muncul sifat-sifat jelek seperti cerdik licik, jahat, al-Makr (rekayasa), al-Khada‘ (suka menipu), al-Addahā’ (tipu muslihat).

Barang siapa pokok dan sumber akhlāqnya i‘tidāl (tidak terlalu lemah dan tidak terlalu kuat) maka akhlāq yang keluar darinya adalah seluruh akhlāq yang baik, (Iḥyā’u ‘Ulūm-id-Dīn, Juz 3 halaman: 49-50).

Sementara itu, sumber akhlāq yang tercela (buruk) dijelaskan sebagai berikut:

  • Ridhā terhadap jiwanya yang makin jauh kepada Allāh s.w.t.
  • Takut terhadap makhluq, dan
  • Mementingkan duniawi.

Kemudian dari ciri yang pertama muncullah syahwat (keinginan), kelalaian, dan maksiat. Lantas dari ciri yang kedua muncullah sifat pemarah, dengki dan hasud. Dan ciri yang ketiga muncullah sifat serakah, thama‘ (mengharapkan pemberian selain dari Allāh), dan sifat kikir.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *